Dari Suatu Pergulatan Fakta-Fiksi

Melani Budianta*
http://majalah.tempointeraktif.com/

Untuk Ignas Kleden, membedah sastra sama saja dengan upaya menyeimbangkan daya tarik dua kutub referensinya: ilmu pengetahuan dan seni sastra.

Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan: Esai-esai Sastra dan Budaya
Penulis: Ignas Kleden
Penerbit: Pustaka Utama Grafiti dan Freedom Institute, Jakarta, Juni 2004
Tebal: xii + 500 Halaman

Ilmu cenderung mengungkung dan membatasi, sedangkan sastra? adalah disiplin yang membebaskan,” demikian pengakuan Ignas Kleden, budayawan yang dikenal kedalaman ilmunya di bidang filsafat, sosiologi, dan politik. Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan adalah kisah cintanya dengan sastra, sekaligus jurnal pergulatannya dalam menjembatani dunia ilmu pengetahuan?berikut teori-teori rumit?dengan sastra sebagai seni.

Kisah cinta ini panjang sejarahnya. Empat puluh tahun yang lalu, di sebuah lembah terpencil di ujung timur Flores, Ignas, yang duduk di bangku SMA sebuah seminari, membaca karya Julius Caesar dalam bahasa Latin dan menghafal pidato klasik Abraham Lincoln Gettysburg Address. Pertemuan lebih lanjut dengan sastrawan Indonesia dan karyanya, dari generasi Pramoedya A. Toer, Umar Kayam, Rendra, sampai Dorothea Rosa Herliany dan Joko Pinurbo, terlihat jejaknya dalam 483 halaman buku ini. Ignas Kleden menulis 21 esai tersebut dari tahun 1983, selepas menyelesaikan studi magister filsafat, sampai tahun 2004, enam tahun setelah ia mendapatkan doktor sosiologi di Jerman.

Pergulatan Ignas dengan sastra dirumuskan dalam enam pertanyaan: tentang perbedaan sastra dan bukan sastra, sastra dan kritik sastra, kenyataan empiris dan kenyataan imajiner, serta tentang hubungan antara sastra dengan dimensi sosial-budaya, dengan pengarang, dan dengan konteksnya. Keenam soal itu berujung pada tarik-menarik antara kutub ilmu pengetahuan dan seni sastra, dan antara dunia fakta dan fiksi, yang sama kuat menjadi sumber kebenaran dan kegairahan bagi Ignas.

Ia menyiasati pertarungan dua dimensi ini dengan membiarkan pikirannya mengalir, bebas dari kungkungan cara berpikir “arsitektonik” ala akademisi Jerman, memadukan acuan-acuan teoretis dengan gaya bahasa metaforik. Penggunaan tubuh manusia pada sajak-sajak Joko Pinurbo, misalnya, digambarkannya “bukan sekadar locus untuk kegembiraan dan keisengan badaniah? tetapi justru menjadi representasi suatu sesal yang kenyal, tobat yang nekat: suatu metonia yang tuntas” (251). Pada sisi lain kegairahan mengalami sastra ditengarainya dengan jurus-jurus filsafat dan acuan teoretis. Sayangnya keseimbangan tidak selalu bisa dipertahankan. Digresi melalui komentar, catatan tambahan, dan rangkaian teori yang super-rumit menunjukkan kuatnya godaan kutub ilmu, dengan risiko kritik menjadi elitis.

Analisis paling jernih muncul ketika tegangan antara fiksi dan fakta dalam berbagai teks, puisi, cerpen, novel diuraikannya dengan konsep yang lebih sederhana: membandingkan “makna referensial” (hubungan teks dengan dunia luar) dan “makna tekstual” (hubungan teks ke dalam)”. Semakin tinggi makna referensialnya, semakin kuat sifat teks sebagai komentar sosial yang menekankan pada peristiwa (fakta). Semakin tinggi makna tekstualnya, semakin kental sifat teks sebagai karya simbolik (fiksi). Fakta mengarah pada generalisasi, makna denotatif dan informasi. Fiksi menekankan keunikan, ambivalensi makna dan penghayatan.

Keterikatan pada fakta menghasilkan cermin empiris, sedangkan potensi sastra untuk mengubah dunia terletak pada kemampuannya mengangankan suatu dunia potensial, yang diupayakan melalui pengolahan tekstual. Penciptaan metafor yang visioner membangun visi alternatif untuk “menerobos zamannya dan membuka cakrawala zaman baru”.

Dengan metode ini Ignas mengevaluasi nilai sastra suatu teks, gaya pengarang dan kecenderungan ideologisnya, dan menghasilkan sejumlah temuan menarik. Kekuatan cerpen-cerpen Umar Kayam tentang Amerika terletak pada kemampuannya membuat yang asing menjadi akrab. Hal sebaliknya?kemampuan menciptakan distansi?tidak tampak dalam novel Para Priyayi. Penekanan pada makna referensial menjebak teks pada sikap yang tidak kritis pada kecenderungan dominan. Tentang Pramoedya, Ignas menemukan bahwa “sikap terhadap laki-laki dan perempuan? berdampak pada komposisi dan teknik literer”, suatu titik temu antara ideologi dan estetika.

Tokoh perempuan dalam novel trilogi Pramoedya tampil sebagai individu-individu yang dihidupkan melalui pendalaman tekstual, sedangkan penokohan laki-laki sekadar menjadi sarana untuk melontarkan gagasan. Dalam esainya tentang Putu Wijaya, ada sebuah kutipan yang bisa dipakai untuk merefleksikan penjurian karya sastra Indonesia mutakhir: “Seseorang bisa menjadi pembaharu tanpa menghasilkan karya dengan mutu yang spektakuler, dan sebaliknya seorang bisa menghasilkan mutu yang amat tinggi sekalipun menggunakan cara-cara yang sangat konvensional.”

Dengan kritik yang jujur dan terus terang dan pergulatan reflektifnya, Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan merupakan tonggak berharga bagi sejarah kritik sastra Indonesia.

*) Pengajar Fakultas Ilmu Budaya UI
28 Juni 2004

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*