Nihilitas Pemikiran Manusia Modern

Judul: Dostoevsky, Menggugat Manusia Modern
Penulis: Henry S. Sabari
Penerbit: Kanisius
Cetakan: Pertama, 2008
Tebal: 136+xxiv
Peresensi: Matroni el-Moezany*
http://www.lampungpost.com

ZAMAN modern merupakan zaman yang tidak disukai Dostoevsky. Ia muak dengan rasionalisme yang merupakan bentuk ketidakpuasan akan eksistensi manusia. Manusia seolah direduksi menjadi alat rasio.

Dari kemuakan itu, manusia berontak dan berusaha menunjukkan kediriannya sebagai eksistensi yang konkret. Dengan novel Notes From Underground, Dostoevsky menampilkan kisah satiris tentang kemuakan manusia zaman modern.

Kapastian yang dianut manusia modern dengan berlandaskan pada sains dan rasionalitas mengajarkan manusia bertindak objektif. “Dua tambah dua adalah empat”; manusia harus menerima apa adanya hukum tersebut, tidak dapat melawan karena (hukum) alam tidak akan pernah meminta pendapat manusia berlaku padanya.

Hal demikian merupakan sesuatu yang absurd bagi sang Underground. Manusia penuh dengan perhitungan matematika bahkan terhadap apa yang ingin dilakukan. Jika demikian, di manakah kesadaran subjektif yang diagung-agungkan zaman modern? Bagaimana manusia bisa jadi otonom jika apa yang dilakukan dideterminasi hal-hal di luar dirinya?

“Dua tambah dua adalah empat”, tidak peduli apakah kita menyukainya atau tidak. Hal demikian sangat menyakitkan. Manusia hanya menjadi budak dari penyakit (rasionalisme) zamannya.

Dengan demikian, apakah kesadaran itu? Kesadaran adalah sebuah kemuakan, itulah yang diungkapkan sang Underground untuk menggambarkan mereka yang benar-benar menyadari eksistensinya. Orang yang benar-benar sadar akan muak dengan perhitungan tersebut. Muak dengan determinasi yang terjadi. Dengan demikian, ia mengatakan kesadaran akan subjek yang otonom merupakan ilusi belaka.

Otonomi manusia tidak benar-benar terjadi seperti yang dicita-citakan. Di sini dapat dilihat bagaimana padangan Ivan, Kardinal, dan Roskolnikov bahwa otonomi manusia-manusia rasional sebenarnya tidak sepenuhnya otonom karena mereka justru menjadi “budak” ideologi semata. Dalam bahasa lain dapat disebut, mereka hanyalah sel-sel dari suatu sistem besar yang mereka anut. Namun, mereka membutakan mata dan telinga untuk membenarkan logika yang dianut. Dari rasionalisme mereka, yang Underground berkata “lihatlah darah mengalir di sungai-sungai…Lihatlah apa-apa yang terjadi sepanjang abad 19… Lihatlah Napoleon… Lihatlah apa yang terjadi di Amerika Utara”.

Sang Underground beranggapan orang-orang modern merupakan orang bodoh. Dengan menempatkan rasio sebagai dasar, mereka kehilangan kemanusiaannya. Rasio hanya pikiran dan hanya memuaskan kapasitas berpikir manusia.

Perhitungan dan kalkulasi mengajarkan untuk mencari kepastian. Namun, apakah yang dapat dipastikan dari manusia? Hanya orang bodohlah yang dapat dipastikan. Manusia sesungguhnya lebih daripada perhitungan dan kepastian-kepastian. Ia menyebutkan semua intelektual dari abad ke-19 harus dan secara moral berkewajiban hadir sebagai makhluk tak berkarakter karena orang yang berkarakter tidak lebih dari makhluk yang terbatas (ditentukan).

Dari penuturan sang Underground terlihat bagaimana ketidakpuasan akan eksistensi diri yang direduksi dalam perhitungan dan sistem-sistem sains. Manusia merupakan “ada” yang unik. Segala klasifikasi saintis mengenai manusia tidak pernah mencakup ke-manusia-an. Rasionalitas sains yang di anut Ivan, Kardinal, dan Raskolnikov mendapat perlawanan dari pemikiran eksistensialis sang Underground, seseorang yang muak terhadap zamannya.

Semangat zaman modern yang hadir melalui rasionalisme dan saintisme membawa pengaruh atas paradigma berpikir manusia. Cita-cita besar menjadikan manusia sebagai makhluk otonom malah terjatuh pada peng-objek-an terhadap manusia itu sendiri. Hal tersebut kerena pola ilmu alam yang (berusaha) melihat segala sesuatu dengan berjarak atau objektif diterapkan pada manusia. Manusia kemudian memandang sesamanya sebagai objek semata. Hubungan antarmereka jadi bersifat kebendaan.

Dostoevsky dalam buku ini menggambarkan bagaimana objektivikasi terhadap manusia dilakukan oleh kaum intelektual yang diwakili Ivan Karamazov, Kardinal, dan Raskolnikov. Dengan rasionalisme, mereka membedakan manusia atas dan manusia bawah.

Manusia atas adalah mereka yang telah “tercerahkan” dan memiliki kesadaran yang tinggi. Dengan begitu, mereka memiliki hak terhadap manusia-manusia bawah yang bodoh.

Sebab, manusia bawah tidak mengerti apa-apa, sehingga mereka dapat dimanipulasi untuk suatu sistem-sistem sosial yang akan dilanggengkan. Mereka juga dapat menjadi kelinci percobaan untuk suatu eksperimen yang dilakukan. Di sini terlihat bahwa pembendaan terhadap sesama memungkinkan terjadinya tindakan yang tak menusiawi.

Dostoevsky muak terhadap hal tersebut. Manusia bukan sel-sel dari suatu sistem. Ia adalah makhluk konkret dengan segala kemanusiaan yang dimilikinya. Lewat kisah Notes From Underground, ia mengkritik gaya pemikiran rasionalistik yang menjamur saat itu manusia tidak dapat ditentukan atau direduksi dalam hukum-hukum positif ilmu alam.

Yang jelas buku ini menjelaskan sosok pemikir dan sastrawan yang hidup di Rusia pada abad ke-19, dapat dilihat bagaimana ia menggugat pemikiran-pemikiran yang ada pada zaman modern. Jadi sangat layak dan patut dibaca oleh yang berniat untuk mengetahui bagaimana orang Rusia mencetuskan idenya tentang politik, tentang filsafat, dan tentang manusia itu sendiri.

Selain itu buku ini mengungkap berbagai fakta, realitas, dan data yang akurat tentang berbagai kendala dan kepincangan-kepincangan yang melanda manusia di Rusia baik tentang cinta kasih, krisis manusia modern. Juga dibahas tentang alasan mengapa buku Dostoevsky perlu ditelaah untuk dijadikan rujukan bagi perkembangan zaman modern pada masanya dan saat ini masih aktual untuk dijadikan bahan diskusi dan renungan.

*) Direktur Eksekutif Pustaka Rumah Tanya Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *