Prosa-Prosa M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
Lirik Karbala

Setiap kali kututup telinga, kudengar gemuruh dari jauh, seperti suara riuh. Adakah itu suara engkau yang menangis tak habis-habis, atau hati saudara-saudara tercinta yang meretas tak tuntas-tuntas, atau pula kekasih yang disakiti tak henti-henti? Suaramukah itu, Karbala?

Dalam jarak waktu merentang, tangis rintihmu menyayat terdengar. Di hati, tidak di telinga. Di jiwa, tidak di raga. Perih luka kautanggung. Alangkah dahsyat siksa kaupikul. Namun, aku yakin, pada tiap tetes air mata berlinang, adalah pelipur bagi hati yang risau.

Karbala!
Iris cabikan pedang, mencipta lukisan luka sangsai. Semakin perihlah terasa, karena saudara menjadi lawan. Di tempatmu, duhai gelanggang terkuaknya hijab paling samar, antara salah dan benar, nyawa-nyawa telah diberangkatkan menuju persemayaman suci. Tempat mukim para nabi dan wali-wali.

Wahai wilayah tak terpeta. Setitik debu di rahim dunia. Kesaksianmu adalah semua wilayah jagad raya. Menyelimuti luas padang batin manusia. Karbala; bagai sekulum bibir yang mengucapkan sepatah kata dengan lantang di antara ribuan bait puisi berdarah yang rancu terdengar. Laksana nyanyian kesetiaan tanpa penghabisan. Melantunkan irama merdu Tuhan bagi telinga yang terkuak untuk kebenaran.

Dalam jarak waktu merentang, masih kudengar ratapan dan rintihan para kerabat, menembus kemelut pikiran, melintasi apa pun kebisingan.

Karbala!
Meskipun suaramu kadang lirih terdengar, sesayup sampai, bahkan seringkali hilang, namun di telingaku tetap mengiang. Benar nyatanya, seorang yang turut merasakan tragedimu yang pedih, yang tak terlukis perih, hari-harinya adalah asyura; hari di mana kereta kencana diberangkatkan menuju surga.

Pada hari itu, merah darah membanjiri tanah, agar padangmu yang gersang jadilah gembur. Bersamaan saat, di kepalamu, Allah menyemat mahkota bertatah permata. Jadi, terhiburlah. Engkau telah terpilih sebagai tempat tumpahnya darah para pejuang Allah. Maka, tak usah tangisi Husin, ia tetaplah muhsin. Tak perlu dicari siapa yang lalim. Jangan caci Syammar. Tak perlu dibakar dendam, sebab pemaaf adalah pemenang.

Karbala!
Lama engkau berlalu. Kesedihanmu mulai terlupa, namun tak mungkin terhapus dari hati yang penuh nestapa. Sebab kisah yang telah kautulis di muka bumi ini adalah ikhtisar dari berbagai teladan tentang kesabaran dan kesetiaan yang dapat dimengerti oleh jiwa yang tenang.

Lirik Palestina

Palestina!
Wahai bunda bagi bermilyar manusia. Gerangan apakah yang membuat air matamu berlinang tak selesai-selesai? Duka maha laksana apa kautanggung sehingga tangismu bagaikan drama tanpa penghujung; lakon panjang anak-anak menyandang senjata, bermain bersama martir, sementara para ibu menjadi janda di waktu muda, atau mati sebelum melihat anaknya dewasa, para pejuang yang gagah karena cinta tanah air, meskipun lemah karena hidupnya semakin rengkah?

Ke manakah anak cucumu jauh melanglang? Adakah para Yahudi itu tahu bahwa tanahmu selalu gembur karena basah oleh air mata, sementara engkau, ibu pertiwi yang menghidupinya, tersengal bila melenguh, tersendat saat bernapas, menahan sesak, memikul tragedi abadi semenjak awal mula drama kehidupan dimulai? Adakah para Kristiani itu membesuk engkau terbaring, terbujur, terlentang menahan sakit, mungkinkah mereka akan melupakanmu; tempat yang sangat mereka agungkan itu? Mungkinkah kaum Muslimin melupakanmu; tanah penuh sejarah tempat tonggak perjuangan ditancapkan?

Apakah mungkin derita ini adalah hikmah mulia yang terselubung kasat mata? Namun, mengapa mereka bertikai, ataukah hal itu merupakan wujud rasa cinta pada bundanya sebagai pembelaan?

Hingga sekarang, kecuali lirik ini, aku tak punya sapu tangan bagi air matamu yang tak habis berlinang.
Palestina!

Duhai bunda bagi bermilyar manusia. Apa kabar Yerusalem, yang kian tua oleh usia, tapi selalu muda untuk dicinta? Para nabi yang pernah singgah di sini, kalau saja sekarang mereka ada, sanggupkah tidak menangis ketika melihat kota?kotamu porak?poranda, bergelimang darah, bermandikan peluru, sementara di lain tempat, anak-anakmu hidup mewah dan pesta pora? Dan apakah pernah terbayang oleh nenek moyangmu para Punisia, bahwa bumi yang dulu mereka temukan itu bakal menjadi sebuah tanah subur bagi tumbuhnya pertikaian? Apakah mereka pernah menduga kalau tanah yang mereka puja selalu menangis tak ada habis?habisnya?
Palestina!

Sampai saat ini aku tak tahu, apakah dunia cukup kaya menyediakan air mata untuk menangis atas drama lukamu yang tak terhingga? Sampai saat ini aku tak tahu, dengan doa apa aku memohon kesejahteraan untukmu. Atau karena aku memang tak tahu, jangan-jangan pada kesedihanmu itulah terletak kebahagiaan semesta, dan di lukamu itulah, dunia mencurahkan isi hatinya yang kancap oleh air mata?

Hingga sekarang, kecuali lirik ini, aku tak punya sapu tangan bagi air matamu yang tak habis berlinang. Sampai saat ini aku tak punya cerita untuk melipur lara ataupun kata-kata yang tepat untuk mengucapkan belasungkawa.

Dunia, mari hentikan drama Palestina. Turunkan layar dan akhiri pertunjukan. Cukup pedih mata menangis. Cukup perih hati teriris.

Berakhirlah penderitaanmu, Palestina.
Damai dan sejahtera bagimu.
Amin.

Jangan Kaututup Pintumu

Apa yang sedang engkau renungkan di dalam bilikmu, Kawan? Apakah tak bosan mendekam sendirian? Supaya bisa bertukar kabar denganmu dan bisa saling bertamu, mari kita saling bacakan catatan harian, lalu saling bertanya; apa kabar?

Jangan pintu dan jendela rumahmu rapat kaukunci. Cobalah sekali waktu dibuka, supaya angin segar masuk ke dalam. Lihatlah ke luar, siapa tahu pisang yang dulu masih menghijau, kini telah kuning tandanya matang. Sebaiknya engkau juga tahu, rumput di halaman sudah liar meranggas. Tak sedap dipandang, saatnya dipangkas.

Kesendirian adalah waktu yang tepat untuk munajat. Engkau akan merasa nikmat bila maksudmu hendak berkhalwat. Pikiranmu bisa bebas sebebas-bebas dan emosimu lepas selepas-lepas. Atau, mungkinkah engkau menyepi, mencari inspirasi di dalam sunyi, menunggu esok dengan sendiri? Demikian aku bermungkin. Engkau memilih sendiri, menunggu makhluk bersayap, di tengah malam saat dunia lelap dan matamu nanap, ketika insan terlena sementara engkau bertahan jaga.

Tapi, jangan pintu dan jendela rumahmu rapat kaukunci. Ada baiknya ia kaubuka. Siapa tahu dunia telah berubah warna. Engkau tak gagap bila semua telah bermalih rupa. Ada baiknya kaulihat di luar, siapa tahu anak-anak semakin binal. Kini, bahkan sesama saudara saling berperang. Jangan-jangan engkau juga belum tahu, nilai nyawa semakin tiada harganya. Supaya engkau juga paham, mata dunia kini merah sembab karena air mata.

Jangan kaututup selalu pintu dan jendelamu. Sekali waktu, bukalah ia. Hirup udara segar dan sapalah sekelilingmu; apa kabar?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *