9 Pertanyaan untuk Sapardi Djoko Damono:

“Sastra Menciptakan Dunianya Sendiri”

Grathia Pitaloka
http://jurnalnasional.com/

HAMPIR 30 tahun Sapardi Djoko Damono bergaul dengan hujan, tetapi ada saja rahasia yang belum ia ungkap dari jarum-jarum air itu. Lelaki yang Maret mendatang genap berusia 69 tahun ini sadar makna hujan tak seutuhnya dapat diringkus dalam bahasa.

Mungkin sunyi adalah salah satu isyarat yang berhasil ditangkap Sapardi dari hujan. Bersama sunyi, sulung dari dua bersaudara ini melatih kepekaan inderanya untuk lebih sensitif. Berlatih untuk dapat mendengarkan denting yang paling lembut.

Dari sunyi itu juga sebagian puisi Sapardi lahir. Karya yang disebut oleh banyak orang sebagai puisi liris karena memproses perkembangan pikiran dan perasaan yang subtil. Berikut petikan obrolan Sapardi dengan Jurnal Nasional di Jakarta, beberapa waktu lalu.

1. Apa kesibukan Anda sekarang?

Saat ini saya sedang menikmati hidup. Saya tidak lagi mengajar atau memegang jabatan tertentu sehingga lebih punya banyak waktu untuk kegiatan-kegiatan personal seperti menulis, melukis, atau bermain musik. Saya terus menulis karena dengan itu saya dapat terus belajar. Saya tidak ingin berhenti pada satu titik saja. Oleh karena itu, saya mewajibkan diri untuk terus berproses supaya saya bisa terus berkembang.

2. Apa ada rencana untuk meluncurkan buku baru atau membuat pameran?

Rencananya dalam waktu dekat saya akan meluncurkan dua kumpulan sajak saya. Beberapa puisi pernah dimuat di harian ibu kota. Beberapa teman juga mengajak saya untuk membuat pameran lukisan, tetapi tawaran itu belum saya terima.

3. Anda membutuhkan waktu khusus untuk berkarya?

Tidak. Saya tidak memerlukan waktu atau tempat khusus untuk menulis. Saya juga tidak pernah mematok berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan sebuah karya. Semuanya saya biarkan mengalir. Berjalan sesuai proses. Oleh sebab itu, karya-karya saya, terutama puisi, tercipta dalam jangka waktu yang berbeda-beda. Ada yang lahir dalam waktu singkat, namun ada pula yang membutuhkan waktu hingga bertahun-tahun. Saya punya kebiasaan untuk terus-menerus memperbaiki agar dapat menghasilkan yang terbaik.

4. Menurut Anda bagaimana kondisi sastra Indonesia saat ini?

Saya rasa sastra Indonesia saat ini sedang berada pada kondisi yang menggembirakan. Banyak lahir para penulis baru yang memberikan warna segar di dunia sastra Tanah Air. Banyaknya karya sastra dari luar yang masuk ke Indonesia juga turut memacu kemajuan sastra Tanah Air. Para penulis jadi memiliki lebih banyak literatur dan tidak menjadi katak dalam tempurung.

5. Bagaimana pendapat Anda mengenai komentar bahwa pembaharuan puisi Indonesia terhenti pada Afrizal Malna?

Kita tidak bisa mengharapkan pembaharuan akan muncul setiap saat. Pembaharuan itu dapat terjadi dalam waktu bertahun bahkan, berpuluh tahun. Dulu pada awal tahun 90-an Afrizal Malna melakukan pembaharuan dengan sajak-sajaknya, tetapi pembaharuan itu tidak berdiri sendiri melainkan bagian dari proses.

Setelah Afrizal pembaharuan terus berlanjut. Itu dapat dilihat pada sajak-sajak Joko Pinurbo. Setelah itu saya yakin pasti akan lahir lagi penyair yang membuat pembaharuan. Sastra itu sebuah proses panjang yang berjalan dengan pelan. Perubahannya terjadi sangat lembut dan mesti dilihat secara cermat.

Akhir-akhir ini saya sering membaca surat kabar dan menemukan banyak anak muda yang memiliki potensi. Bisa berkembang atau tidak tergantung kemauan mereka untuk belajar. Untuk menjadi penulis yang baik, seseorang harus rajin membaca. Membaca membuat seseorang menjadi kritis dalam berpikir. Kekritisan itu penting dalam proses belajar karena jika tidak mereka tidak akan naik tingkat.

6. Apakah untuk membuat sesuatu yang baru harus “membunuh” yang sudah ada sebelumnya?

Jangan menyamakan sastra dengan olahraga. Untuk mengalahkan rekor loncat satu meter seseorang harus loncat minimal dua meter. Dalam sastra tidak seperti itu, menurut saya itu absurd. Kalau pun sudah “dibunuh” saya rasa semua orang setuju jika karya Chairil masih tetap memikat. Sastra itu sebuah labirin proses, satu sama lain berkembang tidak dengan saling mematikan.

7. Bagaimana dengan kondisi sastra daerah saat ini?

Tidak menyenangkan. Jarang sekali majalah atau buku yang terbit dalam bahasa daerah. Kalau pun ada peredarannya tidak begitu luas dan biasanya hanya untuk kalangan terbatas. Oleh karena itu, banyak penulis lebih memilih untuk menulis dalam bahasa Indonesia.

Menurut saya itu adalah sesuatu hal yang tidak bisa dipaksakan, bahkan suatu saat mungkin harus direlakan. Hakikat dari sebuah bahasa dia akan ada kalau terus dipakai dan perlahan akan punah bila tidak digunakan.

8. Apa punahnya sastra daerah bermuara dari butanya generasi muda terhadap bahasa daerah?

Sekarang kita sehari-hari komunikasi pakai bahasa apa? Tayangan televisi pakai bahasa apa? Koran-koran pakai bahasa apa? Saya rasa wajar jika mereka lebih akrab dengan bahasa Indonesia karena memang itulah yang sehari-hari mereka gunakan. Memang dalam perjalanannya pasti ada korban. Tetapi, korban di sini tidak dalam konteks baik buruk karena beberapa bahasa di dunia juga mengalami hal yang serupa, punah. Saya rasa kepunahan merupakan sesuatu hal yang biasa, tidak perlu ditangisi. Namun, kalau masih ada yang mau mempertahankan ya bagus.

9. Benarkah sastra daerah memperkuat perkembangan sastra Indonesia?

Kita tidak bisa memperkuat satu jenis sastra melalui sastra lain. Sastra menciptakan dunianya sendiri. Satu sama lain memang jadi bagian yang tidak terpisahkan, namun tetap tidak terjalin satu hubungan yang saling menguatkan. Sastra satu tidak bisa menyumbang untuk sastra lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *