Bandar Negeri Semuong *)

Asarpin
http://www.lampungpost.com/

MATAHARI di Teluk Semangka hampir tenggelam dibalut awan hitam. Senja masih memancarkan separuh cahayanya di ufuk langit. Bukit Barisan Selatan segera tertutup kabut. Awan hitam bermandikan cahaya keputih-putihan muncul dari lereng Gunung Tanggamus.

Sore itu saya duduk di bawah pohon dadap yang sedang berbunga kemerah-merahan di dekat Bandar Negeri Semuong. Dulu tempat ini dikenal dengan nama Bandar Brunai, pelabuhan kapal mengangkut rempah-rempah yang hampir sama ramainya dengan Teluk Bayur. Para pedagang dari Brunai dan Bengkulu sering singgah ke pelabuhan ini melewati hulu Teluk Semangka melintasi pesisir Krui.

Udara di sekitar bekas bandar perdagangan rempah-rempah ini begitu dingin dan bersih. Daun-daun pohon dadap tampak lebih hijau, bunga-bunga yang memerah menyebarkan harum wewangian. Memerah seperti gerbera. Putik-putik buah yang merayap di atas pohon dadap sebentar lagi akan menjelma biji-biji lada berwarna hijau, cokelat dan kemerah-merahan. Sudah saatnya bagi tunas-tunas muda yang kuat di matahari yang menyengat untuk menemani panen lada tahun ini. Sebab, sudah tiga tahun terakhir panen lada tidak bagus.

Saya mencari tempat berdiri, mengenakan ikat kepala dan kemeja hitam mirip pakaian pendekar terkenal Teluk Semangka. Raden Patih namanya. Ketika sedang melihat-lihat biji-biji lada jatuh ke tanah, sejenak aku tertegun melihat Astikar merangkak di atas tangga memanjat pohon dadap yang tengah berbuah lebat di atas dadap berduri dengan ranting bercecabang.

Di tempat ini kali pertama saya menyaksikan teman saya yang satu ini mengajarkan cara memetik biji lada yang kecil dan bulat, yang kusaksikan dengan mataku sendiri di huma dan pematang sawah dekat Bandar Negeri Semuong ini. Saya terpacak di sebuah batang pohon, terkagum-kagum dan nyaris tak percaya melihat tangkai buah yang bergantungan di pohon dan berjejer di ranting berduri. Kampung sahabatku ini ternyata kampung makmur. Apa saja tumbuh, bertunas dan bercecabang dengan warna daun yang kehijau-hijauan saat terguyur hujan.

Sungguh pun begitu, Astikar bukan seperti kebanyakan orang kaya yang pernah kulihat. Saya tahu betapa sulitnya mencari uang bagi petani penggarap seperti kebanyakan orang di sini. Tetapi, dengan datangnya hujan, mereka merasa seperti sedang menanti tanaman lada berbuah lebat. Rasa takjub melihat biji-biji yang bergantungan, bergelayut, berjuntai-juntai yang memberikan efek keindahan pada pohon dadap tempat wayit lada menambatkan hidupnya ini.

Saat Astikar menunjuk ke arah sebatang dadap, saya nyaris tak percaya bila semua ini buah dari karya para petani Teluk Semangka. Seharusnya saya akan ikut merasakan pedasnya biji lada yang telah terlepas dari kulitnya. Lada sulah, kata orang di sini. Lada kering yang sudah siap jadi bumbu penyedap masakan.

Seumur hidup saya tak pernah melihat jenis tanaman seperti ini, apalagi menyaksikan biji-biji kemerah-merahan yang seperti ingin berkenalan. Sebuah tatapan yang pedas, seperti halnya rasa biji ini. Angin semilir melambai-lambaikan biji-bijinya. Satu per satu saya tatap biji-biji itu yang mulai jatuh ke tanah. Saat itu Astikar menyuruhku ngelahang di bawah pohon dadap. Saya tak mengerti maksudnya, tetapi ketika ia menjelaskan aku segera menghampiri sebatang pohon dadap yang di atasnya biji-biji lada begitu lebat.

Astikar memberiku sebuah loki ukuran kecil yang katanya biasa digunakan anak-anak kecil untuk ngelahang biji lada yang jatuh. Lalu ia menyuruhku memungut satu per satu biji lada yang terjatuh ke tanah tertutup daun-daun kering. Lalu biji lada itu saya masukkan ke loki dan mulai terkumpul banyak. Hasil yang kuperoleh lantas kupendam beberapa hari lamanya di gubuknya. Ketika itu Astikar kembali menyuruhku untuk mencicipi biji lada berwarna merah kehitam-hitaman, dan ternyata bibirku terasa pedas, menyeringai seketika, seperti merasakan bara sedang menempel di bibir.

Masih saya ingat ketika Astikar bercerita dengan bahasa Lampung pesisiran yang sedikit-sedikit saya menangkap artinya, tentang Hikayat Lada Sulah. Tanaman malang, yang dengan cepat ditinggalkan penggarapnya karena jatuhnya harga di Bandar Brunai.
***

Saya memang kagum padamu, sahabat. Sebab kau telah berjasa menanam dan merawat ratusan pohon lada yang berjejer dekat Bandar Negeri Semuong itu. Betapa jerih payahmu kini telah menghasilkan buah dan kau tinggal menikmati hasilnya. Kau telah berjanji untuk mengajakku berjalan-jalan ke bekas Bandar Burnai, di pesisir Teluk Semangka, di antara kicau burung bakik yang mengempas kesadaran imaji diam.

Setiap senja setelah liburan sekolah kau ajak aku pergi bermain ke dekat puing-puing Dermaga Bandar Burnai itu, melihat-lihat lanskap yang jauh sambil membayangkan suasana bandar perdagangan rempah-rempah ini dulunya. Setelah itu, kau akan melanjutkan persiran ke kebun yang indah dengan rumput liar menjalar begitu lembut. Di sana-sini di atas rerumputan muncul bunga warna-warni yang cantik bagaikan bintang-gemintang. Di kebun-kebun ini tumbuh pepohonan yang rindang dengan warna daun yang mulai menguning yang kelak menjadi putik-putik yang berwarna hijau ungu. Dan kelabu kebiru-biruan pada musim gugur akan melahirkan buah.

Kulihat burung-burung bertengger di pohon-pohon dan bernyanyi begitu merdu. Betapa indah negeri ini dulunya, pikirku sambil menatap ke burung-burung yang terus bercanda di ranting-ranting pohon. Saat itu telunjukmu mengarah ke pohon rindang yang sebelumnya tak pernah kulihat. Kau menjelaskan ini yang namanya pohon cengkeh, pohon yang dulu seperti mendatangkan surga di bumi bagi penduduk Teluk Semangka.

Tak sekejap pun mata ini ingin lepas dari biji cengkeh yang menempel di balik daun pohon yang rindang itu. Aku baru tahu bahwa di Bandar Negeri Semuong ini terdapat banyak pohon cengkih. Pohon kehidupan, kata para nelayan payang alias nelayan jaring tarik di Teluk Semangka.

Bekas Bandar Burnai ini banyak melahirkan legenda tentang rempah-rempah yang menjanjikan kehidupan generasi turun-temurun. Sedang di dekat hilir Teluk Semangka, banyak legenda yang mengisahkan tentang manusia yang menyaru jadi buaya. Rasa-rasanya tak ingin pergi dari tempat ini, apalagi ketika melihat anak-anak kecil mengembala kerbau sambil bernyanyi. Aduhai, ini benar-benar surga dunia.

Saya menyandarkan tubuh pada sebatang pohon cengkeh, yang di bawahnya begitu bersih tanpa ditumbuhi satu rumput pun. Ketika itu Astikar bilang, mari aku ajari kau cara memetik biji cengkih dari tangkainya, kau akan mendengarkan bunyi-bunyi pelan yang merdu, katanya. Amboi indahnya susana di sini. Masih terus kuingat sahabat, ketika kita menggotong tangga bambu dan berhenti karena kelelahan. Lalu kita menyandarkan tangga itu di pohon cengkeh yang bergoyang seperti ketakutan. Asoi, katamu mengajarkan aku bahasa ibumu.

Makin lama saya mulai mengerti bahasa negeri ini. Mengerti cara memetik biji cengkih dan melepaskan dari tangkainya dengan desah suara begitu indah. Astikar telah banyak mengajarkan cara memisahkan tangkai dan bijinya dan aku begitu takjub meski semua itu seperti mimpi atau hanya mimpi untuk kemudian tak ada apa-apa yang mesti dikenangkan. Kau begitu sabar, sahabat, menjelaskan makna perpisahan tangkai dari bijinya. Ahai, setangkai dua tangkai dan sebiji dua biji, katamu mengajari aku kata-kata merdu. Setangkai dan sebiji yang saya saksikan berjejer di balik daun semampai itu. Oh, sahabat, betapa mulia tutur kata bahasa ibumu.

Kau memanggilku dengan penuh simpatik. Lalu mengajak persiran ke kebun cengkih. Lalu kita ngelahang bersama-sama di bawah pohon yang rindang. Tak ada yang perlu kau ajari lagi cara ngelahang cengkih di balik daun-daun kering ini, karena saya telah kau ajari ngelahang biji lada.

Seketika saya tersentak mendengar alunan merdu bersahut-sahutan di tengah huma yang sepi. Sebentar tertegun, memperhatikan dengan penuh suara lantunan datang terbawa angin. Seperti suara anak kecil sedang berpantun bersahut-sahutan. Saya merasakan tubuh seperti sedang memperbesar rasa kemenangan. Lantunan suara naik-turun itu, tangga nadanya yang belepotan tapi cekatan, mengingatkan kembali pada anak-anak gembala di kebun lada.

Saya tak dapat menyembunyikan rasa takzim. Syair pantun dengan nada yang tak beraturan, sama dengan sifat Astikar yang tak bisa diam, yang tak dapat ia sembunyikan. Semangatnya menyala, tapi seketika berubah menjadi keengganan yang menggelisahkan. Semua itu karena bayangan masa depan harga lada dan cengkeh belum pasti.

Kebun cengkih dan lada itu seakan terlepas dari sumbernya. Saya tidak mungkin memercayai desas-desus orang hutan yang tega melepaskan batang lada itu dari pohon dadap tempatnya merayap. Bukan orang hutan yang menyebabkan sesuatu telah terjadi pada tanaman lada di kebun itu. Tanpanya keberadaan pohon dadap itu, tidak mungkin batang lada bisa terus tumbuh.

Saya membayangkan arti persahabatan saya dengan Astikar seperti tanaman lada yang merambat ke pohon dengan berbagai cecabangnya yang berduri; persahabatan yang sama dengan merambat naik ke puncak untuk menggapai dunia atas. Begitulah tanaman lada menjaga hidupnya dengan cara menumbuhkan dirinya terus-menerus. Sebuah hubungan harmonis antara tanaman dan pohon yang kelak akan memberikan banyak hal yang bisa simpan dalam laci kenangan. Tapi siapakah yang membuat aturan yang telah memonopoli pertumbuhan tanaman ini hingga menyebabkan semuanya meranggas?

Orang-orang hutan kembali muncul dalam pikiran. Bukan mereka yang merasa terpuaskan ketika berhasil menurunkan tanaman lada dari tempatnya menjalar. Masih ada sedikit yang mereka sisakan pada bagian atas dadap yang menggantung hampir mati, sedangkan bagian bawah–dekat akarnya–tidak terawat dan dipenuhi rumput liar.

Ribuan tanaman lada itu tak bisa berbuat apa-apa ketika telah dilepaskan dari pohon dadap tempatnya tumbuh. Baru kini saya sadari bahwa tangan-tangan tersembunyi bisa melahirkan tindakan kekerasan dengan cara menghabisi semua lada sampai ke akar-akarnya. Tangan-tangan tersembunyi apalah artinya, tapi nyatanya telah merenggut tanaman ini dengan paksa, dan sesudah itu, pertumbuhananya segera berakhir.

Sejak mendengar legenda Tangan Tersembunyi itu, penghasilan rempah-rempah di kampung ini mulai berkurang. Bandar Brunai tidak begitu ramai lagi. Saya berpikir-pikir, apa salah tanaman kehidupan ini, tanaman yang ingin hidup abadi dengan cara merambat naik ke puncak pohon dadap untuk menjauh dari tangan-tangan kekerasan.

Tapi, saya cuma bisa berpangku tangan dan tak dapat berbuat apa-apa. Tidak mempunyai daya imajinasi yang tembus pandang, tidak memiliki kepekaan pada perubahan iklim, dan buku-buku pelajaran di sekolah mulai saya jauhi. Buku-buku peraturan antimonopoli mulai saya jauhkan dari memori. Jika saja saya kehilangan diri sendiri, segala yang dipunya Astikar juga akan hilang. Ingat, sahabat, dulu kau yang mengajari rahasia kehidupan tanaman. Kau dulu yang berkata; jika kau kehilangan arah, sahabat, jangan cari di sini penyebabnya. Saya bersumpah, kadang-kadang ingin rasanya saya menyaru jadi mandor pelabuhan untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.

Terlalu banyak yang saya kerjakan, hingga membuat diri sendiri tak memiliki perspektif yang utuh. Saya membutuhkan satu pekerjaan, satu keinginan, satu harapan, yang bergandengan tangan dengan keadilan. Sering saya merasa iri, orang-orang lain saya saksikan berhari-hari dikelilingi kekayaan.

Saya tidak pernah tahu masihkah tanaman lada tumbuh di sepanjang hiliran Teluk Semangka dekat Bandar Negeri Semuong itu. Biji-biji lada yang bulat bergantungan dibalik tangkai dan di bawah daunnya, saat ketika saya masih sering persiran ke Bandar Brunai. Apakah semua hanya tinggal hikayat, atau entah apa, saya mulai tak mengerti. Astikar tak di sini, entah ke mana.

Sejak itu saya tak pernah berjumpa di antara puing-puing bandar perdagangan rempah-rempah di teluk ini. Saya tidak menggerutu, puncak semua ini hanya bayangan. Berapa banyak kejadian sejak aturan monopoli diterbitkan di negeri ini, yang hanya berlalu begitu saja, tanpa meninggalkan bekas kecuali kematian bagi tanaman. Orang macam apakah yang seluruh perintahnya hanya tertuju untuk memusnahkan, memonopoli aturan untuk anak cucu sendiri, menyiram ribuan tanaman dengan zat yang membara, yang seluruh perbuatannya bertahun-tahun menumpuk kekayaan, seakan ingin meletakkan satu kursi lagi di atas meja dalam mencari kedudukan yang lebih tinggi?

Bukan karena para penggawa negeri ini tak punya kesibukan lain; bukan itu sebabnya, malah pekerjaan makin menumpuk. Justru karena gesek-gesekan soal harga lada di dunia yang melambnung, anak-anak kecil tidak bisa lagi ngelahang, buruh harian pemetik lada telah menghambat mereka dari pekerjaan yang menjanjikan tanpa pemerasan keringat.

Orang dungu yang pura-pura menyadari, mungkin saja, sebab apa yang penting bukanlah menimbun kekayaan, mendominasi posisi, dan dalam kenyataan, keluarga para penggawa yang menduduki tempat pertama jarang memegang peran utama. Bagaimana raja-raja Lampung dikuasai patihnya, menteri dikuasai suruhannya. Kepala Pekon dikuasai wakilnya, seorang wakil dikuasai sekretarisnya. Siapa sebenarnya yang nomor satu, menurut Astikar yang nomor satu adalah dirinya, yang dapat mengungguli yang lain dan cukup punya prinsip hidup.

Kalaupun hutan sudah berubah jadi hamparan huma, penuh dengan buah yang lebat, itu karena Astikar ingin menyelamatkan manusia dari kelaparan. Tugas yang belum bisa dilakukan orang lain. Astikar memang punya bakat untuk mengerti siapa dan apa tugas petani penggarap tanah Sang Bumi Ruwa Jurai ini.

—————-
* Petikan dari cerita yang lebih panjang
Kosakata Lampung:

Lada sulah = biji lada yang kulitnya telah dilepaskan dan dikeringkan, yang sudah siap didiling sebagai bumbu masak. Hikayat Lada Sulah adalah salah satu legenda lisan masyarakat Teluk Semangka, khususnya kesaibataninan Gajah Minga Padang Ratu.

Ngelahang = memungut biji lada atau cengkih yang jatuh ke tanah. Kebiasaan ini banyak dilakukan anak-anak kecil saat musim lada dan cengkih pada tahun 1970-an di wilayah Teluk Semangka untuk kemudian hasilnya dijual ke penampungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *