Malam di Sudut Lampu Merah

Fati Soewandi
http://www.kompas.com/

Gerimis di mula malam. Genangan-genangan kecil tumbuh di tepi jalanan yang penuh legok. Kesiur angin dingin menggoyang dedaunan angsana yang letih menadah timpahan gerimis, kian menit kian rapat mengepung geliat udara.

Dengan tangan, Tegar menaungi kepalanya dari rinai gerimis sambil menatap kosong ke arah pos polisi yang tak berpenjaga di sudut perempatan lampu merah beberapa meter di depannya. Bintang, adiknya, tampak membayang dengan latar belakang langit musim hujan, cahaya bulan yang redup membuat ingatannya tentang bidadari kecil itu jadi semakin mencekik lehernya.

?Ambil saja nyawaku, Tuhan!? jerit Tegar, memecah kelengangan malam. Sesaat kemudian kedua matanya terasa sangat berat, sesuatu yang mati-matian dibencinya mengancam akan tumpah ke pipinya yang bopeng, lalu dalam waktu yang sama gendang telinganya bergetar halus seperti menangkap gonggongan anjing-anjing hutan yang memburunya, satu dari ribuan imajinasi buruknya. Dan ia kehilangan irama pernapasannya. ?Kenapa bukan aku?? tanyanya lirih di tengah usahanya mengais sisa-sisa kesadaran. Mungkin untuk kali terakhir.

Kenapa bukan aku? Tegar mengulang dalam hati, pikirannya melayang kembali ke lima tahun lalu, ingatan menyeramkan itu melintas di depannya seperti film horor yang ditampilkan di sebentang layar tancap hitam-putih besar, memutar adegan demi adegan berdurasi lambat sekaligus dengan detil-detil ketegangan yang nyata. Kenapa…? ia bertanya-tanya, tanpa bisa menghentikannya.

Adegan pembuka yang menyenangkan. Sebuah keluarga kecil yang bahagia: ayah, ibu, dan dua anak; hari-hari mereka penuh renyah tawa dan peluk-cium yang hangat; saling berbagi kasih dalam indahnya kebersamaan, seakan-akan hidup mereka tak terpisahkan oleh maut sekalipun; tangan-tangan dengan guratan-guratan tegas yang menggenggam restu paling berkah, meneduhkan segala letupan di hati; wajah-wajah belia yang mulai bercahaya, memancarkan kesetiaan dan kemurnian cinta. Begitu banyak yang patut dibanggakan.

Tegar masih berusaha keras untuk tetap sadar. Ia mengulurkan tangan, gemetar, menyentuh dada tipisnya, dan merasakan getaran yang melemah. Lalu diusapnya wajahnya berulang-ulang, masih gemetar, seakan begitu ingin menghapus bayangan hitam yang menyelubunginya. Mata suramnya terpaku pada seekor tikus got. Tiba-tiba ia tertawa, walaupun tidak terlalu yakin sebabnya.

Aroma sengak air selokan meruap. Malam itu entah malam ke berapa pemuda berperawakan jangkung dan kian kurus itu berhadapan dengan bayangan kelabu yang menyerupai dirinya, menariknya menyusuri keping-keping cermin raksasa yang membentuk lorong layaknya labirin, lalu menyesatkannya dalam imajinasi dan mimpi-mimpi buruk. Tubuhnya bersimbah keringat dingin, matirasa lalu lumpuh, dan ia tidak bisa mengelak. Semua terjadi?mungkin?seperti keinginannya. Dan kemudian, perlahan tapi pasti, sudah tidak ada waktu lagi.

Tegar dengan kesempatan terakhir, saat layar tancap hitam-putih besar khayali itu memutar adegan paling mencekam. Adegan dalam kamar mayat.

?Keluarkan putriku dari sini. Cepat….!?
?Oh, Tuhan,? ratap seorang lelaki berkacamata minus sambil mendekap seorang perempuan berambut hitam keriting, yang terus meronta-ronta.

Untuk sesaat tak seorang pun bergerak, tidak pula bicara. Kemudian, ?Sayang, di sini gelap dan sempit. Kau ingat, Bintang sangat takut akan gelap?? tangis si perempuan, suaranya mantap, meskipun wajahnya jelas-jelas berselimut kabut gelap dan linangan airmata mengaburkan pandangannya.

?Ya, aku ingat,? jawab lelaki yang dipanggil ?Sayang?, masih memeluk tubuh kecil perempuan itu dengan begitu erat hingga ia merasa raga mereka berdua menyatu, saling memberi kekuatan. Meski masing-masing tahu apapun yang tengah mereka bangkitkan saat itu hanyalah kesedihan, sejak tubuh mungil yang selalu menggemaskan tiap kali memeragakan goyang Jaipong itu telah terbujur kaku dalam keheningan yang sangat mencekam, kedua tangan kecilnya yang bersimbah darah tergantung lunglai di sisinya.

Suami-istri itu terpuruk di pinggir kereta dorong mayat, kepala si istri menelungkup di tangan sang suami. ?Dia benar-benar pergi,? si istri berbisik sambil menelan airmatanya, tanpa memandang kepada suaminya. Baru minggu lalu mereka merayakan ulang tahun putri kecilnya yang kesembilan. Semuanya begitu menakjubkan: delapan lilin di atas kue ulang tahun dalam empat barisan kecil, satu batang lilin yang lebih besar di samping Sponge Bob, hiasan wewarni balon-balon berbentuk hati, serta semarak suasana malam kala itu terekam dengan jelas di benak mereka. Sungguh meriah.

?Apa yang terjadi?? Suara itu datang dari ambang pintu kamar mayat. ?Ibu? Ayah, di mana Bintang??

Seorang pemuda berperawakan jangkung berlari dari ambang pintu menerobos kerumunan beberapa orang berseragam putih-putih. Seluruh tubuhnya gemetar saat mendapati wajah mungil yang hari-hari lalu entah mengapa lebih sering terbahak-bahak sangat kegirangan dibanding hari-hari biasanya, kini memucat dan kaku. Itu wajah mungil yang selalu bercahaya oleh pantulan sinar matahari yang menemaninya bermain ayunan di halaman depan rumah mereka, rambut keritingnya mengalun bebas di belakang kepalanya yang terus menggeleng-geleng merasakan segarnya udara pagi. Wajah mungil yang sepasang pipi ?bakpao?-nya akan merona merah muda setiap kali dipanggil ?bidadari kecil?. Wajah mungil yang pasti mengedip-kedipkan sepasang mata sipitnya kalau terkena kilatan blitz kamera. Tegar menggigil, membayangkan dirinya mengecup kening bidadari kecil itu seraya meminta maaf karena tak bisa mengantarnya ke sekolah, seperti baru beberapa menit lalu. Darah segar mengental di sekujur luka dan memar, tubuh kecil yang membeku; penglihatan yang mencekat nyawa.

Tegar menggeleng keras, matanya terpejam, napasnya makin dangkal. Ia mencoba bicara, menggerakkan bibirnya, ?Seandainya aku mengabulkannya.?

Kenyataannya tidak demikian. Sekeras apapun ia berusaha, atau betapa gigih pun ia berdoa, tidak ada bisa yang membawa bidadari kecilnya kembali atau membuat kebersamaan keluarganya seperti dulu lagi.

Tegar pun benar-benar hancur. Yang ia punya hanya mimpi buruk yang selalu sama dan berulang-ulang, melemparkannya menembus dunia lain. Ia berjalan dalam kegelapan, kedua tangannya berusaha keras menggapai-gapai ke segala arah menghantam hampa udara.

Detik berikutnya ia mencium bau anyir darah, dan seketika pula datang sorot cahaya yang begitu menyilaukan matanya. Sesaat ia berharap itu adalah jalan keluar dari kegelapan yang memerangkapnya dalam rasa takut yang dahsyat.
Sayang harapannya berbalas kesia-siaan.

Sorot cahaya itu menegas seiring pandangannya yang pulih. ?Kakak….? satu suara terdengar, merintih. Tegar sedikit menundukkan kepalanya. Tapi ia tak bisa bergerak. ?Oh Tuhan, oh Tuhan, oh Tuhan,? bibirnya bahkan benar-benar terkatup saat kata-kata itu keluar.

Kak Tegar yang ganteng dan baik hati, hari ini antar Bintang ke sekolah ya? Bintang pingin naik motornya kak Tegar, main kebut-kebutan. Pasti asyik…! suara kecil itu merajuk. Kalau saja ia bisa menjawab meski dengan anggukan pendek. Pasti asyik…! Pasti asyik….!

Tegar tersiksa oleh gambaran-gambaran di mimpi itu, berturut-turut terekam dengan jelas. Tidak berkurang, bahkan ia semakin tersiksa oleh kegaduhan-kegaduhan yang pertama dipergokinya pada malam ketujuh setelah pemakaman Bintang. Suara-suara keras, saling memprotes, juga mengobrak-abrik, mengerakkannya keluar kamar dengan helaan napasnya yang masih tak teratur, hingga langkahnya terhenti di sebuah ruangan yang pintunya sedikit menguak.

Kemudian kepalanya seakan tertimpa gunung berapi.
Ayahnya membentak. Ibunya balas membantah.
Dalam sekejap rumahnya menjelma jadi neraka. Hari-hari berlalu dengan saling meninggikan nada suara, kalau tidak kebungkaman yang menegangkan. Lalu apa yang masih patut dibanggakannya? Keluarga? Itu cuma malapetaka, kutuk Tegar. Ia berharap lebih baik mati saja.

Tegar pernah mencoba untuk bunuh diri. Tujuan hidupnya sudah porak poranda, hancur berkeping-keping, kecuali rasa bersalah yang harus dibayarnya. Ia membiarkan badannya turun ke bawah permukaan air laut yang tenang. Air segera menutupi mulutnya dan memenuhi telinganya, membungkam suara-suara keras dari kamar orangtuanya. Tidak lagi terdengar suara gadis kecil yang merintih, tidak juga terngiang tuduhan-tuduhan menyakitkan dari bayangan kelabu serupa dirinya yang kian menempurukkannya ke dalam siksaan rasa bersalah. Semuanya sunyi, damai, dan hening. Tidak ada lagi ayah yang tiba-tiba menampar tanpa alasan, tidak ada lagi raut muka ibu yang penuh kebencian.

Tegar membuka matanya di bawah air, menikmati pandangannya pada kerjapan kegirangan di wajah pucat pasi adiknya. Itulah yang selalu dirindukannya?seulas senyum merekah dari bibir mungil bidadari kecilnya. Ayah, ibu, terimalah penebusan dosaku yang telah memadamkan pelita hati kalian untuk selamanya. Tapi, percuma. ?Sialan!? teriak Tegar, sambil megap-megap mencari udara ketika kepalanya menyeruak dari permukaan air. Ternyata ia terlalu cengeng saat dihadapkan pada detik-detik sakaratul maut. Lantas bagaimana makhluk kecil sepolos Bintang saat menghadapi kematiannya, saat mobil antar-jemput sekolahnya dihantam bis kota berkecepatan tiggi yang lepas kendali? Tegar bahkan tidak punya cukup nyali untuk sekedar membayangkannya.

Tiga hari lalu ia nyekar ke makam Bintang. Sudah terlalu lama, pikirnya, sejak empat bulan ia meninggalkan rumah. Gerimis pada malam sebelumnya sama sekali tidak menyisakan senoktah bekas basah di tanah kuburan adiknya. Mengerikan, pikir Tegar, mempercayai bahwa ayah atau ibunya juga tidak pernah meninggalkan asin keringat atau airmata mereka di segunduk tanah merah yang pecah-pecah itu. Ia tersenyum, senyum perih yang menegaskan kerapuhannya sendiri. Ia tahu seharusnya ia tidak boleh membawa kerapuhannya ke tempat itu, tempat yang menjadi akhir dari seluruh kefanaan itu.

Akhir seperti apa yang ingin dimintanya dari kebekuan dan gigil udara yang mengancam?setiap yang hidup tidak akan bisa luput dari maut! Tembok-tembok putih tinggi dan pepohonan kamboja yang bersahaja menaungi, debu-debu kering yang terhempas, aura yang memiriskan dari tempat itu, menyudutkannya dalam ruang sempit kesadaran yang begitu terberai, kini ia tak lebih dari pendosa yang sangat bodoh.

Pemuda bermuka tirus itu teringat ?salam? terakhirnya, ?Aku membawa kabar baik untuk kalian. Aku pergi, jadi kalian tak perlu repot-repot lagi memedulikanku. Oh, maaf, aku perlu meralatnya, bukankah selama ini hanya aku yang mengurus diriku sendiri? Bukankah sudah jelas bahwa aku sendirilah yang harus menanggung rasa bersalah ini?sampai mati?? Melontarkan kata ?kalian? kepada orangtuanya saat itu tidak lagi mendatangkan rasa aneh dan canggung di mulutnya. Sedemikian parahkah ia telah kehilangan rasa hormat kepada mereka?

Gerimis masih merintik. Dengan cahaya bulan yang aram-temaram Tegar memandangi kulitnya yang nyaris tembus pandang di bawah bekas memar-memar yang memudar. Lalu ia melihat bayangannya di genangan air dekat kios rokok kecil yang sudah tutup. Putus asa, betapa banyak bagian yang menyusut dari tubuhnya. Tulang-tulangnya tampak lebih menonjol ketimbang dagingnya, wajahnya lebih pucat bahkan dari sekerat daging basi yang dibekukan, dan organ-organ bagian dalam tubuhnya pastilah tak ubahnya karet-karet yang melepuh dan leleh oleh kemarahan yang mendidih di urat-urat gelap di bawah lapisan kulitnya. Begitu ironis, pikirnya, cara hidup yang dipilihnya ternyata tidak bertahan lama.

?Aku sangat mengerti apa yang kaurasakan, dan aku tahu dengan pasti apa yang kau butuhkan. Aku selalu siap meringankan beban hidupmu, membebaskanmu dari rasa bersalah itu.? Sebuah kelembutan yang penuh tipu daya, dan Tegar dengan patuh menenggak habis segelas air bercampur gerusan sepuluh butir pil berwarna putih. ?Untuk perkenalan,? kata pemuda sebayanya, air mukanya kelabu sewarna hantu dalam cahaya suram lampu kamar yang dindingnya penuh tempelan poster-poster seronok dan garang. Menit berikutnya, Tegar merasakan tubuhnya ringan melayang, pening di kepalanya seketika hilang, syaraf-syaraf yang tegang jadi mengendur. Ia biarkan bayang-bayang gelap menggayuti matanya, ia senang mengetahui dirinya akan tidur dengan damai; tak ada suara-suara keras seperti ledakan bom yang menghancurkan seisi kepalanya.

Selama tahun-tahun keterpurukan itu Tegar terbuai dalam fantasi kegembiraan yang semu. ?Dahsyat…!? Ia selalu bersorak seperti itu ketika suatu energi baru merasukinya setelah makin dan makin banyak butir pil ekstasi dijejalkan ke dalam mulutnya. Ia juga bisa melihat warna-warni pelangi, warna favorit Bintang, berputar-putar di kepalanya saat ia mengisap dalam-dalam sebatang rokok khusus yang dilintingkan si pemuda ?hantu?, sementara rasa manis dari marijuana masih menempel di lidahnya. Sebuah sensasi kedamaian yang candu, membiusnya begitu dalam di samudra abu-abu yang sangat tenang. Ia sudi melakukan apa saja untuk mendapatkannya. Ia rela.

Akan tetapi, masih adakah yang bisa ia relakan, sementara ia sudah tidak punya apapun yang berharga untuk dikorbankan lagi?

Tegar menggeleng. Tak ada yang bisa dilakukan oleh siapa pun untuk menamatkan adegan-adegan menyedihkan itu, kecuali dirinya sendiri. Pulang, dia meyakinkan diri. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, pikirnya sambil mendorong dirinya bangkit, bertopang pada tiang rambu ?Dilarang berhenti?.

Lampu lalu lintas menyala merah, dan di trotoar seorang perempuan tua sedang meninabobokkan bayi dalam gendongannya. Dengan sangat sadar, bahkan untuk kali pertama, Tegar berikrar dalam hati, ia harus menghadapi kenyataan yang begitu kejam dan tidak adil dengan begitu tegar, seperti harapan orangtuanya ketika memberinya nama Tegar Pamungkas.

Di tengah gerimis yang melembut di atas aspal yang keras dan suara lenguhan napasnya sendiri, Tegar tidak melihat dua mobil meluncur dengan kecepatan penuh, saling balap. Hampir seperti dalam gerakan lambat, sementara ia mengamati seorang anak kecil menenteng tas plastik hitam sedang menyeberang menuju ke arah perempuan tua dan bayinya itu. Ya Tuhan, salah satu dari mobil itu atau kedua-duanya akan menabrak anak kecil tersebut. Ia harus bertindak. Dan kemudian tiba-tiba, semua terjadi sangat cepat.

Saat berikutnya, Tegar mendengar decit ban yang segera disusul dentuman teramat keras, tapi yang paling terakhir didengarnya adalah jerit histeris perempuan tua. Anak ibu baik-baik saja, suara Tegar tenggelam dalam keriuhan. Raungan sirene mobil-mobil patroli polisi, satu unit pemadam kebakaran, dan beberapa ambulans seakan berlomba-lomba: siapa yang paling lantang.
***

Dia sedang berlari, pikir Tegar sambil tertawa dalam hati, berlari pulang, tak sabar untuk mengatakan kepada orangtuanya bahwa bila bersama-sama mereka pasti bisa menerima kepedihan yang telah mereka biarkan mengendalikan kewarasan mereka terlalu lama dan menyimpang, dan meyakinkan mereka bahwa tidak ada yang bisa memisahkan mereka?sampai mati.

Belum sempat memutar pegangan pintu ruang tamu, Tegar melihat bidadari kecilnya bermain ayunan di halaman depan rumah mereka; ia mendekat, sangat dekat, wajah mungilnya nyaris menempel ke wajahnya; betapa cantiknya, Tegar memuji dalam hati, betapa dia tidak bisa kehilangan keceriaannya. Tegar meraih tangan kecil itu, dan tanpa berkata-kata ia dibawa bidadari kecilnya, yang malam itu bersayap dan bercahaya, terbang menyelinap dengan gesit di balik awan dan menghilang.
***

Gerimis malam. Sorot lampu-lampu depan sebuah sedan abu-abu metalik yang sedikit surup, terjebak di tengah antrian panjang. Sepertinya baru terjadi sebuah kecelakaan, duga si pengemudi, sama sekali tidak berniat menghentikan mobilnya, atau sekedar mengurangi kecepatan lajunya lalu menepi agar bisa lebih dekat ke kerumunan itu. Ada yang lebih penting yang harus segera ditujunya.

Malam panjang. Dua orang di dalam sedan itu dibuat bisu oleh kecemasan yang sama. Suasana sunyi dalam benak mereka pun mendatangkan kenangan-kenangan hangat yang mengejutkan. Si pengemudi makin mencengkeram roda kemudi, seakan-akan ia takut kehilangan kendali atas segalanya. Si penumpang yang duduk di sampingnya tampak lebih tenang, ?Sebentar lagi, bersabarlah.?

Si pengemudi, lelaki berkacamata minus, merasakan gelombang kecemasan yang semakin kuat melanda pikirannya. Tapi ia tidak mau berbantah. Tidak lagi. Ia dan istrinya hanya ingin sampai ke tempat informan yang mengetahui keberadaan putra mereka. ?Kita tidak boleh terlambat.?

Si penumpang, perempuan berambut hitam keriting, mengangguk. Ia menyentuh tangan suaminya yang memegang tuas kopling, menahannya mantap, lalu tersenyum mendapati antrian kendaraan-kendaraan di depan mereka mulai melonggar. Namun, tak lama, senyum itu segera menghilang saat mata sipitnya menatap lurus-lurus ke depan. Ia hampir tidak bisa membedakan apakah yang dilihatnya itu sekedar bayangan atau benar-benar nyata. Dua anak yang berdiri di bawah tiang rambu ?Dilarang berhenti? itu sedang melambai-lambai padanya. ?Sayang??

?Heh?ya, aku tahu,? jawab suaminya, kakinya langsung melepaskan pedal rem dan beralih ke pedal gas dengan pijakan yang cukup dalam dan tajam.

Aku melihat Tegar menggandeng Bintang, seru perempuan bertubuh kecil itu dalam hati, mengawasi bayangan mereka perlahan-lahan mengecil dalam pantulan kaca spion di kanannya yang berembun, hingga benar-benar menghilang. Kami tidak boleh terlambat, batinnya berdoa.*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *