Manequin

Teguh Winarsho AS
http://entertainmen.suaramerdeka.com/

KATANYA kau akan menceritakan kepadaku kisah cinta yang mengagumkan. Kenapa tak kauceritakan sekarang?” pintaku pada Renata, kekasihku, pada suatu sore di bangku taman. Awalnya Renata hanya diam. Tapi beberapa saat kemudian dengan wajah malu-malu ia mulai bercerita:

Di sebuah kota kecil yang malam-malamnya terasa panjang dan membosankan, seorang laki-laki tampan keluar dari toko pakaian berjalan tergesa-gesa menyusuri trotoar. Kala itu malam belum terlalu larut, tapi gerimis yang turun seolah mempercepat kelam. Sesekali kilat memercik dari atap langit membuat jalan aspal di depan berkilatan. Sekejap udara tampak terang benderang seperti pesta kembang api, lalu kembali gelap. Hanya lampu-lampu kota yang kian redup, pucat dan menggigil kedinginan.

Tapi laki-laki tampan itu terus berjalan menyusuri trotoar yang lengang. Matanya yang biru terkadang mengerjap-ngerjap bahagia menatap gerimis yang terus berpendar. Langkahnya ringan seperti melayang. Dimasukinya sebuah jalan kampung dengan jantung berdebar seperti cinta yang kini baru mekar di hatinya. Meski terkadang ia merasa lucu jika ingat bagaimana mungkin ada cinta bisa mekar di hatinya. Cinta? Hmm. Kata itu sering ia dengungkan di kepalanya seolah masih belum percaya jika sesuatu yang berkobar hangat penuh gairah rindu yang membakar seluruh perasaannya itu adalah cinta. Ya, cinta! Kata itu, meski terasa asing diucapkan, tapi begitu indah didengar. Telinganya mampu menangkap keindahan-keindahan itu hingga kadang ia hanyut, terlena dalam khayalan.

Maka, di toko pakaian tempat ia banyak menghabiskan hari-harinya, ia mulai senang mendengarkan lagu-lagu romantis. Senang mencuri dengar orang-orang yang kebetulan masuk toko dan bicara tentang cinta. Ia juga sangat senang menatap berlama-lama sepasang kekasih yang diam-diam sedang bercumbu di trotoar seberang jalan di bawah tirai gerimis menjelang malam. Semua itu begitu mengasyikkan. Ia ingin seperti mereka. Menumpahkan segenap rindu yang menyesak di dada. Meski ia sadar dirinya hanyalah sebuah manequin, boneka besar yang dipajang dalam toko dengan pakaian dan dandanan bagus, membuat gadis-gadis remaja dan ibu-ibu muda sering melotot berdecak kagum.

Ya, cinta itu pulalah yang kini menggerakkan kedua kakinya keluar dari toko, menyelinap di antara para pengunjung yang datang. Mereka menatap kagum dan sama sekali tidak sadar kalau dirinya sebuah manequin. Kekaguman telah membutakan kesadaran mereka. Ia sendiri merasa seperti mimpi. Sebelumnya ia tak percaya jika cinta yang terus berkobar di dadanya mampu membuat dirinya bisa berjalan seperti layaknya manusia. Memang, pada awalnya agak kaku dan berat hingga ia harus ekstrahati-hati agar tidak jatuh terpeleset. Tapi setelah berjalan cukup jauh langkahnya menjadi ringan seperti melayang.

Ia tidak tahu sejak kapan sebenarnya bisa berjalan seperti manusia. Yang ia ingat pada suatu hari seorang laki-laki datang ke toko, berjalan tergesa-gesa lalu tanpa sengaja menabrak dari belakang membuat ia sempoyongan mau rubuh. Beruntung perempuan cantik yang datang bersama laki-laki itu segera menahan tubuhnya. Ia tak jadi jatuh. Tapi sentuhan lembut tangan perempuan itu tiba-tiba membuat tubuhnya bergetar hebat, seperti mengalirkan kekuatan gaib. Mungkin sejak itu sebenarnya ia bisa berjalan, paling tidak menggerak-gerakkan tubuhnya.

Ah, ia juga ingat ketika beberapa hari kemudian perempuan itu datang lagi ke toko dan tanpa sengaja bersitatap dengannya. Darahnya langsung berdesir saat perempuan itu tersenyum lembut sambil mengedipkan mata. Ia balas berkedip. Perempuan itu kemudian mendekatinya. Langkahnya hati-hati seolah takut jika ada orang lain yang memperhatikannya. Aroma parfum yang menguar dari tubuh perempuan itu kian menusuk hidungnya. Tapi tentu saja baginya bukan perkara sulit menebak parfum yang dikenakan perempuan itu; poison-christian dior, yang ia tahu persis di counter sebelah mana parfum itu dijual di toko. Ia sudah terbiasa dengan bau parfum semacam itu dan tentu saja masih banyak parfum lainnya. Tapi entah kenapa menjadi istimewa ketika yang memakai perempuan itu. Perempuan itu berdiri satu langkah didepannya, masih tersenyum. Tapi ia tahu perempuan itu sebenarnya sedang bersedih. Sorot matanya sayu, redup, seperti diselubungi kabut.

Tiba-tiba perempuan itu menyentuh tangannya lalu menciumnya. Ia kaget luar biasa. Ia belum pernah diperlakukan seperti itu. Ada perasaan asing yang perlahan-lahan menjalar dalam tubuhnya. Ia ingin balas menggenggam tangan perempuan itu lalu meraih tubuhnya dalam dekapan, seperti sepasang kekasih yang sering ia lihat di trotoar seberang jalan. Tapi ia ragu apakah bisa melakukan hal itu. Ia sadar dirinya hanya sebuah manequin yang dipajang di pojok ruangan toko untuk memamerkan pakaian. Untuk kedua kalinya perempuan itu mencium tangannya ketika dari arah belakang muncul sosok laki-laki berambut cepak menggertak: “Gila! Apa-apaan kamu ini!” Mata laki-laki itu melotot. Lalu menarik tangan perempuan itu dengan kasar.

Ia benar-benar jijik pada laki-laki itu. Badannya tinggi besar. Wajahnya keras. Mungkin dia preman. Tapi melihat caranya menggertak dan menarik tangan perempuan itu yang begitu khas dan terlatih, tentu dia sudah terbiasa melakukan hal-hal seperti itu. Ia merasa kasihan pada perempuan itu. Tentu perempuan itu malu dan sakit hati. Ia masih ingat betapa wajah perempuan itu mendadak berubah merah-pucat.

Tapi beberapa hari kemudian perempuan itu datang lagi ke toko. Kali ini ia datang sendiri. Mengenakan rok pendek cokelat dan kaos putih bergambar bunga mekar dan beberapa ekor kupu-kupu yang terbang mengelilinginya. Perempuan itu tampak tergesa-gesa. Melihat-lihat baju lalu memberikan secarik kertas berisi alamat rumahnya. Semula ia tidak tahu apa maksud perempuan itu. Tapi setelah hari-hari berlalu dan ia tak pernah menjumpai perempuan itu, sementara hatinya terus ditangkup rindu, ia baru sadar harus menemui perempuan itu. Tentu perempuan itu memberi alamat rumahnya agar ia datang ke sana.

Ya, kini ia memang sedang mencari rumah perempuan itu. Gerimis masih turun ketika ia menyusuri jalan kampung yang becek dan licin. Berkali-kali ia harus melompat menghindari genangan air. Cahaya lampu membias samar pada tembok-tembok kusam penuh corat-coret pilox. Sungguh menyebalkan. Menjijikkan. Ia tak terbiasa berada di tempat kotor seperti itu. Meski begitu ia terus berjalan. Rindunya sudah tak tertahankan. Rumah demi rumah ia lalui dengan jantung terus berdebar.

Entah sudah berapa kilo ia berjalan, tapi rumah perempuan itu belum juga ia temukan. Beberapa perempuan berdandan menor di pinggir jalan sempat menggodanya. Satu dua orang mencubit pantatnya dengan gemas lalu tertawa cekikian. Ia tak habis pikir kenapa begitu banyak perempuan berkeliaran di malam gerimis seperti itu. Mereka cantik-cantik dan menggairahkan. Tapi ia tak tertarik dengan mereka. Ia hanya tertarik pada perempuan cantik yang beberapa waktu lalu memberikan alamat rumahnya.

Ia sering membayangkan suatu kali bisa bercinta dengan perempuan itu. Ia sudah bosan jadi boneka berdiri kaku di pojok toko dengan pakaian dan dandanan yang selalu berganti tiga minggu sekali. Ia ingin menghabiskan malam-malam yang dingin dan panjang bersama perempuan itu. Ia ingin menikmati cinta yang sedang berkobar hangat bersama perempuan itu. Mungkin sampai pagi, siang, sore, atau malah sampai malam berikutnya. Begitu seterusnya. Ah, betapa indahnya. Pasti perempuan itu tidak keberatan. Ia tahu diam-diam perempuan itu juga jatuh hati padanya.

Tapi, ups! Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya di sebuah tikungan jalan sepi ketika dalam kelebat samar, ia menangkap sosok perempuan itu sedang berjalan sambil bergandengan mesra dengan laki-laki yang pernah menabraknya di toko. Laki-laki yang suka membentak dan bertindak kasar. Ah, kenapa perempuan itu masih bersama laki-laki itu? Apa yang menarik dari laki-laki tinggi besar itu? Berbagai pertanyaan langsung memenuhi benaknya. Hingga ia tak kuasa menahan diri. Jantungnya berdetak kencang menahan cemburu. Ia kembali melangkah mengejar perempuan itu. “Hai! Apakah kamu masih ingat aku?” Ia bertanya dengan napas tersengal-sengal.

Perempuan itu terkejut. Sesaat matanya mengerjap bahagia. Ada segumpal kerinduan di matanya. Tapi ketika dia sadar saat itu sedang berjalan bersama kekasihnya, laki-laki yang suka bertindak kasar, wajah perempuan itu tiba-tiba berubah dingin. Bahkan dengan ekpresi ketakutan perempuan itu cepat-cepat merapat pada laki-laki tinggi besar disebelahnya. “Kamu siapa? Aku tidak kenal kamu!” Kata perempuan itu sinis. “Sayang, sebaiknya laki-laki mabuk itu disuruh pergi! Aku takut…” Lanjut perempuan itu merajuk pada kekasihnya. Laki-laki itu mengangguk.

Tahu bahaya mengancam ia mundur teratur. Ia sadar tak mungkin bisa mengalahkan laki-laki tinggi besar itu. Laki-laki itu pasti pinta berkelahi. Sedang ia tak bisa berkelahi. Ia tak pernah diajari meninju orang. Ia benci kekerasan. Dengan perasaan perih ia pulang menembus remang malam. Menerobos gerimis yang terus berderai. Langkahnya gontai tak bersemangat. Jiwanya merintih. Tubuhnya menggigil kedinginan. Di sebuah tikungan jalan mendadak tubuhnya oleng, sempoyongan lalu ambruk.

Entah berapa lama ia pingsan. Ketika sadar ia mendapati tubuhnya terkapar di atas ranjang. Di sebelahnya seorang perempuan menunggu dengan tatapan penuh kekaguman. Perempuan itu, meski agak tua, tapi sebenarnya masih cukup cantik. Ia menggosok-gosok mata untuk memperjelas penglihatannya. Ia takjub melihat isi ruangan kamar yang penuh perabotan mahal. Tapi belum juga puas menatap seluruh isi ruangan kamar, tiba-tiba perempuan itu dengan tergesa-gesa membungkus tubuhnya dengan selimut lalu membopong ke dalam gudang ketika terdengar deru mobil masuk halaman. ?Sial! Sesore ini tua bangka itu sudah pulang. Maaf, untuk sementara kamu kutaruh di gudang!? Kata perempuan itu bergegas keluar sambil mengunci pintu.

Ia ingin berontak, tapi sia-sia. Ia sudah tak bertenaga. Sebab cinta sudah lenyap dari hatinya. Begitulah, kekuatan cinta sejati mampu menghidupkan benda-benda mati. Sedang cinta palsu hanya membuat seseorang seolah-olah hidup tapi sesungguhnya mati…

“Apakah kamu puas dengan ceritaku?” tanya Renata setelah mengakhiri ceritanya.

“Tunggu! Sepertinya aku pernah tahu cerita itu. Dan, kenapa laki-laki tinggi besar yang suka bertindak kasar yang kamu ceritakan tadi mirip sekali dengan diriku?” aku balik bertanya.

Tapi Renata hanya tersenyum dan diam…

Depok, 2006.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *