Puisi-Puisi Haris del Hakim

http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/
SAYAP KUNANG-KUNANG
: buat SBB

tubuh yang berkepala, bertangan dan berkaki ini, kupinjamkan sayap pada kunang-kunang yang malu bermain dengan cahaya di siang hari; agar sekejap terbang meninggalkan pematang dan membakar diri dalam bara rindu matahari, lalu kata-kata, surga dan keabadian saling kelebat dalam sukma yang lenyap?

?kerakusan hendak menjamah tanah lapang berumput,? jawab penggiring kerbau atas pertanyaan ibu-ibu berkebaya yang dibasahi lumpur dengan tangan menancapkan batang padi di sepanjang jidar; lenguh lelah dan panas yang memeras keringat serasa rintik hujan yang menyingkirkan mendung di wajah anak-anak mereka

sementara para remaja berseragam belajar
menyusun puisi:
malaikat-malaikat yang mengintip
kata-kata bijak tak berpijak di atas lincak
atau bermain sayap rayap-rayap menelan harap
daripada:
mencatat bau tanah yang kerontang
kehilangan subur
sebab dipaksa memerah kekuatan bumi
demi limpah ruah sesaat
oleh para pelacur yang sibuk dengan gincu

di sekolah taman kanak-kanak di samping sekolah dasar: anak-anak berlatih main sandiwara; ibu guru mengajarkan tari penyambutan para tokoh; penjual kue melengking-lengkingkan sirine; beberapa anak
SD bermain sepak bola; guru bujang merayu gadis penjual makanan ringan?

nun, dari lubuk rahim semesta kudengar guruh suara yang membakar sayap kunang-kunangku;
?mengapa kau tolak aku dengan sejengkal tanah di antara sepasang nisan, sebelum aku puas melihat kau bergelut dengan lumut.?

dan, aku pulang mengelupas kulit yang kering sambil merebah di atas tanah subur yang sejuk: ibu bagi anak-anakku

lamongan, 20/07/05

TIGA EKOR RAYAP DAN BURUNG PELATUK

seekor rayap berkepala kecil berkata pada pelatuk yang hampir saja mencucuk tubuhnya, ?aih! selalu kau pura-pura tidak tahu adaku.?

burung pelatuk berhenti sebentar kemudian mematuk di tempat lain. seekor rayap berkaki ganjil muncul di balik kulit yang dikelupasnya dan berseru, ?apakah kau pura-pura tidak tahu adaku lagi?!?

burung pelatuk tertegun sejenak lantas mematuk di bagian lain. seekor rayap yang kehilangan dua kaki depan menyembulkan kepalanya di balik serat kayu yang terkelupas dan berteriak, ?tidak adakah pohon lain lagi?!?

burung pelatuk mengangkat kepalanya lalu secepat kilat mematuk ketiga rayap satu per satu. ?aku masih belum kenyang,? bisiknya seraya mematuk lagi.

surabaya-lamongan, 26/06/05.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *