Mereka Bilang Saya Monyet

Sunaryono Basuki Ks
http://www.suarakarya-online.com/

Pada dekade ini setidaknya ada tiga buah buku sastra memakai judul primata yang mirip kita itu. Maklumlah masih satu keluarga hominoid. Buku-buku itu adalah “Mereka Bilang, Saya Monyet” karya pengarang Djenar Maesa Ayu, yang mengalami cetak ulang berkali-kali, “Kera di Kepala” karya sastrawan eksil yang gaek, Soeprijadi Tomodihardjo, serta “Sepasang Kera yang Berjalan dari Pura ke Pura” karya saya.

Pada Senin hampir tengah malam 8 September lalu, dalam mobil yang membawa kami dari Duren Sawit pulang ke Permata Pamulang saya bercerita tentang buku saya yang tidak laku itu. Tak terduga, Antariksawan Jusuf bekas mahasiswa saya yang mengemudi mobil dinasnya nyeletuk: “Judul itu salah!” “Lho, kok?”

“Kera tidak berekor, sedangkan yang berekor namanya monyet. Kera besar atau apes itu banyak macamnya. Ada 8 genus hominoid yang belum punah seperti manusia, simpanse, gorilla, orangutan, Lar Gibon dan Siamang. Ada juga Bonobo.”

Saya tidak bisa membayangkan semua itu dan penasaran untuk tahu, tetapi saya tak mungkin segera bertanya pada internet gara-gara saya tak punya HP yang memadai untuk keperluan itu. Jadi saya harus menuggu sampai pulang ke Singaraja. Esok paginya saya menumpang mobil Antariksawan yang beranagkat ke kantornya di sebuah stasiun TV swasta di Kawasan Pulogadung ke rumah keluarga saya di Cempaka Putih, lalu sorenya terbang ke Denpasar dan baru jam satu pagi sampai di Singaraja. Kecapekan, makan sahur pun ogah-ogahan.

Saya menyesali kebodohan saya memilih judul cerpen yang kebetulan menjadi Cerpen Pilihan Kompas tahun 2005 dan menjadi judul kumpulan 20 cerpen saya yang akhirnya tak laku serta diobral oleh Penerbit Buku Kompas. Tetapi tidak lakunya buku itu saya kira tak berhubungan dengan kesalahan yang saya lakukan.

Cerpen itu sendiri berdasarkan sebuah kisah nyata tentang berjalan kakinya sepasang monyet dari Pura Pulaki di sebelah Barat Singaraja sampai ke Pula Ponjok Batu di timur kota Singaraja.. Sekiat 80 km terbentang jarak keduanya. Orang-orang yang menyaksikan monyet itu singgah di tempat sembahyang di Kampus IKIP Negeri Singaraja ( sekarang Undiksha) di Jalan A Yani menyebut monyet tersebut sebagai bojog dalam bahasa Bali, dan tanpa berpikir panjang saya menyebutnya sebagai “kera” padahal seharusnya “monyet”.

Monyet yang saya saksikan itu berekor panjang sehingga layak disebut monyet. Menurut Hardiman yang pelukis dan kurator, teman saya dosen senirupa di kampus, Polenk Rediasa yang mendapat tugas dari Penerbit Buku Kompas untuk melukis sampul depan buku itu sempat bingung. Jalan keluarnya, Polenk Rediasa memakai simpanse sebagai modelnya, dan jadilah sampul buku yang cantik, sampul buku saya yang paling disukai oleh istri saya di antara banyak sampul buku ( lima diantaranya dikerjakan oleh Hardiman). Itulah kesalahan yang kedua.

Hanya Djenar Maesa Ayu yang benar menyebut primata ini monyet, sedangkan Soeprijadi Tomodihardjo yang jauh lebih tua dari saya ikut-ikutan salah, sebab pada sampul bukunya tergambar primata berekor, yang seharusnya monyet bukan kera. Hardiman di Singaraja bercerita tentang pengalamannya melakukan Praktek Pengalaman Lapangan di sekolah saat menjadi mahasiswa IKIP Bandung. Dia mengajar menggambar dengan terlebih dahulu bercerita tentang seekor monyet yang memanjat pohon. Lantaran kreatifitasnya tinggi ( tetapi pengetahuannya tentang monyet rendah), diapun mengubah cerita itu menjadi seekor kera yang memanjat pohon. Tentu saja Popo Iskandar, dosennya yang juga pelukis terkemuka Indonesia menegurnya di akhir pertemuan. Saya sendiri sama bodohnya dengan Hardiman dan mengira bahwa beruk adalah padanan kata kera atau monyet. Saya kira beruk hanya dipakai di masa lalu, saat saya membaca cerita tentang binatang yang dapat disuruh memetik kelapa itu. Saya kira sekarang namanya ya kera atau monyet.

Film Planet of Apes yang pernah sukses tahun 70an dengan produk ikutannya itu harus diterjemahkan sebagai Planet Para Kera. Lantaran kera dan manusia sekeluarga maka mudah sekali dalam film itu memakai manusia sebagai pelakon para apes itu, tinggal mendadani bentuk kepala dan wajahnya, selebihnya adalah manusia berbulu lebat. Film yang mendasari kisahnya pada teori relativitas Einstein itu pernah memukau jutaan penonton. Kisah perjalanan para astronot yang dilempar ke udara dalam sebuah pesawat ruang angkasa dimana para antarikswan dan antariksawatinya dimasukkan peti untuk menjalani program hibernasi seperti binatang yang tidur selama musim dingin, akhirnya mendarat di sebuah planet yang dihuni oleh kera pandai. Di planet tersebut, sejumlah kecil manusia menjadi budak kera yang bisa bicara, yang menjadi jenderal, tentara dokter, ilmuwan, sedangkan manusia dianggap sebagai mahluk inferior yang harus tunduk pada kera. Di sebuah reruntuhan gedung ditemukan boneka yang masih bisa mengeluarkan suara manusia. Di akhir kisah diketahui bahwa pesawat itu ternyata terdampar di New York saat mereka menemukan reruntuhan Patung Liberty akibat Perang Dunia yang dahsyat, yang terjadi setelah para asronaut tersebut mengangkasa. Beda waktu antara waktu di dalam pesawat dan di muka bumi menyebabkan mereka mendarat jauh di masa depan. Rasa sepi dan kehilangan yang mendalam menguncang dada antariksawan yang berhasil selamat dan kutukan pada amanusia yang gemar perang dilontarkan.

Dalam sebuah buku Relativity for the Layman yang terbit pada akhir tahun lima puluhan dijelaskan secara sederhana bahwa menurut Einstein, bilamana manusia bisa membuat pesawat ruang angkasa yang dapat melesat dengan kecepatan cahaya, maka pesawat itu akan terbang lurus ke atas dan akhirnya kembali ke tempat asalnya. Persis seperti kalau kita terbang terus ke barat meninggalkan Jakarta, akhirnya akan muncul dari arah timur menuju Jakarta. Entah kapan manusia bisa membuat pesawat tangguh tersebut, yang dapat melesat dengan kecpatan sekitar 170.000 km per detik. Entah bahan apa yang dipakai untuk membuat pesawat tersebut.

Ada satu contoh kocak dalam buku itu. Katanya, kalau manusia mampu membuat teropong bintang yang sangat kuat, maka saat mengintip di teropong itu dia akan melihat pantatnya sendiri. Sampai hari ini setahu saya teori Einstein belum dapat dibuktikan secara empiris.

Menurut Wikipedia bahasa Indonesia kera adalah anggauta superfamilia Hominoidea yang punya dua famili, yakni Hylobagtidae yang terdiri dari 4 genus dan 12 spesies, sedangkan familia Hominidae terdiri dari orangutan, gorilla, simpanse, dan manusia. Saat ini, katanya ada 8 genus hominoid yang belum punah.

Soal kera, monyet, orang utan, beruk , gorila dan siamang, ternyata penjelasan KBBI tidaklah memuaskan, dan disana-sini juga teledor. Kita baca penjelasan mengenai gorilla: orang hutan, mawas. Lema mawas dijelaskan sebagai kera besar, orang hutan. Sementara dalam lema orang mucul orang-utan yang adalah sejenis kera dan orang hutan, yakni orang yang tinggal di hutan. Tentunya gorilla dan mawas bukanlah orang hutan.

Mungkin Djenar benar, mereka bilang saya monyet. Saya ini, yang punya kepala kecil dan ekor (yang tak tumbuh) benar-benar bodoh kayak monyet.***

* Sunaryono Basuki Ks, sastrawan
tinggal di Singaraja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *