Seni dan UU Pornografi

Beni Setia
http://www.suarakarya-online.com/

LIRIK lagu Julia Perez, “Belah Duren”, mensugestikan dunia kamar saat bulan madu pengantin baru, tapi yang dilakukan sepasang muhrim di ruang tertutup itu ada di area abu-abu. Antara mereka membelah duren dan memakannya, dan membesarkan retak duren lain yang tidak pernah matang dan membusuk. Dengan tehnik bernyanyi sugestif yang sadar, gesture tubuh saat menyanyi dan kondisioning musiknya kita bisa menangkap duren mana yang dimaksud lagu itu. Lirik tidak lagi netral.

Lagu campur sari “Bokong Semox” juga sangat sugesti, menyebut cirri-ciri fisik perempuan mulai dari pantat yang membulat penuh dan bikin bengong yang melihat sampai terpaksa menelan ludah, naik ke deskripsi idiom akraik alis dan memuncak di bibir yang saat diberi lipstick merah membuat yang melihat terangsang – setidaknya dalam angan-angan – untuk menyedotnya. Saya tandaskan: menyedot yang merujuk disesap sampai habis dan bukan sekedar dikecup. Dalam VCD si penyanyi, Dendang Erysando, sensual menari-nari – sayang ia agak tepos.

Sebuah lagu campur sari lain, yang di masyarakat lebih dikenal dengan judul “Montor Mogok”, bercerita tentang pengantin yang sah melakukan apa saja karena telah terikat perkawinan. Di sini prosesi nyampur disimbolkan sebagai memasukkan mobil ke garasi, tapi tak bisa karena keburu mogok, sehingga si perempuan terpaksa turun tangan ikut mendorong, celakanya ketika kerja montir itu dilakukan mesinnya malah bocor dan olinya tumpah. Saya tak tahu apakah ada simbolisasi ejakulasi dini yang bisa lebih verbal dan representatif sesuai fakta dari itu, dan dinyanyikan dalam sebuah lagu yang dengan sengaja dihadirkan di ruang publik?

Sayang saya tak bisa menemukan VCD-nya meski mengubek-ubek lapak PKL bajakan di Caruban. Mungkin memang ada tapi judul sebenarnya entah apa. Mungkin ada tapi disembunyikan karena saya disangka polisi dan bahkan agen FPI yang sedang survei sebelum melakukan razia. Jadi saya tak tahu siapa penyanyinya. Dan – dengan keyakinan ada – saya sampai pada kesimpulan: lirik, komposisi musik, tehnik vokal, dan gestur nyanyi itu disediakan untuk segmen pasar tertentu. Dan karena segmen itu ada maka kehadiran lagu macam itu lebih disebabkan oleh naluri Neo Libera-lianisme dalam melayani kebutuhan pasar – menunjukkan adanya instink ngeres masyarakat.
***

SATU teman melakukan telaah singkat pada khazanah sastra Jawa klasik, dan menemukan banyak fenomena sekitar kuatnya instink ngeres masyarakat, yang selain ditandai juga dieksploitasi untuk tujuan yang lebih transenden. Kita ambil teks Gato loco, yang merupakan gambaran sangat riil tentang aksi penetrasi. Pada awalnya itu dimaksudkan untuk melambangkan ketidaklengkapan eksistensi, yang baru jadi satu manusia sejati saat bisa menemukan Allah dan bersatu dengan-Nya. Atau teks Serat Centhini, yang selain melukiskan pengembaraan dan pencarian Syeh Among Raga – sehingga bisa deskriptif ensiklopedik mencacat khazanah sosial-budaya Jawa masa lalu – juga menceritakan percintaannya yang nyaris secara deskriptif.

Atau lagu “Klinci Ucul” Ki Narto Sabdo, yang mendeskripsikan lelaki Jawa yang ditinggal pergi selirnya sehingga gelisah dan grasa-grusu mencarinya. Dari Semarang ke timur sampai di Bali, lalu ke barat sampai di Jakarta, dan ternyata si salir telah ada di Semarang. Sebuah deskripsi energi syahwat Freudian yang tidak bisa dilembutkan karena hanya ingin dituntaska, yang halus simbolik terselubung – tak verbal model lagu “Montor Mogok”.

Dan dalam beberapa hal juga dalam lagu “Kutut Manggung”. Yang paling akhir, karena sangat panjang dan detil ensiklopedik gaya Serat Centhini, terdapat pada teks prosa lirik almarhum Linus Suryadi AG, Pengakuan Pariyem – di sini ada prosesi masturbasi yang dideskripsikan secara detil.

Memang yang ngeres itu – bahkan prosesi nyampur yang deskriptif sangat detil – hanya bagian kecil, tapi jadi signifikan karena kontroversial. Sekaligus yang kecil itu jadi identitas yang sangat menjanjikan ketika dipakai sebagai sarana promosi, dan tidak heran bila mendadak itu jadi ikon puncak gunung es dari yang eksistensial dan sangat besar yang terkondisikan tenggelam dalam tak bisa dikenali lagi.

Masyarakat hanya tahu yang ngeres itu tanpa mau mencari tahu yang lebih dalam, hal yang lebih substansial. Ini porsi asesori mengalahkan eksistensi, seperti yang diekposisikan oleh satu peribahasa Sunda – jati kasilih ku junti, asesori mengalahkan substansi.

Padahal, dalam beberapa segi: Itu hanya bumbu penyegar buat menggugah saat pembacaan terasa makin menjemukan karena membicarakan yang bernas atau penuh detil. Seperti inti ajaran dalam pentas wayang, yang dibuka jejer punakawan tampil melucu, lantas goro-goro dan perkelahian dengan raksasa. Hanya appetites.

Seperti dakwah masa kini yang harus ada cletukan lucu, dan merubah tiap dakwah jadi harus lucu dan penuh lelucon. Dan bila dakwah masa kini boleh begitu kenapa seni tak bisa begitu? Dan kalau kita jadi masyarakat yang serius sehingga seni tak boleh memakai bumbu erotis, kenapa tak sekalian membuat UU Anti Rubish – agar tak tiap hari kita dibombardir pidato-pidato rubish berlevel janji kampanye.
***

YANG mendesak itu tidak sekedar mengoperasionalkan UU Anti Pornografi – yang juklak PP-nya belum kelar itu – tapi membatasi agar instink ngeres masyarakat tidak setiap saat distimulir. Dengan pembatasan peredaran dan tempat penjualannya – serta usia pembeli. Sekaligus seniman jangan bikin seni yang terlampau memanjakan instink ngeres masyarakat sehingga setiap orang seperti dirangsang bermasturbasi.

Over dosis yang menyebabkan si pasangan yang resmi nikah, dengan dua buku nikah yang legal, seperti dalam lagu “Belah Duren” Julia Peres itu, jadi ragu-ragu main hot foreplay lantas menerapkan pose akrobat Bombay yang berisik di Hotel. Takut jadi kelancungan dengan sengaja mempublikasikan suara-suara beraroma porno, yang bisa dianggap fakta legal bagi beberapa pihak untuk menggugat bulan madu itu. Tapi apa etis wangsit ilahiah dan landasan legal UU Antipornigrafi dipakai memata-matai?

Dengan kata lain prasangka baik harus diterapkan dalam menandai keberadaan dan tindakan orang lain itu – yang beda agama, ras dan sekebudayaan -, toleransi dan senantiasa menahan diri agar tak menghakimi harus didahulukan. Bukankah Islam itu rakhmatan lil alamin? Sekaligus: jangan menjadikan diri sendiri pusat jagat sehingga dunia ingin dirubah agar menjadi homogen secara fisikal dan legal konstitusional. Ya! Karenanya tidak heran kalau ada beberapa pihak yang berencana melekukan judicial review pada UU Pornografi, semacam reaksi ekstrim dari keinginan untuk kembali ke proporsi: bersedia menghargai perbedaan sistim nilai – selain ajakan untuk bersepakat melawan penganut neo liberal yang selalu berusaha mengkomiditfikasi segala hal agar bisa dijual dan jadi duit.

Di titik ini: instink porno yang arkhaik laten dimiliki setiap suku bangsa itu yang sebenarnya dieksploitasi kaun neo liberal, dan Islam harus membidik yang substansial itu – bukan bikin UU Pornografi yang mengincar orang-orang yang dieksploitasi oleh para penganut neo liberal itu. Memang! ***
*) Pengarang. E-Mail: benisetia54@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *