Mata Penuh Sihir

Vita Devi Ajeng Pratiwi*
http://media-jawatimur.blogspot.com/

Hujan belum reda padahal sudah pukul lima sore. Aku berlari-lari kecil, mengendap-endap di antara emperan took, menuju kedai kecil di pertigaan jalan. Aku masuk ke kedai itu dan duduk di sudutnya kemudian kupesan segelas wedang jahe, minuman tradisional yang dapat menghangatkan tubuhku dari dinginnya hujan. Continue reading “Mata Penuh Sihir”

Tari Penghormatan bagi Para Ksatria

Aguslia Hidayah
http://www.tempointeraktif.com/

Syahdan, pada sebuah siang yang bergelora, Senin Pahing sebelum bulan puasa itu, Pangeran Samber Nyawa alias Raden Mas Said yang kemudian bergelar Mangkunegara I (pendiri Pura Mangkunegaran), akhirnya memutuskan menyerang balik pihak pasukan Kompeni yang dibantu para sekutu (pribumi), yang beberapa hari sebelumnya berhasil memukulnya mundur hingga bibir hutan Sitakepyak, Rembang, Jawa Tengah. Continue reading “Tari Penghormatan bagi Para Ksatria”

Camilla Gibb: Karya Sastra, Jembatan Dialog Antarperadaban

Elly Burhaini Faizal
http://www.suarapembaruan.com/

Karya sastra tidak hanya dapat menghibur para penikmatnya, tetapi juga dapat berperan dalam menjembatani dialog antarperadaban. Berbekal keyakinan tersebut, Camilla Gibb, seorang novelis Kanada, menuangkan ide-ide briliannya tentang sebuah kehidupan dalam masyarakat multikultural dalam novel berjudul “Sweetness in the Belly”. Continue reading “Camilla Gibb: Karya Sastra, Jembatan Dialog Antarperadaban”

Teater Mandiri

Putu Wijaya
putuwijaya.wordpress.com

Teater Mandiri didirikan di Jakarta pada 1971. Kata mandiri berasal dari bahasa Jawa, yang dipopulerkan oleh Professor Djojodigoena dalam kuliah sosiologi di Pagelaran, Yogyakarta, pada tahun 60-an. Artinya orang yang sanggup berdiri sendiri, namun juga bisa bekerjasama dengan orang lain. Kata itu nampak sangat dibutuhkan dalam pembangunan kepribadian/jatidiri bangsa,di era lepas dari penjajahan phisik namun masih digondel banyak hambatan secara mentalitas.. Continue reading “Teater Mandiri”

JEJAK ALAM DALAM PROSA INDONESIA

Maman S. Mahayana *

Adakah jejak alam dalam prosa Indonesia mutakhir? Jika frase jejak alam itu dimaksudkan sebagai latar cerita, tentu saja cukup berlimpah novel Indonesia yang coba mengangkat perkara itu. Tetapi, jika jejak alam itu dimaksudkan sebagai problem manusia dalam berhadapan dengan alam, maka itulah yang terjadi dalam novel Indonesia modern. Novel Indonesia jadinya semacam potret pandangan dan sikap sastrawan Indonesia yang berbeda pandangan dan sikap sastrawan Eropa atau Amerika. Continue reading “JEJAK ALAM DALAM PROSA INDONESIA”

Bahasa ยป