Puisi-Puisi Abidah El Khalieqy

INTA WAHDAH

Hauskah bukan iqlima memeluk Qabil
bukan pula Cleopatra
Aphrodite atau Zulaikha

Cukup sudah cinta!

Tak usai Hawa ngembara
menyelami airmata
pohon apa bakal tumbuh
jika Layla abadi koma
d barak kumuh dan luka

Wahai majnun di puncak resah!

Sudah kuhafal kata-kata bijak
huruf batu dari kaum botak
namun kosa kata cinta
baru ketemu kamusnya
saat matamu purnama
dan subuh menderu
memanggil ruh di tubuh

Dikaulah cuma, kidung dadali kuping tuliku
juga ombak yang timbul tenggelam
bagai iman samudra jiwaku

Dan malam menggelombang
karma bintang berjumpaan
di pangkuan kasih dan cinta
mendesirkan sukma
semilir jiwa
bukan budak atau tuan
jika ingin menakarku
kecuali mummi sedang menimbang
diri sendiri

Burung-burung terbang tinggi
menguntai tasbih
langit abadi
rindu rumah di syurga Rabi?ah
asing dan sunyi

2005

BIDADARI MENGANGKAT BUMI

Tuak dan candu, simpanan abad berdebu
jadi minuman permainan
negeri sembilu

Racun hitam memamah ribuan manusia
membawa pulau jadi oleng
kota-kota miring ke kiri
menguji perlawanan
dalam revolusi

Senapan lapuk dan jejak kaki harimau
menerkam kehidupan
mengunci pergelangan
saksi mati, alibi terbang
ke awag-awang

Dendang keparat di ruang gelap
hujan peluru dan batu
orang menghilang
ibu kota jadi hantu
rahasia mahkota dunia
mahaduka itu!

Darah merah darah putih tercecer lagi
bentangan selendang di tepi pantai
bidadari mengangkat bumi
ke pusat angkasa sunyi

Luap kecewa beratap ratap
hingga langit menebal awan
memilih nyanyi tafakur hari
di antara bumi
dan laut kematian

kursi pelaminan, singgasana adam dan hawa
dibangun para malaikat
di atas ombak tinggi samudra
tapi lelaki tak bisa melihatnya
dengan mata telanjang
apakah bumi tenggelam
atau terbang menghilang

Hanya satu yang sisa
menyimpan perempuan kutub cinta
di seberang laut tanpa cakrawala
dan jika pun tak sampai
ada pengganti esok hari
bertukar rasa abadi
dengan manusia tanpa nama
permata dalam lumpur kering
dan airmata

2005

KIDUNG SIMALAKAMA

Aku berdiri di bawah khuldi
saat senja menyamar
seperti iblis tanpa diundang
berbilah racun bersarung pedang
menusuk lambungku
di langit terang

Aku berdiri menangkar sunyi bumi
sendiri
menerbangi titik niskala
menyusupkan jiwa
ke puncak tahta
cahaya Cinta

Tak ada waktu membayang
merekah dan mengaku kalah
jengkal tanah selalu begitu
menghisap semua bunga
sekaligus putiknya

Hawa menembang lagu merdu
serupa kidung simalakama

2003

IBUKU MENDAKI BADAI

Ibuku melahirkan seribu raja
seribu maut memanah jantungnya
tak habis-habis semerbak mawar
di bibirnya
ditaburi seladang damba
terbangun di tengah doa
raja-raja bertahta dalam kuasa
memetik kuntum demi kuntum nirwana
merajalela dalam lapar dahaga
merampoki piala
wajah-wajah renta

Ibuku mendaki badai
membeli kelahiranku dengan maut
demi sepotong opera
diraja bermahkota
merajam kata cinta

Ibuku melahirkan seribu dukana
mendaki badai
sejak mula
tanpa akhirnya

2001

KUNANG KUNANG MENABUH REBANA

Di rimbun kesunyian bidadari meniti padang
bibirnya merekah penuh cinta
menguntai bunga tanjung
tak mengenal aksara
berkabung

Di rindang kesenyapan ayat purnama memancar
dari ladang dan hutan belukar
tersebar bau harum sajadah
nyanyikan kisah purba

Di pelukan masa kanakku
wajahmu ibu, membuka kelopak bunga
seribu lilin berjajar di langit
kunang kunang menabuh rebana
cinta pun menderai
membuka gerbang
pintu semesta

2000

Abidah El Khalieqy, penyair, novelis, dan cerpenis, tinggal di Yogyakarta, dilahirkan di Jombang, Jawa Timur 1 Maret 1965. Menyelesaikan pendidikan di Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga (Kini UIN). Setamat dari Madrasah Ibtidaiyah, melanjutkan sekolah ke Pesantren Putri Modern PERSIS, Bangil, Pasuruan. Di Pesantren, mulai belajar menulis puisi dan cerpen dengan menggunakan nama samaran, Idasmara Prameswari, Ida Arek Ronopati, atau Ida Bani Kadir. Peroleh ijazah persamaan dari Madrasah Aliyah Muhammadiyah, Klaten. Bakatnya menulis dibuktikan menjuarai Lomba Penulisan Puisi Remaja Se-Jawa Tengah (1984). Aktif di Forum Pengadilan Puisi Yogyakarta (1987-1988), Kelompok Diskusi Perempuan Internasional (KDPI) Yogyakarta (1988-1989), dan menjadi peserta pertemuan APWLD (Asia Pasific Forum on Women, Law And Development) 1988.

Karya-karyanya berupa puisi, novel, dan cerpen dipublikasikan di berbagai media masa lokal maupun nasional: The Jakarta Post, Jurnal Ulumul Quran, Majalah Horizon, Republika, Media Indonesia, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Jawa Post, dll. Dikumpulkan di berbagai buku antologi (bersama): Kitab Sastra Indonesia, Angkatan Sastra 2000, Wanita Pengarang Indonesia, ASEANO: An Antologi of Poems Shoustheast Asia, Album Cyber Indonesia (Australia), Selendang Pelangi (antologi perempuan penyair Indonesia), Para Pembisik, Dokumen Jibril (antologi cerpen), Nyanyian Cinta (antologi cerpen santri pilihan), Mikraj Odyssey (antologi cerpen), dll. Selain itu, sejumlah puisi dan cerpennya juga terpublikasikan di beberapa antologi bersama: Sembilu, Pagelaran, Embun Tajjali, Ambang dan Perempuan Bermulut Api (2009).

Di samping memiliki kemampuan menulis, juga pembaca puisi yang baik. Membaca karya-karyanya (puisi) di Taman Ismail Marzuki (1994 dan 2000), di sekretariat ASEAN (1998), di Konferensi Perempuan Islam Se Asia-Fasifik dan Timur Tengah (1999), di acara Internasional Literary Biennale (2007). Mewakili Indonesia di ASEAN Writers Conferenc/Workshop Poetry di Manila, Philipina (1995), menjadi pendamping Bengkel Kerja Penulisan Kreatif MASTERA (Majlis Sastra Asia Tenggara, 1997), mengikuti Program SBSB (Sastrawan Bicara Siswa Bertanya) di berbagai SMU di kota besar Indonesia (2000-2005) yang diprakarsai Taufiq Ismail, menjadi pemakalah di Pertemuan Sastrawan Melayu-Nusantara (2005), dan mengikuti Dialog tentang Sastra, Agama dan Perempuan bersama Camillia Gibs di Kedutaan Kanada (2007).

Penghargaan yang pernah diperoleh: Penghargaan Seni dari Pemerintah DIY (1998), pemenang Lomba Penulisan Novel, diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta (2003), dinobatkan sebagai salah satu tokoh muda “Anak Zaman Menerobos Batas” versi Majalah Syir’ah (2004). Dan buku-bukunya yang sudah terbit berupa novel: Ibuku Laut Berkobar (1987), Menari di Atas Gunting (2001), Atas Singgasana (2002), Genijora (2004), Mahabbah Rindu (2007), dan Nirzona (2008). Yang berupa antologi cerpen dalam bentuk draft, berjudul Jalan Ke Sorga (2007) dan The Heavens Gulf (2008).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *