Puisi-Puisi Ahmad Muchlish Amrin

http://sastrakarta.multiply.com/
De Javu

Kasih;
Dalam tidur malamku, kamu datang dengan sebilah tanda tanya, tanda
tanya mirip gumpalan titik koma, kurasakan lembab tanda seru
bersembunyi pada batang takdir yang kucipta dalam rahim ibu.

Seperti garis peta yang menghunjam jantungku, ingin kutafsir jalan nasib
lewat petualangan tiada akhir.

Aku menangkap wajahmu serupa wajah dalam mimpi-mimpi, wajah yang
datang tiba-tiba di keheningan batinku.

Aku merindukan kurung buka untuk merapal nama-nama bintang
sesuai angka kelahiran dan
kutemui wajah-wajah yang sama meski beda nama, mereka pergi bila
kutanya.

Aih, rupanya aku sudah mulai gila padahal belum kutulis kurung tutup
lewat tangan yang gemetar jika mendengar namamu disebutkan

Ibu;
Meski semakin jauh aku berjalan, semakin terjal jarak kampung halaman:
itulah kepulangan. meski nasib tak menentu dan kenangan-kenangan
gugur di jalanan; aku masih bertualang.

Selalu aku menyusu pada matahari yang terbit dari do?amu meski cahaya
kisut dan usiaku makin keriput
lihatlah, Ibu! lihatlah gambarku dalam buku-buku anak sekolahan, gambar
yang sedang melambai kepadamu
dan entah kenapa, suatu waktu dalam tidur malamku, kamu minta
disetubuhi, aku melakukannya berkali-kali
tanpa sesal, aku ingin tinggal di neraka sendirian
agar aroma tubuhmu bisa kuingat dari rantau

Yogyakarta/Tang Lebun, Februari-Maret 2007

Kurasakan Tubuh Hujan
-untuk zizi

Mata;
Aku mendalami sepi di matamu dan kurasakan runcing dingin yang gigil,
garis nasibku melintang serupa jalan pulang, di manakan tepian?

–hujan ini tak membuat kita celaka ? katamu.

Tatapmu yang kesekian menidurkan mimpi musafir di gubukku
dan aku ingin bertualang lebih jauh lagi, mengenal hitam putih matamu.

Cerita yang belum selesai di pagi hari menenun kata yang tak mampu
kamu tulis di atas daun bakau, impian berkali-kali usang walau cerita
lama belum kamu tamatkan. Ah, ingin kulihat lagi mata sunyi hujan agar
gigil kembali kurasakan.

Rambut;
Tak bisa kulihat rambutmu sore ini, Zi, tak dapat kupantau awan legam di
atas keriting yang menyala ? adakah uban di rambutmu? Hari ini kepalaku
menjadi rotasi bola-bola cinta yang mirip matahari. Ingin kumainkan di
depan gawang yang licin.

Biarkan rambut hujan terus memanjang, memanjang dan merumbai ke
punggung senja agar seluruh pertapa tahu, dingin menggigil itu hanya di
tubuhku. Entah mengapa, bila tatap berkalikali kamu luncurkan, aku
berharap selalu hujan.

Yogyakarta/Tang Lebun, Februari-Maret 2007.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *