Sajak-Sajak Mardi Luhung

http://cetak.kompas.com/
Habsiyah

Kau adalah bidadari yang ditiup dari bahan tersisa. Karenanya tak begitu istimewa. Dan terpaksa diletakkan di gerbang pasar daripada di taman sorga. Di gerbang pasar tugasmu meluruskan langkah para ibu. Langkah yang bingung ketika mesti memutar uang belanja yang kerap minus. Yang hanya cukup untuk menipu kenyang. Dan sedikit membeli racun serangga. Serta secarik nota yang akan ditulis: ?Maafkan, jika aku akan meracun anak- anakku, juga anak-anakmu….? Lalu seperti pengusap, kau pun mengusap pikiran para ibu itu. Pikiran yang goyang. Pikiran yang akan membuat sayapmu berkelepakan menahan gigil. Seperti gigilan tembok pasar yang suram. Yang jika didengar memantul di antara beras, kecap, lombok, minyak, rempah dan para penimbang yang bimbang. Sebab setiap sapi yang ditimbangnya selalu melenguh. Dan bercerita, tentang hidupnya yang cuma dari kandang ke kandang. Lalu berujung di pisau jagal yang gatal. Tapi, karena kau bidadari yang tak begitu istimewa, maka jadinya usapanmu pun tak manjur. Lebih banyak yang gagal daripada yang berhasil. Dan lebih banyak pula kau melihat para ibu yang pikirannya tetap saja goyang. Yang diam-diam cuma berseliweran. Sambil terus meliukkan matanya. Seperti, seperti ingin menyiasatimu, menjeratmu dan memaksamu untuk memasuki keranjang yang gelap. Agar menjadi si babon yang bertelur sebanyak-banyaknya. Si babon yang berdaging dan berlemak tebal. Dan si babon yang juga mesti segera diracun: ?Bidadari yang tak begitu istimewa, tak perlulah menangis!?

(Gresik, 2008)

Sinai

Kau berkata api. Dan perkataanmu itu jadi api. Api yang melayang. Menukik tegak-lurus ke bawah. Menuliskan kitab. Kitab api. Api yang berkobar. Dan di perahu yang panjang, kitab apimu itu aku baca. Tapi kenapa kobaran apinya tetap saja tak hidup? Malah makin mengecil dan mengecil? Kau yang di gunung itu pun cuma melambai. Tanganmu yang putih tampak berkilat. Dan dari kilat itu, aku mendengar: ?Api dalam kitabku, bukan untuk dibaca.? Lalu kau tampakkan hujan belalang, kabut kuning, dan ruh yang mati keluar lewat celah lubang. Seperti barisan yang tak tahu muasalnya. Barisan yang melangkah dengan kepala tertunduk. Yang sesekali pendar-matanya mencari arah tempatmu yang lain: ?Yang-Asing, Yang-Asing, jangan tinggalkan kami!? Tapi katamu lagi: ?Api dalam kitabku membakarlah!? Ya, api dalam kitabmu pun melesat. Membakar barisan itu. Dan kobaran pun menyala seribu satu tahun. Seperti kobaran matahari lain. Dari sebuah kisah. Tentang si putra sungai yang mencoba menyimak sekumpulan cerita berbingkai. Yang dimulai dengan: ?Di teluk semuanya bermula. Dan di permulaan itu ada yang mesti ditinggal. Dan ada pula yang mesti dipungut. Kecuali pada api dalam kitabnya. Yang tak tersentuh olehmu!?

(Gresik, 2008)

Pingitan

Di depan pintu bilik pingitanmu aku berdiri. Membawa timba bertali. Yang ujungnya terikat di leherku. ?Bolehkah aku masuk?? Tak ada jawaban. Hanya lewat lubang kunci, aku melihat kau sedang merangkak di lantai. Meniupi layar perahu kincir plastikmu: ?Aku sedang berlayar, mengarungi tiga pelangi yang membentang!? Dalam anganku: ?Apa benar impianmu tentang pelayaran di lantai itu membuatmu sakit?? Di sebelahmu, aku melihat bonekamu telentang. Matanya kaku. Kulitnya ungu. Ungu karena pinta. Ya, barangkali pinta itu adalah peta. Dan di kerumitan peta itu, kau pun meregangkan tubuh campuranmu. Tubuh lelaki dan perempuan. Tubuh yang berpinggul juga bersusu. Dan juga berotot serta berbatang tegar. ?Aku membuahi sekaligus juga melahirkan!? tambahmu sambil memeluk dan menciumi bonekamu. Lalu, setengah hari ke depan, tali timbaku pun tiba-tiba menegang. Leherku tergagap. Kaukah yang menariknya? Yang pasti, aku merasa timbaku menyentuh kedalaman sumurmu. Dan di kedalaman sumurmu itu, perahu kincir plastikmu berlayaran dengan perkasa. Sedang, bonekamu pun cuma bisa timbul-tenggelam. Mulutnya sesekali terbuka. Seperti menanti kelebat hikayatmu. Kelebat hikayatmu yang selalu kau tafsirkan seperti ini: ?Mengapa mesti jadi terpingit, jika antara sakit dan sehat, antara menyorong dan menerima, kelambunya begitu tipis?.? Akh, sekali lagi, bolehkah aku masuk?

(Gresik, 2008)

Pinatih

Bukan karena kapal dagangku menabrak masa kanakmu, kau jadi yang aku peluk. Dan bukan karena kemandulan di rahimku, kau jadi yang aku susui. (Susu keriput yang ditakik gurat.) Dan bukan karena selat yang jinak, sampai dua seberangku kau satukan. Sampai kampung jadi bentangan kapur. Kapur putih. Putih semata. Putih yang membungkus perihku. Perih yang nikmat saat menamaimu belimbing yang gurih. (Belimbing yang berlekuk lima.) Belimbing yang matang di cermin-mulus-mengkilatku. Cermin yang memantulkan wajah para akrobat, pengunyah api dan ahli nujum. (Wajah yang menyerah di tepi bayanganmu.) Dan bukan juga karena kau menyebutku Pinatih: ibu setiap wanita, maka aku mengusap darahmu. Yang tak merah tak hitam. Tapi bening seperti getah yang mengalir tak putus-putus. Mengalir di kedua saluran napasku yang kerap tertahan. Ketika ada yang berkabar: jika ahli waris perumahan di lautan itu adalah kau. (Hai, yang pernah dilarung.) Dan bukan karena warisan itu, aku jadi yakin, jika di lereng sanalah, kau kelak akan mengubah batu jadi gajah di papan catur. Dan pena jadi tawon yang berdengung di jantungku. Jantung yang setipis sembilu dibelah tujuh. Jantung yang selalu ingin menangis untukmu seorangan: ?Seorangan!?

(Gresik, 2008)

Sungai Kembar

Setiap aku menangis, setiap itu pula air mataku akan menjelma sungai.
Sungai yang kembar. Seperti gerak kembar. Yang beringsut kembar.
Dan mendesir dengan kembar: ?Tapi, apa aku bisa membedakannya??
Itu agak rumit. Sebab sungai kembarku benar-benar kembar. Apa keduanya
terputus atau tersambung. Banyak atau sedikit. Tak terbeda. Keduanya
menempel. Keduanya saling kelindan. Maka, aku terima saja tanpa soal.
Dan sungai kembarku yang terjelma dari air mataku itu pun punya nama.
Tapi mana yang mana namanya juga tak terbeda. Jika dipanggil, keduanya
sama menegak. Jika tidak, keduanya sama melengos. Menggemaskan.
?Lihatlah, aku usir yang satu, keduanya pun pergi. Dan ketika aku
tinggalkan yang satunya lagi, keduanya pun menangis.? Dan anehnya,
seperti aku, dalam tangis itu, air mata keduanya juga menjelma sungai.
Sungai yang kembar lainnya.
Dan sungai yang kembar lainnya ini pun akan menjelmakan sungai yang
kembar yang lain lagi. Yang lain lagi. Dan yang lain lagi. Sampai semua
yang melingkupiku, penuh dengan sungai-sungai yang kembar. Yang
kembar. Dan yang kembar.
Dan semua sungai-sungai yang kembar itu, ternyata selalu rindu padaku.
Sampai suatu hari, semuanya maju ke mimpiku dan merajuk: ?Jika boleh
kami berkorban, kami akan berkorban. Agar kami tahu, kenapa kami terus
berlahiran. Berlahiran kembar untukmu??
Akh, di dalam mimpi itu, ternyata aku juga menjelma kembar: ?Kembar!?

(Gresik, 2008)

Tikungan

Mengingatmu, aku mengingat wanita pendiam di dalam pantun. Dan
menunggumu, aku menunggu bangsawan majenun. Yang datang dengan
keledainya. Dengan pentungan dan seragam rantai yang di punggungnya
telah ditambal dengan sekenanya. Tambalan keropos.
Wanita pendiam, pantun dan bangsawan majenun, sepertinya memang
dirimu. Campuran antara desah, pitutur dan kegilaan untuk melawan angin
dan arah. Serta sebaris larangan, bagi setiap yang ingin menggunakan
kata maaf dalam aus.
Tapi, apa benar kau jadi datang? Si kucing pun muncul dari tingkungan.
Mata si kucing tampak berbinar. Dan tampak seperti habis menelanmu.
Ada kepuasan dan kebengisan yang mengental. Dan ada anyir yang
dikirimkan padaku. Juga pada tempatmu.
Tempat yang telah aku sediakan. Tempat yang sejak lama
(telah menjadi arena), saat kau pancurkan getah dari kedua matamu. Seperti memancurkan sebuah kampung yang sakit. Yang bibirnya
tak pernah bisa mengatup.
Kampung yang sakit, yang bibirnya tak bisa mengatup?
Akh, apanya yang sakit. Sebab, maaf (maaf kata ini mesti digunakan),
kau dulu pun kerap menyergah: ?Tak ada kampung yang sakit. Kecuali
yang dijungkit.? Dan kau pun ketawa. Ketawa nyaring.
Sampai setiap yang mendengarnya pun mengusap dadanya. Merogoh
jantungnya. Agar tak rontok. Sambil meletakkan debar yang bergeser.
Debar yang melebar. ?Dan yang dijungkit, selalu punya ruang tersendiri kan??
Tambah sergahmu. Seperti sergahan seekor gagak galak di kepala anjing
yang menyalak.
Sejurus kemudian, si kucing yang muncul tadi beranjak. Dan lewat
bayangannya, aku makin yakin, kau memang tak akan datang
(sebab telah ditelannya). Dan aku? Pun hanya dapat menunggu. Menunggu
datangnya bangsawan majenun yang lain, sepertimu.
Si kucing lenyap di tikungan yang sama!

(Gresik, 2008)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *