Badung Dalam Peta Sastra?

I Nyoman Tingkat
http://www.balipost.co.id/

MEMASUKI ulang tahun ke-96 Puputan Badung dan memasuki sepuluh tahun Kabupaten Badung lepas dari atap Denpasar, tampaknya perlu direnungkan peta Badung dalam kancah kesusastraan lokal-nasional (Bali – Indonesia). Peta Badung dalam sastra tampaknya penting di tengah-tengah geliatnya memompa diri dengan memoles wajah melalui pembangunan material-hedonistik. Sementara sastra berdiri di tengah kesederhanaan dan kebersahajaan pengarangnya sehingga mereka rela ”miskin” tanpa rumah mewah. Tanpa mobil mewah. Tanpa pernah kebagian proyek wah. Sastra cenderung menyinari kemanusiaan yang ”hilang” ditelan gedung-gedung pencakar langit.

Dengan geliat Badung membangun fisik dapat dibayangkan bagaimana potret sastra sebagai perwujudan isi batin masyarakat Badung yang berada di daerah pinggiran Denpasar. Keterpinggiran sastra di Badung sebagai kabupaten yang konon paling kaya di (Indonesia?) terlihat pula ketika acara ”Sastrawan Bicara Siswa Bertanya” (SBSB) akhir Agustus 2002. Dari 8 kabupaten dan satu kodya, hanya Badung dan Jembrana yang tak kebagian. Lebih celaka lagi, oleh pihak panitia penyelenggara dari Majalah Horison, Ati Ismail istri Taufiq Ismail menjelaskan tidak tahu Badung. ”Kotanya apa?” katanya dengan nada retorik.

Sebagai orang yang berasal dari Badung, saya bingung. Harus menjawab dengan apa? Lantas saya jelaskan Badung punya Kuta, punya Mengwi, punya Abiansemal, dan punya Petang. Tiga nama yang terakhir ini terlalu asing buat rombongan Horison. ”Ya, kita hanya tahu Kuta itu di Denpasar,” jawabnya lagi.

Lebih sial lagi, SMU-SMU di Denpasar yang diapeli sastrawan-sastrawan besar itu tampaknya ”arogan” tidak mau mengundang saudaranya secara resmi. Saya sebagai ”tamu tak diundang” dalam acara itu hanya protes pada pihak Horison. Padahal, kalau 4 SMU yang dikunjungi sastrawan besar itu mau toleran, bisa saja ”ngejot” ke Badung dengan memberikan peluang kepada salah satu SMU di Badung Utara dan satu SMU di Badung Selatan. Dengan demikian, peta kewilayahan sastra dalam SBSB itu menjadi berimbang. Selain itu, napak tilas sejarah kelahiran Denpasar sebagai Kodya akan tersambung dalam guratan-guratan Keris Puputan Badung sebagai lambang kebesaran dan terpatri pula dalam guratan-guratan karya para sastrawan di kedua wilayah.

Dengan ”arogansi” seperti itu, SMU-SMU di Kodya seakan ingin menjadi sentral pembibitan sastrawan. Itu tidak salah sebagai sebuah obsesi. Akan lebih baik, obsesi itu ditularkan pula kepada saudara tua sekaligus tetangga paling dekat, Badung. Selain bertujuan merajut tali kasih sekaligus merajut tali geografis, bukankah ”Peken Badung” ada di Kodya Denpasar? Rasa-rasanya, Peken Badung tetap dilestarikan dan tidak ada niat untuk mengubahnya menjadi Peken Denpasar, misalnya.

Dengan arogansi Denpasar seperti itu, Badung sebagai wilayah pinggiran Kodya akan makin terpinggir dalam peta sastra. Di telaga kering keterpinggiran itu barangkali ada setetes air penyejuk, tetapi akan sulit menampakkan diri akibat miskinnya pergulatan dan pergaulan kreatif. Program SBSB itu tentu dapat diharapkan mengalirkan dan menghembuskan napas apresiasi yang lebih segar dan menyejukkan bagi kehidupan sastra di Badung. Sayangnya, Badung tak diikutkan. Ini tentu menjadi ”kado duka” bagi sastrawan di Badung.

Karena itu, memasuki 96 tahun Puputan Badung, tampaknya pertanyaan Direktris Majalah Horison, Ati Ismail, ”Badung kotanya apa?” pantas direnungkan. Tugas pihak eksekutif dan legislatif untuk memikirkan dan mewujudkan. Mau tidak mau, keterlibatan sastrawan baik langsung maupun tak langsung tak dapat diabaikan. Sebab dari karya-karya sastralah dokumen tentang Badung secara filosofi dapat digali.

Penggalian itu tampaknya sangat mendesak dilakukan apalagi saat ini Badung begitu ”nekat” mewujudkan puspem dengan rela RAPBD-nya sampai defisit ratusan milyar. Sebagai warga Badung, saya sangat berharap setelah puspem selesai digarap nama Ibu Kota Badung pun diharapkan rampung. Paling tidak 4 tahun lagi, saat peringatan seabad Puputan Badung 2006, nama Ibu Kota Kabupaten Badung sudah terpatri dalam prasasti di kompleks gedung Bupati Badung.

Walaupun nama secara linguistik tanpa makna, pencarian nama untuk Ibu Kota Kabupaten Badung pantas diseminarkan dan dikaji melibatkan cendekiawan, sejarahwan sastrawan dan budayawan. Dari mereka diharapkan kearifan historis berdasarkan teks-teks sastra yang pernah lahir tentang eksistensi Badung dapat memenuhi syarat ruang budaya yang lebih humanistik. Dari seminar itu pula, para sastrawan di Badung diharapkan berpartisipasi aktif sehingga eksistensinya dapat dipetakan dalam wilayah sastra yang terbelah oleh Kodya Denpasar. Hulunya ujung keris di Carangsari dengan Puncak Mangu sebagai sumber tempat memohon inspirasi pegunungan dan pangkal keris di Bukit dengan laut Uluwatu sebagai wilayah pencarian dan pendalaman makna meretas dalam semangat Badung harmoni, utara-selatan dalam konsep kaja-kelod.

Selanjutnya, jika nama Ibu Kota dan puspem telah rampung, kampanya mesti digalakkan lewat promosi multimedia. Harapan kita jangan sampai Badung dengan ibu kotanya tidak dikenal oleh orang di Ibu Kota. Inilah tantangan bagi masyarakat Badung, termasuk para sastrawannya sehingga keberadaannya tak perlu dipertanyakan lagi. ”Badung Ibu Kota apa?”

Selamat berpuputan dalam menghasilkan nama Ibu Kota Badung. Rahajeng.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *