Azwina Azis Miraza: Yang Melangkah di Jalan Sastra

Adek Alwi
http://www.suarakarya-online.com/

DUA kumpulan puisi Azwina Aziz Miraza diluncurkan di PDS HB Jassin, TIM, Jakarta, 16 Januari 2009. Ina, begitu ia biasa disapa, lahir pada 13 Januari 1960 dan wafat 8 September 2008. Jadi, walau agak terlambat peluncuran dua buku itu juga dimaksudkan rekan-rekan seniman di Jakarta sebagai peringatan 100 hari kepergian Azwina, sekaligus hari kelahiran dia. Dan Ina memang tak mungkin untuk tidak dikenang.

Ada beberapa hal bisa dicatat untuk menjelaskan itu; sebagian saya utarakan pada acara tersebut. Pertama, Azwina Aziz Miraza tergolong orang yang berserius menjadikan sastra sebagai pilihan; mendedikasikan hidup sejak usia belia hingga akhir hayat di dunia itu. Sajak-sajak awal Ina (dua diantaranya terdapat dalam “Di Setengahnya Adalah Kita”; 1 dari 2 kumpulan puisi yang diluncurkan hari itu) bertahun penulisan 1976, ketika dia 16 tahun.

Secara pribadi, saya pun sudah menangkap isyarat pilihan Ina itu saat kami sama-sama di Bengkel Sastra Ibukota (BSI) tahun 1980, sehingga saya bilang kepada Lazuardi Adi Sage (alm), “Ina ini lain nih, Las. Rajin benar!” Mungkin karena ia saya lihat datang terus di setiap diskusi yang kami selenggarakan seminggu sekali. Bahkan ikut menyusun AD/ART BSI di Cipayung, Bogor. Juga, sebagai wartawan, masih muda (saya 27, Ina 20 kala itu; makanya dia panggil ‘kak’ kami semua) saya kerap jumpa nona-nona di luar BSI tapi langka yang memilih ‘dunia’ yang dipilih Ina. Dan ucapan itu bak saya lanjutkan 27 tahun kemudian, 25 Juli 2007, juga kepada Las, saat peluncuran novel Naning Pranoto di PDS HB Jassin: “Kayaknya eksponen BSI, Ina, Pipiet (Pipiet Senja), Remmy (Remmy Novaris DM) yang ajek di jalan sastra, ya!”

Kedua, karena sastra adalah pilihan maka profesi di luar itu bagi Ina tak soal betul ditinggalkan. Atau, profesi wartawan misalnya (Ina pernah di Majalah Sarinah, Amanah), pupuk saja untuk sastra; sebab memungkinkan banyak jumpa manusia, masalah, sehingga dapat mempercepat pencapaian hakikat. Maka, bagi saya tak aneh jika usai jadi wartawan dia mengadakan lomba baca puisi untuk tukang becak, atau pengembangan anak jalanan, bahkan di tahun-tahun terakhir hidupnya aktif dalam penyembuhan penderita HIV/AIDS. Semua itu upaya memahami, sekaligus berbuat untuk hidup; lewat jalan sastra.

Itu agak beda dengan kami, sebutlah saya, Hendry Ch Bangun (yang sejak 1983 suami Ina), Lazuardi Adi Sage, Wahyu Wibowo, Kurniawan Junaedhie. Wahyu, selepas jadi wartawan lanjut di lapangan yang sejak dulu dia geluti, akademik; bergelar doktor. Las justru tumbuh jadi owner penerbit tabloid, buku. Kurniawan bos bunga-bunga mahal. Adapun Hendry (Wapemred Harian Warta Kota) dan saya, basitungkik terus di pers, bak tak rela meninggalkan. Makanya tahun 1991, saat saya (selaku Redpel Majalah InfoBank) sibuk dengan ekonomi Indonesia, kebijakan uang ketat Menkeu Sumarlin, kinerja bank yang menjamur sejak Paket Oktober 1987 Ina tiba-tiba muncul di kantor, Gedung Utama, Mampang. Ia tegur, “Kak Adek, mengarang lagi dong! Sibuk terus!” Walah, walah. Jauh benar rasanya jarak saya dengan sastra masa itu.

Ketiga, terkait dengan hal pertama serta kedua di atas, Azwina berjalan konsisten, istikamah, di jalan sastra; sikap yang juga kelihatan melekat pada Chairil Anwar, ataupun Sutardji Calzoum Bachri, misalnya. Dan saya terangguk-angguk mengamatinya dari jauh.

Setelah tahun 1991 itu saya memang tak pernah jumpa lagi dengan Ina, tapi lewat kawan-kawan dan pemberitaan, kiprahnya saya ikuti. Misalnya kala buku-bukunya terbit, baik kumpulan puisi maupun kumpulan cerpen. Ada 9 buku puisi dan 4 kumpulan cerpen yang lahir dari tangannya, termasuk “Tango Kota Air” (1980), yang merupkan kumpulan sajak dia berdua dengan Hendry Ch Bangun, pada era Bengkel Sastra Ibukota, dan zaman pacaran mereka yang tentunya indah.
* * *

SEJAK awal-awal pula saya dapat kesan sajak-sajak Ina adalah sajak-sajak yang saya sebut ‘gagah’. Maksudnya, tak jatuh ke sentimental apalagi cengeng, sekalipun yang digarap soal-soal yang menyentuh. Ada sebentuk kedewasaan dalam memahami masalah, yang terwujud dalam pilihan kata, pencitraan, bangunan larik. Saya kutip bait ke-2 dari 3 bait sajak “Tango Kota Air” yang ditulis pada masa BSI tahun 1980: Jangan bilang besok hendak jadi apa/ nasib bukan humus kotamu, lumut airku/ dia singgah di kisar waktu/ dan pada saat tertentu/ kota air sansai tak pernah selesai/ meski pucuk trauma/ dalam kita tenggelamkan bersama//.

‘Kegagahan’ itu hemat saya terus dipelihara; makin kuat, mengkristal, bak terlihat pada bait akhir dua bait sajak “Mabuk” yang ditulis kemudian, tahun 1989: Aku mabuk/ Dia kepayang kemaruk nafsu/ diseling raungku yang melengking./ Air matanya meleleh/ dia kalap mendekap gelap hingga pekat//. Atau pada sajak-sajak yang ditulis pada tahun terakhir kehidupan Ina, 2008, umpamanya sajak “Di Setengahnya Adalah Kita” yang bait akhirnya demikian: Seperti bulan setengah, matahari bergerak terengah/ himpitan embun terbelah/ deras hujan meluntur beban, begitu indah/ seperti waktu yang kulalui setengah/ malam yang menyimpanmu setengah/ di setengah bayangmu, aku melangkah//.

Karena sudah memilih lalu terus istikamah di jalan sastra itu (bahkan tak mengapa meninggalkan profesi lain seperti kewartawanan karena itu hanya jalan saja untuk dapat pupuk sajak; yang akan mempercepat pencapaian hakikat), maka bagi saya pun wajar bila sajak-sajak terakhir Ina merebak aroma religi yang kuat. Hal ini misalnya terlihat pada sajak-sajak yang dia tulis tahun 2008, semisal puisi “Tuhan, Aku Sendirian.” yang bagi saya merupakan pengaduan Penyair kepada Tuhan-nya tatkala semua menolak keyakinan yang dia tawarkan. Padahal, “Keyakinanku berbentuk sederhana:/ “Ikhlas, tulus, selaras ucapan berdasar kasih sayang”.

Sajak “Tuhan, Aku Sendirian.” itu pun dijadikan judul kumpulan sajak Azwina yang diluncurkan bersamaan dengan kumpulan sajak “Di Setengahnya Adalah Kita” pada Jumat sore 16 Januari 2009 itu. “Di Setengahnya Adalah Kita” diulas-pengantari Wahyu Wibowo, sedang “Tuhan, Aku Sendirian.” oleh Maman S Mahayana.

Wahyu, Maman, dan Kurnia Effendi pun tampil sebagai pembicara di sesi diskusi. Kurnia Effendi segenerasi di bawah Azwina di jalan sastra. Tapi bukan hanya Kurnia dan generasinya yang hadir. Pun para sahabat lama: Adri Darmadji Woko, Dharmadi, Remmy Novaris DM, Salimi Akhmad, Kamsudi Merdeka, Syafrial Arifin yang pernah sekantor dengan Ina di Harian Pelita. Tentunya juga Hendry Ch Bangun, serta Diah Hadaning, K Usman, Hamsad Rangkuti. Di tengah-tengahnya terdapat saya. ***

*) Sastrawan, dosen, wartawan, tinggal di Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *