Dari Teror ke Mata Sapi

Raihul Fadjri
http://majalah.tempointeraktif.com/

Sapto Raharjo memetik inspirasi dari gerak dan permainan anak tradisional. Semangat musik garda depan John Cage membayanginya.

Dua laki-laki berdasi duduk di atas kursi di depan meja. Tak tampak ada niat untuk memainkan dua keyboard yang mematung di sebelah mereka. Justru suara mereka yang datar, naik, turun, asyik membaca naskah secara bergantian. Kadang dalam bahasa Inggris, saat lain dalam bahasa Jawa. Kadang dengan suara berbisik, saat lain bak seorang orator di podium dengan tangan mengacung. Meja dipukul, air diteguk, menguap, tertawa, merokok, batuk-batuk, dan sesekali mata melirik ke arah jam yang ada di depan mereka saat membaca naskah. Persis 45 menit adegan ini berlangsung.

Sama sekali tak ada musik dalam pengertian konvensional yang terdengar. Penonton terperangah dan baru bertepuk tangan setelah pembawa acara memohon.

Adalah pemusik kontemporer Sapto Raharjo, 48 tahun, yang menyuguhkan karya “nabi” musik kontemporer, John Cage, 45′ for Speaker, sebagai uji coba untuk membuka pergelaran karyanya bertajuk Teror Mata Sapi di Planet Pyramid, Yogyakarta, 15 Februari lalu. Hampir lima dekade lalu John Cage menulis karya ini pada 1954 dan publik musik masih tetap terperangah. Apakah ini pertunjukan musik, teater, atau pembacaan puisi? John Cage juga mengaku bingung. Tapi, anehnya, pendekatan radikal John Cage terhadap musik ini mewabah. Musik tak lagi dilihat sebagai susunan nada dari instrumen musik, tapi merupakan pernyataan pikiran yang bisa berbentuk suara apa saja, bahkan tanpa suara semacam karya Cage, 4′ 33. Karya ini dimainkan oleh pianis David Tudor di Woodstock, New York, pada 1952. Tapi Tudor tak pernah sedikit pun menyentuh tuts piano di hadapannya. Dalam keheningan, ia hanya mengubah arah duduknya sebanyak tiga kali selama 4 menit 33 detik. Pada gerakan terakhir, penonton mulai saling berbisik dan memberengut. Tapi John Cage selalu mengatakan kepada penonton dengan nada minta maaf: “Saya tak pernah sembrono melakukan sesuatu atau untuk mengejutkan.”

Malam itu, di dalam ruang berbentuk piramid, Sapto Raharjo tak juga berlaku sembrono menggarap karyanya. Meski tak seradikal John Cage, Sapto, yang biasa menggarap musik digital, dengan perhitungan detail menyajikan tiga komposisi dengan mengandalkan vokal dan sumber suara lain. Ia menggarap koreografi gerak untuk menghasilkan komposisi suara dengan efek akustik pada Engklek Atawa Ingkling. “Ini butuh latihan yang sulit dan penuh pertengkaran, karena sumber suara bukan dari instrumen atau vokal, melainkan dari gerak,” katanya. Sedangkan pada karya Teror Kata, Sapto sepenuhnya mengandalkan vokal. Hanya pada Teror DJ Sapto masih mengandalkan musik digital bercorak disko mengantar vokal 15 laki-laki dalam lirik bahasa Jawa yang membangun suasana hiruk diskotek. Ketiga komposisi ini untuk merespons gelombang ketakutan terhadap teror sejak serangan 11 September.

Pada karya Teror Mulut, Sapto membangun suasana mistis dengan 15 laki-laki mengenakan jubah putih duduk bersila di panggung bak sebuah persekutuan doa. Mereka menembangkan mantra berupa potongan kata-kata secara ritmis yang terdengar mirip doa yang keluar dari mulut biksu. Kadang muncul nada sengau panjang yang liris menekan perasaan. Saat lain pengucapan mantra itu terdengar mirip ucapan repetitif tahlil, kemudian berubah menjadi kor gereja yang sangat musikal. Tapi, kita pun tahu, mantra bisa berubah menjadi biang pertengkaran. Saling tuding penuh kemarahan, sehingga suasana mistis nyaris menjadi anarkis hanya karena masing-masing ngotot mempertahankan kebenaran lafal mantra. Mungkin Sapto berpikir bahwa agama berhenti menjadi kabar baik setelah menjadi ritus sosial, bahkan menjadi teror bagi umat. Tangis lirih menutup karya ini.

Seolah sebuah terapi untuk teror, Sapto menawarkan keriangan pada karya Engklek Atawa Ingkling. Ia terinspirasi oleh permainan anak tradisional engklek dengan membangun irama lewat permainan kaki berdebap mengentak bidang warna-warni kotak engklek di atas kayu lapis. Irama entakan kaki bak orang sedang berdialog yang secara bergantian mengungkap pikirannya dalam sederet kata entakan kaki. Kadang dalam tempo yang cepat dengan entakan emosional, tapi dibalas dengan gerakan yang penuh pertimbangan. Efek akustik yang ditangkap mikrofon di bawah hamparan kayu lapis menghasilkan irama mirip entakan musik perkusi yang dinamis. Permainan kaki menjadi lebih hidup dengan gerak teatrikal 15 pemain yang ditutup dengan suara riuh tubuh yang jatuh berdebam, dan yang tinggal hanya suara kesepian entakan sepasang kaki. Penonton pun menghadiahkan keplok yang tulus tanpa diminta. Karya musik kontemporer Sapto Raharjo masih lebih ramah kepada selera publik daripada karya “sang nabi”, John Cage.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *