Deja Vu

Beni Setia
http://entertainmen.suaramerdeka.com/

MIMPI yang berbaju terusan tipis dan punya sepasang sayap kecil di punggung menemuiku dalam setengah jam terlelap, mengulurkan tangan kanan dan menyalami meski aku sangka ia ingin memperkenalkan diri dan memintaku memperkenalkan diri pula. Nyatanya ia hanya tersenyum ketika aku menyebutkan nama dan sama sekali tak ada memperkenalkan dirinya?selain berkata, ??Maaf, saya hanya diperintahkan untuk mengajak Anda ke satu tempat.??

Aku, dalam tidurku, mengernyit mencoba mengapresiasi apa makna dari semua itu. Sia-sia. Si Mimpi mengajakku jalan memasuki semacam ruang menonton pribadi, sebuah home theater dengan kursi kulit berpunggung geser dan tempat selonjor yang ditarik dari bawah kursi, menghenyak dan menonton ia menyalakan televisi besar dengan tata suara sangat dolby surround. ??Silakan,?? katanya sambil mempersilakan dengan tangan kanan membuka dan mengarahkan fokus menatap sambil setengah terbungkuk menunjukkan kesantunan. Dan sebelum aku bertanya, layar menghadirkan diriku dan saat aku menyadarinya mendadak aku tersedot ke layar televisi dan ada di tengah adegan yang seharusnya ditonton?padahal dalam tertidur itu aku sedang menontonnya.

Prolognya ada ketukan di pintu yang membuat aku bangkit?tersedot dari duduk nyaman di depan layar televisi?dan berada di depan pintu, menggerutu membukanya dan tersentak ketika di hadapan ngangaan muncul wajah garang dengan sebilah pisau yang mendadak dimunculkannya dari balik jaket jeans yang kelabu pudar. ??Kau bajingan!?? desisnya, sambil menusukku dua kali ke perut, dan ditusukkan yang ketiga ia mengukit seluruh badan pisau yang terhunjam ke perutku itu ke atas dan dijotokkan langsung ke jantung dan paru-paru. Ada sentakan yang membuat napas menggelogok bagai saluran air yang mampet dan disodok kawat baja sehingga mulut menganga dan darah segar menyembur dari sana, meludahi wajah lelaki asing yang kaus putihnya telah dipenuhi darah di bagian perut, meleleh ke pangkal celana bersabuk dan ujung lengan jaket.

??Kenapa? Ada apa???
***

AKU terjaga sebagai lelaki lelah yang pulang lembur dan tidak sempat makan karena mengantuk, buru-buru ke kamar kos dan menghenyak ke pembaringan tanpa membuka pakaian dulu. Aku terjaga sebagai aku yang menonton si Mimpi mengajak aku yang lain itu ke satu home theater, menonton aku yang tidur di sofa ruang tamu keluarga yang mewah dan tersedot sebagai yang dijagakan gedoran di pintu sebuah rumah kelas menengah yang senyap. Membuka pintu tanpa curiga dan ditusuk tiga kali oleh lelaki asing, dan yang saat aku terjaga ternyatakan ia mengenakan kostum yang kini masih aku pakai?di luar sepatu tentunya.

??Apa arti semua itu??? kataku.

Aku tidak tahu. Karena itu aku bangkit, meraih rokok dan menyulut sebatang, meraih gelas di celah rak penampung dispenser dan mengalirkan air dingin di tengah malam yang senyap. Setelah minum aku mengambil telepon genggam dan berniat menelepon komandan menanyakan apa bukti konkret investisi keterlibatan Khuldi dalam backing penyelundupan heroin itu sudah cleared dan bisa ditindaklanjuti penggrebekan, tapi batal setelah menyadari itu sudah di luar wewenang agen yang disusupkan, dan karenanya aku menyalakan televisi yang hampir nempel di dinding di sisi lemari pakaian ?mengapit dispenser.

Membuka jaket tanpa memperhatikan apa yang muncul di layar, menggeliat dan merontokkan abu rokok ke rantang baja yang separo berisi pasir dan dijejali puntung tiga hari. Melirik ke arah televisi dan tersedot.

Aku kini ada di jalan yang senyap tanpa lalu lintas, dengan dingin yang seperti menyulap jalan jadi koridor muram yang tak dihuni apa-apa ?kota mungkin baru kena epidemi hingga hanya lampu merkuri yang menyala lesi, dengan segala makhluk hidup tumpas menyisakan vegetasi yang begitu minim di antara pagar, tembok dan julangan beton yang yatim ditunggui nyala lampu. Cuma aku seorang. Tersaruk melangkah dan celingukan seperti takut dipergoki orang karena akan melakukan hal terlarang. Tetapi apa yang sebenarnya akan dilakukan? Tapi kenapa mesti melakukan hal yang tak terpikirkan dan belum pernah dipikirkan sebelumnya ?apa lagi merencanakannya??
***

MELEWATI sebuah jalan yang disilang portal, tepat selangkah setelah berbelok dari lurus jalan utama, setelah jalan tiga rumah (celingukan) dan meloncati pintu geser halaman dengan berpegang pada tiang kanopi transparan: aku tiba di pintu yang rapat menyembunyikan penghuni rumah dalam istirahat dan pemutusan hubungan total dari dunia luar dan orang-orang yang belum menemukan tempat istirahat atau sekadar bisa lelap dengan perut kenyang. Menarik napas panjang, meraba pisau tanpa sarung yang diselipkan di pinggang kiri dan menyihirkan dingin ganjil ke kulit dan seluruh umbai usus pemompa kotoran. Menggerak-gerakkan tangan kanan yang mengepal longgar dan berdehem lengan menjadi pegas yang melontarkan energi ketukan ke daun pintu?berentet dan berdebam seperti penggendang samba kesurupan.

Pintu pun mendadak terbuka oleh tarikan marah dari yang merasa istirahatnya

tiba-tiba dirampok dan dirampas, dan alih-alih ia sempat menyemburkan serapah dan kutuk aku sigap mencabut belati dan menyeruklan makian tunggal ???Kau bajingan!??

Sambil menghunjamkan pisau dua kali dan pada yang ketiga aku mengungkitnya ke atas dan melampaui rongga perutnya aku menjotok peparu dan jantungnya sehingga napasnya mengorok bagaikan orang berkumur dan kemudian menyemburkan darah ke wajah, melengkapi yang telah membasahi perut, pangkal celana yang dihiasi gesper klasik tapal kuda baja putih dan pangkal lengang jaket kanan. Menatapnya terbungkuk, dan mendorongnya terjengkang sebelum berbalik dengan meninggalkan belati kekal dalam rongga dadanya. Meraih taplak meja dan membesut darah di tangan.

Meloncati pagar dan saat berdebam di seberang aku tersentak: bukankah itu aku yang dalam mimpi tadi itu jadi yang dibunuh lelaki asing dengan kostum seperti yang aku pakai ke kantor tadi pagi, dan belum dibuka karena keburu mengantuk dan ingin tidur hingga lupa pada rutin meminyaki selinder peluru colt inventaris, dan yang kini jadi kostum pakem dari skenario yang memosisikanku sebagai aku yang membunuh lelaki asing yang mapan dan marah dijagakan mau dini hari ini?
***

PINTU diketuk lembut. ??Mat! Mat!?? terdengar suara Takdir memanggil dengan tekanan lembut dan suara pelan. Aku menggeliat. Mengiyakan dan mendekat ke pintu. Membukanya. Tersenyum dan berbalik setelah mengajaknya masuk dengan isyarat. Ia mengikuti dengan awalan yang membulat penuh untuk menghentakkan daya pada alu baja Mbah Jamu, yang langsung menghantam kuduk, menghancurkan kontak sambung syaraf tulang belakang dengan syaraf otak, mendorongku bagai kodok yang melompat dan hinggap dengan empat telapak kaki yang mengamankan perutnya dari luka debam meloncat. Tapi aku tak bisa jadi kodok dan tak sempat berpikir menjadi kodok. Hanya tumbang bagai pohon pisang disabet tebasan dua samurai seirama Musashi.

Dan aku melirik si Mimpi yang berbaju terusan tipis dan punya sepasang sayap punggung, menolong bangkit, menepuk kuduk memulihkan luka retak, dan mengusap punggung untuk memunculkan sepasang sayap yang lama sembunyi semi-rudimenter, menarik ke pojok kamar-lurus langsung menembus lelangit dan atap kamar. Terbang di langit wangi membiru, dan saat aku mencuri lirik ke arah bumi si Mimpi berdehem, ??Lupakanlah?itu tempat kejahatan, iri dan dengki tak pernah tidur…!??
(/)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *