Selembar Kampung di Dalam Telingamu

Gunawan Maryanto
http://entertainmen.suaramerdeka.com/

DI DASAR LAUT AKU BERTEMU DENGANMU, KEKASIHKU. Lalu kamu bilang masuklah ke dalam telingaku. Aku menahan tawa. Mana bisa. Tubuhmu mungil. Kupingmu apalagi. Lembut dan kecil. Mana bisa aku masuk ke sana. Bisa, katamu sambil tersenyum. Masuklah segera.

Aku masuk ke dalam telingamu. Entah apakah diriku yang mengecil atau kupingmu yang melebar. Kenyataannya aku berhasil masuk. Atau sebenarnya tak ada yang berubah pada tubuh kita masing-masing. Aku bisa masuk ke dalam telingamu begitu saja. Tak perlu ada yang dipertanyakan. Seperti kenapa aku mencintaimu.

Apa yang kamu lihat? Tanyamu, persis di telingaku. Aku tak bisa melihat apa-apa. Aku bahkan tak bisa melihatmu. Aku seperti hanya melihat samudera yang mahaluas. Tanpa tepi. Tapi aku juga tak yakin, apakah itu samudera atau bukan. Atau hanya sebuah hamparan ketidaktahuan. Tak ada matahari atau bulan. Tak ada barat timur selatan dan utara. Tak ada atas tak ada bawah. Aku kehilangan depan dan belakang. Aku kehilangan kamu sejak memasuki telingamu.

Lalu perlahan sepertinya aku menemukan sebuah kampung. Kampung yang menampakkan dirinya samar dan basah. Terkulai seperti selembar kertas yang kamu jatuhkan ke dalam baskom penuh air. Di mana dulu aku pernah mencium bibirmu di balik gerumbul ilalang. Di mana dulu kau dan aku berpisah tanpa bertukar nomor telepon. Kampung yang kamu tinggali. Kampung yang aku tinggalkan.

Lantas kulihat beberapa orang bangkit dari kuburnya. Mereka kembali ke rumahnya masing-masing. Beberapa di antaranya duduk di beranda. Sebagian masuk ke ruang tamu dan mulai menyalakan televisi. Anak-anak muda yang sebenarnya sudah tua, duduk bergerombol di tiap perempatan.

Menenggak alkohol murahan yang telah membunuh sebagian dari mereka. Beberapa bocah belajar merokok. Dan menggambari lengan mereka dengan gambar-gambar yang mereka potong dari majalah-majalah bekas. Tampaknya salah satu dari bocah-bocah kecil itu adalah aku. Sepertinya. Aku tak yakin.

Teruskan perjalananmu. Jangan ragu. Apalagi yang tampak olehmu?

Warna. Dan sebersit cahaya. Entah datang dari mana. Aku tak melihat bulan tak melihat matahari. Tak juga lampu-lampu yang dinyalakan. Empat warna, kekasihku. Hitam, merah, hijau, dan putih.

Lima. Ada lima, kekasihku. Cahaya. Tapi cahaya, ia tak memiliki warna. Itulah hatimu. Cahaya itu akan menggerakkan tubuhmu. Menerjemahkan sandi-sandi yang tertulis di sekujur tubuhmu. Ia akan menunjukkanmu apa yang nyata dan tak nyata. Sedangkan hitam, merah, hijau dan putih, adalah warna-warna yang bisa jadi akan menyesatkanmu. Berhati-hatilah.

Mungkin mesti kau bangun beberapa pos penjagaan di sana. Sebab hitam akan membawamu ke dalam kegelapan. Membuat semuanya tampak tak berbatas atau malah sama sekali tak ada jalan. Membuatmu jadi berlebihan. Sedang si merah, adalah yang menyimpan seluruh keinginanmu. Baik atau buruk.

Yang menyimpan wajahku di hatimu. Yang membuat seluruh malammu berbau tubuhku. Membuat kita selalu berseteru. Hingga hijau datang seperti tangan terbuka di padang luas.

Membiarkan kedua telapaknya dipenuhi curah hujan. Menumpahkan dan memadamkan segala bara. Mendamaikan kita. Mendamaikanmu dengan semesta. Ia selalu menginginkan yang baik. Ingin semuanya baik-baik saja. Bekerja dan mencipta dengan baik. Tak ingin melukai siapa-siapa.

Meski seringkali akhirnya ia malah menjerumuskanmu. Cintamu yang terkadang malah melukaiku. Demikianlah si hijau. Sedang si putih, ia tak ingin mengotori tubuhmu. Berkali-kali ia memandikanmu. Membuatmu tak mau menyentuhku. Tak mau menyentuh segala yang berdebu. Menyentuh yang bukan dirimu. Ia membuatmu berjarak dari kenyataan.

Ah, sekarang warna-warna telah berubah, kekasihku. Dari empat menjadi delapan. Delapan menjadi enambelas. Enambelas menjadi tiga puluh dua dan seterusnya. Kampung menyala penuh warna. Seperti dalam perayaan tahun baru. Begitu banyak warna.

Berpendar di langit. Beradu satu sama lain. Meledak-ledak. Berebut perhatian. Anak-anak bersorak. Wajah mereka berganti-ganti warna. Lalu pada puncaknya, pada ledakan kembang api yang terakhir, semua kembali tenang. Hanya ada sisa-sisa. Seperti kediamanmu, dulu, ketika habis menangis.

Kampung halaman kita kembali tanpa warna. Pucat. Seperti menahan sakit. Seperti ayah yang akan kehilangan anaknya. Dan tampaknya aku harus berhenti di sini. Cukup sampai di sini. Aku keluar dari lubang telingamu.

PADA MULANYA AKU HANYA DIMINTA MENCARI SETITIK AIR. Sebutir air. Konon siapa yang bisa memilikinya akan memiliki hal yang paling besar di dunia ini: keabadian. Kamu bisa hidup selamanya. Kamu akan punya cukup waktu untuk menguasai dunia. Bukankan musuh paling besar kita semua adalah waktu. Maka jika waktu tak berlaku lagi padamu, tak ada alasan bagi seluruh kegagalan untuk menjadi ketakutan.

Kamu bisa mengulanginya lagi dan lagi. Hingga di suatu pengulangan kamu akan berhasil. Seperti sebuah game komputer di mana kamu bisa memainkannya kapan saja, berapa kali pun, hingga kamu yang semula adalah pecundang, lambat laun akan menjadi pemenangnya.

Siapa pun akan bergetar mendengarnya. Membayangkan seluruh kekalahanmu akan berubah menjadi kemenangan yang gemilang. Kamu berubah menjadi seseorang yang tak terkalahkan. Tubuhmu akan kebal dari senjata macam apa pun. Ledakan sekeras apa pun. Luka separah apa pun.

Tak ada penunjuk arah sama sekali. Hanya cerita dari mulut ke mulut, kabar angin, atau dongengan bahwa air itu bernama Perwitasari. Amrta. Ada juga yang menyebut kamandanu atau kamandalu. Entahlah mana yang benar. Air abadi sebut saja demikian. Dari kabar burung aku mengarah ke sebuah gunung bernama Reksamuka. Di lereng gunung itu ada sebuah hutan, Tikbrasara. Konon air abadi itu tersembunyi di tengah kelebatan dan kewingitan hutan itu.

Tapi apa yang kutemui hanya sepasang raksasa kembar yang hampir saja membunuhku. Aku tak tahu siapa mereka. Mungkin mereka adalah penjaga hutan keramat itu. Belakangan kutahu nama mereka: Rukmuka dan Rukmakala. Terlambat. Tapi setidaknya kuburan mereka jadi punya nama. Dari kematian sepasang raksasa itulah aku berbalik arah menuju dasar laut. Ksira Arnawa. Lautan Susu.

Juga bukan arah yang pasti. Aku hanya berdasar pada dongengan simbah tentang Samudramanthana. Di mana seluruh makhluk di dunia ini bersatu padu mengaduk Ksira Arnawa untuk mendapatkan air Amrta. Aku berkali-kali mengutuk kebodohanku. Kenapa tidak sejak mula aku ingat Samudramanthana. Kenapa aku harus repot-repot bertaruh nyawa berkelahi dengan sepasang raksasa penunggu Tikbrasara. Apa yang kulakukan pernah dilakukan oleh orang lain. Kenapa aku tidak berpijak dari sana. Sekali lagi aku mengutuk kebodohanku.

Dalam kisah Samudramanthana, air Amrta yang semula tersimpan di surga, oleh suatu sebab jatuh ke bumi. Tepatnya di Ksira Arnawa. Maka berebutlah seluruh makhluk untuk mendapatkannya. Dengan alasan yang kurang lebih sama denganku. Menjadi abadi. Dewa-dewa, para binatang, dan para raksasa berkumpul di lautan susu itu.

Semua kepingin mendapatkannya. Tapi mereka hanya bisa termangu di lautan susu yang teramat luas itu. Tak ada yang bisa dilakukan. Lautan itu terlalu dalam dan luas, sedang air Amrta hanya sebutir air.

Tak lebih dari sebulir embun. Setitik air mata. Maka dengan ambisi masing-masing bersatulah mereka untuk bisa menemukan air Amrta. Mereka memutuskan untuk mengaduk lautan. Dan alat yang disepakati dan diyakini bisa untuk melakukannya adalah sebuah gunung. Gunung Mandara, anak paling besar Gunung Himalaya, diambil dari tempatnya.

Wisnu terpaksa bertiwikrama untuk mengangkut gunung tersebut. Puncak gunung Mandara diletakkan di dasar samudera susu. Sebagai landasannya, agar puncak gunung yang kuat dan tajam itu tidak melubangi dasar lautan, ditunjuklah Akupa, seekor kura-kura. Maka diletakkanlah puncak gunung itu di punggung Akupa.

Dan untuk menjaga dan menggerakkan alat pengaduk raksasa itu dibutuhkan seutas tali yang luar biasa kuat dan panjang. Untuk itu Basuki harus merelakan dirinya menjadi tali. Naga itu melilitkan dirinya di badan gunung. Lalu para raksasa dan dewa-dewa bertugas mengaduk samudera susu.

Para dewa memegang ekor basuki di tepi pantai, sedang di tepi pantai seberang para raksasa memegang kepala Sang Basuki. Maka berputarlah mereka. Mengaduk samudera. Berputar dengan cepat dan kuat. Seperti kamu yang tengah mengaduk secangkir kopi panas buatku. Tapi cangkirnya sebesar samudera, sendoknya se-Gunung Mandara. Makin lama putaran makin cepat. Adukan semakin kuat. Ksira Arnawa bergolak memuntahkan seluruh isinya.

Dari bangkai-bangkai kapal hingga limbah beracun yang mematikan. Bahkan ikan-ikan dan seluruh penghuni lautan berlompatan menyelamatkan dirinya. Basuki menahan sakit di sekujur tubuhnya. Ia mendengus kesakitan tiap luka baru tercipta ditubuhnya akibat cepatnya putaran dan kasarnya permukaan gunung Mandara yang berbatu-batu. Ia terus menggeram dan mendengus. Tapi dengus naga adalah kobaran api panas.

Dan siallah mereka yang kebagian jatah memegang kepalanya. Para raksasa hangus terbakar. Tapi tiap kali saudara sebangsanya mati terbakar, raksasa lain langsung meloncat menggantikannya dengan gagah berani. Mati satu tumbuh seribu kata para pahlawan. Beruntung para dewa yang memilih memegang ekor Basuki. Mereka tak habis terbakar.

Begitu banyak benda dan mahluk-mahluk baru tercipta dari pengadukan itu. Salah satunya adalah Sri Laksmi, yang kemudian diperisteri oleh Wisnu. Seekor kuda sembrani juga tercipta dari proses ini. Pengadukan terus berlangsung. Korban-korban terus berjatuhan demi setitik air abadi itu. Para raksasa melolong kesakitan menahan panas. Mereka berputar sangat cepat dan tak beraturan karena kesakitan.

Hingga akhirnya setetes keabadian itu berhasil ditemukan. Air Amrta terlontar ke udara. Seluruh pemburu kembali berseteru. Mereka tak ingat lagi pada kerja kolektif yang baru saja mereka lakukan. Mereka berdesakan, menengadah, memicingkan mata, mencari di mana sebutir air itu melayang. Mereka yang bisa terbang segera melesat ke langit menjemput bola. Yang tak bisa terbang hanya bersungut-sungut menunggu di bawah sambil berharap air itu jatuh tak jauh dari mereka.

Langit penuh dengan lintasan-lintasan para pemburu. Sedang yang di bawah tak mau kalah, berlarian ke sana kemari bersiap menangkap air buruan mereka. Dan yang beruntung adalah Rahu. Raksasa itu menemukannya tanpa sengaja. Air Amrta ternyata menempel di rambutnya yang gimbal. Entah sejak kapan air ajaib itu berada di situ. Tapi dasar raksasa, ia tak pandai menyembunyikan kegembiraannya. Ia berteriak-teriak sambil tertawa terbahak-bahak membuat pemburu yang lain menoleh kepadanya.

Dan perburuan kembali dimulai dengan hewan buruan yang lebih besar dan lebih mudah ditangkap oleh mata. Mereka mengejar Rahu. Seisi bumi mengejar raksasa tolol itu. Tawa Rahu hilang seketika berganti dengan pelarian panjang yang tak pernah dibayangkannya. Dan ia tahu bahwa ia tak bisa bersembunyi di mana pun. Karena seluruh isi bumi, bahkan rumputan, menginginkan setetes air yang berada dalam genggamannya.

Rahu terus berlari. Hingga akhirnya ia melesat ke langit dan berhasil sembunyi di balik segumpal awan. Tak ada yang melihat. Para pengejar kebingungan. Rahu seperti lenyap ditelan keluasan langit. Rahu menghela nafas panjang. Hatinya kembali tenang.

Lalu dengan penuh kemenangan ia menimang-nimang air Amrta. Dan bersiap menelannya. Ia tak tahu bahaya besar tengah mengancamnya. Di balik punggungnya, matahari tengah mengawasinya. Dan pelan-pelan memperbesar cahayanya. Mencipta bayang-bayang Rahu di balik awan. Wisnu yang sedemikian awas segera menangkap bayang-bayang itu.

Ia segera menggenggam cakranya dan melepaskannya. Jleb! Leher Rahu terpenggal, tepat ketika air Amrta hendak melintas di kerongkongannya. Tubuh Rahu yang belum mencecap air Amrta jatuh ke tanah. Tapi kepalanya terlanjur menjadi abadi. Dan bukannya mengejar air Amrta yang meluncur jatuh, kepala Rahu malah mengejar matahari yang telah membocorkan tempat persembunyian. Kejar-mengejar itu berlangsung hingga sekarang.

Perebutan dimulai kembali ketika air Amrta jatuh ke sebatang rumput yang tengah tengadah. Mendadak rumput menjelma menjadi rumput raksasa bernama Kalanjana alias si Rumput Gajah. Yang dengan gagah siap mencaplok air Amrta. Tapi sebelum sempat air Amrta habis dihisapnya, seekor ular datang menyambar.

Ia menjulurkan lidahnya. Tapi malah lidahnya terbelah kena tajamnya Rumput Gajah. Itulah kenapa lidah ular bercabang hingga sekarang. Air Amrta tergelincir jatuh ke tanah. Pori-pori tanah bersiap hendak melahapnya. Tapi tiba-tiba seekor burung Garuda mematuknya. Terbang membawa Air Amrta entah ke mana.

DARI CERITA ITULAH AKU MENUJU RUMAHMU. Di dasar samudra susu. Bertemu denganmu. Lalu memasuki telingamu. Dan menemukan selembar gambar kampung di dalamnya.

Jogjakarta, 2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *