Kristal-Kristal Kesunyian

Indra Tranggono
http://www.jawapos.com/

Ya, kesunyian telah lama mengkristal di kota kami. Kesunyian telah memadat, nyaris tanpa celah, tanpa rongga atau sekadar pori-pori. Kesunyian telah menjelma serupa dinding kaca. Bening. Bercahaya. Namun tak teraba. Kami, yang tinggal di dalamnya, hanya bisa melambai-lambaikan tangan sebagai uluk salam bagi sahabat, kawan, dan handai taulan yang selalu datang dan menghilang.

Dinding-dinding yang melingkupi kehidupan kami, luas tanpa batas, pipih tanpa tepi. Dinding-dinding itu telah menyublim, namun tetap meruang dan membentuk jarak. Sekeras apa pun engkau berteriak di seberang sana, kami tidak akan pernah mendengar. Yang tertangkap hanya gerak bibirmu seperti bibir orang bisu. Jika hujan tiba, kami tak pernah basah meski tanpa atap. Hanya pahatan-pahatan jarum hujan yang kami lihat. Jangan salah paham, kawan. Ruang kota kami bukan seperti ruang interogasi yang sering kalian lihat dalam film luar negeri di bioskop atau layar televisi. Itu pengandaian yang terlalu sederhana bahkan konyol. Ruang di kota kami jauh lebih luas dan lebih memberikan kebebasan daripada ruang interogasi.

Kami juga hidup wajar. Kami berhubungan dengan orang di luar kota kami. Jika Pak Pos datang -yang mengantarkan surat dari negeri seberang–maka Pak Pos tinggal memberikan isyarat lambaian tangan. Dan kami pun -dari balik dinding– tinggal memberikan isyarat ketukan. Maka surat itu akan terurai menjadi partikel-partikel yang mahalembut dan diisap oleh dinding kami. Di dalam dinding, partikel-partikel itu menyatu dan memadat membentuk sepucuk surat kembali.

Itulah sebabnya, kami tidak sedang mengasingkan diri. Siapa pun dari kalian bisa mengunjungi ruang kami. Tapi, kalian harus berani menjadi benda yang terurai membentuk partikel-partikel agar bisa diisap dinding kota kami. Jika nasib kalian baik, tubuh kalian yang semula terurai itu akan kembali memadat dan membentuk sosok. Ini pengalaman yang sangat menegangkan. Bahkan menakutkan. Kebanyakan orang tidak berani menempuh prosedur standar seperti itu. Memang pernah terjadi peristiwa yang kami catat sebagai kecelakaan. Lima tahun lalu, ketika kesunyian di kota kami telah mengkristal, ada kawan lama yang mengunjungi kami. Namun, ia tak pernah kami temukan setelah tubuhnya terurai. Sejak peristiwa itu, banyak orang yang takut memasuki ruang kami.

Berbeda dengan hidup kalian yang punya waktu 24 jam, kami memiliki jumlah waktu lebih banyak: 36 jam. Jadi, hidup kami jauh lebih panjang dari kalian. Dengan kelebihan 12 jam setiap hari itu, kami lebih mungkin mewujudkan mimpi-mimpi kami. Seperti menciptakan makanan tak berbentuk, melainkan hanya berupa sinyal cahaya. Begitu merasa lapar, kami memencet salah satu tombol di tubuh kami dan melesatlah sinyal cahaya itu. Dalam sekejap, kami pun merasa kenyang. Berak? Ah, ada saja pertanyaan kalian. Kami juga berak, namun yang keluar bukan benda melainkan cahaya. Begitu pula ketika kami kencing, maka akan muncul seleret cahaya dari kemaluan kami. Dahsyat? Ah, biasa.

Seperti juga kalian, kami pun memiliki gairah bercinta. Namun persetubuhan kami tidak secara wadag, melainkan lewat pertemuan sinyal yang memunculkan peletikan cahaya, seperti kabel listrik plus-minus yang bergesekan. Meski hanya beberapa detik, kami mampu meraih kenikmatan yang luar biasa. Jika terjadi kehamilan, maka anak-anak kami yang lahir pada mulanya berbentuk cahaya yang perlahan memadat dan berbentuk manusia, sebelum akhirnya menangis.

Anak-anak kami tumbuh sehat, montok, dan lucu. Senyum mereka selalu terpahat di gigi susu. Mereka tak perlu diawasi karena bisa menjaga diri; bermain di bawah pancuran air, mencari ikan di sungai, atau bermain di taman penuh bunga-bunga yang terbuat dari cahaya. Mereka begitu cepat tumbuh menjadi orang-orang muda cerdas dan perkasa, juga bisa jenaka; setidaknya jenaka dalam menertawai diri sendiri, suatu sikap yang di luar sana mungkin makin langka: begitu banyak orang gampang tersinggung hanya karena punya kekuasaan dan uang; mereka pun gemar memborong kebenaran.

Di kota kami kebenaran tidak pernah tunggal, tapi lahir dari banyak kepala, dari banyak hati, dari banyak suara. Kami menamainya kebenaran bunga-bunga: di taman setiap bunga berhak tumbuh, berkembang dan menyatakan dirinya lewat warna dan aroma. Begitu ada tanaman bunga yang ingin menguasai taman, kami pun bersama-sama melawan. Tapi itu tidak berarti kami lantas anti kepadanya. Kami hanya ingin dia tidak jumawa, rakus, dan berkuasa.

O ya, sekarang kami sedang menulis cerita perjalanan hidup kami dan kelahiran kota kami: Glabatt. Kami tak berani menyebutnya sebagai sejarah. Itu terlalu besar dan jumawa.

Pada mulanya, kota kami tak beda dengan kota-kota lain di negeri Couroptick: padat penduduk, kumuh, kumal, lamban, dan banyak orang yang memelihara hobi mencuri. Para pemimpin hanya terampil ngomong, sok tahu dan ulet di dalam memburu keuntungan, terutama buat dirinya. Kami memang punya wakil di parlemen, tapi mereka sudah lama melupakan kami. Kami tak lebih dari gerombolan makhluk yang hanya bisa diperas suara dan dukungannya menjelang pemilihan wakil rakyat, presiden atau pimpinan daerah. Mereka sangat menyedihkan: merasa sebagai politisi tapi sesungguhnya tak lebih dari pialang. Mereka menjadikan parlemen tak lebih dari pasar hewan.

Tapi, entah kenapa kami selalu memaafkan mereka, ya setidaknya terpaksa melupakan pengkhianatan-pengkhianatan mereka. Buktinya, setiap menjelang pemilihan pemimpin atau wakil rakyat tiba, kami tetap saja menjadi keledai-keledai dungu yang tak pernah melawan digiring ke bilik-bilik suara. Mereka sangat piawai membakar semangat kami. Seolah-olah, masa depan bangsa dipertaruhkan di bilik suara. Dan, celakanya, kami begitu mudah terkesima. Padahal sesungguhnya yang dipertaruhkan dalam setiap pemilihan hanyalah kepentingan mereka sendiri.

Untunglah gempa bumi itu datang, memporak-porandakan kota kami. Kami mensyukurinya, karena kami mengira Tuhan akan segera mengambil kami. Bagi kami itu lebih baik, daripada menderita dijajah bangsa sendiri.

Tapi ajaib, sesudah rumah-rumah kami porak-poranda dan harta kami lenyap, muncul peristiwa yang sangat menakjubkan. Pelan-pelan kota kami tenggelam. Bumi merekah, membuka jalan bagi kami untuk memasuki ceruk bumi. Waktu itu, kami merasa hidup kami sudah selesai. Tapi Tuhan punya rencana lain. Kota kami terus bergerak ke bawah dan ke bawah. Semua serbagelap. Hitam. Sunyi. Semua jeritan kami telah menyublim menjadi kesunyian.

Tak lama sesudah kami dikuasai kegelapan, kami pun mendadak disergap cahaya yang terang-benderang. Cahaya itu memaksa kami membuka kelopak mata kami. Dan Tuhan Maha Besar: di hadapan kami terhampar ruang yang penuh cahaya. Hamparan ruang itu pelan-pelan naik ke permukaan bumi, dan akhirnya menjelma kota cahaya seperti yang kalian lihat sekarang ini. Kami menganggap semua perjalanan yang sangat menakutkan dan menegangkan itu lebih mirip dongeng. Tapi, bagi kami, dongeng tidak selalu bisa dianggap isapan jempol.

Dunia sangat takjub kepada kota kami. Mereka tak habis pikir, kenapa sebuah kota yang semula tenggelam bisa muncul kembali ke permukaan dan berubah bentuk menjadi kota cahaya. Mereka menganggap kota kami lebih fantastis dari Candi Borobudur, Tembok Cina, Air Terjun Niagara, dan Tajmahal. Setiap hari mereka datang. Mereka menonton kami bak ikan dalam akuarium raksasa. Mereka memotret kami atau merekam kegiatan kami dengan kamera video. Semula kami sangat tersinggung. Tapi, akhirnya kami pun maklum.

Pemerintah pusat, lewat Presiden Grobadoor mengklaim kota kami sebagai asetnya. Pernyataan ini juga diulang-ulang oleh juru bicara presiden Dhoboz Trevor. Ia katakan, kota kami merupakan rahmat yang terindah dari bencana alam. ”Blessing in disguise, kata yang paling tepat bagi munculnya kembali Kota Glabatt yang fantastis itu!” tukasnya di depan para wartawan.

Kami tertawa mendengar ucapan-ucapan yang lebih mirip ceracau orang mabuk itu. Bagaimana mereka bisa dengan tidak malu mengakui kota kami ini milik mereka? Bukankah ketika gempa itu tiba, pemerintah pusat tidak pernah peduli kepada nasib kami? Kami dibiarkan digasak bumi yang merekah. Kami dibiarkan lapar, kedingingan, sakit, dan bahkan mati. Sementara itu, kini mereka dengan tanpa rasa bersalah dan rasa malu tega menuai gemerincing dolar. Ternyata watak licik dan rakus masih diidap mereka.

Kami akhirnya memutuskan untuk melepaskan diri dari negeri Couroptick. Lewat sejumlah diplomasi, kami membentuk Glabatt menjadi negara. Tapi ini pun tidak mudah. Negeri Couroptick mengerahkan ratusan ribu tentara untuk menyerbu Glabatt. Mereka menggunakan senjata-senjata berat dan ultra modern (konon ini didapat lewat hutang pada negara adidaya Gabricanmos yang presidennya, Clebuzz, memang suka melakukan agresi militer di berbagai negara). Setiap hari ribuan bom jatuh, jutaan peluru berhambur di negeri kami. Tapi ajaib. Negeri kami tak luka sedikit pun. Dinding-dinding kesunyian yang menjelma kristal yang tak teraba itu mampu membentengi kami. Presiden Grobadoor mencak-mencak. Kabar terakhir, dia akan menenggelamkan negeri kami lewat gempa buatan berskala 35 richter! Konon, Presiden Clebuzz telah menyanggupi untuk membantu. Dia telah menjediakan dana jutaan dolar Gabricanmos guna mendanai penghancuran negeri itu.

Ternyata ancaman itu bukan gertak sambal. Mereka benar-benar menghancurkan dan menenggelamkan negeri kami. Tapi, Tuhan Mahaagung, begitu dinamit itu diledakkan, kota kami pun terurai menjadi partikel-partikel dan dalam waktu sekejap memadat kembali, membentuk wujudnya yang semula. Kota kami pun melesat ke angkasa, untuk kembali pada posisinya awal. Keajaiban itu terjadi berulang-ulang. Mereka pun akhirnya menyerah karena putus asa. Kami tertawa, melihat ketololan mereka melawan dinding-dinding kesunyian kami yang telah mengkristal dan menjelma cahaya. (*)

Jogjakarta Agustus 2006.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *