Unta Masuk Lubang Jarum

Danarto
http://www.jawapos.com/

TIGA orang serdadu Israel itu terkaget-kaget menatap seorang perempuan Palestina yang berdiri diam tak bergerak menggendong bayinya yang menangis. Tiga orang serdadu Israel itu takjub menatap seorang perempuan Palestina yang berdiri diam tak bergerak menggendong bayinya yang menangis. Tiga orang serdadu Israel itu tercekat menatap seorang perempuan Palestina yang berdiri diam tak bergerak menggendong bayinya yang menangis. Ketiganya menyigi perempuan itu dengan mengelilinginya. Seorang di antaranya menyingkap kerudung perempuan itu yang tampak wajahnya tirus dengan mata tertutup. Seorang temannya mendekat ikut menatap wajah yang tersingkap itu. Kedua serdadu itu lalu saling pandang.

Ketiga serdadu itu menyaksikan dari tubuh perempuan itu mengucur darah dari lubang-lubang yang menganga. Seluruh tubuh perempuan itu dipenuhi lubang yang mengucurkan darah deras mengalir. Bahkan pada kepalanya yang tertutup kerudung, mengucur darah segar yang menuruni lekuk-liku kain kerudungnya. Tetapi, mengapa tubuh perempuan itu tidak tumbang? Mengapa bayinya tetap menangis, yang artinya tak sebutir peluru pun menembus tubuhnya? Ketiga serdadu Israel itu bengong. Ketiganya saling pandang. Tak sepatah kata terucap. Ketiga mata serdadu Israel itu seperti menatap udara kosong.

Ribuan serdadu Israel merangsek ke pemukiman penduduk Gaza pada Jumat yang kelam, 8 Desember 2008. Udara penuh asap dan debu oleh bombardemen pasukan udara Israel yang gelegar-menggelegar. Sementara itu rentetan tembakan beruntun pasukan Hamas menjawab dentuman-dentuman meriam tank-tank Israel yang memperkuat serbuan lewat darat. Terdengar teriakan, jeritan, suara komando, panggilan, aba-aba. Suara-suara besar-kecil, melengking-membenam yang silang sengkarut saling tumpang-tindih menghunjam kawasan yang porak-poranda dengan potongan-potongan tembok bertumpuk dan berserak.

Tiga orang serdadu Israel itu secepat kilat bertiarap karena suara desingan peluru-peluru yang memburu. Sambil menutup wajahnya dengan senjata, ketiganya kembali menatap ke tubuh perempuan yang tetap berdiri menggendong bayinya yang menangis, yang tegak persis di hadapan mereka.

”Unta masuk lubang jarum,” celetuk satu di antara ketiga serdadu Israel itu sambil menatap perempuan yang mematung menggendong bayinya yang terus menangis itu.

”Apa kamu bilang?” sahut temannya.

”Selalu saja dari ribuan orang Palestina, seorang di antaranya lulus,” sambung serdadu tadi.

”Entah apa maksud omonganmu, tapi lebih baik kalau kamu tutup mulut,” celetuk yang lain.

”Kita berhasil mengobrak-abrik Gaza tapi rasanya kita akan pulang dengan tangan hampa.”

”Nah, ngomong apa lagi kamu. Tangan hampa?” sahut serdadu ketiga, ”Memangnya kita harus bawa oleh-oleh?”

”Kita menghadapi benteng yang kokoh.”

”Benteng yang kokoh? Jangan ngaco, ah.”

”Seorang perempuan yang menggendong bayinya…”

”Kita bisa merobohkannya sekarang!” sergah serdadu ketiga sambil menghamburkan peluru ke tubuh perempuan yang tegak itu.

Serentak darah segar berhamburan dari tubuh perempuan itu yang disambut bayinya yang lebih kencang menangis. Ketiga serdadu itu semakin takjub oleh kekuatan perempuan itu yang ditelan oleh asap campur debu oleh suara-suara berdebum bongkahan-bongkahan tembok yang berantakan memenuhi kawasan yang baru saja hancur di sebelahnya.

Sekejap hampa. Sekejap setan lewat. Sekejap menelan senyap.

”Ayolah kita tunggu seberapa pun lamanya untuk menyaksikan perempuan itu roboh.”

”Kapan ada ceritanya, Palestina roboh?”

”Jadi perempuan itu tak akan pernah roboh?”

”Kitab suci dapat dirobek-robek tapi ia tetap kitab suci.”

Ketiga serdadu Israel itu seketika diam, serentetan tembakan berdesing di atas kepala mereka. Angin berdesir kencang, menyapu emosi dan kesalahan. Ketiganya membenamkan tubuhnya. Ketiganya mencari ceruk reruntuhan bangunan dari bongkahan-bongkahan tembok. Segalanya berserak. Segalanya berderak. Terlalu hancur, terlalu lebur. Ketiganya lalu melunker, mencoba meringkas tubuhnya sekecil reptil. Di dalam ceruk itu, barangkali aman mereguk. Kembali ketiganya menatap perempuan yang berdiri dengan bayinya yang masih terus menangis itu.

”Saya mau menulis lagu tentang Palestina.”

”Kamu bisa menulis lagu?”

”Tidak.”

”Barangkali menulis puisi.”

”Kamu pernah menulis puisi?”

”Belum.”

”Adikku pintar menulis puisi.”

”Di mana adikmu?”

”Di Tel Aviv.”

Ketiganya membuka kaleng makanan dari dalam ransel bekal yang menggayut di pundaknya. Ada yang membuka kaleng sayuran. Dari kaleng lainnya, temannya makan buah. Satu orang diam saja. Sementara itu tangis bayi masih terus merintih.

”Kenapa kamu nggak makan?”

”Aku tidak lapar.”

”Kamu kelihatan sedih.”

”Selalu banyak yang aneh dalam peperangan.”

”Haruskah aku bungkam itu bayi?”

”Coba saja.”

”Haruskah mulut bayi itu aku sorongkan ke puting dada ibunya?”

”Coba saja.”

”Konon perempuan yang mati, masih terus memproduksi susu.”

Tiba-tiba hening. Minta bunyi denting. Siapa memencet tuts piano? Terjadi gencatan senjata selama tiga jam. Selama itu Israel dan Hamas menghentikan baku tembak mereka. Berhamburan penduduk Gaza menyerbu toko-toko makanan. Mereka memborong apa saja dengan cepat. Waktu genjatan senjata tiga jam sangat pelit. Roti, susu, kue, milk, makanan kaleng, sosis, mi instan, buah, lampu darurat, lilin, korek api, dan air mineral. Tidak banyak yang bisa dibeli. Persediaan makanan di toko-toko semakin tipis. Orang-orang juga mencari kayu bakar untuk memasak karena gas dan listrik sudah tidak ada lagi.

Anak-anak tak mau makan. Mereka membisu. Jiwa mereka sangat terguncang. Hati mereka teriris-iris. Dengan mata membelalak, air mata mereka berlelehan tak bisa dibendung, mengalir dengan sendirinya dengan mulut terkunci. Mata mereka kosong. Ini bukan mimpi buruk. Ibu-ibu mereka tak bisa mengarih-arih dengan mengatakan ini cuma mimpi buruk, tak nyata. Semua peristiwa yang mengerikan itu benar-benar terjadi. Anak-anak tak bisa dininabobokkan lagi karena jiwa mereka telah terluka, luka parah, menyaksikan teman-temannya terkapar bersimbah darah. Sampai sejauh ini, korban di Gaza mencapai 1.500 jiwa, di antaranya 500 anak-anak, dan 5.500 terluka, ketika genjatan senjata sepihak oleh Israel pada 18 Januari 2009, ketika pertempuran sudah berlangsung lebih dari 20 hari, dua hari menjelang Barack Obama dilantik menjadi Presiden Amerika.

Perumahan penduduk, markas PBB, juga rumah sakit dihancurkan oleh bom-bom pesawat tempur Israel yang menuduh di bawah gedung perawatan itu tergelar terowongan-terowongan untuk kegiatan penyelundupan senjata oleh Hamas. Dalam peperangan yang tidak seimbang itu, terkuak rahasia atas Israel yang bereksperimen menggunakan bom fosfor yang dapat menghanguskan kulit. Korban pun berjatuhan. Dunia internasional meradang dan siap menggelandang Israel ke pengadilan sebagai penjahat perang.

Bongkahan-bongkahan tembok yang memenuhi tanah di sekeliling perempuan yang mematung menggendong bayinya itu semakin meneguhkan perempuan itu sebagai saksi sejarah peperangan antara Palestina melawan Israel. Perempuan yang tak pernah roboh. Tak juga bayi itu diam. Bayi itu masih terus menangis menyebarkan air matanya ke seluruh kawasan Timur Tengah. Tiga serdadu Israel itu jadi jengah. Ketiganya tetap menantap perempuan yang tak terusik itu.

”Rasanya setelah kita tewas dalam pertempuran ini, baru perempuan itu tumbang,” celetuk satu di antara tiga sekawan itu. Kedua serdadu temannya hanya menatap korbannya yang senyap.

”Aku tak mau mati. Aku mau pindah ke Amerika saja. Tak ada yang perlu aku pertahankan di sini,” celetuk temannya yang sejak tadi diam saja.

”Selamat jalan, sobat.”

”Semoga di Amerika kamu berbahagia.”

”Terima kasih.”

”Bawalah monumen Palestina ini ke Amaerika,” kata serdadu yang pendiam itu sambil menunjuk perempuan di hadapannya.

Lalu senyap. Demit-demit menyerap.

”Dalam peperangan banyak kejadian yang bukan peristiwa sebenarnya.”

”Apa maksudmu?”

”Kejadian jadi-jadian.”

Tapi perempuan itu tetap tegak dengan darah yang berlelehan dari seluruh tubuhnya dengan membopong bayinya yang terus menangis. ***

Kota Tangerang Selatan, 20 Januari 2009.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *