Mashuri, Menulis untuk Mengisi Hidup

Kukuh Yudha Karnanta
surabayapost.co.id

Sehabis sekolah, Mashuri muda mengayuh sepedanya menuju perpustakaan daerah di kota Lamongan. Jarak 15 km dari sekolahnya tak membuatnya merasa lelah. Ia harus mencari buku-buku yang harus dibacanya karena di sekolah dan pesantrennya tidak menyediakan buku yang diharapkan. Demi mendapatkan buku bacaan itu, Mashuri muda juga rela membolos mengaji di PP Salafiyah Wanar dan PP Ta’sisut Taqwa, Galang, Lamongan. Continue reading “Mashuri, Menulis untuk Mengisi Hidup”

Kidungan Tak Sekadar Pitutur, Juga Ekspresi Anak Zaman

Abdul Lathif
http://oase.kompas.com/

SURABAYA,MINGGU–Sebanyak 18 orang penggemar kidungan dan 14 orang seniman profesional ludruk dari Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, Pasuruan, Lumajang dan Jember unjuk kebolehan dalam ajang f estival kidungan dalam rangkaian perhelatan seni pertunjukan bertajuk Festival Cak Durasim Tahun 2008, Minggu (16/11), di Pendapa Jayengrono, Kompleks Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya. Continue reading “Kidungan Tak Sekadar Pitutur, Juga Ekspresi Anak Zaman”

Sudah Saatnya Ada : Mubes Masyarakat Sastra di Minang

Fadlillah Malin Sutan Kayo*
http://www.padangekspres.co.id/

Pemerintah Sumatera Barat jelas memempunyai peran besar di dalam politik kebudayaan dan politik pendidikan. Selayaknya pemerintah mengubah blue print, atau paradigma, mind set, bahasa Minangnya ?aleh bakua? (istilah Wisran Hadi), yakni ale bakua yang mementingkan benda dari pada jiwa, mementingkan eksak dan teknologi daripada sastrabudaya, mementingkan tubuh daripada roh, bahasa ustadnya; mementingkan dunia daripada akhirat. Sudah selayaknya aleh bakua ini dirubah yakni sama-sama dipentingkan jiwa dengan tubuh. Perubahan ale bakua ini selayaknya dilakukan di segala bidang. Jangan anak tirikan juga sastra budaya. Continue reading “Sudah Saatnya Ada : Mubes Masyarakat Sastra di Minang”

PANTUN SEBAGAI POTRET SOSIAL BUDAYA TEMPATAN

Perbandingan Pantun Melayu, Jawa, Madura, dan Betawi

Maman S. Mahayana *

Pantun bagi masyarakat di kawasan Nusantara ibarat sesuatu yang begitu dekat, tetapi kini terasa jauh ketika budaya populer (low culture) makin menjadi primadona dalam industri hiburan. Dalam kondisi itu, pantun kini laksana pepatah, tak kenal maka tak sayang. Itulah yang terjadi pada pantun. Seolah-olah, ia hanya produk masa lalu yang sudah usang dan tiada berguna. Bahkan, bagi anak-anak muda di Jakarta dan beberapa kota besar di Jawa, pantun seperti tidak lebih dari sekadar produk budaya Melayu, dan oleh karena itu, dianggap hanya milik orang Melayu. Continue reading “PANTUN SEBAGAI POTRET SOSIAL BUDAYA TEMPATAN”

Bahasa ยป