Dari Regenerasi, Multimedia, hingga “Vulgarnya” Penulis Perempuan

Catatan Sastra Indonesia Tahun 2002
Sihar Ramses Simatupang
sinarharapan.co.id

Pada suatu malam di sebuah kafe Taman Ismail Marzuki, Sutardi Calzoum Bachri tampak asyik membaca sebuah buku antologi milik seorang penyair berusia muda.

Di sekeliling sastrawan yang pernah berjuluk “Anker Bir” itu, tampak beberapa kawan yang tekun mengikuti wejangannya. Continue reading “Dari Regenerasi, Multimedia, hingga “Vulgarnya” Penulis Perempuan”

Mempersoalkan Sistem Pembinaan Kesenian di Jakarta

Slamet Rahardjo Rais *
suarakarya-online.com

Berangkat dari akar paling bawah masyarakat kita, sekelompok orang bergerak bersama menghimpun potensi diri. Kemudian menyatu bersama untuk melakukan serangkaian aktivitas sastra. Menyebutnya sekumpulan pegiat sastra. Itulah gambaran kecil sekelompok orang sastra membangun geliat sastra. Kemudian menyebut dirinya komunitas sastra. Dan lazim disebut sanggar, dapur atau bengkel, kelompok atau organisasi sastra, dan lain-lain penyebutan yang cukup banyak jumlah sebutan. Continue reading “Mempersoalkan Sistem Pembinaan Kesenian di Jakarta”

SASTRA PEMULUNG !

Berhentilah membodohi masyarakat

Abdul Wachid B.S.
kr.co.id

ADA beberapa hal penyebab hidup bersastra dan karya sastra di Yogya terasa tidak sehat. Hal ini jika dibandingkan berdasar romantisme sejarah, Yogya barometer sastra Indonesia. Penyebabnya dalam dua pemaknaan, pertama, memaknainya dari aspek lingkungan yang menghidupi karya sastra, tempat sastrawan hidup bersentuhan dengan komunitas dan masyarakatnya, lalu menuliskannya dalam sastra; kedua, memaknainya dari aspek karya sastra itu sendiri. Continue reading “SASTRA PEMULUNG !”

Kritik dalam Karya Sastra, Ketakutan Penguasa, dan Ketakutan Kepada Penguasa

Sunaryono Basuki Ks
http://www2.kompas.com/

KARYA seni meniru alam, begitu kira-kira kata Aristoteles. Inilah prinsip mimesis, meniru alam. Alam beserta isinya yang dihamparkan Allah adalah milik Allah semata (Surat Yunus, Ayat 55 dan 66), dan memang sangat layak menjadi sumber segala keindahan, dan menjadi satu-satunya sumber yang ditiru dalam seni. Alam yang dimaksud oleh Aristoteles tentu saja tidak terbatas pada pemandangan alam, tetapi termasuk juga manusia penghuni alam ini, perilakunya, pandangan hidupnya, wataknya, sikapnya. Ahli lain menyebutnya sebagai kehidupan. Continue reading “Kritik dalam Karya Sastra, Ketakutan Penguasa, dan Ketakutan Kepada Penguasa”

Bahasa ยป