Gaya Barok pada Puisi Indonesia

Ribut Wijoto
sinarharapan.co.id

Pada dasa warsa akhir abad XX dan hingga kini, kiranya terjadi perubahan konsepsi dalam perwujudan puisi-puisi Indonesia. Kekangan spirit eksistensial yang mengambil bentuk Simbolis bukan lagi menjadi pilihan yang menarik. Model-model semacam puisi Subagio Sastrowardoyo, Sitor Situmorang, Taufik Ismail serasa ketinggalan zaman. Maka muncullah nama-nama penyair seperti Acep Zamzam Noor, Afrizal Malna, Sitok Srengenge, HU Mardi Luhung, Arief B. Prasetyo, W. Haryanto, Adi Wicaksono, Oka Rusmini. Puisi-puisi merekalah yang menciptakan masa silam bagi kepenyairan terdahulu. Continue reading “Gaya Barok pada Puisi Indonesia”

FLP, Kritik, dan Gerakan Literasi

Topik Mulyana
pr.qiandra.net.id

Pada Februari 2005, Musyawarah Nasional I Forum Lingkar Pena (FLP) diselenggarakan di Kaliurang, Yogyakarta. Para peserta datang dari Aceh hingga Ternate. Hal terpenting dari Munas tersebut adalah terjadinya pergantian ketua umum. Bagi FLP, pergantian ini merupakan peristiwa penting, karena warna FLP diprediksikan akan berubah drastis. Hal ini mengingat ketua umum terganti Helvy Tiana Rosa (HTR), adalah patron sekaligus brand image yang begitu kuat bagi FLP. HTR adalah FLP, FLP adalah HTR. Sementara, ketua umum pengganti M. Irfan Hidayatullah (FLP Jabar), tidaklah demikian. Continue reading “FLP, Kritik, dan Gerakan Literasi”

Gurita

Lily Yulianti Farid
korantempo.com

SAAT ayah masuk penjara, ibu bilang, aku harus pulang ke Makassar. Ibu menyodorkan jabatan wakil manajer di apotik miliknya yang dibuka setahun lalu. Selamat tinggal Jakarta! Aku melambai pada pacar, apartemen mungil, kampus, dan seribu rencana di ibukota. Continue reading “Gurita”

Terompah Bakiak di Bukit Kapur Putih

Satmoko Budi Santoso
lampungpost.com

RATUSAN terompah bakiak di kaki bukit kapur putih itu menapak, tentu, tak memunculkan suara menderap. Tanah injakan yang berkapur, bukan padas melainkan gembur, menenggelamkan suara derapan. Ratusan orang mirip gipsi itu berjalan, berderet satu-satu ke belakang, berpakaian rumbai-rumbai, khusus lelaki-lelaki muda, beranting-anting pecahan gigi taring babi yang dibentuk sedemikian rupa sehingga pantas sebagai aksesori. Continue reading “Terompah Bakiak di Bukit Kapur Putih”

Bahasa ยป