Pementasan Teater Fataria: “Anjingisme” dalam Realitas Sosial Kita…

Sihar Ramses Simatupang
sinarharapan.co.id

“Kenapa anjing jadi idiom dalam pementasan ini? Karena inilah satir terhadap perilaku sosial, oknum masyarakat.” ujar Dody Yan Masfa, sutradara Teater Fataria dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Pamekasan, Madura.

Anjing-anjing yang memperkosa seorang ibu dapat ditanggapi sebagai kenyataan sehari-hari tentang perilaku pemerkosa yang marak di Ibu Kota. Namun, anjing-anjing ini pun bisa dipandang sebagai simbol perilaku masyarakat yang saling memangsa secara ekonomi, sosial dan politik belakangan ini. Continue reading “Pementasan Teater Fataria: “Anjingisme” dalam Realitas Sosial Kita…”

Memahami Keberdayaan Perempuan

Sjifa Amori
http://jurnalnasional.com/

Perempuan yang berkarier dan menghasilkan uang sendiri belum tentu juga seorang perempuan yang berdaya. Begitulah yang disampaikan oleh Mayzka Virgarose, salah seorang anggota FEMME.

Menurut Mayzka, perempuan yang berdaya adalah perempuan yang mengerti hak-haknya sebagai perempuan, paham yang mesti dilakukan jika melihat ketidakadilan dan harus mengadu pada pihak mana, dan bisa membuat keputusan untuk dirinya sendiri. Continue reading “Memahami Keberdayaan Perempuan”

Universitas Al-Mustansiriyah Cahaya Peradaban di Akhir Kejayaan Abbasiyah

Heri Ruslan
http://www.republika.co.id/

Secara akadeis, Al-Mustansiriyah merupakan salah satu lembaga yang sangat penting di Irak
Universitas Al-Mustansiriyah. Nama universitas tertua yang berdiri di kota Baghdad, Irak ini memang tak setenar Al-Azhar di Kairo, Mesir atau Al-Qarawiyyin di Fez, Maroko. Meski begitu, perguruan tinggi yang dibangun Khalifah Al-Muntansir Billah (1226 M – 1242 M) –penguasa Abbasiyah ke-37 — pada 5 Mei 1234 M ini turut memainkan peranan penting dalam sejarah peradaban Islam. Continue reading “Universitas Al-Mustansiriyah Cahaya Peradaban di Akhir Kejayaan Abbasiyah”

Jejak Berdarah sang Penakluk

Misbahus Surur*
http://www.jawapos.com/

Syahdan, awal 2003, mencuat segugus informasi pada jurnal bulanan, American Journal of Human Genetics. Sebuah tulisan bertajuk The Genetic Legacy of The Mongols, melaporkan penemuan penting adanya kesamaan pola gen pada populasi yang tersebar antara lautan Kaspia hingga Samudra Pasifik. Laporan itu adalah hasil riset dan kajian mendalam sekelompok ilmuwan genetika terhadap sampel pola DNA kromosom Y yang dimiliki sejumlah 2000-an pria di kawasan Eurasia. Singkatnya, mereka membuat kesimpulan cukup mengejutkan; ternyata dari 16 juta pria yang telah mereka teliti, merupakan bagian dari satu keluarga yang sangat besar. Continue reading “Jejak Berdarah sang Penakluk”

Bahasa ยป