Pementasan Teater Fataria: “Anjingisme” dalam Realitas Sosial Kita…

Sihar Ramses Simatupang
sinarharapan.co.id

“Kenapa anjing jadi idiom dalam pementasan ini? Karena inilah satir terhadap perilaku sosial, oknum masyarakat.” ujar Dody Yan Masfa, sutradara Teater Fataria dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Pamekasan, Madura.

Anjing-anjing yang memperkosa seorang ibu dapat ditanggapi sebagai kenyataan sehari-hari tentang perilaku pemerkosa yang marak di Ibu Kota. Namun, anjing-anjing ini pun bisa dipandang sebagai simbol perilaku masyarakat yang saling memangsa secara ekonomi, sosial dan politik belakangan ini.

Pentas Teater Tujuan adalah pementasan rutin yang agendanya sering kali mengajak teater di berbagai wilayah untuk mengadakan pementasan. Letaknya di Teater Halaman, tepat di belakang toko buku yang dikelola Jose Rizal Manua, persis di belakang Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki.

Teater Fataria, di Teater Halaman, Jumat (27/3), kali ini memilih tiga tirai yang membentang ke atas dengan formasi U. Tirai di pekarangan membuat penonton sejajar dengan aktor adalah sebuah pilihan. Anjing-anjing berlari, perempuan diperkosa dan dari perempuan ini lahirlah si Poppy. Si ibu diperankan Habibah. Para anjing mengejar sang ibu dan perempuan yang diperankan aktor bernama Wuria yang menghalau para anjing namun gagal. Si ibu diperkosa, lalu si ibu yang berpakaian putih itu terbaring di tempat tidur dan melahirkan Poppy?diperankan Rizki. Poppy merangkak, perlahan berdiri dan menggeliat, lalu lampu black-out.

Suasana tekanan, represif pada si ibu, adalah adegan simbolik yang memancing imajinasi penonton tentang kekerasan dan pemerkosaan yang ada di panggung. Aktor-aktor Teater Fataria yang masih akan berpentas di Gedung Kesenian Dewi Asri STSI Bandung, Minggu (29/3) pukul 20.00 WIB, dan Teater Arena Taman Budaya Surakarta, Sabtu (3/4) pukul 20.00 WIB, ini memang tak mengeluarkan dialog, kecuali gumam sesekali. Pementasan diwarnai dengan musik dan lampu di ?panggung? teater arena ini.

Ide sutradara setidaknya berhasil menampilkan chaotic, sikap kebencian, nafsu dan keliaran anjing. Kendati, tubuh aktor, seharusnya bisa lebih dieksplorasi karena pentas ini minim suara dan ekspresi aktor selain temaram cahaya juga membuat ekspresi wajah tak maksimal. Maka, seharusnya, energi terbesar berupa adegan imajiner terbaca lewat tubuh. Apalagi pementasan ini bukan di panggung prosenium (bentuk panggung di mana terdapat sekat dan posisi penonton berhadapan dengan wilayah depan) sehingga memungkinkan wajah tergarap dan terproyeksi. ?Saya tekankan aktor untuk dekat dengan penonton, lewat gerak dan ekspresi wajah. Seharusnya, memang bagaimana mencipta ruang yang fleksibel. Di Bandung memang outdoor, kita mengemas tata panggung seharusnya tak hanya prosenium tapi dapat dilihat segala arah. Harus fleksibel ruang agar akrab dengan penonton,? ujar Doddy.

Sebuah Ide
Latihan Teater Fataria bermula dari sebuah bangunan semi-permanen di daerah Pamekasan, Madura. Ada gedhek, rumah utama, begitulah Teater Fataria memulai prosesnya. Lalu muncullah gagasan. ?Kami ingin membuat satir sederhana pada soal kemasyarakatan. Sebenarnya tidak terlalu rumit. Kita mengkritisi perilaku tokoh masyarakat dan aparat yang cenderung pura-pura, berbeda antara perkataan dan perbuatan. Soal kecil yang bila tak diinstropeksi akan menjadi peristiwa besar,? ujar Doddy.

Madin Tyasawan, pengamat dan pelaku teater, menangkap kesederhanaan tematik di mana anjingisme melanda masyarakat. Kendati dia juga mempertanyakan nasib anjing yang dijadikan idiom karena ulah manusia. Untuk pementasan, menurutnya, dia hanya mengkritik soal ritme pementasan yang perlu lebih disiasati agar tak terkesan lambat.

Usai pementasan, Herlina Syarifudin, aktor yang juga aktif di Teater Koma kemudian melihat bahwa ide sutradara sudah terlihat dalam bentuk, namun menurut Lina hal itu belum sampai ke para aktor. Irman Syah, pekerja seni, melihat bahwa kerja teater mahasiswa dari daerah ini sangat serius dan tidak dapat dipandang main-main. Selain salut pada ide besar yang ditawarkan kelompok teater ini, dia juga mempertanyakan soal kelambanan tempo serta banyak adegan dan alur yang berulang yang bisa ?diedit? di panggung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*