Puisi, Presiden, dan Tiga Versi Mimpi

Hasan Aspahani*

Berita

Saya punya tiga versi mimpi. Akan saya kisahkan satu per satu.

Mimpi Versi Pertama:

Dimulai dengan panggilan telepon.
?Halo, ini dengan Hasan Aspahani??
?Betul??
?Ini dari Istana Negara. Dari panitia pelantikan presiden.?
?Ya. Ada apa, Pak??
?Kami mengundang Anda untuk membaca puisi dalam pelantikan presiden nanti.?
***

Namanya juga mimpi. Apa saja boleh dimimpikan. Saya bermimpi seperti itu membaca berita pelantikan Presiden Barack Obama kemarin. Ia mengundang Elizabeth Alexander untuk membaca puisi di hari pelantikannya. Ini berarti dalam sejarah Amerika, profesor wanita keturunan Afrika ? sama seperti Obama ? dari Yale ini menjadi penyair ke-4 membacakan puisi saat presiden Amerika dilantik.

Sebelumnya penyair Robert Frost membaca sajak saat Presiden Kennedy dilantik, lalu Bill Clinton mengundang dua penyair untuk dua kali masa jabatannya sebagai presiden yakni Maya Angelou dan Miller William. Keduanya adalah presiden dari Partai Demokrat, sama seperti Obama. Saya ingin bercerita tentang Robert Frost dan Elizabeth Alexander. Dua penyair lain kita mimpikan di lain kesematan.

Siapakah Robert Frost?

Nama lengkapnya Robert Lee Frost. Bicara tentang sastra Amerika, maka nama penyair kelahiran San Francisco, California, 26 Maret 1874 ini tak bisa tidak disebut. Dia termasuk penyair yang sajaknya paling banyak dibaca dan dikutip di Amerika. Hadiah Nobel baginya mungkin tinggal menunggu hari saja. Empat kali dia menerima Hadiah Pulitzer untuk puisi, pun sederet penghargaan lain. Sayang, sampai ia meninggal 29 Januari 1963, pada usia 88 tahun, ia tak tak kunjung mendapat telepon dari Swedia, tempat panitia Nobel berkantor. Tapi, tanpa Nobel, kebesaran Frost tak berkurang sedikitpun.

Tapi jangan kira perjalanan kepenyairannya mulus. Pada tahun 1902, editor puisi Atlantic Monthly mengembalikan puisinya, saat itu ia berusia 28 tahun, dengan catatan berikut: …Majalah kami tak punya tempat untuk bait-bait puisi Anda yang terlalu bertenaga. Saya kira frasa ?terlalu bertenaga? adalah sebentuk alasan yang halus.

Penyair bukanlah orang yang menderita sepanjang hidup, tapi kehidupan Frost bukanlah sebuah kehidupan yang mudah, lurus, dan lempang. Ia, keluarganya, anak-anaknya dihantui depresi, dan penyakit mental. Nyawa ayahnya direnggut tuberkulosa pada tahun 1885. Saat itu Frost barulah berusia sebelas tahun, dan sebagai yatim itu saat itu hanya diwarisi uang 8 dollar. Lima belas tahun kemudian ibunya meninggal dijemput kanker. Jeanie adiknya harus dirawat di rumah sakit jiwa, dan meninggal tanpa pernah kembali normal.

Frost menikah dengan Elinor yang juga dihinggapi depresi mental. Pasangan ini punya enam anak, tapi lihatlah bagaimana nasib anak-anaknya. Si sulung Elliot meninggal karena kolera pada usia delapan tahun; Carol bunuh diri; Bettina meninggal tiga hari setelah dilahirkan; Marjorie meninggal setelah melahirkan; hanya Lesley dan Irma yang bisa mendampingi ayahnya sampai meninggal. Sang istri, Elinor, meninggal karena serangan jantung, jantungnya sejak lama bermasalah. Dan saat meninggal ia juga mengidap kanker payudara..

Orang mengenang kebesaran Frost sebab dialah penyair pertama Amerika yang diminta berpidato dan meresitalkan puisi dalam rangkaian pelantikan Presiden Amerika.

Kenapa Kennedy memilih Frost?

Kennedy ingin membuktikan kepercayaannya bahwa seni ? khususnya puisi bisa membuat kehidupan lebih baik. Di depan para anggota perkumpulan alumni Harvard, di Cambridge, Massachusetts, 14 Juni 1956, Kennedy ? yang saat itu masih seorang anggota senat Amerika Serikat ? berkata, ?jika lebih banyak politisi yang tahu puisi, dan lebih banyak penyair tahu politik, saya yakin dunia akan menjadi tempat hidup yang sedikit lebih baik.?

Kennedy tak sekedar bicara. Ia mengundang Robert Frost ketika ia dilantik sebagai Presiden Amerika yang ke-35. Ia ingin semakin banyak orang peduli pada puisi. Ini terjadi dua tahun sebelum kematian Frost, akibat komplikasi setelah operasi prostat.

Saya kira, kedekatan, penghormatan dan kekaguman Kennedy pada Frost dan puisilah yang membuat ia mengucapkan sebuah kalimat yang sangat terkenal: ??.Ketika kekuasaan membawa manusia mendekati arogansi, puisi mengingatkannya kepada keterbasannya. Ketika kekuasaan mendangkalkan wilayah kepedulian manusia, puisi mengingatkannya betapa kaya keberagaman eksistensi. Ketika kekuasaan menyimpang, puisi membersihkan.?

John F Kennedy, berpidato seperti itu ketika meresmikan Perpustakaan Robert Frost, di Amherst College, 26 Oktober 1963, sembilan bulan setelah kematian sang penyair.

Saya menemukan lanjutan dari kalimat tadi, kalimat yang sangat sering dikutip ketika orang bicara tentang politik dan puisi: ??.Adalah nyaris sebuah kebetulan bahwa Robert Frost mengawinkan puisi dan kekuasaan, karena dia melihat puisi sebagai upaya menyelamatkan kekuasaan dari kekuasaan itu sendiri.?

Tak berselang sebulan setelah pidatonya itu, pada tanggal 22 November 1963, Kennedy ditembak. Dan mati.
***

Mimpi Versi Kedua:
Saya, ehem-ehem, menang pemilihan presiden. Ini terjadi di sebuah tahun yang saat itu saya memang sudah sangat matang secara mental dan finansial, kepemimpinan dan kenegarawanan saya. Saya dendam, karena selama menjadi penyair tak satupun ada Presiden yang mendundang saya. Saya mau balas dendam. Saat dilantik saya telepon seorang penyair.

?Halo, dengan Bang Samson Rambah Pasir??
?Ya, siapa, nih?? Suaranya berat, jelas terasa usia tua merebak di suara itu, tapi saya masih kenal sekali dan dengan suara itu saya yakin dia masih bisa membaca puisi selantang ketika kami dulu sama-sama tampil di Taman Ismail Marzuki.
?Saya Hasan Aspahani, Bang??
?Wah, saya tengok awak jadi Presiden ya??
?Ya, Bang. Itulah maksud saya menelopon Abang. Abang mau tak baca puisi saat saya dilantik nanti??
?Boleh. Boleh?.?
?Baiklah, Bang. Soal honor dan lain-lain nanti Abang ditelepon oleh bagian Rumah Tangga Kepresidenan??
Ah, namanya juga mimpi. Apa saja boleh, bukan?
***

Siapakah Elizabeth Alexander? Hidupnya tak senestapa Frost. Profesor, 46 tahun, dua anak dan yang paling menguntungkan dia adalah bahwa sudah lama menjadi sahabat dekat pasangan Barack Obama dan Michele Obama.

Keluarganya tak jauh dari lingkaran kekuasaan. Ayahnya adalah penasihat Presiden Lyndon Johnson, yang juga menjabat sekretaris Angkatan Darat AS ketika Presiden Jimmy Carter berkuasa. Ibunya dosen di George Washington University. Dan abangnya? ya abangnya?. pun terlibat sebagai tim sukses Obama sebagai penasihat.

Sebagai dosen yang mengajar mata kuliah tentang Afro-Amerika di Amerika, tentu sering diminta pendapat oleh Obama sepanjang masa kampanye lalu. Tapi, kemarin tentu saja berbeda. Ia diminta Obama, sahabatnya itu untuk menulis dan membaca sajak.

Apa katanya tentang momentum penting itu? Di situs pribadinya dia menulis: Kata-kata penting. Bahasa penting. Kita hidup dan menyatakan diri kita sendiri dalam bahasa dan dengan bahasa kita berkomunikasi dan bergerak dalam komunitas dunia.

Dan berikutnya, adalah puja-puji untuk Presiden Obama: ?.Presiden Obama memperlihatkan pada kita betapa dia sangat menghargai kekuatan bahasa.

Elizabeth berharap tradisi membacakan puisi saat pelantikan presiden Amerika bisa ditetapkan.

?Ini adalah momentum penting dalam sejarah Amerika,? katanya, ??puisi bukan berarti sekedar untuk merayakan; tetapi yang lebih penting, puisi itu menantang, dan menggerakkan kita menuju perubahan. Bahasa yang dipergayakan dan ditata dengan sentuhan rasa seni menambah pengalaman kita dalam memakai kata-kata ? dan memperkaya pandangan kita terhadap dunia ? tempat kehidupan kita ini.?
***

Mimpi Versi Ketiga.
Nyaris saja tadi saya bermimpi bahwa saya menjadi tim sukses seorang kandidat presiden. Dia menang, dan saya diminta membaca puisi. Tapi, mimpi kok serendah itu saja? Jadi, saya ganti saja mimpinya dengan versi lain:

Saya bermimpi menjadi warga negara Amerika. Saya menjadi penyair di sana. Sebenarnya saya bukan yang pertama karena ada penyair bernama Lee Yong Li yang lahir di Jakarta, dan sejak huru-hara 1965 menetap di Amerika bersama ayahnya.

Ia sempat pulang ke Jakarta ? kota kelahirannya ? dan menulis sebuah buku sajak. Buku itu menjadi semacam laporan perjalanan dalam bentuk puisi.

Menjelang pelantikan presiden baru , saya ditelepon seseorang dari Gedung Capitol??

Yaaah, namanya juga mimpi.

Wassalam!***

*) Pemimpin Redaksi Batam Pos.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *