Sepotong Bulan Cokelat Vanila

Syarif Hidayatullah
http://www.lampungpost.com/

Malam ini, langit kelam semakin mempertegas cahaya bulan. Putri, adikku menjadikan tangan kananku sebagai bantal seperti biasa. Rumah gubuk ini ditembus bahasa kerinduan kami pada bulan. Genteng bolong ini amat menyenangkan di musim purnama dan begitu merepotkan ketika hujan datang di sela mimpi kami yang mengawang.

“Kak, bulan itu rasa cokelat ya?” tanyanya lugu. Ah, begitulah kalau adikku yang satu ini sedang menginginkan sesuatu. Ia akan terus menyebutnya, hingga aku iba.

“Mmm, menurutmu?” aku menanyakan pendapatnya.

“Ya, mungkin seperti carburry rasa stroberi atau…” Aku terus memperhatikannya. Ia tampak asyik dengan apa yang ia bayangkan. Sementara aku, terus memikirkan keuangan keluarga kami yang minim. Ibu yang hanya menjadi pencuci baju panggilan dan aku hanya seorang pengamen bis jurusan Lebak Bulus–Pulogadung. Untuk makan sehari-hari, pendapatanku dan ibuku cukup walaupun terkadang kurang karena kami juga harus menyisihkan untuk biaya sekolah Putri. Ah, anak itu terkadang begitu lucu dengan dasi merah yang melingkar di lehernya.

“Silver Queen, Kak!” lanjutnya membuat pikiranku buyar. “Kalo menurut Kakak?” ia menatap mataku yang kini sudah merah karena kantuk. “Apa Kak?” tanyanya lagi meminta pendapatku.

“Seperti…” Aku mengedarkan pandangan, mencari jawaban. “Seperti Putri. Ya, putri… Putri Cokelat!” kata itu begitu begitu saja meluncur dari mulutku dan tawa kami pun pecah. Beberapa cubitan kecil mendarat di tubuhku. Mungkin karena ia merasa tersinggung.

“Ini…,” aku mengeluarkan sebuah logam lima ratus dari kantongku. “Kau kumpulkan sendiri uangnya ya! Nanti kalau sudah cukup, kita akan bisa beli cokelat yang lezat. Bagaimana?”

“Oke Bos…!” Jawabnya riang.
***

“Kau mau ke mana?” tanyaku kaget. Sehabis makan siang, kulihat Putri menempel di sampingku dengan membawa alat musik sederhana. Sebuah krop tutup botol yang ditumpuk beberapa buah, kemudian dipaku pada sebuah kayu.

“Ke bulan.”

“Ke bulan?” tanyaku heran.

“Masak Kakak lupa sih? Aku kan mau cokelat. Ya aku harus berusaha dong,” ujarnya menegaskan keinginannya kepadaku.

“Kau tidak malu jadi pengamen?” tanyaku.

“Kan kita memang pengamen,” lanjutnya tanpa beban.

Aku jadi teringat masa laluku. Tepatnya ketika ayah masih ada, aku selalu diejek oleh teman-temanku sebagai anak tukang sayur. Aku selalu malu dan lari dari mereka dengan berurai air mata. Tapi itu sudah terlalu lama, tepatnya ketika aku masih di sekolah dasar. Ayah selalu memintaku bersabar, tapi sekali ia meminta, aku malah mengamuk dan pergi meninggalkannya.

“Kenapa ayah jadi tukang sayur? Kenapa?!” erangku selalu ketika itu. Dan baru kusadari ketika ayah sudah pergi akibat kecelakaan. Aku baru merasakan betapa berat beban hidup yang dipikulnya. Kemerosotan ekonomi keluarga berbuntut terus hingga akhirnya aku memutuskan berhenti sekolah dan menjadi pengamen jalanan untuk sekadar mendapat biaya hidup tambahan.

“Ada apa Kak?” tanyanya, mungkin ia sempat melihat mataku yang berair.

“Ah, tak apa,” aku segera menghapus air mata yang menggenang di kelopakku itu.

Aku pun berjalan, Putri tak henti bercerita tentang begitu lezat cokelat yang dimiliki teman di sekolahnya itu. Ia ingin sekali membelinya dan menunjukan bahwa dirinya pun dapat membeli cokelat seperti itu. Bahkan mungkin lebih lezat!

“Benarkan Kak?” suaranya meminta pendapatku. Aku menganggukan kepalaku menandakan setuju.

Sebuah bis kota keluar dari terminal, aku dan Putri bergegas masuk ke dalamnya. Suaraku yang tak seberapa bagus hanya menghasilkan berapa ribu perak saja. Putri yang terkadang ikut mengikuti suaraku itu tersenyum bahagia setelah turun dari bis dan menghitung pendapatan kami itu.

“Wah, suara kita harganya lima ribu perak!” suaranya terdengar riang. “Padahal, teman-temanku banyak yang suaranya lebih bagus dari kita, tapi tak ada yang memberi mereka seperser pun!”

Entah apa yang dimaksud oleh Putri. Tapi, mungkin ia berusaha menghiburku dengan pendapatanku kali ini. Kami melihat bis datang di lampu merah tempat kami berada. Kami pun naik untuk menuju Pulogadung kembali.

Sebuah tembang ternama sebuah band Ibu Kota kunyanyikan. Musik gitar yang kupetik dan buntalan krop yang diadukan ke tangan putri mengiringi suaraku, sesekali putri mengikuti. Menjelang musik berakhir, Putri berjalan dari satu penumpang ke penumpang yang lain meminta uang ala kadarnya.

“Terima kasih bapak-bapak, ibu-ibu, semoga selamat sampai tujuan…” belum sempat ucapanku selesai. Para penumpang heboh berteriak pencopet pada seorang pemuda tanggung seusiaku. Mohon ampun terdengar dari suaranya yang pilu saat tertangkap dan tak bisa mengelak. Akhirnya, pemuda itu dilepaskan setelah beberapa jotosan dan ancaman diterimanya.

“Aku bangga pada kakak!” ujarnya setelah kami turun dari bis.

“Kenapa?” tanyaku heran, tidak biasanya anak kelas enam SD itu memujiku.

“Karena aku tidak disebut sebagai adik pencopet!” jawabnya. Kemudian ia bercerita tentang temannya yang bernama Supri yang selalu dicemooh anak garong.

“Kasihan kan? Tapi mau apa lagi?” lanjutnya mengakhiri cerita.

Aku menghitung pendapatan ngamen kali ini. “Enam ribu tujuh ratus lima puluh perak,” hitungan akhirku jatuh pada sebuah koin lima puluh perak.
***

Kami turun dari bis keenam. Penghasilan yang lumayan membuat kami bahagia. Seteguk es kelapa segar masuk ke kerongkongan kami yang telah kering sedari tadi.

“Berapa jumlahnya, Kak?”

“Tiga puluh tujuh ribu lima ratus lima puluh rupiah,” jawabku menghitung uang yang didominasi dengan uang koin itu.

“Lima belas ribu buat kamu,” aku memberikan uang ke tangan mungilnya. Ia menatap wajahku. “Lima ribu buat ibu dan tujuh ribu lima ratusnya buat kakak jajan,” lanjutku menjelaskan.

“Sekarang kau bisa membeli cokelat terlezat bukan?” tanyaku padanya. Ia mengangguk. Kemudian ia mulai menunjukan jalan di mana seharusnya kami membeli cokelat yang diidam-idamkannya.

“Kak lapar,” suara bocah kecil tiba-tiba terdengar begitu memilukan.

“Sudah, kakak juga sama,” jawab suara yang satu lagi. “Kakak tidak punya uang sekarang. Jadi tahan saja laparnya…” suara itu terdengar parau.

Putri mencari sumber suara. Entah apa yang dipikirkannya? Di Jakarta ini terlalu banyak orang lapar, hingga semua itu terasa sebagai nyanyian. Ya, nyanyian yang cukup pilu untuk didengarkan.

Ternyata suara itu bersembunyi di balik tembok sebuah toko cokelat. Dan kami berdua mengenal salah satu dari mereka, pencopet itu!

Putri menatapnya dengan sedih. “Sudah berapa hari kau tak makan?” tanyanya.

“Dua,” sang adik menjawab. Sang kakak tertunduk malu, mungkin ia juga masih mengingat wajahku dan Putri.

“Ini, aku hanya punya ini,” ujar putri sambil memberikan uang yang ingin dibelikan cokelat. Ia tersenyum memberikan apa yang dihasilkannya dengan susah payah hari ini. Sekali lagi, aku tak mengerti dirinya, sementara sepotong bulan cokelat vanila menantinya dalam etalase.
***

*) Tinggal di Depok, Jawa Barat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *