“serial polemik sastra pornografi di dunia maya” – lima

http://hudanhidayat.multiply.com/
Memperbincangkan Sisi Gelap Dunia Remaja

Galih Oesmawan*
dari Pontianak Post

Memperbincangkan dunia remaja memang mengasyikan, banyak alasan mengapa dunia remaja seolah-olah tidak pernah sepi dan hambar dalam perbincangan keseharian kita. Bolehlah dikatakan bahwa dunia remaja dengan segenap haru-biru di dalamnya adalah masa yang paling mengesankan, mengasyikkan dalam fase kehidupan manusia. Kita semua, termasuk saya, anda dan khalayak pembaca pernah merasakan dan mengecap pahit-manis dalam fase remaja ini, bahkan saat ini masuk dalam kategori remaja.

Dunia remaja semakin santer diperbincangkan dalam ?pasar? abad modern ini, ya salah satu yang mengetuk mata-bathin dan menghela nafas kita adalah goresan tangan penulis muda daerah ini, Pay Jarot Sujarwo (PJS). Tulisan ini sengaja diturunkan untuk mengapresiasi dan sedikit mencicipi goresan pena dari akal pikiran bang Pay yang liar dan kreatif, terlepas apa tendensi beliau menurunkan tajuk cerita yang berjudul sangat sarkas dan eksotis ?Pontianak Teenager Under Cover?. Sebuah tajuk cerita yang ?menelanjangi? sisi gelap kehidupan dunia remaja, lebih tepatnya remaja kota khatulistiwa ini.

Dalam dunia sastra perbincangan yang mencoba mendedahkan dan menyelami dunia ?seksual? dengan segala daya fantastisnya memang meramaikan dunia sastra abad ini, terutama di tanah air, wabilkhusus sastrawan muda yang hidup dalam dunia kota metropolis. Entah apa motivasi yang melatar belakanginya, yang jelas pasar perbincangan ?seksualitas? semakin menggelinding di panggung publik dan laku keras. Dulu kita mengenal goresan penan Hamka yang bertemakan syahdunya ayat-cinta ?Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck?, serta Midah, Si manis Bergigi Emas, Larasati karya Pramoedya Ananta Toer. Namun ini bukan menjadi pembahasan, dan bukan pula ingin masuk kedalam polemik sastra seperti yang diperankan antara komunitas sastra di tanah air, baik sastrawan senior dan sastrawan muda, seperti Taufik Ismail, Goenawan Muhammad, Hudan Hidayat, Maupun M.Fadjroel Rachman dan lain-lain dan juga tidak ingin masuk dalam pengkotak-kotakan dunia sastra. Bukan itu yang ingin dialamatkan.

Dalam kesempatan ini yang menjadi perbincangan adalah hal-ihwal dunia remaja, dikarenakan ia bagian dari penghuni bumi manusia, sekaligus melihat lebih dekat sisi kehidupan dunia remaja kita ? Siapapun berstatus remaja baik putra-putri, pemuda-pemudi, mahasiswa-mahasiswi adalah asset negeri dan asset bumi yang mesti diselamatkan karena ia penerus fase kehidupan selanjutnya.

Disini, kita harus berkata jujur walaupun itu pahit. Bukan pula bermaksud untuk melabrak norma-norma yang telah mapan yang hidup di masyarakat ini, bahwa saat ini dunia remaja kita telah dicemari polutan wabah abad modern yang menghamba pada materialistis, hedonist dan hipokrit. Remaja kini telah dihinggapi sindrom seks tanpa nikah atau dalam bahasa keren-nya ?seks bebas?. Entah darimana asal-usul istilah tersebut tidak penting untuk diperbincangkan disini. Meminjam baris dari bait lagu Ebiet G.Ade ?Kekhatiwaran ini semakin dalam? ya khawatir nasib generasi di masa yang akan datang sebagai penerus jalan dan pemakmur kehidupan.

Kekhawatiran berkenaan semakin edannya kehidupan dunia remaja yang selalu diidentikan dengan nilai-nilai negatif, seperti pecandu narkoba, tawuran dan seks bebas. Benarkah sosok pemuda dan pemudi alim 100% semakin langka? Dan benarkah pula kita 20 tahun akan datang kita bakal kehilangan generasi berakhlak mulia dan berjiwa pancasila ? Tentu ini menjadi tanda tanya besar bukan.

Coba amati perilaku keseharian remaja kita, bagaimana hari-hari mereka menjalani jalan kehidupan. Ternyata kita harus menarik nafas dalam-dalam, banyak waktu yang terbuang untuk hal-hal yang sia-sia, tidak berfaedah. Dalam lima menit kita dapat melihat kebutan liar yang diperankan pemuda di jalanan, dalam waktu tiga jam kita melihat pemuda tertangkap basah memakai narkoba dan melakukan pencurian, dan dalam seminggu dua kali dapat kita saksikan dengan mata telanjang ? dentuman musik party dihiasi wanita muda cantik nan seksi? menggelar olah tubuh di diskotik dan tempat pemuas nafsu dunia lainnya.

Jadi, cukupkah hanya dengan ceramah, khotbah, seminar, dan turun ke jalan berteriak lantang selamatkan generasi muda dari bahaya narkoba, seks bebas dan sejenisnya, ini kampanye politik atau sunguh-sungguh ya, atau mungkin kita salah satu diantara pelaku aktif, peminat dan penikmatnya. Jadi apa yang mesti diperbuat ?

Berharap pada Pemerintah
Negeri ini mempunyai kementerian Pemuda dan Olahraga, juga punya Departemen Agama yang berusaha mengajak ummat menuju jalan kebaikan, kita punya Badan yang mengurusi narkoba (Badan Narkotika Nasional/provinsi dan daerah), juga memiliki lembaga swadaya yang mengurusi hal-ihwal perempuan, remaja, anak dan ibu. Pertanyaannya apakah sudah menyentuh pada subtansi persoalannya? Betul ini semua perlu proses, tapi sampai kapan tujuan kita tetapkan agar dapat memberantas penyakit sampai ke akar-akarnya. Selama ini hanya berkutat pada aras periferal, dan hanya sekedar selebrasi semata.

Berharap pada dunia pendidikan
Benar dunia pendidikan berperan penting dalam menanamkan nilai moral-etik selain transfer of knowledge tentunya. Dengan pendidikan pula manusia dapat tercerahkan dan dapat membedakan mana hitam dan putih dunia, mana baik dan buruk kehidupan, tentunya selain agama yang mengajarkan dunia dan akhirat. Namun belum tentu benar semakin baik pendidikannya, maka semakin baik pula moral etik dan derajat kemanusiaannya. Cerita sukses yang mengiringi keberhasilan dunia pendidikan, juga tersimpan kisah duka di dalamnya, bahwa mereka berstatus pelajar baik SMP, SMA bahkan mahasiswa sebagai kaum intelektual muda inilah yang banyak menghuni rumah ?penyelewangan perilaku remaja?. Didalam dunia kampus kita mengenal ?ayam kampus? dan ?bronis (brondong manis)?. Stigmatisasi itu ditujukan kepada mereka yang menyimpang. Jadi sudah benarkah arah pendidikan kita saat ini? Mari kita renungkan.

Rumah tangga keluarga
Keluarga adalah istana pertama tempat bersemayamnya penanaman nilai-nilai, baik adat-budaya, agama dan bahasa. Disinilah tempat bersemayam pertama penanaman nilai-nilai kepada anak-anak mereka agar dapat survive menjalani kehidupan dengan segala tantangan yang menghadang. Dan keluarga jualah tempat terakhir kita berharap ketika ajal menjemput. Keluarga adalah rumah tertua dan paling banyak mempengaruhi tindak-tanduk perilaku anak sebelum mengenal realitas dunia yang sesungguhnya.

Keluarga juga berfungsi membimbing, mengawasi dan dan menghantarkan anak menuju sukses ke panggung dunia. Terbinanya keluarga yang sakinah adalah impian semua orang, walaupun pada akhirnya hanya nostalgia rumah tangga. Disini perlu diberikan penekanan bahwa rumah tangga keluarga berperan penting untuk membentuk anak-anaknya menjadi remaja yang tumbuh dewasa dan segala penanaman nilai-nilai, baik nilai agama dan cinta kemanusiaan universal. Jangan sampai anak menjadi korban dari ketidakharmonisan rumah tangga dan jangan sampai pula ?rumah tangga-neraka bagi anak?. Sungguh tidak enak didengar. Ayah, Ibu ke mengetuk pintu hatimu, perhatikan dan bimbinglah anakmu.

Kembali pada diri sendiri
Kenyataan dunia remaja yang sudah terlanjur terjerat dalam lorong gelap kehidupan segera untuk kita sadarkan, dan bukan dengan sekedar penghakiman ditunjukkan kepada mereka, karena tidak semua yang terlanjur salah, akan dianggap salah selamanya, bukan! Tuhan saja bisa memaafkan dan membukakan pintu jalan untuk pertobatan dengan setulus-tulus bersimpuh sujud pada jalan yang diridhai-nya. Mari kita merefleksi diri pribadi, bermuhasabah untuk berbuat yang lebih baik di hari esok. Dan bagaimanapun hidup tidak hanya untuk hari ini, esok dan lusa dan tidak sadar ajal menjemput nyawa, maka mari kita mulai memperbaiki diri sendiri, berbuat dan segerakanlah. Semoga. **

*) Penulis adalah mahasiswa FKIP Untan, pengelola Creative Course Centre dan peminat buku sastra.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *