Si Potter Muda Unjuk Gigi

Judul: Septimus Heap Magyk
Penulis: Angie Sage
Penerbit: Matahati, Jakarta
Cetakan: November 2007
Tebal: 687 halaman
Peresensi: Bernando J Sujibto
http://entertainmen.suaramerdeka.com/

DI tengah hiruk pikuk perbincangan akhir serial novel Harry Potter karya Joanne Kathleen (JK) Rowling pada akhir Desember 2007, ternyata diam-diam ada generasi “penyusup” yang ditengarai sebagai penerus Harry Potter. Bahkan media massa sekelas Kirkus Media tak segan-segan mengatakan awas kepada Harry…karena ada penyihir muda yang sedang naik daun.

Memang tidak mudah menggantikan posisi Potter yang telah menjadi ikon dunia (novel) fantasi yang penuh magik itu. Sosok Potter adalah virus dan telah menggerayangi otak muda-mudi hampir seantero jagad raya -sebuah prestasi yang tidak pernah dibayangkan Jo, sapaan akrab JK Rowling. Terbukti, dalam 7 (tujuh) tahun terakhir novel fantasi dunia dikepung oleh sihir ajaibnya si Potter. Namun, setelah dipungkasi dengan seri Harry Potter dan Relikui Kematian, Potter telah tiba pada akhir riwayat.

Maka tidak salah jika kelahiran novel Septimus Heap Magyk karya Angie Sage digembor-gemborkan sebagai pengganti terkuat serial fantasi sihir ala Harry Potter. Pembaca bisa membuktikannya sendiri dengan mengamati sejauh mana ruh dan tuah yang terkandung dalam novel ini bisa menyedot dan memengaruhi dunia pembaca. Hanya kuasa waktu yang bisa menjawab….

Seri novel tetralogi debutan novelis yang gagal menjadi dokter kelahiran tahun 1952 itu adalah Septimus Heap, Book One: Magyk (2005); Septimus Heap, Book Two: Flyte (2006); Septimus Heap, Book Three: Physik (2007); Septimus Heap, Book Four: Oueste (Mei, 2008).

Novel Fantasi

Sejauh ini, apresiasi terus bermunculan dari berbagai media penting internasional. Tidak kurang dari Kirkus Review, Publishers Weekly, The Times, The Daily Telegraph, dan Clive Barker telah mengambil bagian dalam menanggapi karya-karya tetralogi novel yang sudah terbit sejak 2005 dan seri terakhir yang akan naik cetak pada Mei 2008. Apresiasi media di atas terbukti ketika pada tahun perdana novel ini terbit telah menjadi best seller internasional.

Novel fantasi tanpa kekuatan sihir seolah mustahil. Setidaknya itulah yang kerap kita temukan dalam novel-novel fantasi dunia dewasa ini. Ramuan magis dengan konfigurasinya yang mencekam dan bermain di luar area akal sehat manusia semakin meneguhkan eksistensinya sebagai novel yang renyah untuk terus ditelusupi oleh perasaan dan menciptakan suatu dunia tersendiri yang memungkinkan pembaca diajak memasukinya, lalu berfantasi bersama tokoh-tokoh rekaan yang bermunculan dengan gelap dan misterius. Kekuatan gaib dengan ornamen simbol-simbol yang bermain di tengah area fantasi adalah sepaket dua mata uang yang akan mengantarkan kepada dunia yang sakral, abu-abu dan kelam.

Karena alasan dan unsur magis dalam pencitraan novel fantasi, apa pun bisa serba mungkin (possibility). Suatu rentetan kisah berpeluang semakin panjang dengan memasukkan unsur benda yang berpersonifikasi laik makhluk hidup. Tikus dan serangga bahkan hewan yang tak bernyawa sekalipun bisa disihir menjadi instrumen dalam memperasyik ramuan fantasi yang diciptakan penulis. Nama-nama macam serangga pun bisa disulap menjadi seperti nama manusia yang normal (halaman 202/322/419) dan mempunyai kekuatan sihir di luar kesadaran kemanusiaan. Di titik inilah novel-novel fantasi semakin membuat gila para pembaca.

Mula cerita dalam Magyk begitu fantastik. Septimus Heap adalah “putra-ketujuh-dari-putra-ketujuh” (seventh son of the seventh son) dari pasangan Silas dan Sarah Heap, yang sejak kelahiran menjadi rebutan para penyihir. Karena sebagai seventh son of the seventh son, Septimus Heap ditakdirkan memiliki kekuatan Magyk yang besar dan dahsyat. Tapi sayang, pada hari pertama kelahiran, Septimus Heap dinyatakan mati. Dan yang mengambil adalah sang Ibu Bidan yang membantu persalinan.

Sang ayah, Silas Haep, pada malam yang sama keluar rumah mencari ramuan untuk sang putra ke tujuh itu. Di tengah padang salju tiba-tiba Silas Haep bertemu dengan buntelan yang bergerak dan ia ternyata seorang bocah berambut pirang dan mata violet, tepat di tepi Kastil. Silas membawa anak itu ke rumahnya, di kamar 16 Koridor 223. Namun sebelum masuk ke kamar tiba-tiba sang Ibu Bidan melabraknya dengan membawa buntelan yang ternyata adalah anaknya sendiri, Septimus Haep. Silas Heap sontak terkejut. Septimus dibawa setelah dinyatakan meninggal oleh Ibu Bidan.

Bocah bermata violet itu ditemukan bersamaan dengan meninggalnya sang Ratu dan menghilangnya Penyihir LuarBiasa. Kejadian itu menyajikan sebuah keajaiban panjang yang mengiringi cerita ini. Sosok Jenna, nama bocah bermata violet itu, dipercayai akan mempunyai kekuatan Magyk dan akhirnya akan menjadi pengganti sang Ratu dan menjadi penyihir Luar Biasa kelak. Maka tak ayal jika kelahiran bocah itu menjadi rebutan semua penyihir.

Tanda Tanya

Sepuluh tahun kemudian sosok Jenna pun menjadi tanda tanya besar sekaligus rebutan atas prasangka-prasangka yang datang dari para penyihir andal yang jahat. Silas semakin bingung ketika mendapati kabar bahwa penjahat DomDaneil akan merebutnya (halaman 172).

Secara tiba-tiba, Penyihir LuarBiasa, Marcia Overstrand, tiba-tiba muncul di pintu rumah keluarga Haep dan mengungkapkan semua yang terjadi di masa lalu tepat ketika kelahiran Septimus Heap. Mulai dari kematian Ratu, Alther Mella yang menghilang, juga tentang kudeta yang akan dilancarkan oleh DomDaniel -seorang Necromancer pemimpin Magyk Gelap. Masalah menjadi pelik ketika Wali Utama di bawah perintah DomDaniel memerintahkan untuk membunuh semua keluarga Heap.

Mendengar kabar itu, keluarga Heap bertekad mempertahankan Jenna, tokoh utama yang akan berkembang menjadi semakin dewasa di seri-seri tetralogi berikutnya. Sebagai tetralogi, Magyk memberikan suspens dan rasa penasaran yang teramat panjang bagi pembaca, bagaimana nasib dan masa depan Jenna di tengah kepungan para penyihir hebat dan luar biasa itu. Apakah Jenna dibiarkan begitu saja dimamah para penyihir jahat? Jawaban itu harus ditunggu sampai Sage selesai berkisah.

Yang berbeda ketika membaca novel ini adalah kehadiran simbol angka. Sage mempunyai kekuatan simbol yang lebih dahsyat dan belum ditemukan dari Rowling. Ia dengan cermat menghidangkan simbol di balik angka 7 (tujuh) seperti 1+6=7 dan 2+2+3=7 (halaman 44), sebuah angka keramat yang semakin melengkapkan kehadiran novel ini sebagai novel yang sarat pertimbangan matang Sage.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *