Karet Gelang di Jempol Hamsad

Yanusa Nugroho
http://majalah.tempointeraktif.com/

BIBIR DALAM PISPOT, Penulis: Hamsad Rangkuti, Cetakan I, Penerbit Buku Kompas, 2003, xxiv + 174 halaman.
Keunggulan Hamsad Rangkuti, ia piawai mengangkat peristiwa sehari-hari menjadi tema cerpen yang kuat dan memikat.

SEBAGAI penulis cerpen, bolehlah namanya ditulis dengan huruf kapital?sebagai tanda salut kita kepadanya. Cerpennya telah dibaca ribuan, mungkin jutaan orang di seluruh Indonesia. Karyanya telah mengeram di sanubari banyak penulis cerpen lainnya, yang tak jarang menetas menjadi cerita baru.

Hamsad Rangkuti memang jempolan. Cerpennya nikmat dibaca karena yang diangkat adalah persoalan keseharian?tema yang diakuinya diilhami dari berita-berita di koran. Sebagaimana ciri khas cerpen sastra, selalu saja kisah yang disajikan Hamsad membuka horizon baru. Ada tema tentang kerinduan, keteduhan, kepolosan, kejujuran, dan berbagai percikan nafsu manusiawi yang tak bisa disingkirkan begitu saja. Cerpen Hamsad adalah sebuah cermin besar yang menangkap nadi kehidupan manusia yang bernama Indonesia.

Bibir dalam Pispot, cerpennya yang terbit tahun 2003 dan memperoleh Khatulistiwa Award, juga istimewa, selain Lukisan Perkawinan (1982), Cemara (1982), dan Sampah Bulan Desember (2000). Cerpen Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu? dalam Bibir dalam Pispot memberikan senyum pedih akan sebuah kisah cinta. Ini memang cerpen Hamsad paling ngetop setelah Sukri Menggenggam Pisau Belati. Meskipun oleh banyak sastrawan cerpen ini dianggap bukan karya terbaik Hamsad, bolehlah saya katakan karya ini telah menjadi “gunjingan”, bukan hanya lantaran aspek intrinsik dari cerpen itu sendiri, namun pada kemampuan Hamsad memancing pertanyaan: ini kejadian nyata atau rekaan?

Berkisah tentang keputusasaan seorang perempuan yang nyaris bunuh diri, dari segi tema cerpen ini sebetulnya biasa saja. Tapi kepiawaian Hamsad menata kata telah membuat kisah sederhana tersebut terasa indah.

Cerpen Pispot, yang diilhami oleh berita di koran, memberikan kepedihan yang lain lagi. Di sini kekuatan Hamsad mempermainkan perasaan pembaca terasa sekali.

Bayangkan, kita menjadi saksi sebuah pencurian, dan bersaksi di depan polisi dengan mengatakan bahwa barang curian tersebut ditelan si maling. Namun, setelah “kita” diinterogasi, ternyata keyakinan kita berbalik 180 derajat. Dari yang semula yakin bahwa “dia” maling, kemudian berubah dan yakin bahwa “dia” bukan maling. Belakangan, di akhir kisah, ternyata “aku” tahu bahwa “dia” sesungguhnya si maling.

Pispot, di samping memiliki judul yang menyaran pada sesuatu yang menjijikkan, ternyata menciptakan ruang hidup bagi manusia yang tak lebih menjijikkan daripada pispot itu sendiri. Akan tetapi Hamsad tidak terjebak pada kritik sosial ala demo jalanan yang terkadang galau tak jelas apa maunya.

Pria kelahiran Titikuning, Medan, tahun 1943 ini menuliskan apa yang dijalani dalam hidupnya sehari-hari. Dia mengaku bahwa dirinya bukanlah penulis produktif dan “pengelamun yang parah” (xiv). Tapi kecermatan dan kepekaannya dalam mendeskripsikan apa yang “tertangkap” inderawinya sangat jelas terasa.

Dia dengan ketelitiannya dan kebersahajaannya?sebagaimana senyumnya yang selalu mengembang itu?mampu memberikan pernyataan yang, menurut saya, sangat penting. Bahwa proses menulis bukan soal ide semata, tetapi juga bagaimana mengendapkan dan mengolah ide itu agar menjadi sesuatu yang “mengeram” lama di sanubari pembacanya.

Cerpen-cerpen Hamsad yang bertema seragam selalu disajikan dengan unik dan beda. Bibir dan Pispot, yang mengambil tema keseharian hidup, terasa tetap memiliki perbedaan satu sama lain.

Kreativitas Hamsad ini mungkin dipicu oleh hidupnya yang eksentrik. Di kotak kacamatanya, ia selalu menyisipkan karet gelang yang akan dipakainya mengikat jempol kaki jika kebelet namun tak mungkin buang air di dalam kendaraan. Gelang karet itu, kata Hamsad, cukup efektif membantu menahan diri agar tidak kebobolan.

Bibir dalam Pispot tentu tak punya hubungan dengan gelang karet itu. Tapi seorang Hamsad Rangkuti tahu persis bagaimana mengolah banyak hal kecil seperti karet gelang menjadi sebuah cerpen bernas. Bibir dalam Pispot hanya salah satu wujud kepiawaiannya itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *