(1-2) angkatan sesudah 2000 – dunia tanda yang membelah diri

Hudan Hidayat

Yang Relijius Dan Yang Profan

Sikap terhadap kehidupan dalam kaitan hari “kini” dan hari akan “datang”, sudah sepantasnya kita kembalikan kepada hekekat pengertian yang relijius dan yang profan itu sendiri.

Sebab dalam anggapan umum yang profan selalu berkait dengan yang fana – tubuh. Yang profan mengerucut kepada yang duniawi: hidup yang melayari arah-arah iseng, atau arah-arah ringan, atau arah-arah berat dari tiap nilai yang bertolak-tolak dengan kitab suci. di mana jiwa pejalannya seakan dianggap sebentang layar putih yang keciprat najis, dan karena itu mencitra hadirnya diri yang negatif.

Sebaliknya relijiusitas menunjuk kepada kehidupan yang merenungi kehadiran benda-benda dan peristiwa dalam konteks sebuah agama, yang berarti hadirnya sebuah waktu, dan karena itu orang berpikir tentang taman taman hijau dengan pohon pohonnya yang hijau. Sebuah jubah atau jalan yang sempit lagi mendaki tapi harus dilalui, agar tiap kehadiran bisa selamat sampai ke taman hijau itu.

Maka relijiusitas adalah orang yang sedang berhitung-hitungan dengan dunia, menimbang nimbang dengan seksama mana lawang dan mana jurang. Mana terang dan mana remang. Sehingga hidupnya kelak akan selamat sampai ke tujuan. Tujuan yang dalam cara-cara anak muda masa kini mengungkap diri mungkin akan dihadiahi dengan sebuah diksi:

hallaaah.

Relijiusitas yang bertolak atau hendak mengacu kepada sebuah institusi agama, (mungkin agama samawi), seperti yang profan bertolak semata dengan dunia. Relijiusitas yang selalu bersifat yang saleh, hidup yang prihatin dan hidup yang bersemedi. Hidup yang berpikir akan apa dan mengapa dunia ini.

Sebaliknya yang profan selalu diimbuhi dengan, atau tentang, semata nafsu akan kesenangan duniawi. Hidup yang berpusat pada tubuh -benda benda dan peristiwa sebagai sumber kenikmatan. Tapi benda-benda sebagai renungan juga. Tapi renungan akan dunia yang semakin menjauh dan makin menjauh dari kitab para nabi.

Setidaknya begitulah kalau kita mengacu kepada apa yang diartikan sebagai relijiusitas dan profan dari dua kamus bahasa. Yakni kamus umum bahasa Indonesia susunan pusat bahasa atau kamus latin-indonesia susunan poerwadaminta dan kawan kawannya.

Maka selalu relijiusitas dibenturkan kepada yang profan. Agama dibenturkan dengan ilmu pengetahuan yang objektif, yang empirik. Dalam dikotomi seperti itu, orang terus dan tekun bekerja. Berpisah satu sama lain atau menampitkannya seolah rindang pohon dengan batangnya.

“Ilmu memberi kita jaminan bagi adanya dunia konstan”, kata Cassirer dalam bukunya “manusia dan kebudayaan”. “terhadap ilmu, kita bisa menerapkan kata kata yang diucapkan oleh Archimedes: beri saya tempat untuk berdiri dan akan saya gerakkan alam semesta”.

Tetapi akan bergerak ke mana alam semesta dengan sains itu?

“proses ilmiah terarah kepada keseimbangan stabil”, kata Cassirer lagi, “kepada stabilisasi dan konsolidasi dunia persepsi dan pikiran kita.”

Baiklah. Tapi kalau seandainya kita bertanya kepada ilmu, bertanya kepada paradigma yang berada di balik sains, maka dapatkah ilmu menjawab apa yang ada di balik kehidupan ini sendiri? Bagaimana kalau persepsi dan pikiran kita menjadi “relijius”, lalu bertanya akan hal ihwal tentang dunia? – ke mana ia hendak menuju dan dari mana ia berasal.

Atau darimana tuhan itu sendiri.

Atau apakah sebenarnya makna hidup ini.

Di sini ilmu berhenti dan kita harus kembali kepada agama lagi.

Tapi kaum ilmuwan berseru agama adalah mitos. Satu satunya proses mental yang bisa menjelaskan dunia adalah ilmu. Ilmu yang mengandaikan dirinya ilmiah karena menempuh prosedur kerja yang merujuk kepada yang empirik. Tapi ilmu yang ilmiah itu tak bisa menjelaskan ke mana kesudahannya hidup yang kita kenal dengan indera. Apakah ada kehidupan di balik kematian, dan apakah ada kehidupan setelah universe ini kelak kehilangan tenaganya.

Bukan maksud saya dalam tulisan ini untuk berkutat antara prosedur ilmu dan inti agama. Prolog ini hanya sebuah titik untuk bertolak, akan kehendak agar memikirkan kembali tentang apakah ilmu yang profan itu (khususnya kritik sastra yang mengangankan dirinya ilmiah), sungguh telah menjauh dari kitab kitab, dan apakah sastra yang sering disuarakan sebagai hanya berpusat pada semata tubuh, juga telah kehilangan orientasi dari sumber spirit para nabi.

Sebab itu berarti sebuah novel atau sebuah puisi, yang dalam unsurnya tak menyebut atau membumbung ke dalam isyarat memikirkan makna hidup melalui jalan jalan kitab, atau hidup sesudah hidup yang kita kenal, adalah kerja budaya yang profan dan bercitra negatif.

Seperti ilmu yang objektif yang hanya menjelaskan dunia secara hukum hukum benda, maka sebuah novel yang berputar pada semata tubuh dan nafsu, adalah sebuah novel yang kehilangan peluang menyibak relijiusitas.

Sehingga karya semacam itu jatuh kepada yang profan, dan kehilangan tempat sebagai karya sastra yang suci dan berguna untuk umat manusia.

Tapi benarkah anggapan semacam itu?

Agaknya kita harus kembali kepada tubuh dan jiwa.

Jiwa yang menyetir tubuh untuk meninggi memikirkan arah-arah hidup. Sedang tubuh dipandang hanya bermain main dengan dunia.

Kalau anggapan ini diterima, maka kita akan bersiap menjadikan alam binatang sebagai sebuah alam yang tak bernilai sakral sebagai mahluk ciptaan. Pembeda alam binatang dan alam manusia hanyalah kesadarannya. Bahwa manusia menyadari sesuatu dan menyadari arah hidupnya. Tapi saat kesadaran menghilang, maka manusia jatuh statusnya menjadi binatang. Tubuhnya menjadi rumah setan dan rumah binatang.

Manusia yang telah menjadi binatang bukanlah manusia, tapi mahluk yang tak sakral. Menarik kesimpulan seperti itu maka kita harus bersiap menerima sebuah konsekwensi bahwa binatang adalah mahluk yang tak suci. Padahal binatang sebagai ciptaan adalah mahluk yang sama sucinya dengan manusia. Maka apa yang terjadi kalau pemikiran seperti ini kita proyeksikan kepada sebuah karya sastra, di mana tokoh-tokoh dalam karya sastra telah membakar segala nilai dan telah menjadi “binatang”.

Kami menjadi binatang,
kata fanton Drummond saat bermain burung dengan olenka.

Tapi kami menjadi binatang juga karena melawan konstruksi sosial yang dipaksakan kepada kami,

kata afrizal malna membuat penyimpul saat bertamasya dalam pengantarnya pada novel “tuan dan
nona”.

Mengapa manusia tak suci lagi sedang binatang, sama sama tak berkesadaran dan sama sama “tak patuh” pada nilai nilai karena tak memiliki kesadaran, tetap dianggap suci. Apakah karena manusia telah kehilangan salah satu dimensinya yakni kesadaran.

Tapi bisakah kita kembalikan, bahwa saat manusia kehilangan salah satu dimensinya itu, kepada alam sesama binatang dan bisakah kita memandangnya sebagai mahluk yang suci. Karena itu: tidakkah hukum kepada manusia bisa diterapkan saat manusia masih memiliki kesadarannya (hukum positif tak pernah mengeksekusi orang yang dianggap gila), sedang saat kesadarannya telah menghilang maka manusia bisalah dianggap telah gila atau berstatus sebagai binatang.

Pemikiran spekulatif di ranah etik ini membuat kita harus memikirkan kembali pengertian kita tentang yang relijius dan yang profan, tidak hanya di ranah sastra belaka tapi di totalitas hidup juga. Kini terbuka untuk menimbang bahwa manusia dalam karya sastra, sekalipun ia telah melepaskan statusnya sebagai manusia yang berkesadaran, dan kini telah menjadi “gila” atau telah menjadi “binatang”, tetaplah memiliki peluang untuk status relijiusitas. Hukumnya kini adalah “hukum binatang” yang menyembah tuhannya dan memikirkan hidupnya dengan caranya sendiri, seperti di alam dunia binatang.

Bayangkanlah seorang yang telah uzur dan kini telah menjadi seolah kanak. Di mana segenap nilai yang dikenalnya tak lagi masuk ke dalam benaknya, atau benaknya telah kehilangan orientasi terhadap nilai nilai yang dulu saat muda selalu menjadi acuannya. Tidakkah orang tua seperti itu telah kehilangan kesadaran dan telah menjadi binatang.

Tapi akankah kita hendak mengatakan bahwa orang tua seperti itu sudah tidak suci sebagai mahluk ciptaan? Bukankah di dalam kitab suci proses penuaan seperti itu diakui dan kita, tak boleh mengatakan “cih” yang berarti menghina.

Soalnya ketuaan seperti itu atau tanggalnya kesadaran, telah ?terjadi? di usia manusia yang masih produktif. Sehingga kita mencopot gelarnya sebagai manusia yang berkesadaran, dan lalu memberikan stigma sebagai manusia yang profan -binatang.

Dengan cara melihat seperti itu, maka saya katakan bahwa manusia itu bergerak dari yang relijius ke yang profan atau sebaliknya: dari yang profan ke yang relijius “ini pun kalau kita masih hendak memakai definisi pembeda” yang relijius dan yang profan. Gerak bolak balik yang menurut saya tidak ada persoalan dengan hakekat relijius yang diberi pengertian sebagai meninggi. Apalagi relijiusitas yang harus dikaitkan dengan agama tertentu.Tapi berstatus sama. Sama relijius dengan derajat keberbedaan peran dan fungsinya di tengah semesta.

Sama sucinya seolah batu atau pohon itu, pada statusnya sebagai batu dan pohon adalah alam yang suci. Tak ada urusan dengan sebutan kotor atau tak saleh. Dengan hidup yang meninggi atau hidup yang duniawi. Tapi sebagai bagian dari alam juga di mana mereka menyembah dan memikirkan tuhannya dengan caranya.

(Tuhan jauh entah di mana, tapi manusia tetap setia mencarinya.

Apakah yang relijius dan manakah yang profan?)

Relijiusitas dari orang semacam Karen amstrong yang di bukunya -sejarah tuhan? telah menceritakan sebuah pencarian yang menegangkan, bahwa betapa dirinya telah begitu tersiksa dengan pengembaraan jiwanya saat hendak memeluk Tuhannya.

Keyakinan masa kecil saya tentang ajaran katolik roma lebih merupakan sebuah kredo yang menakutkan. James joyce menyuarakan hal ini dengan tepat dalam bukunya portrait of the artist as young man; saya mendengarkan khotbah tentang api neraka. Kenyataannya, neraka merupakan realitas yang lebih menakutkan daripada tuhan karena neraka adalah sesuatu yang secara imajinatif bisa betul betul saya paham.

Di lain pihak, tuhan merupakan figur kabur yang lebih didefinisikan melalui abstraksi intelektual daripada imajinasi. Ketika berumur delapan tahun saya pernah diharuskan menghapal jawaban katekismus terhadap pertanyaan “apakah tuhan itu?”: “tuhan adalah ruh maha tinggi, dia ada dengan sendirinya dan dia sempurna tanpa batas.”

Tidak mengherankan jika konsep itu kurang bermakna buat saya. Bahkan, mesti saya akui, hingga saat ini konsep itu masih membuat saya bergidik. Konsep itu juga merupakan sebuah definisi yang amat kering, angkuh, dan arogan. Sejak menulis buku ini (sejarah tuhan), saya pun menjadi yakin bahwa konsep semacam itu juga tidak benar.

Begitulah Karen amstrong yang pemikirannya penuh dengan nilai relijiusitas, walau, dalam pengembaraannya itu penuh nada muram dan terkesan pada akhirnya seolah menjadi “profan” tanggal kepercayaannya kepada tuhan.

Pengertian umum tentang yang relijius dan yang profan ini tambah bergoyang goyang kalau kita melihat dua tokoh filsuf Nietzsche dalam bukunya: Zarathustra. Di mana di sana, dalam prawacana Zarathustra, Nitzsche membawa kita kepada dua tipologi manusia yang sama sama relijius, tapi dengan arah dan isi yang saling menjauh.

Sang Zarathustra yang naik ke gunung dan telah sepuluh tahun hidup di gua menikmati kelimpahan matahari, telah bersujud kepada tuhan dengan cara yang tak bisa dimasukkan ke dalam kotak agama formal manapun (lagi pula bukankah dia atheis besar yang telah mematikan tuhan dengan metapor yang gagah: tuhan telah mati, kita membunuhnya). Tapi lihatlah sang pembunuh tuhan ini menjadi relijius dan bersujud di bawah alam.

“wahai bintang besar! Apakah bahagiamu jika tiada mereka yang menikmati sinarmu?
Sepuluh tahun lamanya engkau terbit menerangi guaku: engkau akan bosan memancarkan sinarmu dan menjalani jalanmu sekiranya tak ada aku, burung garudaku, dan ularku.

Tapi kami menunggumu tiap pagi, kami terima kelimpahanmu dan kami berkati kau karenanya.
Lihatlah! Aku sudah penuh melimpah limpah oleh kearifanku, laksana kumbang, yang terlalu banyak mengumpulkan madu, aku memerlukan tangan terulur yang hendak menerimanya.”

Lihatlah ia membawa relijiusitasnya berputar kepada yang profan ? ular, burung garuda, gua, matahari dan sinarnya. Sebuah status yang pada hakekat terakhirnya bisa kita kembalikan kepada status benda materi, yang kalau manusia kita lepaskan jiwanya maka sang manusia pun menjadi berstatus benda materi yang sama suci dan tinggi nilainya seolah gua, matahari, burung garuda dan ular di tengah alam semesta -sebagai benda benda dan peristiwa alam. Dan semua itu dikunci oleh nitzsche ke dalam sebuah metapor penyimpul dari wacana yang kita kenal secara familiar:

madu.

Maka tanganku yang penuh madu bagai kumbang yang penuh kearifan, yang hendak mencari tangan tangan terulur untuk menerima kelimpahan itu, adalah sebuah gerak balik dari yang profan ke yang relijius. Maka di sana, terlihat sebuah peleburan antara yang semata tubuh “benda” ke yang semata jiwa -nilai yang relijius.

Maka dengan begitu pengertian kita akan yang relijius dan yang profan, melalui nitzsche, sang filsuf gila dan terus gila sampai matinya, adalah bahwa apa yang ada di bumi ini, bisa kita letakkan ke dalam definisi baru, bahwa pembedaan yang profan dan yang relijius hanyalah soal peran yang bertukar tukar pada benda dan peristiwanya, bukan pada ketinggian nilainya, maknanya atau sifatnya.

Dunia sastra sebagai medium ekpresi seseorang atau masyarakat, sungguh seolah alam semisal tanah yang penuh lapisan lapisan tanah, begitulah juga dengan buku yang amat menggetarkan karena kadar yang profan dan yang relijius berputar putar dan berpindah pindah peran oleh keterampilan sang jenius zietzsche: ia menciptakan oposisi dari “dia” yang berkata bahwa tuhan telah mati, tapi menimbulkan paradoks segera dari ucapannya (betapa ucapan semacam itu mendapat bentuk dari renungannya yang berkorelasi kepada benda benda alam, dan karena itu, menjadi sebuah renungan yang amat relijius), dengan menciptakan juga tokoh seorang pertapa tua yang hidup dan mengasingkan diri di hutan.

Saat Zarathustra turun dari puncak gunung, masuk ke dalam hutan rimba, bertemulah ia dengan tokoh pertapa ini dan terjadilah sebuah dialog dengan kualitas bahasa yang langka di bumi -dialog dari hati yang penuh ketuhanan.

demikianlah Zarathustra memulai perjalanannya turun ke bawah. Zarathustra turun dari pegunungan itu seorang diri, dan tidak seorang pun berjumpa dengannya. Tapi ketika ia tiba di dalam rimba, tiba tiba seorang tua berdiri di hadapannya. Ia baru saja keluar dari pondoknya hendak mencari akar akaran di dalam rimba. Berkatalah orang tua itu kepada Zarathustra:

“aku tak asing lagi dengan pengembara ini: bertahun tahun yang lalu ia lewat di tempat ini. Zarathustra namanya; tapi dua sudah berubah.”

“dulu engkau membawa abu ke gunung: apakah sekarang hendak kau bawa api ke lembah lembah? Tidakkah kau takut hukuman bagi pembuat kebakaran”

“ya, aku kenali Zarathustra. Matanya jernih dan sekeliling mulutnya tiada tampak kebencian. Bukankah dia berjalan dengan langkah penari”

“sudah berubah Zarathustra, telah menjadi anak Zarathustra, sudah bangun Zarathustra: apakah maumu pada orang yang masih tidur”

“seperti dalam laut engkau hidup dalam kesunyian dan laut mengandungmu. Astaga, engkau hendak ke darat? Astaga, engkau hendak menyeret lagi badanmu sendiri”

zarathustra menjawab: “aku cinta kepada manusia.”

“mengapa?” kata orang suci itu, aku masuk ke dalam hutan dan kesunyian? Bukankah karena aku terlalu cinta kepada manusia?

sekarang aku cinta kepada tuhan: manusia tidak aku cintai. Manusia bagiku suatu benda yang terlalu tidak sempurna. Aku akan mati kalau cinta kepada manusia.

janganlah pergi kepada manusia melainkan tinggallah di dalam rimba! Lebih baik pergilah kepada binatang! Mengapa engkau tidak mau seperti aku -seekor beruang di tengah beruang beruang,

“seekor hh di tengah tengah domba”.

“dan apa kerjamu, orang suci, di dalam hutan?”

“orang suci itu menjawab: aku membuat lagu lagu dan menyanyikannya dan kalau aku membuat lagu, aku tertawa, menangis dan menggumam: demikianlah aku memuji tuhan.”

“Dengan menyanyi, menangis, tertawa dan menggumam aku memuji tuhan, yang adalah tuhanku. Tapi apakah hadiah yang kaubawa untuk kami?”

Ketika Zarathustra mendengar perkataan ini, ia memberi salam kepada orang suci itu dan berkata: apakah yang akan aku berikan kepadamu! Lebih baik aku lekas lekas saja pergi, supaya jangan ada yang kuambil darimu!

“demikianlah mereka berpisah, orang tua dan lelaki itu, keduanya tertawa, seperti dua anak tertawa.”
Tapi tatkala zarathustra berada seorang diri, berkatalah ia di sanubarinya: betapa ganjil! Orang tua suci ini belum mendengar dalam rimbanya kalau tuhan sudah mati!?

Kutipan Zarathustra yang saya ambil dari terjemahan hb. Jassin ini, menunjukkan betapa kaya dan tingginya batin orang yang telah menggegerkan daratan eropa pada masanya dengan seruan yang mematikan:

tuhan telah mati.

Tetapi kekayaan batin serupa itu atau relijiusitas dalam pandangan misalnya harun yahya, yang mengambil inti pemikiran nitzsche yakni kehendak untuk berkuasa, sebagai telah menyemangati ideologi yang mengancam kemanusiaan maka profan.

Tapi lihatlah yang profan semacam itu kemudian bergema kembali dalam relijiusitas nyanyian abadi Muhammad iqbal.

Kutipan istana niezsche yang dituangkan oleh iqbal dalam bukunya ziarah abadi, bukan saja memotret siapa Nietzsche tapi juga mendemonstrasikan ketinggian dari relijiusitas seorang iqbal. Dibawanya rumi dan ibnu sina bertamasya dalam imajinasi, dan berkatalah iqbal dalam javid nama:

di ujung dunia “bagaimana” dan “mengapa”, syahdan hiduplah seorang laki laki yang suaranya adalah tragedi. Matanya lebih tajam daripada mata rajawali, wajahnya bersinar terang hingga apinya mengalir ke dadanya dan memancarkan sinar dengan tiada habisnya. Dan dia sering menyenandungkan lagu ini:
Aku menangis bukan untuk jibril, surga, bidadari atau tuhan:

aku memahat segumpal tanah yang dinyanyikan oleh jiwa yang sedang kerinduan.

Siapakah manusia yang menggigil ini?

Aku bertanya dan rumi berkata:

orang bijak dari jerman itulah dia, yang hidup antara dua dunia. Serulingnya membawa nada nada lagu lama. Tiada rantai atau salib yang menghalangi jalannya, tapi dia juga membawa pesan antik yang dulu pernah disampaikan hallaj.

tiada seorang pun di barat yang mengerti harmoni dan nada nadanya yang meremukkan harpa.
Seorang pencinta diselubungi matanya, seorang pengembara tersesat di jalannya. Kendi kendi anggurnya remuk, dia tampar dari tuhan dan terpisah dari dirinya. Dia rindu untuk melihat dengan mata telanjang, untuk kekuatannya teraduk dengan cinta.

Derajat yang dia cari adalah milik tuhan, sebuah tahap di luar jangkauan intelek.
Dirinya disinari cahaya tapi dia tidak menyadari keberadaan cahaya ini, laksana akar yang jauh dari buahnya.

Dia kecewa dengan manusia bumi dan mencari pengelihatan sebagaimana musa.

Karen, nitzsche, iqbal, telah melepaskan bobot benda dari massanya, meluncur mengelupasi benda dan sampai ke apa yang di balik benda. Yakni segugus makna bagi sebuah kehadiran. Adalah aneh pelepasan semacam itu, seperti nampak pada kaum eksistensialis yang menyebut dirinya atheis, selalu membawa tragedi dalam hidupnya dan ironi dan tragedi juga dalam dunia pemikiran mereka.

Bobot pemikiran yang telah dilepaskan semacam itu, dengan cepat menempuh juga arahnya yang lain di ranah sastra. Arah yang telah distigmai sebagai mereka yang telah menjauh dari jalan para nabi. Dan relijiusitas kini pun telah menemukan profan-nya ke dalam anggapan semata tubuh.

Yang profan dan yang relijius, dengan sebuah cara melihat dari sudut kitab suci yang tak kena tafsir -di mana ayat ayatnya dibiarkan menemui dirinya secara tanda, bukan mengambil jalan memutar untuk melihat apa yang tersembunyi di balik aksara.

orang dengan gampang dan dengan mudahnya membuat penyimpul bahwa karya sastra, yang berputar pada tubuh yang penuh luka dan penuh nafsu, sebagai karya yang tak suci, tak sakral, karya yang terjebak ke dalam wacana apa yang disebut sebagai pornografi, bukan karya yang meninggi yang relijius, dan karena itu karya semacam itu, haruslah dibelenggu seperti telah dilakukan oleh misalnya penyair taufiq ismail, dengan kategori yang stigmatik sebagai fiksi alat kelamin atau sastra gerakan syahwat merdeka, yang telah mengharu biru dunia pemikiran di Indonesia sepanjang waktu 2007 yang lalu.

(baca misalnya esai taufiq ismail “HH dan gerakan syahwat merdeka”)

Polemik dari akibat niscaya dari pidato kebudayaannya yang diorasikan di institusi budaya yang tua yakni Akademi Jakarta.

Akan relijiusitas dan profan yang bergerak gerak seperti itu, tiba saatnya kita kembali kepada kitab suci itu sendiri, untuk melihatnya secara apa yang ada di balik tanda dan demi pengertian bersama tentang yang relijius dan yang profan, khususnya di ranah sastra.

sebab manusia mungkin seperti dalam puisi sang ia yang menamakan dirinya sebagai lampu senja dalam sebuah milis yakni milis apresiasi sasra yang kesohor:

“ketika senyum jadi muram,
dan mimpi jadi nyeri,
sebuah langkah adalah juga doa!
sampai di pojok-ujung gelapnya gang,
ia tetap berjalan.

dan,
ketika ia tak mampu lagi berjalan,
singgah lah ia di bibir malam.
betapa pun siang jadi malam dan dunia jadi sebesar kamar.
istirah tetap teman juga bagi ia yang pejalan.”

dan akan manusia seperti itu, adalah menarik merenungkan kata kata seorang perempuan yang juga beridentitas seolah lampu senja yakni nneonlight, nama sebutan bagi perempuan yang beridentitas sebenarnya adalah sisca, saat ia berkata dengan kata kata penuh renungan mengomentari puisi lampu senja itu:

“penderitaan seperti misteri
dimana kita harus bergulat dengannya dari bentuk yang satu atau bentuk yang
lain
jalan terkadang melangkah sendiri
meninggalkan kita di belakang
namun tidak apa2 sesekali kita berlari bukan

betapapun topeng2 lusuh karena keberatan menanggung harapan
topeng2 yang kelihatan begitu menyedihkan berhadapan segala hal yang terang
dan pasti
ketika senja datang dan lampu diterangkan.”

dua ekspresi budaya itu, sampai ke telinga batin saya seolah riak air dan arusnya. seolah saling mengejar, memetakan manusia dalam hubungan intim kemesraan yang aneh dan sukar dilukiskan. mungkin benar derita dan bahagia dalam dunia manusia seolah curah hujan dengan butir butir air hujan. melekat tak bisa dipisah. seolah roh dan badan sang pemilik tubuh. atau seolah tuhan sendiri dengan dunia yang ia ciptakan sendiri. melekat seakan cinta bujang dan gadisnya.

(2) angkatan sesudah 2000 – dunia tanda yang membelah diri
Hudan Hidayat

Kabar Dari Langit

Segala dikotomi baik dan buruk yang terjadi dalam sejarah umat manusia, sekarang dan masa yang akan datang, bisa kita kembalikan kepada sejarah penciptaan. Yakni pernyataan tuhan tentang sebuah jalan nasib bagi adam sehingga menjadi orang yang terbuang.

Kisah yang fatal dan jalan yang fatal. Di mana di sana dinampakkan sebuah lubang dari rentang yang mungkin dan tak mungkin. Lubang tentang usaha manusia dan lubang tentang nasib manusia. Yang memantul kembali ke dalam kitab suci ke dalam rentang dan ruang yang sering disebut dengan ?usaha? dan ?nasib? manusia di bumi. Bahwa begitulah manusia seolah diletakkan ke dalam sebuah kotak di mana keberadaan dirinya seolah tergantung dari apa yang diusahakannya. Sementara itu apa yang diusahakannya tergantung pada apa yang menjadi nasibnya.

Kisah dari yang menunjuk kepada dua arah yang berlain. Dari dua sisi paradoks yang mengandung oposisi biner:

Hey akan kuciptakan kamu ke dunia!
Sungguh jangan kamu dekati pohon ini!

Sebagaimana terbaca dalam surah al baqarah atau surat dan ayat penciptaan lain dalam kitab suci.
Sisi paradoks terlihat dari dua statemen yang sama pada objek yang sama “adam” yang diberi tugas sekaligus diberi beban (turun ke dunia dan jangan dekati pohon itu).

Maka kita bisa mencoba meraih semacam kesimpulan, bahwa niscaya adam turun ke dunia karena memakan buah kuldi, dan niscaya pula adam memakan buah kuldi karena memang ditugaskan untuk turun ke bumi. Atau dalam kesimpulan yang lain sebagai suatu keniscayaan:

Niscaya tak mungkin orang menjadi jahat semua
Sebagaimana niscaya tak mungkin orang menjadi baik semua

Apakah ada kemungkinan lain dengan jebakan pernyataan seperti itu? Ini seolah pertanyaan klasik yang datang dari dunia kanak kanak kita dulu:

mana duluan telur atau ayam. Kita jawab ayam maka darimana ayam berasal kalau bukan dari telur. Kita jawab telur maka darimana pula telur berasal kalau bukan dari ayam.

Begitulah kehendak tuhan berlaku kepada manusia dan kepada dunia: adam turun ke dunia dan saat hendak turun, berlakulah takdir dunia itu, yang sampai kepada kita berupa: turunlah wahai adam, tapi ingat, anak cucumu kelak akan berbunuh bunuhan satu sama lainnya.

Penyebutan berbunuhan inilah kelak bisa kita rujukkan kepada pengertian yang profan dan yang religius. Bahwa yang profan adalah wakil dari yang jahat dalam pengertian berbunuhan. Sedang yang religious wakil dari yang baik dari pengertian yang sama.

Tapi pada detik takdir dunia terjadi kita sekaligus telah memasuki kawasan tafsir yakni tafsir dunia. Bahwa takdir dunia itu perlu kita tafsirkan, akan apa maunya kitab suci. Tentu saja kitab suci tak bisa menjawabnya karena ia tidak bisa kita ajak berkata kata. Bahkan nabi pun sebagai pemegang kitab suci perkataannya sama dengan kitab suci itu sendiri. Yakni yang relijius dan yang profan, atas dasar mana ia melakukan perang dan mengangkat pedang.

Tapi kita bukan nabi dan bukan pula kitab suci. Kita manusia dan telah diberinya imajinasi. Ialah yang telah memberi kita imajinasi dan ialah yang telah memberi kita kemauan untuk berpikir sendiri. Ia telah memberikan kebebasan akan alat alat indera dan hati kita yang terberi. Maka bolehlah kita menggunakannya ke dalam apa yang telah dituliskannya sendiri dalam kitab suci. Tentang kebebasan menafsirkan. Tentang imajinasi yang bekerja dalam kehendak untuk menguak tafsir dunia. Ia yang berkata kalau kamu sanggup menembus langit dan bumi maka tembuslah langit dan bumi.

Saya memaknai statemen semacam itu sebagai undangan untuk memasuki kebebasan dalam menafsirkan. Undangan untuk meraih puncak kebebasan dari makna makna yang hendak diciptakan dalam sebuah ciptaan atau tindakan. Seperti tindakan yang dilakukan oleh rajawali di dunia politik Indonesia fadjroel rachman yang tak lelah lelahnya meminta agar keran kebebasan untuk memilih pemimpin negeri ini dibuka. Atau seorang mariana amiruddin dan gadis arvia tak lelah lelahnya juga meminta kesetaraan dunia perempuan dan lelaki yang terus timpang di negeri ini. Dan mungkin di negeri negeri dunia lain juga. Juga tak lelah lelahnya seorang marwah daud ibrahim menyadarkan orang orang di desa desa yang jauh akan sebuah keberdayaan dari alamnya sendiri.

Kebebasan yang datang dari sebuah paradoks -sebuah lubang misteri di mana kita tidak pernah tahu apa maunya tuhan. Saat semuanya kita kembalikan kepada oposisi binner yang terjadi di langit itu.
Tapi satu hal yang bisa kita simak dengan memutar pengertian formal: bahwa melalui undangan akan kebebasan, melalui imajinasi dan dengan campuran nafsu dalam diri, ia telah mengajarkan imajinasi dalam permainan paradoksnya tentang adam dan hawa yang telah terbujuk “ular”.

Maka lihatlah di sana, apakah yang terjadi saat adam telah tergoda?

Maka adam dan hawa telanjang dan mulailah mereka menutupi tubuhnya dengan pelepah pelepah daun surga. Maka hendakkah kita menutupi diri atau mematikan imajinasi sendiri, tentang sebuah pembayangan tubuh adam dan tubuh hawa – yang telanjang itu.

Duhai bagaimana bentuk tubuh adam dan hawa itu?

Di dalam imajinasi ada segenap sisi sisi yang tersembunyi. Sisi sisi yang mengandung racun yang berbahaya yakni napsu walau tak harus mengikut kategori id ala freud. Tapi kita tahu bahwa kabar dari langit bukanlah semata iktibar akan ketelanjangan adam dan hawa, tapi sebuah isyarat di dalam dunia tanda, bahwa lihatlah akibatnya kalau kita menentang perintahnya:

kalian kuhukum dan hukumannya turun ke dunia -dengan metapor bahwa tubuh kamu telanjang, seolah semacam mengabarkan ketidaksucian.

tapi lihatlah pula bahwa ada sebuah pintu masuk yang lain dan amanat yang lain, bahwa ketelanjangan atau dunia tubuh itu hanya sekedar pintu masuk belaka, yang saat ditanyakan oleh malaikat mengapa berbuat seperti itu tuhan menjawab:

kamu tidak tahu tapi aku tahu.

Dan bahwa dengan cerita serperti itulah tuhan membentuk dunia dan manusia. Yang bisa dibaca sebagai yang relijius dan yang profan. Dan bahwa yang relijius dan yang profan, pada instansi terakhirnya terkunci atau mengunci diri pada proporsisi yang disebut oleh tuhan:

Kamu tidak tahu tapi Aku tahu.

Pengarang Perempuan Mutakhir Indonesia -angkatan sastra sesudah 2000

Kita telah memiliki peta, peta tentang
sayalah yang tahu dan kamu tidak tahu,

Peta tentang sia sia belaka mencari hakekat sebuah pembunuhan atau
kekejaman. Tentang kefitrian atau kebusukan.

Atau dalam bahasa camus: bahwa kita telah dikutuk untuk terus mendorong batu ke puncak gunung, walau kita tahu bahwa batu itu kelak akan menggelinding lagi ke lembah.

Bahkan apalah gunanya kehendak berkuasa kalaulah kehendak itu kelak akan kandas juga seperti kehendak untuk berkuasa ala Nietzsche, yang melalui kematian yang pasti datang itu, telah memporandakan semua proyek kebahagiaan yang paling optimis.

Apalah gunanya obat obatan kalau bersamaan dengannya perang perangan terus juga berlangsung di belahan bumi. Bahkan apa gunanya meneriakkan moralitas kalau bersamaan dunia moral itu dimasukkan juga ke keranjang yang sama dunia kebusukan dan kebajingan. Bahkan juga apalah gunanya penciptaan makna kalau bersamanya makna akan berhenti di meja meja politikus yang keji, atau pengusaha yang ambisius yang ingin mengangkangi se antero negeri negeri.

Peta tentang kebenaran versi kitab suci, bertolak dengan anggapan dengan relijiusitas dan profan yang berdiam dalam kamus kamus bahasa atau menjadi keyakinan pada banyak manusia, akan memberantakkan tiap nilai dan upaya penciptaan sastra.

Maka sastra adalah soal penafsiran terhadap dunia ke dalam bentuk cerita. Dunia ditafsirkan menurut keyakinan pengarang. Dan pengarang ditafsirkan menurut keyakinan pembacanya. Dalam menafsirkan inilah tiap pengarang berbeda satu sama lain (Semial asma nadia yang menjadikan kitab suci sebagai acuan, atau mariana yang tak menjadikan kitab suci sebagai acuan).

Dengan merentangkan peta filosif seperti itu, saya akan memasuki topik pembahasan makalah ini. Yakni persoalan pengarang perempuan Indonesia mutakhir dalam perspektif relijiusitas dan profan dalam karya karya mereka.

Akan penyebutan pengarang perempuan Indonesia mutakhir ini, saya bertolak dari lajur yang sudah dibuat oleh kritikus sastra layun rampan tentang sejarah angkatan sastra di Indonesia, terusan dari kerja hb jassin. Yakni angkatan sastra 2000, di mana tokoh tokohnya diwakili oleh novelis misalnya ayu utami atau dorothea rosa herliany dan kawan kawannya. Atau afrizal malna dan agus noor. Karena itu titik pusat makalah ini akan melihat pengarang yang belum masuk ke dalam hitungan layun.

Tapi nampaknya pemilihan seperti ini sukar saya pertahankan, karena pertumbuhan pengarang perempuan tidak secepat perumbuhan para pengarang lelaki. Untuk alasan itu, melihat produktifitas dan eksistensi mereka di dunia sastra Indonesia dewasa ini, saya “terpaksa” memasukkan kembali nama nama seperti helvi tiana rosa dan abidah. Lagi pula mengingat dikotomik dari topik makalah ini, yakni sastra yang bermuatan relijiusitas dan sastra yang bermuatan profan, yang di atas telah saya bentangkan adalah sebuah anggapan yang berjalan bolak balik dalam karya sastra, yang saya lihat bersambungan dari atau mengatasi periodesasi sebuah angkatan. Sehingga apa yang saya sebut dengan angkatan, bisa juga digeser sedikit ke belakang -angkatan yang disebut layun angkatan 2000 itu. Khususnya kepada tokoh pengarang seperti helvi tiana rosa atau abidah. Tentu saja anggapan ini dengan bermain main dari pengertian relijiusitas dan profan seperti yang terbaca dalam pengertian umum.

Sementara itu dalam kaitan dengan penyebutan mutakhir ini, perlu juga dilihat media sastra di mana para pengarang itu menulis. Selain di koran, majalah atau jurnal serta bulletin, kini berkembang marak penulisan sastra di dunia maya. Komunitas sastra yang eksistensinya mapan seperti forum lingkar pena atau komunitas bunga matahari pimpinan penyair anya rompas, bahkan telah mendirikan atau memuatkan dirinya ke dalam situs seperti multiply dan facebook. Belum kita menghitung milis apresiasi sastra yang anggotanya mencapai ribuan itu.

Para penulis sastra di dunia maya ini relatif belum dikenal di dunia sastra formal Indonesia. Seolah mereka adalah anak haram dengan pertumbuhan menyimpang yang tak dikenali oleh kritikus formal Indonesia semacam sapardi djoko damono, melani, apsanti, budi darma bahkan kritikus muda usia semisal nirwan dewanto dan nirwan arsuka. Tapi tak mengapa, karena kita juga nampaknya mempunyai pencatat yang baik semacam rebut wijoyo.

Apa yang saya saksikan dari kecenderungan tema dari para penulis perempuan angkatan sesudah 2000 ini, adalah sebuah kenyataan yang memang bertabrakan dari pandangan nilai, yang dikategorikan umum sebagai yang relijius dan yang profan itu. Walau ada juga kesamaan tema di antara keduanya.

Pengarang perempuan di multiply

Kita telah membongkar pengertian awam yang dianut banyak orang tentang relijiusitas dan profan, juga tentang hal yang sama dalam karya sastra. Maka kini tiba saatnya untuk memperlihatkan pengertian pengertian itu bekerja dan berjalan bolak balik di dalam karya sastra.

Dengan menghilangnya dikotomik yang relijius dan yang profan dalam karya sastra, kini terbentang sebuah medan penilaian yang tidak menunjuk kepada profan atau relijius. Atau kalaupun pembedaan itu masih hendak dipakai, maka pembedaan itu berlangsung dalam permainan yang selang seling di dalam karya sastra: suatu ketika sebuah karya sastra meninggi menjangkau relijiusitas, suatu ketika ia turun ke lembah profan dari karya yang sama. Tanpa profan harus diartikan sebagai yang rendah. Yang tercermar.

Maka satu satunya hitungan kini adalah kembali kepada karya itu sendiri: apakah ia mempunyai keindahan dan apakah ia mempunyai kedalaman. Bukan apakah ia relijius atau apakah ia profan.

Dan persoalan keindahan adalah persaoalan bahasa. Persoalan kedalaman adalah persoalan sejauh mana sebuah karya dapat menyelam untuk menemukan sisi sisi tersembunyi dalam kehidupan, untuk mengolahnya ke dalam bahasa. Menjadi pengungkapan yang indah dalam karya sastra. Atau isi karya sastra itu sendiri. Isi dan bahasa yang adalah totalitas sebuah karangan itu sendiri. Karena itu apa yang kita sebut sebuah puisi, cerpen atau novel, bisalah kita sebut bahasa seorang seniman sastra dalam melayari arah arah hidup. Bahasa yang berhukum pada dunia bahasa tapi sebagaimana hidup, dunia bahasa pun tak hendak tunduk dengan grama dalam bahasa. Selalu bahasa mendapatkan penyimpangannya, dari jiwa sang pengarang yang unik.

Maka salah satu kekuatan sebuah karya sastra adalah sejauh mana ia mampu menyimpang dari bahasa umum masuk ke dalam bahasa yang unik. Sejauh mana sebuah karya sastra dapat membawa kita ke dalam sebuah penangkapan dengan sudut pandang yang tidak biasa. Dengan ringkas: sejauh mana sebuah karya sastra mampu membawakan dirinya sebagai peran yang mensubversi. Mengganggu persepsi umum terhadap sebuah kenyataan. Sebab kenyataan sungguh sebuah kehadiran yang prismatik, di mana sisi sisi tersembunyinya menunggu kita di sebuah ruang dan waktu tertentu, menunggu untuk kita temukan, minta diangkat dan diperlakukan sebagai kenyataan juga di tengah tengah kenyataan yang ada.

Dalam sebuah kehendak untuk menemukan kehadiran yang terselip itu, seorang pengarang tidak harus membuktikan dulu sebagai pengarang yang telah menghasilkan buku atau buku buku untuk dilihat sebagai seorang sastrawan. Pengakuan kepadanya bahkan sudah cukup ketika ia mampu membawakan dirinya sebagai mereka yang menemukan sisi sisi tersembunyi dalam hidup. Sisi yang bahkan sangat mungkin tidak atau belum ditemukan oleh para pengarang yang telah menghasilkan sejumlah buku atau mereka yang menulis di media massa cetak. Pun bahkan seandainya apa yang ia temukan telah ditemukan oleh para pengarang buku yang telah diakui itu, kehadirannya di ranah sastra tidak sedikitpun berkurang nilainya. Sebab sastra saya kira harus dikembalikan kepada perayaan kehidupan itu sendiri. Di mana dalam perayaan yang berlangsung semua orang boleh mengambil peran dan sejarah haruslah mencatatkan peran yang telah diambilnya.

Seorang pengamat sastra cukup membelokkan sedikit konvensi yang berlaku dalam ranah sastra, yakni kesepakatan tentang pengarang yang mapan, untuk masuk dan menyelam ke dalam teks teks sastra yang tidak ia kenal. Teks teks sastra yang tersimpan di blog blog sunyi di dunia maya sebagai realitas penulisan sastra Indonesia mutakhir -juga realitas penulisan sastra dari perempuan pengarang Indonesia mutakhir.

Di sana, seseorang menulis dari dunia sunyi dan tidak berambisi untuk menjadi sastrawan atau sastrawati. Di sana mereka menulis seolah untuk dirinya sendiri. Bukan untuk publik ramai seperti yang diangankan oleh para penulis sastra di koran. Di sana seseorang menulis tanpa memperhitungkan kehadiran seorang kritikus atau masyarakat seperti penulis di koran koran. Tapi langsung menulis seolah menulis adalah ritual untuk membuang sepi. Sebuah kekecewaan dalam hidup kini menemukan ranahnya yang paling istimewa: pengungkapan diri secara telanjang apa adanya.

Sebab kalau pun ada para pembaca maka para pembaca itu adalah kawan kawan terdekat sang penulis. Mungkin sesekali orang iseng melintas di blognya. Tetapi sukar dibayangkan bahwa orang masuk ke sebuah situs hanya dan demi untuk menikmati karya sastra dari para penulis di dunia maya. Bahkan seorang kritikus pun belum tentu mengambil peran yang sebenarnya sungguh merupakan potret dari realitas kehidupan sehari hari sastra Indonesia mutakhir: mereka menulis sastra dari dunia maya. Yang jauh lebih banyak jumlahnya dari mereka yang menulis di media massa cetak.

Tapi kita bisa membandingkan bahwa ada kesamaan ucap dan isi antara para penulis di dunia maya dengan para penulis di media massa cetak seperti buku atau koran. Dan kedua para penulis ini adalah bersambungan juga dengan para penulis sebelum mereka.

Begitulah saya melihat spirit para novelis angkatan balai pustaka dan pujangga baru, hidup kembali dalam sebuah cerita pendek rienyudea berjudul halimah. Cerita pendek yang sepi sendiri ini di blognya yang sunyi di multipli, memang mengabarkan cerita tentang kasih tak sampai karena belenggu. Tapi berbeda misalnya dengan azab sengsara, siti nurbaya, layar terkembang, belenggu atau tenggelamnya kapal vandervicjk, yang tokoh tokohnya patah hati karena tradisi, maka cerita rienyudea tokohnya patah hati karena nilai yang datang dari agama, bahwa kedua orang tua halimah dan rusman dalam cerita rienyudea adalah dua kakak adik. Sehingga sebuah perkawinan mustahil dilaksanakan.

Begitulah kedua orang itu terbakar rindu -rindu karena kasih tak sampai. Adalah menarik seorang perempuan -rienyudea, memindahkan dirinya menjadi lelaki dengan sudut pandang lelaki sebagai pengisah cerita “rusman” sang aku prosaik yang menceritakan gelora hatinya dan setapak setapak membangun sebuah kegagalan cinta yang mengharukan pembacanya.

“di kamar berdinding papan meranti ini, aku kembali melukis paras halimah tersenyum malu di depanku. Mengantarkan sinyal asmara terlarang antar dua saudara. Walau aku tak yakin dengan ia berucap saat itu, namun aku tahu halimah masih menyimpan rasa yang sama. Menginginkan pertalian lebih dari sekedar saudara. Kami hanya berdiam diri dan menikmatinya masing masing. Di alam bawah sadar kami.”

Apa yang ditulis rienyudea adalah soal biasa, sedikit menyimpang dari tema novelis angkatan balai pustaka atau pujangga baru. Tema cinta. Tapi yang tak biasa adalah bahwa rienyudea telah menceritakannya dengan gaya ungkap para penulis dulu. Diksinya bukan datang dari penulis masa kini tapi dari penulis masa lalu.

“amboi” cantiknya pualam ini. Sisa air di bahu dan lengannya membuat aku menelan ludah dan makin tercekik kehausan. Rambut yang digelung mempertontonkan tengkuknya yang jenjang di temaran lampu dapur. Lupalah aku akan kehausan, namun terbit kehausan yang lain. Sifat kelakianku meledak ledak.

Sebuah penceritaan yang sukar kita temukan dari para penulis seperti djenar atau dinar rahayu. Cerita yang indah ini menutup diri ke dalam ending dengan konflik yang tak berjalan keluar, bisa dikatakan sebuah ending sebagai gugatan abadi yang keras. Sebuah ending yang nampak istimewa, dibuat oleh sang pengarang yang tak mengklaim diri sebagai sastrawan. Ending yang menyimpan kesucian hati tapi sekaligus bawah sadar dari jiwa yang tak bisa dimengerti. Saya tak yakin bahwa rienyudea, dengan ending seperti itu, dengan sadar hendak mengabarkan sebuah protes, atau sebuah teriakan bahwa dunia dipenuhi oleh nasib yang tak bisa ditembus, sekaligus dihuni oleh orang orang yang sukar dimengerti. Rien menuliskan semua itu bukan dari suatu wacana yang sadar, tapi datang dari sebuah insting.

?aku makin terjebak di lumpur birahi, bermandi di kubangan lumpur birahi. Sehabis melihatnya berlalu lalang di depan rumah maka berpuas puaslah aku berkubang dalam jerat jerat diri sendiri yang terkekang. Membelnggu aku dan tak mampu melepaskan diri. Merayap lagi berkendaraan busur asmara yang melesat ke tubuh moleknya. Adik sepupuku halimah. Kan kutunggu selalu, ia melintas lagi dan lagi? Dari balik jendela rumah panggung kami?

Saya juga tak yakin juga bahwa rienyudea, dengan ending seperti ini, telah dengan sadar menjadikan penutup ceritanya seolah puisi. Puisi dari sebuah kata kata melintas lagi seolah nasib yang terus mengada: lagi dan lagi. Di mana “Dari balik jendela rumah kami” seolah terbaca “dari balik jendela dunia” tempat di mana manusia menuai nasib yang bahagia dan tak bahagia ” melintas lagi dan lagi” dari balik hidup kita sendiri.

Kalau rienyudea menuliskan ceritanya dengan aspek tubuh mengandung napsu yang samar, di mana rasa cinta bermain dengan dorongan birahi dari tubuh, maka seorang aida menuliskan fiksinya (konon novel) dengan cara mengandung humor. Sebuah pengalaman yang unik yang sering terjadi dalam kenyataan, kini berpindah ke dalam teks sastra yang melakukan selingkuh terpejam, atau melakukan seks terpejam. Dan karena itu nampak unik dan lucu.

Begitulah seorang mahasiswi yang memendam perasaan kepada dosennya pulang dari kampus dan berkereta api yang sama dengan sang dosen. Duduk bersebelahan dan getar kereta api membuat mereka terbakar birahi. Tapi bukan birahi transparan ala djenar atau r valentina yang cerita pendeknya “aku yang perempuan” saya baca di jurnal perempuan itu, tapi birahi yang samar dan bahkan dilakukan seolah kupura-puraan. Di sinilah menariknya cerita ini, cerita yang jarang saya temui dalam buku buku sastra Indonesia modern. Di mana sang kedua tokoh yang terlibat pura pura tertidur tapi tubuhnya mulai bergerak gerak lembut, saling menyentuh dan saling terbuai nafsu dengan mata sama sama saling terpejam.

“Perlahan lahan aku merasakan lengannya yang menyentuh lenganku. Kemudian kuraskan aura tubuhnya yang kin mendekat dan mengoyak aura penjagaanku. Selama tiga detik kubuka mataku untuk melihat apa yang terjadi antar aku dan dia, dan betapa terkejutnya aku ketika aku melihat kepalanya berjarak sekitar 15 cm dri pundaku. Ia seperti terayun ayun untuk menyandarkan kepalanya ke diriku. Aku pun juga tak sabar untuk menerimanya. Aku kembali memejamkan mata sebelum orang melihat gelagat jahilku. Sambil berharap ia menyandarkan kepalanya, sambil aku menggoda kakinya dengan kakiku, sambil aku terlelap dalam kepura-puraan.”

Saya tak merasakan bangkitnya napsu dengan cerita yang seolah bagiku datang dari dunia kanak kanak itu -seolah main main. seolah olah napsu di situ terbaca sebagai sisi unik dan absurdnya manusia. Bukan karena sang pengarang tidak mengarahkan ceritanya ke permainan seks sesungguhnya atau perselingkuhan yang lebih jauh. Mereka melakukannya hanya seolah didorong oleh sisi aneh dalam diri manusia yang tersembunyi dalam diri. Dan mendapatkan wujudnya karena sebuah kesempatan di kereta api yang menggetar getarkan tubuh mereka. Tapi oleh rasa kemanusiaan yang diselinapkan pengarang terhadap tokohnya dan oleh sebuah kesempatan yang memang memungkinkan.

“Seperti dosa dosa yang biasa terjadi pada diri manusia, aku pun merasakan ketagihan. Paul pun juga. Sebelum berpisah, kami berjanji akan bertemu di gerbong kereta yang sama. Mungkin sebuah harapan agar permainan bisa dilanjutkan.”

Lalu cerita menutup diri dengan kata kata:

“Tuhan kami tidak sedang bercinta. Itu saja yang hanya kami lakukan. Kelak kami akan menjadi manusia biasa. Tuhan juga tahu yang mana dosa dan siapa melakukan dosa.”

Begitulah sebuah alur tentang tubuh yang saya lihat. Sebuah gaya cerita “pornografi” yang menemukan dirinya ke dalam teks sastra yang lembut.

Dalam bentuk lain, yang bukan bentuk seks, seorang perempuan yang menamakan dirinya sebagai “mimpi kiri” -nama identitas tria nin di multipli (kini ia di facebook) -menuliskan sebuah nada humor dalam puisi dalam bentuknya yang lain. Puisi itu nampak modern, datang dari pengucapan dari dunia seolah remaja masa kini. Puisi bergambar seolah sketsa dengan sebuah rumah dalam pola gambar yang datang dari dunia kanak kita, dengan seorang gadis di depan rumah dengan pola gambar yang sama. Dan begitulah dua larik puisi itu di susun. Larik yang mengandung humor sebagai nampak pada judul puisi, judul puisi yang sekaligus dipecah menjadi dua larik dalam puisi: lelaki dengan mood berputar -saya menantimu di depan rumah. Maka terbacalah pecahan judul puisi ke dalam dua larik puisi sebagai tubuh puisi:

Hey lelaki dengan mood berputar
Saya menantimu di depan rumah

Puisi itu bagi saya seolah perempuan memang harus kembali ke rumah. Atau perempuan memang harus di rumah. Tapi puisi itu pula mengatakan bahwa tidak hanya perempuan harus kembali ke rumah atau perempuan harus di rumah. Tapi juga lelaki harus kembali ke rumah dan harus ada di rumah. Tapi lelaki berputar seperti angin mengembara mengikuti perasaannya (mood nya dalam bahasa puisi) yang berputar putar, dan karena itulah sang aku lirik dalam puisi, dengan asosiasi gambar yang seolah datang dari masa kanak -masa kanak yang bisa kita tarik pula sebagai sesungguhnya, sebenarnya, di situlah tempat manusia berada: rumah dengan perempuan di dalamnya. Rumah dengan lelakinya di dalam rumah – Stay at home. Don?t go like the wind, man – berkata: saya menantimu di depan rumah.

Tapi rumah itu dalam puisi jasmine flame adalah rumah yang berbahaya. Rumah di mana penghuninya melihat bendera sebagai umbul umbul rumah yang tak lagi sakti sebagai penunjuk, sebagai tanda, sebuah rumah. Rumah yang telah menyengsarakan warga dari manusia di dalam rumah. Di mana seorang ibu di situ, dia yang seharusnya menjadi pemilik rumah, seolah melakukan solitaire kepada dirinya sendiri, dengan penyebutan “nak” yang diajaknya bercakap cakap, nak yang tak hadir, nak yang seolah bisa digeser kepada, atau menjadi, mereka manusia yang banyak sebagai penduduk negeri.
Nak dari mereka yang kalah.

Demikianlah puisi yang menyebut dirinya di tiang tujuh belas, sebagai sebuah perayaan akan sebuah hari ulang tahun republik, dimaknai oleh penyair sebagai negeri yang kalah, negeri yang bisa dirujukkan tujuan tujuannya ke dalam sebuah hari proklamasi -di tiang tujuh belas, kata sang penyair seolah membangkitkan ingatan sebuah bangsa. Di tiang tujuh belas di mana kita seakan melihat kembali jejak jejak kerawang bekasi chairil anwar – tulang tulang berserakan tapi kepunyaanmu juga. Dengan di tiang tujuh belas penyair Jasmine menghentikan dunia pamplet dan slogan untuk menetap ke dalam dunia puisi.

Begitulah saya tergetar membaca puisinya Jasmineflame. Larik dalam bait yang telah menjelmakan metapor dalam bahasa. Seakan kita melihat orang-orang kalah di sana. Dengan angka-angka sebagai lambang yang menunjuk kekinian tapi meretas pula ke masa silam – masa-masa di mana republik ini didirikan dan mencapai puncaknya saat orang-orang republik berdiri tegap menghormat kepada tiang bendera, implikasi logis dari dan sesudah proklamasi dapat diraih.

Retasan itu terbaca dalam lariknya yang bersambungan :

di tiang tujuh belas/tulang belulang terbujur kaku.

Lihatlah sang penyair memainkan bahasa, menggoyangnya dari sebuah tiang menjadi tempat yang sudah bukan sebuah tiang lagi, tapi sebuah tiang yang bergerak menjadi lambang angka kemerdekaan (di tiang tujuh belas), angka yang keramat tapi telah dikhianati oleh penerus kemerdekaan yang menghasilkan bukan kebahagiaan tapi tulang belulang terbujur kaku.

Tulang belulang memang terbujur kaku. kaku karena bukan bumi tak mampu memberinya kehidupan. Tapi kehidupan itu telah dirampok oleh apa yang disebut sang penyair di salah satu katanya sebagai “tirani”. Dan dimintanyalah agar persada ini dilepaskan dari tirani sehingga bumi tak memberi air mata kesedihan tapi air mata kehidupan.

tapi “bumi memberinya air mata”.

Tapi kami minta fadjroel dan marwah saja.

Kepedihan dan kesedihan terkelupas berhadapan dan dalam kenyataan hidup dengan kata-kata yang teramat elok itu. Kita mengalami katarsis dan katarsis membuat kita sujud kepada bumi agar duhai bumi, janganlah beri kami air mata lagi tapi berilah kami air kehidupan dari tanah-tanahmu yang gembur dan renyah ini.

Tapi bendera tak berkibar lagi. Janji tak lagi setia dan lidah tetaplah tak bertulang: bergoyang kekiri dan kekanan. Kibar-kibar bendera yang dulu bergelombang di awan langit tanpa pamrih kini penuh dengan hitung-hitungan politik dari sebuah orde politik yang bukan untuk kebahagiaan kecuali klaim akan kebahagiaan, tapi, ya tapi, untuk apakah politik itu? Untuk apakah siasat dan pertarungan demi pertarungan seolah kita ini bukanlah datang dari manusia yang bersaudara seayah dan seibu itu?
Entahlah. Tapi sang penyair tak patah harapan. Disapanya kita dengan lembut dari bahasa kelembutan seorang ibu.

Nak, katanya. kutancapkan tonggak di perut bumi kita/sebagai tali pusar,di tiang tujuh belas agar menjadi tanda/dimana kaki berpijak/agar menjadi tanda kemana nurani berpihak…

Penyair jasmineflame (cavita) telah memberikan tanda-tanda melalui bahasa. Bahasa puisi. Seperti terbaca di tiang tujuh belas ini.

nak, Di tiang tujuh belas
tulang belulang terbujur kaku
putihnya tak lekang,
cuma putihnya membias nanar
karena bumi memberinya air mata

nak, di tiang tujuh belas itu
tak berkibar lagi bendera kita
yang dulu merahnya tak sekedar kobar
yang dulu putihnya tak berpamrih,
bebaskan persada dari tirani

nak, ku tancapkan tonggak di perut bumi kita
sebagai tali pusar, di tiang tujuh belas
agar menjadi tanda dimana kaki berpijak
agar menjadi tanda kemana nurani berpihak,
kukuhkan tiang tujuh belas mewujud makna

Tuhanku Evelyn Ridha

Tak selamanya mereka (perempuan) yang menulis di blognya di multipli itu mencari bahasa, menyerap hidup dan menuangkannya ke dalam bahasa ucap puisi. Seorang ibu bernama eveyn ratih (eve) bahkan membuat puisi dengan nada bahasa sehari-hari. nyaris tak ada pengembaraan dalam bahasa dalam puisinya tuhanku itu.

saya sendiri tak menyangka akan mendapat respon seorang evelyn, seorang ibu, sebagaimana saya tak pula menyangka akan mendapat respon seorang erwina tri seorang perempuan, seorang ibu pula.

Aktivitas saya menuliskan esai pendek atas sebuah puisi yang saya cari sering dengan melihat siapa yang muncul di kotak saya, atau saya mengembara sendirian aja iseng memasuki blog orang di multiply ini, ternyata berdampak perhatian semacam itu. Maka terbuktilah bahwa dunia sastra itu sesungguhnya tidak lah sepi. Tapi kekurangan komunikasi satu sama lain. Tentu saja saya tidak akan mengeluh dengan kekurangan komunikasi ini. Itu adalah hal yang wajar. Sewajar kenyataan dalam hidup.

Saat saya memunculkan esai saya tentang tuhan, tanpa memberitahu saya Evelyn menulis puisi di blognya. Puisi yang terbaca seperti di atas. Mungkin bagi orang lain deretan kata-kata di atas adalah biasa saja. Kata-kata yang sering dituliskan orang di banyak kesempatan. Tapi kalau kita melihat motif kemunculan puisi itu, yakni bahwa karena suatu tulisan sang penyair ini lalu terangsang dan melai menuliskan kesannya pula pada tuhan, maka hemat saya sebuah komunikasi sastra yang bagus telah berhasil dimulai.

Tuhan memang sudah kita anggap menjadi rutin dalam hidup, sebelum seseorang datang mengingatkan kembali betapa anehnya dan misterinya tuhan itu. Atau sebuah tulisan membuat kita berpikir kembali tentang tuhan. Oh iya ya, tuhan itu memang aneh dan akhirnya kita mencoba merenungkan tentang tuhan kembali dan mulai menuliskan apa yang menjadi renungan kita itu.

Evelyn dan Erwina menjadi perhatian istimewa saya karena keduanya, di tengah telah menjadi ibu, masih juga menyempatkan diri memainkan dunia kata. Tentu saja hal yang istimewa menurutku, di tengah banyak pilihan selera yang lain dalam hidup. Untuk semacam itulah sebenarnya saya membuat esai panjang yang belum selesai tentang kedua perempuan ini. Esai yang dengan hasrat ingin menunjukkan kepada pembaca bahwa di tengah arus benda-benda dan di tengah peran perempuan dalam keluarga, masih ada kegiatan positif yang bisa dipilih. yakni menulis. pintu masuk bagi segala macam penggerak kehidupan itu.

Nah lihatlah begitu sederhana ungkapan evelyn tentang tuhan. Ia tak berpanjang dan melambung dalam keheranan seperti saya. Bahkan seolah terbaca evelyn heran sendiri melihat saya teheran-heran dengan kenyataan tuhan. Karena itu ia berkata bukan terutama untuk menjawab diriku tapi untuk dirinya saja. Seolah ia bergumam setelah keluar dari renungan yang dibacanya atas renungan seorang hudan akan tuhan. Maka meluncurlah kata-kata sederhana dari bibirnya :

tak pernah melihat-Mu, tapi kutahu Kau ada.

Tentu saja larik ini adalah kebenaran yang banyak dipeluk banyak orang. bahkan larik kedua pun :

kuucapkan pintaku dalam hati, saat kudapat yang kumau, kutahu itu dari-Mu

Adalah sebuah larik yang rasional. Bahkan cenderung dingin dan tak ada bergetar-getar sebagaimana seseorang yang kesurupan tentang tuhan yang masuk ke dalam dirinya. Dan inilah yang menarik saya itu: Evelyn menjawab keheranan saya tentang tuhan bukan dengan instingnya sebagai seorang ibu yang termenung dan rindu akan tuhan, tapi menjadi manusia rasional saja akan kenyataan tuhan yang dilihatnya dari pengalamannya akan inderanya pada tuhan.

Lain benar dengan chairil anwar yang dalam puisinya berkata : tuhanku, di pintumu aku mengetuk, aku tak bisa berpaling.

Sebuah puisi yang resah dan gelisah akan tuhan. Akan diri yang mencari tuhan tapi jalan-jalan seolah terkunci tapi sang penyair tetap keras kepala : di pintumu aku mengetuk, katanya. aku tak bisa berpaling.

Tapi evelyn memang tak perlu berpaling karena ia memang tak pernah memalingkan mata padaNya.

Ia hanya seorang ibu, seorang perempuan, yang terheran-heran manakala didapatinya seorang hudan bertanya-tanya tentang tuhan. Dan yang menurutnya tuhan itu memang seperti itulah: ada dan kalau pun harus ditanyakan ya jawabnya rasional seperti itulah: tak pernah melihat-Mu, tapi kutahu Kau ada.

Rasional evelyn tentang tuhan adalah sikap yang tak menyalahkan seseorang. Malah ia bermenung sebentar dan kemudian menutup renungannya dengan kata – kata yang indah:

tuhanKu tak sanggup aku mengangkat jubah kebesaran-MU.
tak pernah melihat-Mu, tapi kutahu Kau ada

kuucapkan pintaku dalam hati, saat kudapat yang kumau, kutahu itu dari-Mu

Engkau hanya satu, tapi ada di mana-mana, di hatiku, di diriku, di hatinya, di dirinya

saat kulihat bumi dan langit, betapa jauh jaraknya, betapa banyak yang ada di antaranya, tak semua bisa kulihat, apalagi yang ada di dalam bumi dan di atas langit

kutahu, hanya Engkau yang bisa membuat semuanya jadi ada
Tuhanku, tak sanggup aku mengangkat jubah kebesaran-Mu
dunia kocak inna

agak dekat dengan pengucapan tria nin: lelaki dengan mood berputar, adalah inna nurhayati di blognya di multipli yang menulis dengan kelucuan yang nyaris ke bentuk semacam konyol dalam bahasa. Tapi mendatangkan kenikmatan dalam membaca. dunia puisi perempuan ini mendatangkan geli di hati. Bukan dari sebuah bahasa yang dimaksudkan untuk melucu. Tapi dari sebuah bahasa puisi yang melihat bentuk bentuk kehidupan dari sudut sudut riangnya. Riang yang ringan. Kalau kita berkunjung ke blognya nampaklah judul judul kocak dari ceritanya. Misalnya “kayaknya celingkuh”, atau “gelagatnya mencurigakan”.

Perhatikanlah dia memainkan huruf s di sana, huruf s yang digantinya dengan c, sehingga terbaca: kayaknya celingkuh. Ini kan seolah dunia selingkuh itu ditariknya ke dunia canda, atau main main. Lalu gelagatnya mencurigakan. Nah, tidak kah kita bisa mencium aroma lucu dari rangkaian kata ini: gelagatnya mencurigakan, seolah kita melihat gejala di mana beberapa orang remaja berbicara tentang hubungan cinta mereka, lalu seseorang menyela sambil tergelak-gelak, gelagatnya mencurigkan.

Kata kata gelagatnya mencurigakan, seolah mengusap sebuah kemesraan di antara relasi sesama manusia. Aku memang belum membaca dua cerita itu. Juga kurang paham apakah itu cerita atau puisi. Tapi dari selintas yang kulihat aku jadi senyum sendiri: betapa Inna kawan herlinatiens ini memang memiliki sense dalam hidup, sense yang nampak bersambungan dengan bahasa tekstual yang dia pakai…

Jelas Inna memaksudkan puisi atas tulisannya itu yang diletakkan secara puisi itu -menyebar ke bawah. Dan sudah jelas pula itu puisi. Puisi yang dari judulnya saja telah menarik hati saya, membuat saya seolah disegarkan kembali oleh ruewtnya hidup.

“Ivan, kamu sudah (iseng) ngintip dan (terlanjur) saya doakan”

Sebuah judul yang menggoda. Aku lirik dalam puisi itu menyapa seseorang yang nampaknya dikenalnya secara akrab, seorang lelaki yang bernama ivan. Maka dalam respon terhadap puisi itu di blognya Inna, seorang kawan kita di sini bernama ivan (ivanorma), menyela sambil bergurau: bukan saya toh ivan itu? Dan kalo tidak salah inna menjawab: emangnya kenapa kalo kamu? La iyalah bukan.

Tentu saja kita harus membaca semua soal dalam hidup dengan sebuah konteks. Konteksnya, puisi itu diletakkan di dalam dunia multiply, sebuah dunia di mana tiap orang bisa saling merespon.

Dan saat seorang merespon, seseorang yang bernama ivanora, maka dunia yang dibangun Inna menjadi sebuah dunia permainan yang menarik.

Maka nampak, bahwa kata kata iseng ngintip langsung dimaknai pembacanya dengan kata kata: bukan saya toh, yang dibalas oleh penyairnya: emangnya kenapa?

Terjadilah relasi yang intim antara penyair dan pembacanya. Relasi sebagai gejala kehidupan di mana pembaca lain melihat permainan serupa itu sebagai sebuah kode kode lucu yang ditebar antar manusia. Kode yang bahagia. Kode yang bisa melepas dari kepenatan hidup sehari-hari.

Atau kita baca secara lain: ivan di sana bukan ivan kawan kita di multiply. Jadi seseorang yang kebetulan bernama ivan. Tetap nampak istimewanya judul itu. Istimewa dari sebuah rangkaian kata yang membuat banyak makna dalam imaji. Dari sebuah rangkai bahasa yang sungguh bermain -ivan kamu sudah (iseng) ngintip.

(Iseng ngintip – sebuah paduan kata yang sangat kuat. Kuat sebagai permainan)

Ngintip siapa? Apa bentuknya keisengan itu? Jelas bukan iseng ngintip badan yang telanjang karena tidak ada tubuh yang terkuak di situ.

Jadi iseng ngintip nampaknya dimaksudkan sebagai sebuah kehadiran seseorang bernama ivan, hadir dalam kehidupan si aku lirik dalam sebuah momen.

Tapi bukan momen sekejap seumpama orang bertemu di sebuah pesta lalu berpisah. Tapi momen dalam relasi antara ivan dan aku lirik yang mungkin sudah banyak mengambil waktu. Karena itu si aku lirik bicara: dan terlanjur saya doakan. Bukankah masuk akal: mana mungkin seseorang akan mendoakan orang lain dalam momen pendek dalam sebuah pesta, di mana kata-kata tidak terfokus di mana semua gerak terpusat pada keramaian pesta.

Maka tidak bisa tidak: ada sebuah waktu yang mereka telah tempuh di situ.

Tapi judul itu dengan tubuh puisi, nampaknya seolah tanpa sekat. Sudah jelas sang penyair tak menyadari kehilangan sekat ini. Sebab judul itu langsung meluncur saja ke tubuh puisi, masuk ke dalam larik pertama puisi.

Kamu di sini rupanya
Kenalin dia ST. lho.

Dua larik ini menimbulkan permainan lain lagi. Seolah antar aku lirik dan lelaki bernama ivan itu terperanjat menghadapi ivan di sebuah tempat: kamu di sini rupanya. Tapi mengapa kemudian: kenalin dia ST?

kenalin kepada siapa? Di sana tidak ada orang ketiga kecuali mereka berdua. Lalu lho. Lho di sana kalau tanpa titik maka menjadi kata penerang gaya bahasa lisan: kenalin dia ST lho. Tapi dengan titik maka terbaca seolah sebuah sikap heran. Atau sikap yang menidakkan sendiri kata katanya sendiri:

kamu di sini rupanya. Kenalin dia ST. lho.

Jadi lho seolah sang penyair bingung sendiri dengan kata katanya sendiri: lho dari kok dia sudah membayangkan atau mengimajikan seseorang yang disapanya kamu di sini kenalin dia st. lho menjadi sikap dari sebuah hal yang terperanjat.

Atau memang ada orang lain di sana dan sang penyair bilang kepada ivan: kenalin, dia st lo. Jadi dia mengenalkan seseorang yang bernama st kepada ivan.

(st adalah akronim setengah tua, atau nama seseorang yang tidak kita kenal?
Hehe aduh inna)

Dari tiap kemungkinan arti itu, puisi bergerak ke sebuah dialog yang biasa. Sang penyair menyapa dengan pertanyaan kepada ivan itu.

Kamu kapan lulus?
Lancar semuanya ya, semoga

Tetapi kemudian kita dibuat terkejut kembali dengan larik penutup puisi:

Saya benci sekali sama kamu, ivan ahda.

Larik larik itu menjadi aneh, tetapi sangat menarik: bagaimana seseorang yang sudah disapa dan didoakan dengan kata semoga, tiba tiba dipalu dengan saya benci sekali sama kamu, Ivan Ahda. Seolah penyair mengalami sikap yang terbelah. Sikap yang dia pendam tapi terungkap dalam kata kata saya benci sekali, setelah dia mengumbar semacam doa.

Sebetulnya puisi itu menjadi sebuah dunia sederhana kalau dibaca dalam susunan seperti ini:

ivan, kamu sudah (iseng) ngintip dan (terlanjur) saya doakan…

kamu di sini rupanya?
kenalin
dia ST lho.

kamu kapan lulus?
lancar semuanya ya, semoga.

saya benci sekali sama kamu, ivan ahda

maka tidak bisa tidak ada orang ketiga yang dikenalkan kepada ivan oleh si aku lirik. Bahwa ada kata-kata saya benci sekali sama kamu ivan ahda, maka ia menjadi kode bahasa gaul kaum muda masa kini: menidakkan dengan makna sebaliknya melalui kata kata benci sekali.

Tetapi puisi menempuh arah lain dengan permainan tanda baca dan peletakan larik puisi sebagaimana yang telah terurai di atas tadi.
Ivan, kamu sudah (iseng) ngintip dan (terlanjur) saya doakan…

kamu di sini rupanya.
kenalin
dia ST. lho.
kamu kapan lulus?
lancar semuanya ya, semoga.
saya benci sekali sama kamu, ivan ahda

Akhirnya harus dikatakan pula sebuah representasi lain. Dari mereka yang mengucapkan tubuhnya dalam dunia puisi. Adalah amarrelia permatasari yang menyebut dirinya sebagai suara hujan di multipi, yang membawa gambar gambar perempuan setengah telanjang ke atas pentas -seolah mereka sedang menari. Lalu para lelaki mendekat dan saling seolah ingin menyongsong tubuh tubuh yang molek itu. Dan suara hujan atau amarrelia ini menyebut puisinya sebagai adakadabra -sebuah idiom di dunia sulap di mana sang pesulap membuat aneka keajaiban dari mantranya. Tapi pada suara hujan, dunia mantra adalah dunia jampi-jampi. bahkan saat mantra diucapkan oleh benda benda alam yang di tangan suara hujan menjadi hidup: angin yang berjampi jampi, dan pasir yang pada ketakutan berlari.

Angin punya mantera lalu debu pasir takut dan berlari.

Konon terkata dunia modern adalah saat orang bisa menguak rahasia alam dan alam pun bertekuk lutut pada manusia. Bak bujang bertekuk pada gadisnya. Atau gadis berlutut pada bujangnya. Dunia penghasil tehnologi pengubah alam. Di tangan suara hujan klaim modernisme itu kembali: betapa alam tunduk pula sesuai citraan perasaan hatinya: dengan mantra angin maka debu dan pasir berlarian takut. Padahal mungkin, dari sudut eksistensi debu dan pasir serta pasir dan angin, mereka enak-enak an bermain seolah di dunia kanak: saling siram menyiram dengan air hujan.

Mungkin di kejauahan induk angin dan induk pasir ceria melihat anak anak mereka bermain dorong dorongan membentuk pusaran pasir debu dan angin. Bahkan membentuk badai pasir dan angin dalam beliung.

Tapi suara hujan melembutkan mereka ke dalam hatinya yang mesra: di sapanya benda alam itu dengan jampi-jampinya. Jampi dari jampi angin yang membuat debu dan pasir berlarian.

Tapi bersama suara hujan kita mendapat mantra lain lagi. Yakni mantra tubuh dan mantra tubuh yang menjadi gambar.

Pembaca, anda bisa meninggalkan mantra tubuh suara hujan dalam kata-kata dan lalu bisa menyimak saja tubuh-tubuh hasil jepretan Adi Wirantoko. Lihatlah di sana tubuh di bawah panggung mendekat dan bersorak ke tubuh di atas panggung. Aduh behenolnya. Aduh Ai indahnya. Dan aduh nafsunya. Tapi mantra tubuh suara hujan tak mengabarkan nafsu seperti itu: malah ironi dari tubuh itu sendiri.

aku juga punya mantera.
kuucapkan
dan laki laki
mendekat

Tentulah bukan maksud bait ini mengobarkan nafsu tapi malah sebaliknya: bersikap sinis karena kata-kata itu bisa kita baca sebagai tafsir sindiran pada gambar: betapa nafsu tak perlu kapitalisasi dari sebuah dunia industri semacam itu. Kalau nafsu ya tariklah ke kamar untuk private dinikmati. Dihidupi dengan cinta.

Maka aku juga punya mantera… terasa sebagai sebuah peringatan. Sebagai ajakan untuk merenungkan.

Tapi nafsu memang berkobar dalam tubuh manusia dan karena itu dengan cepat pula suara hujan mengatakannya dalam kalimat yang dipasangnya berimpit seolah ia hendak mengabarkan tubuh yang ndut-ndut an setelah buka baju buka beha buka celana itu.

Suara hujan yang membuat “nafsu” dengan kata kata dan gambarmu itu.

Mantera Suara Hujan? “AbrakadabrA”
angin punya mantera ‘abrakadabra’
diucapkannya
lalu debu pasir berlari…
ketakutan.

aku juga punya mantera.
kuucapkan
dan laki-laki? berlari…
mendekat.

mantraku sederhana
‘bukabajubukabehabukacelanadalam’ (bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *