(3) angkatan sesudah 2000 – dunia tanda yang membelah diri

Hudan Hidayat

Pengarang perempuan di facebook

Perempuan yang menulis sastra ini, mendapat bentuknya yang lain saat saya mengamati sebuah dunia maya yang lain yakni facebook. Entah karena sistemnya yang lebih bisa bersahut-sahutan, di sini saya saksikan intensitas penulisan sastra dan respon mereka yang masuk dalam pertemanan facebook-nya lebih cepat terjadi dan lebih semarak.

Di sini seperti pengarang sastra di multiply sana, membelah juga ke dalam bentuk penulisan apa yang kita sebut sastra profan dan relijiusitas dengan tanda petik itu. Atau bolehlah saya mewakili pendapat umum itu dengan apa yang saya sebuat sebagai “sastra agama” dan “sastra pornografi”. Sastra agama dari nilai nilai agama formal yang hendak didorongkan ke dalam tiap tiap unsur sastra. Sastra pornografi yang memandang penceritaan tubuh ” biasanya tubuh perempuan” sebagai nilai nilai sastra yang seolah sudah menjauh dari nilai nilai agama.

Segera terlihat belahan penulisan semacam itu seolah naluri atau insting yang bekerja dalam tubuh manusia -dalam hal ini tubuh pengarang perempuan yang membuat ciptaan-ciptaan sastra. Yang paling tegas saya melihat belahan itu pada diri pengarang seperti deasy nathalia, dewi maharani, anita, mey alamidah, jehan, Helga atau kemuning, untuk menyebut beberapa representasi sebagai “sastra agama” di satu pihak, berhadap hadapan dengan belahan seperti weni suryandari, atisatya arifin, erna hernandith atau novieta tourisia “sastra pornografi” di pihak lainnya.

Pada deasy nathalia saya melihat berjalannya sebuah imajinasi yang membawa asosiasi hidup pada dunia binatang dan suasana yang menjadi setting cerita dalam puisinya. Seperti terlihat dalam sebuah puisinya yang mengambil judul yang unik, kupu kupu salju, sebuah mahluk yang sempat di komentari oleh pembaca puisinya sebagai sesuatu yang tak mungkin, walau ia tetap mengakui keindahan maknanya. Bahwa kupu kupu tak mungkin bermain di daerah bersalju. Sangat mungkin dalam realitas kenyataan kupu kupu salju deasy nathalia memang tak ada. Tapi kini kita sedang berhadapan dengan dunia fiksi -dunia puisi di mana sang pengarang seolah tuhan yang bisa menciptakan rupa rupa peristiwa dan benda -juga suasana. Dengan kun dalam puisi -kelebatan imajinasi dan impulsitas dalam diri sang penyair, maka terciptalah kupu kupu salju itu. Sebagaimana terciptanya angsa putih yang saya baca sebagai hati yang putih. Hati putih dari manusia yang menjalarkan pikirannya dan kini ia melamunkan hidupnya dengan seolah melihat sebuah angsa putih.

Sebuah puisi dunia terjemahan ikranegara mengambil judul angsa angsa liar, dan itulah saatnya willian butler yeats sang peraih nobel kesusastraan merenungkan kehidupan dengan membayangkan kawanan angsa liar di sebuah musim dingin. Sebuah puisi memang bisa menjadi sebuah representasi dunia yang luas – semesta ini, universe. Saat yeats berbicara tentang “musim gugur, jalan setapak di hutan, langit yang diam atau bebatuan”, adalah undangan untuk asosiasi di dalam puisi tentang hidup itu sendiri. Tentang manusia yang sendirian berjalan di dalam kehidupan yang seolah hanya memiliki sebuah jalan setapak di hutan kehidupan -jalan setapak yang memang diperuntukkan untuk dirinya di dalam sebuah kehidupan yang tak semuanya mempunyai jawab – seolah alam membisu, atau “langit yang diam” dalam larik puisi yeats. Ketakpunya jawaban yang ditempatkan dalam kehidupan yang keras seperti kerasnya bebatuan.

Karena itu sambil menghibur diri dengan alam -musim gugur itu, sebuah musim yang indah dalam pandangan sang aku lirik dalam puisi, kisah angsa angsa liar itu pelan pelan terasa menjelmakan sebuah musim yang bernyanyi tentang kekalahan manusia walau dunia nampak indah dalam pandangan mata. Bahkan mungkin kematian -musim gugur itu. Seolah sang penyair telah menangkap dengan mata batinnya “musim gugur dalam hidup manusia”, maka begitulah sang penyair di tengah musim gugur itu mencoba menjaga sebuah ruang yang masih mungkin ia miliki. Yakni ruang keindahan indera indera dalam dirinya. Indera yang bertaut dengan indahnya alam, musim gugur yang di dalamnya ada juga secercah keelokan angsa-angsa liar itu.

Maka setengah putus asa (bukankah sebelum ia menghitung nasib itu pun sudah menjauh dari dirinya -mendadak saja mereka terbang/berpencaran dalam lingkaran yang patah patah/dengan sayap sayap yang rebut) setengah gembira, sang penyair dengan tekun mengamati angsa angsa liar itu (aku amati dengan tekun mahluk mahluk pintar itu, katanya)

Aneh, betapa eloknya;
Di antara rumput air yang mana mereka bersarang,
Pemandangan yang menyenangkan itu, ketika aku bangun
Menemukan mereka sudah pada menghilang?

Jadi nasib itu pergi lagi. Kehidupan yang seperti bebatuan keras itu tetap tinggal kehidupan yang tak punya jawabnya -mereka sudah menghilang.

Saya menangkap pertemuan nasib di dalam puisi yeats. Di mana sang aku menjadi pasif dan penyair yang aktif mencatat kesannya kepada dunia sekitarnya. Maka angsa liar bisa dibaca sebagai sebuah kehidupan yang tak bisa dikendalikan. Kehidupan yang tak hendak tertib. Bahkan isyarat kematian juga dengan diksi musim gugur.

Pertemuan dengan nasib, permainan dengan nasib, pada puisi yeats itu, makin terasa kalau kita hilangkan judulnya: angsa angsa liar. Dan lalu kita menemui mahluk semacam unggas di sana. Yang kita tidak tahu namanya. Dan memang bukanlah maksud yeats untuk berbicara tentang unggas-angsa itu. Tapi melalui unggas, angsa itu. Ia sedang hendak berbicara tentang dirinya atau kemanusiaan secara umum.

“Mereka berenang di arus dingin, ke mana mereka pergi, hati mereka pun makin matang”, tetap saja tidak membuat kita “simpati atau empati” pada angsa angsa liar itu. Tapi simpati dan empati kita justru terpusat kepada sang aku lirik dalam puisi. Aku lirik yang termenung melalui, atau dengan jalan, adanya angsa-angsa liar pada sebuah musim dingin. Angsa liar dari penyebutan atas nasib manusia itu sendiri. Nasibnya sebagai aku lirik dalam puisi, yang dipindahkan dari sang aku yeats sebagai penyair. Sebagai manusia.

Maka sebuah lariknya yang berkata, -gairah atau menang/ kemana mereka pergi/masih menunggu mereka, dengan larik awal sebagai penyimpul yang terbaca “hati mereka pun makin matang”, sampai kepada saya bukanlah sebagai sebuah perasaan yang bisa kita lekatkan kepada angsa angsa liar, tapi, sekali lagi, kepada sang penyair yang telah memindahkan diri sebagai aku di alam puisi. Kepada kemanusiaan pada umumnya.

Angsa angsa liar di coole

Indahnya pepohonan di musim gugur,
Jalan setapak di hutan sudah kering,
Di bawah langit senja oktober
Air memantulkan langit yang diam,
Di tepian di antara bebatuan.

Musim gugur kesembilan belas sudah tiba untukku
Sejak perhitunganku yang pertama
Kulihat, sebelum aku selesai menghitung
Mendadak saja mereka terbang
Dan berpencaran dalam lingkaran yang patah patah
Dengan sayap sayap yang ribut

Aku amati dengan tekun mahluk mahluk pintar itu
Dan sekarang hatiku trenyuh
Irama kelenengan sayap sayap di atas kepalaku
Melayang dengan kepakan ringan

Belum lelah juga, sepasang demi sepasang
Mereka berenang di arus dingin
Yang nyaman, atau terbang ke udara tinggi
Hati mereka pun makin matang
Gairah atau menang, ke mana mereka pergi,
Masih menunggu mereka.

Tapi sekarang mereka di arus yang tenang
Aneh, betapa eloknya
Di antara rumput air yang mana mereka bersarang
Pemandangan yang menyenangkan itu, ketika aku bangun
Menemukan mereka sudah pada menghilang.

Berbeda dengan puisi deasy nathalia -sebuah perbedaan yang sudah terasa di dalam permainan lambang hidup yang dilekatkan pada judul: yeats angsa-angsa liar, untuk menyebut nasib, sedang deasyi angsa putih, untuk menyebut hati manusia yang baik, yang sabar. Di sini deasyi memang berbicara tentang mahluk yang dilihatnya dalam mata batinnya -seekor angsa, angsa putih, sambil juga melalui seekor angsa itu bicara tentang dirinya.

Agaknya tekanan pada angsa -angsa putih pada deasy nathalia, penyebutan angsa liar sepintas lalu pada yeats, datang dari penulisan perempuan dan penulisan lelaki. Lebih khususnya pada deasy nathalia sebagai seorang ibu rumah tangga, dan nota bene ia yang seorang penyair tanpa bergulat dengan, atau tanpa memiliki kesadaran utuh, pada dunia wacana.

Kita bisa membayangkan sebuah beban mengurus rumah tangga, dan sebuah daerah pengembaraan baru, daerah kegembiraan baru seorang perempuan bernama deasy nathalia, yang saat bertemu media semacam facebook sekaligus menyadari dalam dirinya ada talenta menulis syair. Naluri seorang ibu membuat dia mengakrabi binatang yang bernama angsa.

Ketidakakrabannya dengan wacana dan wacana yang berpindah ke dalam dunia puisi, membuatnya nampak lugu berbicara tentang angsa tanpa beban harus menyelinapkan pemikiran tentang kesepian nasib seperti yang nampak pada puisi yeats. Maka seorang deasy tidak harus mencari selang seling dunia lambang untuk menarik sebuah asosiasi tentang hidup dalam puisinya. Tapi langsung saja dia bicara tentang angsa putih yang dibayangkannya, atau diimajinasikannya. Tapi lihatlah hasilnya: betapa puisi yang datang dari dunia wacana bertemu juga ketinggian nilai dan keindahan pengucapan dengan puisi yang datang dari impuls seorang yang memiliki talenta dalam bahasa puisi: deasy sang penyair.

Melalui angsa putih kita dibawa oleh deasy ke dalam dunia unggas bernama angsa putih, angsa putih yang nampak aneh dan membuat kita jadi haru, yang darinya kita bisa menyimak derita dan bahagia. Derita dan bahagia dari orang yang ikhlas hati. Bukan dari mereka yang meneriakkan kehidupan sebagai tak bermakna misalnya.

Begitulah saya memaknai angsa putih yang berenang memarut waktu, dengan ayunan kaki yang lugu, sebagai sebuah berjalannya seekor mahluk atau seorang manusia di atas dunia -deasy menyebutnya sebagai “tenangnya danau yang tak berdegup”. Seolah angsa itu merenung menghitung hidupnya, saat saya membaca larik deasy: Angsa putih berenang memarut waktu / Di hitungnya ayunan kakinya dengan lugu. Atau seolah hidup kita sendiri yang memunguti tiap kekalahan, tiap kegagalan dalam hidup. Tapi apapun jadinya kita tetap setia, seperti angsa putih itu tetap setia dengan kehidupannya. Sebab hanya hidup inilah milik kita. Kita tidak memiliki hidup yang lain. Hanya hidup ini saja. Suka dan derita hanya hidup inilah milik kita. Maka betapa dalam kesan yang ditimbulkan oleh angsa putih itu. Yang di sebuah musim yang dibayangkan oleh sang penyair, sebagai sedang berenang di tengah danau, atau sedang berjalan di tepi danau. Betapa di tengah segala derita orang masih bisa bahagia walau dengan sekedar “mencumbu angin berbisik sayup”. Seolah apapun jadinya masih akan ada harapan dan bahwa hidup tak semenderita seperti nampaknya.

Angsa putih berenang memarut waktu
Dihitungnya ayunan kakinya dengan lugu
Setia ia mencumbu angin berbisik sayup
Di antara tenangnya danau yang tak berdegup

“Angsa putih yang menari membelah sepi, angsa putih yang merayu langit, yang membentul lukisan nama, yang menebar butir butir sabar dengan sayapnya”, sungguh adalah sebuah kisah tentang unggas bernama angsa, angsa putih, yang membuat kita tertegun memikirkan betapa sang penyair memiliki sebuah visi intuitif yang unik terhadap kehidupan, sehingga angsa yang tak berpikir itu, angsa yang seolah diam dalam dirinya sendiri, kini menjadi hidup dan melalui gerak gerak tubuhnya mewakili kesunyian hidup manusia.

Sang penyair memang sedang melukiskan imajinasinya tentang angsa, angsa putih, tapi keindahan dalam puisi datang juga oleh sang aku lirik dalam puisi, atau oleh sang penyair sendiri, betapa dia telah seolah menjadi kanak kembali, bermain main dengan angsa dan danau, memandang sebuah kehidupan di depan matanya dengan kekaguman tanpa beban pikiran: Kulemparkan pandangan kagum/Betapa setianya angsa itu mengulum

Tapi kejutan datang juga di akhir larik di akhir bait, kejutan bahwa sang penyair melalui kehidupan sebuah angsa, angsa putih, sebagaimana yeats melalui kehidupan angsa angsa liar telah mengasosiakan maut dengan musim gugur, telah melihat maut itu hadir walau seolah olah mereka tak membicarakannya atau enggan menyebut nyebutnya. Maut yang merenggut kebahagiaan manusia. Hadir dalam impulsitas yang bahkan oleh deasy tak disadarinya: maut mengundangnya tuk berhenti.

Angsa putih berenang memarut waktu
Di hitungnya ayunan kakinya dengan lugu
Setia ia mencumbu angin berbisik sayup
Di antara tenangnya danau yang tak berdegup

Menari ia membelah sepi
Di tatanya senyuman tuk sambut pagi
Berhias peluh ia berputar membentuk lukisan nama
Yang selalu saja ia tampilkan di setiap tarian pedihnya

Angsa putih merayu langit
Agar hujan segera membasuhnya bait per bait
Tepiskan debu dari tubuhnya
Kuyup melembabkan seluruh kulitnya

Dengan tenang ia mengayun kaki-kakinya
Sesekali membentangkan sayap meresap warna
Di tebarnya butir-butir sabar berpencar
Di antara danau gusar yang terhampar

Sendiri ia menghias pelangi
Dengan warna miliknya sendiri
Tiada jingga, ataupun merah muda
Hanya beberapa warna pudarnya saja

Angsa putih berlalu tak perduli
Walau rerumpunan jemu melambainya tanpa henti
Di lukisnya satu nama yang selalu dinantinya
Di antara danau usang miliknya

Kini pagi tlah berganti jubah
Rembulan menguyah mentari dengan serakah
Bintang-bintang bercakap rahasia
Belantara meredup : pekat menyapa

Kulemparkan pandangan kagum
Betapa setianya angsa itu mengulum
Walau perih tak berniat ia menepi
Sampai maut mengundangnya tuk berhenti

Apa yang terjadi pada deasyi nathalia terjadi juga dengan dewi maharani – seorang ibu muda usia yang menjadikan sastra sebagai dunia kegembiraan, dunia pelepasan hati juga. Dewi saya kira menjadi istimewa selaku seorang ibu yang patah hati berpisah dengan suami dan kini tinggal sebagai tenaga kerja di singapura, tempat di mana ia diberi kebebasan bermain dengan dunia maya di sela sela pekerjaanya.

Sangat mungkin ia terkenang dengan nasib dua orang anaknya di Indonesia. Sangat mungkin ia terkenang dengan nasib perkawinannya yang gagal. Sangat mungkin ia teringat kembali betapa sang nasib seolah mempermainkan dirinya seakan burung kecil di tengah badai besar di udara. Sehingga ia seolah bernyanyi dalam puisinya yang berjudul “Untukmu sang pemetik harpa”:

kau mulai memetik dawai harpa itu
tanpa melodi … hanya dengungan yang menyayat hati
tak kau hiraukan telinga – telinga yang berdarah mendengarnya
matamu terpejam menikmati gemulai jemarimu memainkan nada – nada pilu

kenapa harus kau lagukan kidung yang berdengung itu
jika kau tahu bagaimana menggubah sebuah lagu
apakah kau sadar seluruh alam mendengar
dan kau lihat sekelilingmu membisu

tapi kau tak peduli
kau membuai diri dengan keji
kau tebarkan amarah yang memuai benci
lihatlah … petikan dawaimu semakin melengking tinggi !!!

hey kau sang pemetik harpa …
bukalah matamu dan turunkan nada
sedangkan kupu – kupu yang lemah nampak menakjubkan
mengapa indahnya bunyi dawai harpamu harus kau sia – siakan ….

bangunlah ..
gubahlah melodi yang indah
karena alam ini tak ingin melihatmu gundah …

dan dawai harpa itu …. menantikan sentuhan lembut jemari mu penuh rindu

dewi yang menulis sebuah cerpen yang amat indah perempuan itu ibuku (walau di ending cerpennya agak kedodoran), bagi saya tanpa tradisi menulis sastra adalah sangat istimewa apa yang telah dicapainya -seperti apa yang telah dicapai deasy nathalia juga.

Lihatlah hidupnya diibaratkan sebagai pilar, pilar yang ingin dicapai oleh tangan kecilnya berhadapan dengan -dunia maha luas yang memukul dentur selalu? dalam diksi chairil anwar. Betap pilar pilar hidup itu diinginkannya dan betapa pilar terakhir yang sangat diimpikannya itu ternyata retak juga karena dipatuk oleh burung gereja. Seperti terbaca di bawah ini, dari nasib yang diimajinasikannya, atau nasibnya sendiri, sebagai “telak”.

pada pilar – pilar yang menjulang dengan keindahannya
…….pada pilar – pilar yang terbangun oleh merdunya nyanyian burung gereja

……ku berdiri di antara empat pilar yang beratap hampir sempurna
masih bisa ku berlindung dari panas yang mengintip dan air hujan yang memercik
………….pada pilar – pilar yang begitu aku idamkan…………….
kulihat ada retak oleh patukan tajam burung gereja yang ingin merusaknya … telak !

Relijiusitas dan Profan dalam Polemik: sastra sebagai permainan tafsir

saat meledak polemik sastra pornografi yang dipicu oleh pidato taufiq ismail, saya dengan kukuh berkata apa yang disinyalir penyair taufiq bukanlah sastra pornografi, karena “seks” di sana seolah sampiran belaka untuk menuju ke daerah yang lebih tinggi – semacam jalan memutar untuk sampai ke tuhan.

begitulah misalnya saya membuat semacam pertahanan dari gempuran penyair kawakan ini dengan mengutip cerita pendek djenar mahesa ayu, menyusu ayah, sebuah cerita pendek yang banyak memancing kontroversi. saya ingat di sebuah diskusi buku di qb pondok indah, seorang yang hadir berkata dengan nyaman pada hadirin: luar biasa djenar, tak hanya sangat berani tapi fiksinya mengandung keindahan, kedalaman dari ceruk hidup yang, seperti kulihat di puisi tulus wijarnako di facebook, manusia disebutnya seolah gagak yang pelan, pelan, pelan, mendaki kehidupannya sendiri, berputar melintasi dunia. dunia hitam dan dunia putih manusia. seolah agar sampai ke tuhan, manusia itu harus menempuh jalan keliling yang panjang.

Bahkan jalan yang bisa “tersesat di pintu surgamu”, meminjam sebuah judul penyair arif gumantia dari madiun. Jalan di mana dalam larik larik penyair ini manusia bisa terantuk antuk dalam hidup. Manusia dengan cabang cabang laku dan nasib dalam hidup. Minta dikatakan dan minta diceritakan. Atau setidaknya minta direnungkan bahwa itulah hidup senyatanya. Hidup tak mudah dari jalan yang tak mudah. Lihatlah penyair yang baru saya jumpai di facebook ini mendaras dengan kata katanya: Sungguh aku tak tahu Tuhan

Yang kutahu Engkau tidak hanya ada
Di dinding-dinding Mushola
Di puncak-puncak gereja dan pura
Tapi Engkau juga hadir dan ada
Pada tawa anak jalanan yang membawa sebotol vodka
Pada pemulung yang meng-kais-kais sisa mimpinya
Pada Tubuh menggigil di etalase-etalase wanita
Yang menjajakan cintanya

saya sepakat dan begitulah dalam esai yang kini menjadi ikon itu, nabi tanpa wahyu, kukatakan seolah taufiq ismail itu nabi tanpa wahyu, memukul lawan polemiknya dengan ayat tapi ia tak punya legitimasi untuk menyandang kekuatan ayat dalam dunia puisi: puisi, toh akhirnya adalah dunia yang tak hitam putih seperti hidup. penuh luka dan penuh ceruk dalam tiap kedalamannya dan tiap misterinya. sesuatu yang dilupakan atau tak menjadi perhitungan para pendukung fiksi alat kelamin itu.

tapi begitulah kami meneriakkannya melalui kelompok memo indonesia: hidup yang penuh ceruk. hidup yang penuh, seperti sekali lagi meminjam diksi puisi tulus: seolah gagak yang hendak mendaki ke tebing.

saya menemukan kembali keindahan dunia kata yang datang dari puisi: puisi atisatya arifin. yang menyanding tuhan ke dalam organ kita yang paling intim: kelamin. disapanya tuhan dengan lembut sepenuh sayang, dalam judul puisi: menggoda tuhan.

Atau seperti erna hernandith yang menyebut secara intim pula anggota tubuhnya -payudara, yang diletakkannya ke dalam sebuah konteks kekecewaan relasional dengan pasangannya. Payudara yang disandingnya dengan rusuhnya hati dalam bahasa subversiv di dalam puisi.

Diantara puting susuku
ingin kubelai setiap legam helaimu
mengeja perjalanan
yang telah berkarat..

payudara yang sumber pemberi kehidupan atau pemberi kesenangan mendapatkan kontras terbalik dengan persamaan dibuat oleh penyair: ingin kubelai setiap legam helaimu -legam dari helai helain nasib yang nampaknya hitam. Atau dalam puisi erna yang lain, betapa keintiman dengan organ tubuhnya menemukan bentuk ucap fatalisme yang terus dirayakan dengan ritual yang aneh. Seolah musik aneh -ia menyebutnya resital terhadap keberadaan sang aku lirik.

Aku lirik yang dari judul puisi, pelacur matahari, kita telah tahu belaka adalah sebuah kisah perempuan yang telah terjebak dalam nasib yang fatal. Dan karena itu ia pun melakukan permainan fatal. Dinyanyikannya hidupnya yang fatal itu ke dalam nyanyian yang fatal. Seolah musik yang diulang ulang dan musik itu bernada aneh. Campuran ritual seolah mistik. Seolah peleburan jiwa yang menolak sebuah nasib tapi ia “perempuan di sana” tak berdaya. Maka ia pun terjun. Meruapi nyanyiannya dan masuk ke dalam fatalitas nasibnya. Menjadi pelacur matahari di bawah matahari nasib yang memanggangnya sebagai seorangp pelacur. Semacam tangis, semacam tawa sedih. Semacam ledakan, meluncur dari mulut pelacur matahari ini.

TeLah kurajam Vagina
diantara taburan akar dan kembang kamboja..
Meraupinya dengan banyu mawar teramat wangi.
Menghiasi puting dengan gincu merona.
Agar persembahkan pada Agung matahari.
Ketika api dan bara matahari telah menelusuri setiap Lekuk
ResitaL Yg jadikannya abu..

dan setiap itu pula ia menggenggam banyu agar kembali semerbak.
Untuk meritual resital kembali.

Seorang penyair weni suryandari, yang bersama atisatya arifin ini digempur oleh pembaca facebook, ilham yusardi, yang seperti taufiq ismail dan kawan kawannya, menghadapi sebuah fiksi dengan menyorongkan ayat ayat kitab suci tanpa tafsir, berseru dan menyerukan kepada pembaca facebook akan melawan sastra yang disebutnya sebagai sastra bokep. Bahwa sastra yang dibuat oleh orang orang semacam erna hernandith, atisatya atau weni suryandari adalah dan tidak lain adalah sastra bokep -film porno dalam dunia kata kata.

Tapi dia lupa bahwa hidup seperti lemari dengan banyak laci -seperti yang dengan amat indah diperlambangkan penyair weni suryandari tentang kehidupan. Setidaknya kehidupan yang dibayangkannya sebagai seorang penyair.

Lemariku punya empat laci besar besar
Satu laci berisi mainan lapuk
Lebih dari duabelas jumlahnya tak pernah kutengok

Terbaca oleh saya lemari yang dimaksudkan penyair ini adalah lemari dunia juga -dunia seperti lemari yang banyak lacinya-laci yang mengendap pada banyak hidup orang dan pada nasib orang. Atau lemari hati kita sendiri. Di mana hati kita sendiri seolah lemari dengan banyak laci. Laci yang telah dikatakan penyair weni sebagai laci dari hidup yang lapuk-lapuk, sebuah kata dari masa lalu yang telah menjauh. Lapuk, dari sebuah kata dari masa lalu yang mungkin kelam mungkin bahagia, sehingga sang aku lirik dalam puisi tak hendak mengenangkannya kembali -tak pernah kutengok, katanya.

Laci bagian tengah berisi
Surat cinta, sisa temaran lampu disko
Dan jejak bibir ciuman pertama
Ada juga suara mengaji saat lakuku Bengal
Dihantam sajadah ayah

Maka lihatlah yang “profan” dalam “sastra pornografi” itu bertemu seketika dengan yang “relijius” dalam “sastra agama” -ada juga suara mengaji saat lakuku Bengal/dihantam sajadah ayah.

Dari manusia aku lirik dalam puisi, sekali pun dalam puisi, tetap juga meneriakkan kehendak untuk hidup bahagia. Hidup bahagia atau kebahagian dalam hidup yang datang dari perjuangan yang panjang. Dengarlah teriakannya -sebagai suara dari teriakan yang diucapkan oleh manusia manusia di bawah langit ini.

Lalu laci terakhir baru berisi seperempat
Akankah kau isi sisanya?
Dengan pelangi ungu atau
Bulan kelabu

seperti dengan dunia fiksi mariana juga: misalnya cerpen yang berjudul celana dalam, suatu fiksi dengan pendekatan feminis dalam sastra, di mana sang tokoh perempuan di sana menggembok kelaminnya sendiri, semacam usaha membuktikan, atau semacam protes, tentang kaum perempuan yang terus dituduh itu. atau seperti dunia cerita pendek soe tjen di mana sang aku perempuan di situ seolah tubuhnya ditusuki para lelaki setiap hari – sebuah metapor dari kekalahan atau sesuatu yang hendak terus meminggirkan kaum perempuan – perempuan ditusuki lelaki di dalam perempuan berputik satu. begitulah fiksi itu: selalu menyanding hidup sebagai pembanding: kaca untuk menatap totalitas dari hidup.

Hidup yang digambarkan oleh prosa puisi geger riyanto sebagai anak yang terbaring dalam peti. Anak yang belum pantas untuk mati tapi telah dikubur oleh dunia orang dewasa karena polahnya. Atau ketika seorang penyair seperti khrisna pabichara yang menghidupkan kembali legenda lama, dayang sumbi, sambil memberinaya napas kekinian – kerja budaya yang saya lihat sudah dikerjakan sejak lama oleh orang seperti nuruddin asyahadie, yang memandang dengan amat kritis diksi yang dibawa goenawan mohamad ke dalam puisi: penyair sebagai malin kudang yang dikutuk.

Semuanya manusia, kita, seolah ditempatkan dalam “terowongan maut”, seperti yang terbaca dalam novel sitoyen saint-jean, sastrawan indonesia yang eksil di brussel. Berjuang untuk mencari eksistensi dirinya sendiri. Dalam momen seolah sakratul maut dari tik tok tik tok dalam puisi penyair fahmi faqih, tik tok dari ketukan waktu akan hidup di dunia, akan fananya, mau ke mana dan akan betapa, akhirnya, kesepian yang melanda tiap tiap diri membuatnya bereaksi, antara lain dengan ciptaan seni.

Seni, walau dalam dunia puisi andreas t wong diletakkan ke dalam dunia canda -humor. Humor yang membuat dunia puisinya terasa seolah hendak mengikuti jejak dari dunia puisi remy silado -puisi mbeling. Dari kerja sang penyair yang meletakkan begitu saja sepotong larik – seperti sitor situmorang dulu (bulan di atas kuburan), atau sutardjir calzoum bachri (dalam puisi luka: ha ha), dan andreas: bulan? aku cemburu. Atau: setetak sekuntum. Sebuah larik puisi yang membuat kita mempertanyakan apakah bedanya dengan selarik puisi dengan pendahulu pendahulunya itu.

Atau ahmad yulden Erwin, seorang penyair ketuhanan yang cemerlang dan baru saja menerbitkan buku syairnya yang menulis sebuah puisi berjudul tiada kata lalu hanya meletakkan sebuah koma (,) dalam tubuh puisinya. Begitulah hidup. Hidup yang digeraikan oleh salahuddien Gz sebagai ?Syahadat? dalam puisinya yang berjudul sama:

adakah tempat yang lebih celaka dari neraka?
ingin aku menghuninya
adakah makhluk yang lebih hina dari hyena?
ingin aku menjadinya
adakah penyakit yang lebih lara dari leukimia?
ingin aku menanggungnya
adakah gelisah yang lebih kacau dari cemburu?
ingin aku merasakannya

serahkan semua sakit, benci, cemburu,
nama buruk, apa pun deritamu padaku
beri aku durimu, bukan kembang mawarmu
beri aku racunmu, bukan madumu

selamat tinggal cinta dan sukacita
aku bukan apa-apa
bukan siapa-siapa

hidup dalam dunia puisi ts pinang yang mengangkuti carut marut dunia manusia modern ke dalam bahasa puisi:

“kami menatap setiap kata yang lewat. Menduga duga mana yang sekedar singgah, mana yang akan menetap. Kami harus bertahan agar mata kami memandang tetap. Tak luput menangkap aja saja yang menghampiri, mampir sejenak di haribaan kami”.

Dari hidup yang dilambangkan hasan aspahani sebagai:

“beribu pada semak belukar, berayah di hutan berular,
Kita lahir sungsang, saat bara memanggang kemarau.
Anak yang jauh dihalau asap, melenting tanpa sayap”.

Begitulah juga dunia itu menyeberang ke dalam puisi barjudul panjang penyair berbakat m aan mansyur, dalam manuskrip buku puisi cinta yang marah. Ia yang yang berkata jumlah usia kita akan berkurang, mulai menyusuri, atau memunguti, kenangan hidupnya satu demi satu:

Sebab Jumlah Usia Aku dan Kau Terus Saja Bertambah Sekaligus Berkurang, Maka Setiap Kali Selamat Menyeberangi Satu Malam Aku dan Kau Bersyukur dengan Mandi Bersama Sambil Melatih Kemampuan Matematika yang Pernah Aku dan Kau Pelajari di Sekolah Dulu

Di mana seperti kata penyair naz dalam facebook, tak beda lagi sebuah sunyi dan sebutir padi. Sunyi dan padi dari hidup kita sendiri.

miring kata awam, cara meneriak, berteriak, seperti itu. seperti kemiringan dalam dunia novel bulan jingga dalam kepala fadjroel rachman, di mana tokoh perempuan di sana berkata: saya menolak tuhan yang membunuh manusia.

Atau novel lanang jonathan rahardjo yang memperokporandakan ciptaan tuhan bernama manusia dengan menyusun nyusun ulangnya dalam permainan rekayasa genetika dari tokoh perempuan bernama dewi ? sang iblis dewi.

Sastra memang penuh pengucapan yang datang dari dunia subversiv yang mengganggu ketenangan persepsi umum. Seolah sastrawan hendak menggoyang persepsi umum dan menarik orang umum ke dalam renungan. Seperti yang dilakukan chavchay dalam novel sendalu dan payudara itu. Atau muhidin m dahlan dengan rekonstruksi ulang penciptaan adam dalam novelnya adama dan hawa, atau mengambil tema yang sempat membuat dirinya sebagai novelis di sidang oleh pembacanya, saat dan setelah ia keluar dengan novel berjudul: tuhan, izinkan aku jadi pelacur, sebuah novel yang meneriakkan suara sang korban. Bahkan seperti yang dilakukan juga oleh amien wasingtalaja dengan kitab rajam.

dan kemiringan semacam itu kulihat hadir dalam puisi atiyatsa ini. Seperti hadir juga dunia cerita pendek bamby, yang menceritaan seseorang yang hendak kawin lagi dan burungnya tegang terus – tegang terus yang kubaca tegangnya manusia di dalam hidup, di dalam semacam “ia” yang menyandang batu naik ke bukit dan batu turun lagi. tegang mengambil batu dan memapah batu ke puncak bukit.

begitulah hidup manusia: tegang menguak makna dari tuhannya. tapi bukan saja ia bahagia dengan tegang semacam itu, tapi memiliki ruang canda penuh kasih kepada tuhannya. seolah tuhan itu adalah teman yang menyenangkan. dan itulah dunia puisi menggoda tuhan atiyatsa ini: dunia canda dengan tuhan. di mana tuhan diturunkan dari status tingginya. menghilangkan jarak dan memendekkan jarak serupa itu, kubaca sebagai kehendak untuk mengabadikan: tuhan lebih dekat dari urat lehermu. maka terbukalah ruang ruang lain, dari kedekatan semacam itu. ruang yang paling intim untuk didialogkan manusia kepada tuhannya.

apa yang salah dari senggama bunyi larik atisatya.
tidak ada. lendir kaum lelaki adalah hidup itu sendiri.
seperti yang diteriakkan novel tuan dan nona kosong: kontol adalah alat untuk meneruskan kehidupan.

tapi dalam puisi atisatya ini, dunia kelamin itu berbelok menemui cara ungkap lain, dari dunia yang hendak direkatkannya dalam relasi tuhan dan manusia. tuhan diberinya bobot seolah ia yang cemburu melihat mahluknya begitu intim. seolah ia tak hendak diceraikan dari diksi aku lebih dekat dari urat lehermu sendiri.

maka itulah saat puisi atisatya berkata dalam lariknya:
tuhan mengintip di sempit celah kelambu: cemburu.

lihatlah: sebuah kata yang amat indah: tuhan mengintip di sempit celah kelambu: cemburu. indah yang datang dari dunia tuhan yang tak menakutkan. jauh dari tangan penafsir tuhan dengan tongkat di tangan atau sebuah peluru tajam yang dilayangkan kepada mereka yang hendak berbeda. atau mereka yang memaksakan diri ke dalam sebuah regulasi apa yang disebut sebagai uu pornografi itu.

“Tuhan iri melihat kita bercinta.”

maka lengkaplah sudah kehendak untuk mengambil wajah tuhan ke dalam wajah yang ramah, membahagiakan dan penuh dengan irama irama permainanan dalam hidup. Wajah tuhan yang diimpikan juga oleh penyair gagah saut situmorang dalam puisinya “saut kecil bicara dengan tuhan”:

bocah lelaki itu
duduk sendiri
di tanah kering
di belakang rumah

diangkatnya wajahnya
yang kuning langsat
ke langit
yang kebiru-biruan

matanya yang hitam
tak terpejam
asyik mengikuti gumpalan gumpalan awan
yang dihembus angin pelan pelan

dia tahu tuhan tinggal disitu
di langit biru di balik awan awan itu
karena begitulah kata ibu
tiap kali dia bertanya ingin tahu

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *