Boundary

Ida Ahdiah
http://www.suarakarya-online.com/

Perempuan itu tiba sebelum boundary buka. Di muka pintu penyewaan mesin cuci itu, ia mengibas-ibaskan telapak tangannya. Lalu meniup-niupnya. Ia mencoba menghangatkan tangannya yang beku.. Diambilnya secarik kertas dari tas yang disandangnya di bahu. Matanya mencocokan nomor di atas pintu dengan nomor di kertas.

Ia bergumam, “Sebentar lagi aku akan bertemu suamiku.” Ia menarik nafas, menghembuskannya lega. Perempuan dengan mata kurang tidur itu, mengenakan sweater musim gugur yang tipis. Mungkin ia lupa melihat ramalan cuaca yang menyatakan pagi ini udara mendekati nol, memasuki musim dingin. Ia ketatkan hood di kepala yang menyatu dengan sweaternya. Lalu ia melapisinya dengan syal hitam yang kumal. Tentu saja itu belum cukup, maka pantaslah jika ia menggigil. Ia membawa sebuah tas besar. Berisi apa lagi kalau bukan cucian?

Dengan tubuh menggigil ia lekatkan wajahnya di kaca. Di dalam ruangan boundary dua puluh mesin cuci belum menyala Pintu-pintunya terbuka. Empat mesin pengering besar menganga. Matanya segera menangkap seseorang sedang mengangkat kaki, menikmati kopi, dan menonton televisi di ruangan setengah terbuka, tempat penjaga. Perempuan itu gembira itu bukan main, berharap lelaki itu adalah Sadek atau temannya Sadek. Ia coba membayangkan wajah Sadek. Lalu muncul seraut wajah pria tampan berkulit gelap, hidung tinggi, namun jarang tersenyum.

“Hi, halo, Sadek kah ..” Perempuan itu meninggikan suara, mengetuk-ngetuk kaca, melambai-lambaikan tangan.

Entah berapa lama dia melakukannya, tanpa putus asa sampai si penjaga berdiri, bukan karena panggilannya, tapi saatnya membersihkan mesin cuci. Ia kecewa ketika mengetahui lelaki itu bukan Sadek seperti harapannya. Lelaki itu mulai membersihkan mesin cuci dari yang paling ujung. Ditelitinya bagian dalam mesin cuci, barangkali ada cucian tertinggal atau benang menyangkut. Lalu memeriksa lubang sabun, pewangi, dan pemutih, jangan sampai tersumbat. Tiba di mesin nomor 10 ia mendengar suara.

Lelaki penjaga melihat perempuan sedang mengetuk-ngetuk kaca. Ia mendekat, meneliti perempuan bermata, hidung, dan bibir yang tertata baik, berparas India. Dia bukan salah satu pelanggannya. Pelanggan pertamanya di hari Sabtu, selalu tiga keluarga dari Peru, yang tiba saat boundary buka. Mereka akan menggunakan 7 mesin cuci. Pelanggan perempuannya datang pukul 10. Dandanannya punk, rambut dicat warna-warni, dengan tato di lengan, dan telinga penuh anting. Selanjutnya sepasang nenek dan kakek yang tak henti beradu pendapat.

“Jika hendak mencuci boundary ini belum buka,” kata Lelaki itu seraya membuka sedikit pintu.
“Aku akan menemui Sadek,” kata perempuan itu sambil mendorong pintu agar terbuka lebar.

Si penjaga menduga, Sadek adalah pelanggannya yang lain, Ia melirik arloji. Boundary buka 10 menit lagi. Ia buka pintu. “Aku masih harus membersihkan mesin cuci. Kalau hendak mencuci, kau bisa ggunakan mesin nomor satu dan lima.”

Perempuan itu masuk tergesa-tergesa. Ia tidak memasukkan cucian ke mesin cuci, melainkankan menuju kamar mandi. Sepuluh menit kemudian ia keluar mengenakan sari merah marun. Wajahnya segar dengan make up tipis. Rambutnya yang panjang diikat longgar.
Si penjaga terpana. Ditelitinya perempuan yang tampak anggun itu dengan seksama.

“Aku Salma,” ia mengulurkan tangan, “Aku datang untuk menemui suamiku, Sadek.” Ia menunjukkan foto pria dalam pakain pengantin tradisional. “Jam berapa dia datang? Aku sudah tidak sabar.”

Lelaki itu terdiam sebentar, mencoba mencerna ucapan-ucapan perempuan di depannya. Lalu katanya, “Tak ada pekerja bernama Sadek.”

“Di sini dia mungkin dipanggil Sad, Dek…” Dari dompetnya perempuan itu mengeluarkan kertas. Di situ tertulis nama Sadek lengkap dengan alamat boundary.

“Akan kutelepon bos. Aku baru bekerja di sini enam bulan.” Lelaki itu memutar telepon. Setelah telepon ditutup ia berkata, “Bos bilang Sadek bekerja di boundary miliknya di tempat lain. Bos akan menyuruhnya datang menemuimu.”
“Terima kasih untuk mencarikan Sadek untukku,” kata perempuannya itu dengan senyum mengembang di wajahnya.

Orang-orang di kampungnya selalu mengira Sadek akan pergi begitu saja seperti lelaki lain meninggalkan istrinya tanpa kabar berita. Sementara istri menunggu hingga ajalnya tiba. Kini Salma yakin Sadek bukan lelaki seperti itu. Jika ia tak ada kabar berita, itu karena ia sibuk mencari uang, dan mempersiapkan kedatangannya.

Salma membayangkan, Sadek akan terkejut melihat kehadirannya. Lalu…Salma mengira-ngira akan ada bulan madu kedua. Setelah itu, ia akan mengatakan pada Sadek jika ia siap membantu suaminya bekerja apa saja. Menanggung hidup bersama, beranak pinak, layaknya sepasang suami istri.

Setahun lalu Salma dijodohkan dengan Sadek, lelaki perantau dari kota lain. Salma menerima perjodohan itu seperti perempuan-perempuan lain di desanya menerima. Keluarganya mengeluarkan uang besar untuk mas kawin yang diminta oleh keluarga Sadek. Perhelatan besar pun berlangsung meriah.

Secara tradisi di negerinya mas kawin adalah pemberian yang diberikan oleh keluarga pengantin perempuan untuk bekal putrinya berumah tangga. Siapa tahu kelak ia butuh uang untuk sekolah anak atau tiba-tiba suaminya tidak bekerja. Tapi kini fungsinya ada yang menyalahgunakan. Seorang lelaki mau menikah, meski tidak cinta, jika diberi mas kawin tinggi. Akibatnya tak sedidik pria memperlakukan istri seenaknya. Menyiksanya dengan alasan tidak cinta dan meninggalkannya. Karena tradisi tak banyak yang berani melapor ke polisi.

Sebulan menikah, Sadek mohon diri kembali merantau. Ia kembali meminta uang kepada keluarga Salma untuk ongkos dan menyewa tempat. Ia berjanji akan mengajak Salma setelah segalanya siap. Salma melepas dengan suka cita dan doa.

Setahun berlalu tak ada kabar berita. Keluarga Sadek mengaku (mungkin juga pura-pura) tidak tahu keberadaan Sadek. Seorang perantau yang pulang, mengaku pernah bertemu Sadek. Ia memberi Salma alamat Sadek. Berbekal itu Salma menemui suaminya di negeri yang belum pernah disinggahinya.

Pukul delapan pelanggan boundary berdatangan. Pertama tiga keluarga dari Peru, lalu sepasang kakek dan nenek, seorang mahasiswa yang selalu membaca buku, gadis punk, diikuti nenek Ong dari Kamboja, yang gemar mengajak ngobrol.

Lelaki penjaga sibuk mengatur lalu lintas cucian. Kadang mesin berhenti, selesai mencuci, pemiliknya sedang belanja. Tugas lelaki itu mengeluarkan cucian ke dalam keranjang. Sebab pelanggan lain sudah menunggu. Sabtu dan Minggu, antrian di boundry selalu panjang, sampai menjelang tutup pukul 9 malam.

“Sambil menunggu mari kubantu,” kata Salma, mengambil sapu dari tangan si penjaga. Lalu mengepel lantai yang basah. Juga turut mengatur lalu lintas mesin cuci dan pengering yang semakin siang kian padat, karena pengunjung semakin banyak. Ia lakukan itu semua dengan senyum, dengan harapan berbunga akan bertemu Sadek.
Gadis berambut punk mengira, perempuan gesit itu istri si penjaga.
“Dia istri Sadek. Kenal? Katanya pernah bekerja di sini,” kata lelaki penjaga pada gadis itu.
Gadis itu mempermainkan anting di hidungnya, mencoba mengingat-ingat. “Kalau lihat wajahnya mungkin aku ingat. Tapi nama…Aku juga tidak tahu nama kamu.”
“Jamil.” lelaki itu menyebut namanya.

Semakin siang boundary semakin bising oleh suara mesin cuci, pengering, teriakan, obrolan, dering telepon. Salma tampak tidak lelah hilir mudik membantu Jamil, yang diam-diam membayangkan betapa beruntung jika ia punya istri seperti Salma cantik, cekatan, dan kelihatannya mau diajak hidup sengsara. Ia penasaran ingin melihat Sadek, yang tak tahu diuntung itu.

“Kamu punya anak?” Tanya Jamil saat keduanya duduk makan siang. Jamil membagi bekal makan siangnya berupa nasi biryani untuk Salma.
Salma menggeleng. “Kamu bagaimana?”
“Aku masih lajang. Kau kenal keluarga gadis yang mau memberiku mas kawin besar,” canda Jamil.
“Berapa yang kau mau?” Salma menanggapi serius.
“Wow, wow, itu bukan tradisiku. Justru aku yang harus memberi mas kawin pada calon istriku.”
“Berapa banyak kau harus memberi?”
“Tidak ada aturan yang pasti. Kalau aku punya uang, apa sih yang tak kuberikan untuk istriku tercinta.”
“Kamu baik sekali.”
“Kamu juga baik sekali.”
“Sesungguhnya aku tidak suka tradisi ini. Memberi peluang pria untuk memeras dan melecehkan perempuan. Semoga Sadek tak seperti itu.”
“Bagaimana kau tahu?”
“Kau yang bilang dia akan datang menemuiku.”
“Eh, kok dia belum datang ya. Mungkin sedang potong rambut dulu agar kelihatan tampan.”
“Hm. Aku suka rambut dia yang ikal agak panjang, melewati telinga. Dia tampan seperti bintang film India, lho.”
Seorang lelaki berjalan ke arah Jamil dan Salma.
“Katanya ada perempuan yang mencari Sadek?”
Jamil menunjuk Salma, yang menatap lelaki itu penuh harap.
“Aku Sadek Ibrahim. Kamu?”
Salma meneliti lelaki di depannya, berkumis dan berjambang tebal, berusia 50 tahunan dengan perut buncit. Wajah Salma pucat pasi. Lalu ia benturkan kepalanya ke tembok dan meraung-raung.

VPM, Januari 2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *