Dongeng Eropa Kolaborasi Dua Bangsa

Ignatius Liliek
http://www.suarapembaruan.com/

Sastrawan, Sitok Srengenge tampil membacakan sebuah naskah berjudul “The Nightingangle” di Pusat Kebudayaan Belanda, Erasmus Huis, Jakarta, Rabu (12/3). Pertunjukan yang membacakan naskah dari sejumlah seniman ini merupakan kolaborasi antara Sastrawan, Sitok Srengenge, Dalang, Slamet Gundono serta Dutch Chamber Music Ensemble (DCME) sebagai pengiring musik.

Kolaborasi unik antara pedalang Slamet Gundono, penyair Sitok Srengenge, dan Dutch Chamber Music Ensemble (DCME) dari Belanda, dalam lakon berjudul The Nightingale di ruang pertunjukan Erasmus Huis, Jakarta, pada Rabu (12/3) malam mendapat sambutan meriah. Dongeng Eropa dalam kemasan lokal.

Tepuk tangan penonton terus membahana, padahal pemain telah beranjak ke balik panggung. Tetapi tepukan penonton yang tak kunjung berhenti, “memaksa” mereka kembali ke atas panggung untuk menyampaikan ucapan terima kasih, serta salam perpisahan. Penonton pun akhirnya “merelakan”, mereka turun panggung.

The Nightingale merupakan pertunjukan kolaborasi musik dan teater. Dari mulai tokoh wayang yang terdiri atas karakter orang-orang dalam kekaisaran Tiongkok, narasi yang dibacakan Sitok sebagai narator, hingga musik yang modern dari DCME. Pertunjukan wayang ini pun terlihat benar-benar berbeda dari biasanya.

Gaya Slamet Gundono yang dikenal sebagai dalang wayang suket, sangat atraktif dan komunikatif dengan penonton. Ia tahu betul, kapan harus duduk di balik layar dan kapan harus maju ke depan layar. Selain menggerakkan tokoh-tokoh wayang dari balik layar, sesekali Slamet juga menari dan menyanyi di depan layar. Tubuh tambun Slamet tergolong lincah menari.

Penonton pun terhibur melihat aksi panggungnya. Bahkan tak jarang terdengar suara tawa penonton, ketika melihat gaya Slamet menari sambil melucu. Pertunjukan ini kian menarik karena adanya keserasian antara musik chamber ensemble yang dimainkan DCME dengan narasi yang dibacakan Sitok. Meski sesekali suara Sitok hilang “ditelan” musik pengiring, naluri Sitok sebagai penyair cukup tajam untuk tak memaksakan diri “melawan” suara musik.

Kisah The Nightingale diadaptasi dari cerita dongeng Hans Christian Andersen. Ada tokoh seekor burung Bulbul bersuara emas yang menjadi kesayangan kaisar. Suatu ketika kaisar mendapat hadiah sebuah boneka burung Bulbul yang terbuat dari emas, permata dan batu-batu mulia.

Boneka burung itu juga bisa bernyanyi seperti burung Bulbul asli. Boneka itu pun menjadi kesayangan kaisar, sehingga burung Bulbul asli memutuskan untuk meninggalkan kaisar.

Suatu hari boneka burung Bulbul mulai rusak “termakan” waktu. Kaisar pun jatuh sakit. Menjelang kematian Kaisar, burung Bulbul asli datang. Nyanyian burung Bulbul menyelamatkan kaisar dari skaratul mautnya. Sejak itu, kaisar pun menyadari, boneka Bulbul ternyata tak mampu memuaskan hatinya.

Menurut Slamet, dalam kisah ini terkandung pesan, manusia akan selalu membutuhkan alam semesta. Teknologi tak kan mampu merekam alam semesta seperti aslinya.

“Kita bisa merekam suara air di sungai, tapi ketika kita berada di sungai tetap saja keindahannya akan terasa berbeda. Di sana, kita juga bisa mendengar suara desir angin, harumnya rumput,” katanya ketika ditemui SP, usai pertunjukan.

Slamet mengatakan, kolaborasi unik ini merupakan yang pertama bagi mereka. Meski tak tergolong sulit, kolaborasi ini juga terbilang tak mudah.

“Tentu lebih sulit mendalang dengan iringan musik modern seperti ini, daripada gamelan dan alat musik tradisional lainnya. Kalau gamelan, saya sudah hapal tanda-tandanya, kapan harus diam dan kapan harus masuk,” jelasnya.

Sepanjang pertunjukan tersebut, Slamet mengaku, berusaha mengalir mengikuti nalurinya. Ia pun tak mau memaksakan Sitok dan musik dari DCME untuk menyesuaikan gerakan. Sebaliknya, Sitok tak berusaha memaksakan diri untuk menyamakan gerakannya dengan narasi dan musik.

“Semua mengalir begitu saja, kami hanya berusaha untuk saling mengisi satu sama lain tanpa harus saling memaksakan,” ungkapnya.

Rencananya pertunjukan yang sama akan kembali digelar pada Kamis (13/3) malam di Pusat Kebudayaan Prancis, Bandung, Taman Budaya Surakarta pada Senin (17/3) malam, Pusat Kebudayaan Prancis, Yogyakarta pada Selasa (18/3) malam, dan Cak Durasim (TBJ), Surabaya pada Rabu (19/3) malam.

Sebelum pertunjukan wayang bertajuk The Nightingale, DCME mengawali dengan membawakan komposisi karya Slamet Abdul Sjukur berjudul Kutang. Selanjutnya Sitok membacakan kisah Petualangan-Petualangan Ajaib Baron von Munchhausen dengan iringan musik DCME. Ketiga pertunjukan ini merupakan bagian dari rangkaian acara berjudul Chamber Music Festival Indonesia 2008, yang juga akan menampilkan kepiawaian pianis Belanda, Ellen Corver.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *