Publikasi Puisi Terasa Menyampah!

Anton Suparyanto*
http://www.kr.co.id/

BENARKAH (ke-)penyair(-an) mutakhir terjebak sampah kata, diskontinuitas antartradisi tiap generasi, ekspresi estetik yang mandeg, pun klise wawas rambah? Deret gejala ini menimbulkan sindiran terhadap banyak ?aku-lirik yang melakukan bunuh diri kreatif? dalam berpuisi.

Akan tetapi, fakta menunjukkan bahwa eksistensi puisi Indonesia mutakhir justru menjamur. Kuantitas ini menimbulkan sindiran pula bagi kepenyairan pada umumnya. Penyair hanya mempunyai kekuatan mencampur, mengumpulkan atau menyusun sajak-sajak sebelumnya. Ini menjadi indikasi ephemeral. Nyali penyair dan mentalitas kepenyairan menjadi ladang perburuan untuk mengukuhkan alamat individu-individu kreatif yang kuat, dominan.

Karena itulah ketika sosialisasi puisi Indonesia merambah piranti cyber dan publikasi di lembar koran serta penerbitan antologi (sastra buku) terasa ?menyampah?, muncullah paradoks baru. Yakni memperbincangkan nyali penyair dan mentalitas kepenyairan kita kali ini akan terjebak dalam logika banci diri. Fatalnya, kita menjadi gagap dan gegabah mempecundangi (ke)penyair(an) mutakhir.

Nun hari silam letupan kredo penciptaan Sutardji Calzoum Bachri 1970-an, hingga hari ini masih terasa menusuk agenda kepenyairan mutakhir. Sindirannya: ?puisi kita telah mati. Penyair mengejami kata tanpa memandang berkah kata. Penyair terkantuk-katuk mencari kata tetapi tidak setia menggali kata?. Jadilah barisan sajak ephemeral yang menggumpal di Jawa.

Imaji sepele (ephemeral) ini lengkap terbunuh ketika dikejami Tardji lagi: ?banyak kata yang mati dalam puisi, maka tak usah heran kalau kemudian puisi para penyair Indonesia terkini hanya berjalan di tempat?. Sentakan ini kian rapuh ketika ?Negeri Sampah? (1999), sempalan sajak Dorothea Rosa Herliany, tertoreh melambung:

/di rimba kosong, aku terbelenggu sampah kata-kata/
dunia lunglai dan kusut, perjalanan melingkar-lingkar/
dalam kekacauan dusta antara kebenaran dan tipu daya/
di hamparan tanah subur/
aku kehilangan jalan untuk tumbuh/
seperti siput yang berjalan tanpa jejak ludah/
mencari rumah sendiri di punggung/
dari tanah ke tanah tanpa nama, aku tak melihat fatamorgana/
:aku terkurung dalam sampah kata-kata…/

Lalu, hermeneutik yang tersisa buat kita setelah mengacai kebingungan mereka yakni kita terpandu dalam kegagapan baru antara fusion dan confusion bersajak. Akibatnya, ekspresi identitas secara anonim dan epifora penyair (istilah Lephen Purwaraharja, penyair Yogya) kian fenomenal dan menyampah. Jadi, yang terbaca adalah spirit imaji-imaji ephemeral yang pura-pura memaknai keterbacaan intelektual.

Di tengah penjamuran (kaya) penyair dan peluwesan slogan bahwa setiap individu berpotensi menjadi seorang penyair, nukilan Roland Barthes (1968) berikut ini menampakkan kemegahan yang menohok, yakni penyair hanya mempunyai kekuatan mencampur sajak-sajak yang telah ada sebelumnya, mengumpulkan atau menyusunnya kembali. Penyair tidak dapat menggunakan sajak untuk mengungkapkan dirinya, tetapi hanya memberdayakan kamus bahasa dan kebudayaan yang amat luas itu, yang selalu telah tertulis.

Tidak hanya Tardji dan Rosa yang memakluminya, tetapi nukilan itu pun telah menyeret tiga lontaran tokoh yang selalu bersyair, yakni Sitok Srengenge, Oyos Saroso HN, dan Gunoto Saparie, yang menggelisahkan penyair serta kepenyairan kita dewasa ini yang fenomenal, ephemeral, sekaligus anonimous.

Ada sinyalemen yang terasa mengapung bahwa takaran pengakuan diri sebagai penyair dan produksi kualitas sajaknya menjadi sumir, serta dibayangi gejala tidak sedikit penyair telah kehilangan agenda pokok dalam bersastra. Untuk itulah kita laik ambil ilustrasi tiga penyair tersebut di atas, lalu coba mengkritisinya.

Oyos Saroso HN (Jakarta) termakan argumentasi Sitok Srengenge (Gorong-Gorong Budaya Jakarta) yang pongah mengidentifikasi penyair dalam dua kategori besar, yakni menjadi penyair karena memiliki wahyu-kapujanggan dan menjadi penyair karena ?kutukan?.

Penyair yang berwahyu-kapujanggan menulis sajak sudah menjadi makanan sehari-hari (tanpa terbebani profesinya sebagai penyair), sedangkan penyair berkutukan menulis sajak sebagai beban (takut jika eksistensi kepenyairannya tidak diakui dan fatalnya menulis sajak pun menjadi kerajinan kerja tangan handicrafts? semata). Senyampang sisi ini Gunoto Saparie (Semarang) membias-naifkan tentang penumpukan cipta sajak oleh kalangan muda-remaja hingga menyeret sebatas penggumpalan kuantitas dan terjatuh pada kegombalan sumir (toh, berpuisi tidak menjanjikan gudang materi, apalagi sentuhan cyber yang lebih menggiring bersastra untuk semata-mata seremoni ekspresi tentang identitas pribadi yang nirbatas!).

Menilik underan pikir Sitok-Oyos-Gunoto tersebut, seakan jati diri penyair dan kepenyairan kita dikepras dengan tiga konsep sastra (buku-koran-cyber) yang cenderung berdimensi semu, snobis pun kitsch; yakni sastra sebagai mediasi infotainment (informasi-entertainmen) dan sebagai media jalan pintas menjadi pop poet (penyair pop) dan popular poet (penyair populer). Akan tetapi, kita tidak konsisten membedakan semiotika pop dengan populer itu.

Dua ragam alternatif inilah selalu menjebak penajaman wawasan setiap penyair dalam mengolah ladang kemandirian kepenyairan. Namun, halnya ibarat bumerang dan ironik.

Kita terus saja mengagungkan penyigaran penyair ala Sitok Srengenge tersebut. Terlebih pendewaan penyair dibenturkan pada embanan roh wahyu-kapujanggan maupun penyair keempuan. Senyampang ini pula, Nur Zain Hae (penyair Jakarta) mengklaim bahwa jalan pintas sedang melanda kepenyairan kita.

Untuk Sitok Srengenge, ada kecenderungan menilai dengan ungkapan nyinyir. exagerate dan contradictio interminis. Untuk Nur Zain, ada kecenderungan menilai kurang peka menyikapi wawasan zaman kepenyairan kita yang bergerak menurut tuntutan kesejahteraan ?oposisi-biner? antara miskin penyair vs kaya penyair; terobosan cipta vs penghalusan cipta; bakul penyair vs kulak penyair; ideologi estetik vs ideologi pasar; penyair buku vs penyair cyber, yang kesemuanya itu butuh sosialisasi dan upaya kanonisasi karya sastra yang berlabel Indonesia. Lantas yang menjadi menggelitik, mengapa kita harus membuat represi dengan bombasme yang melebih-lebihkan sekaligus menjelek-jelekkan citra-peran penyair yang tidak ada balansi dengan intimitas gejolak zaman? Nah, benarkah kita termakan fenomena penyair yang kehilangan agenda kepenyairan (keluh penyair Yogyakarta, Amien Rifai Wangsitalaja pun Sri Harjanto Sahid)? Ataukah kita ternyata terkurung iri, terjebak kenes-genit sehingga kita malah jadi penyair yang skizofrenis?

Salah satu jawaban alternatif bahwa jauh-jauh hari mellieu amour prope (istilah Goenawan Mohamad) dengan sandangan wisik, ketiban ndaru, jatah pulung Sang Hyang Wenang sudah memudhar, alias badhar, sehingga jagoan Soebagio Sastrowardojo (alm.) justru tetap mempertanyakan bakat alam dan intelektualisme kepenyairan. Kondisi penyair saat ini berada dalam bui sophisticated (penghalusan dan penajaman). Finalnya, jitu jika pengkotakan penyair dan kepenyairan dewasa ini ditagih dengan potensi negative capability (Budi Darma, 1995:180) sehingga mengerucut pada kompetensi bersajak untuk mencipta iklim ?poetika ketegangan? Andre Hardjana, 1981:60).

Rujukan negative capability tersebut tidaklah muluk-muluk, yaitu kemampuan untuk selalu dalam keadaan ragu-ragu, tidak menentu, dan misterius tanpa mengganggu keseimbangan jiwa dan tindakannya. Hanya pikiran dan hatinyalah yang selalu diliputi keresahan. Format seperti ini dapat dilihat dari dua sisi, yakni cara menguji konsep dan cara memberi bentuk pada konsep tersebut. Dampaknya bahwa produktivitas karya tidak membanjir tetapi hasilnya matang. Sisi inilah sejalan dengan pakem mencari. Lalu, apa dan bagaimana pembelaan kita terhadap nyali dan mentalitas (ke)penyairan(an) terkini? ***

*) Staf pengajar FKIP PBSID Universitas Widya Dharma (UNWIDHA) Klaten, Jawa Tengah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *