Saja-Sajak Arif Bagus Prasetyo

Kompas.com

Fantasma Aquarel

Liat dan telanjang
lebih ringan dari burung
ia turun.
Kolam gemetar. Cahaya gentar.
Seakan jam tergelincir
memasuki mulut air.
Sisa sayap dari lilin
mengirimkan harum tamarin
ke tidur hutan terbius hujan.
Hutan hujan. Di jantungnya aku belajar
membenci hidup. Berlumur lumpur mengintai mangsa.
Menunggu. Berlumut. Sekarat di habitat yang terendam.
Sesekali langit iba dan menggugurkan
bintang-bintangnya. Sosok sintal itu turun
menabur fosfor ke perairan.
Cahaya berdebur memuntir
ganggang-ganggang gasang dan meriang.
Siul siluman dan kelakar ular-ularnya.
Tunggu. Sesaat lagi ia menghilang.
Arus mendenguskan pusar. Buih memerah
dan rahangku akan rengat
merenggutnya.
Riak menghapuskan akhir.
Jam tertidur dalam air.

2002

Libretto Musim Gugur

(chit oo nyo & bounthanong xomxayphol)
Mississippi hanya ingin bernyanyi, ingin berbagi
seperti Chit yang sering menjelma jadi Rama
saat jauh dari pesing penjara Burma, dan menari
dalam hingar-bising rock ?n roll, musik traktor
padang-padang jagung Iowa, di demam plaza
malam Sabtu, sehabis dua-tiga gelas dry tequila
dan Jim Beam yang berenang dalam darah Nong
menggerutu:
Bangsat. Tahu apa kalian semua tentang musik?
Tentang sungai yang budiman perangainya dan
suka mengalirkan uang biar semua orang senang
dan tak sudi lagi berperang.
Omong kosong. Whitman sudah lama mati
dan di pesisir Mississippi masih kaulihat sesosok saman
mengelebat di antara tonggak-tonggak cedar merah.
Lelaki-lelaki bersisik merah melepas lembing. Sementara
puak Meskwaki harus membeli tanahnya sendiri
dengan aib rumah judi.
Come on. Mendingan kalian melancong ke Mekong.
Tak ada demokrasi. Dan silakan sepuasnya
mengisap candu dan perawan!
(michael zeller)
Tapi siapa yang tak pergi, desah seorang lelaki kisut,
di geladak Mississippi. Matanya basah terbasuh Rhine:
Kita boneka jerami tua. Kuda celaka
yang kehilangan ladam dan penunggang,
terkutuk untuk pergi, sendiri, selamanya
mengusung beban yang tiada.
Dewa-dewa. Mereka juga telah minggat. Tapi jejaknya
yang bergelimang darah, memburuku sampai ke sini.
Lihat, Wagner mendekam di etalase Coralville Mall
-Music of The Gods. Digital Stereo. The Gold Collection. Made in USA.
Gila. Aku selamanya pergi, tapi mereka
masih terhina, terluka parah:
?Apa? Dari Eropa, kaubilang?? seorang lelaki Polandia mencegatku
dan bersungut-sungut sengit, ?Jadi sekarang kalian pikir
Eropa adalah Jerman!?
(narlan matos)
Yeah. Memang kacau. Ke manapun aku pergi
180.000.000 kanibal mengekorku.
Menabuh tambur-tambur leluhur
di kegelapan rimba-rimba Amazon.
Kita semua binatang bebal, akhirnya.
Air liur kita mencemari sungai-sungai.
Sini, kubaptis kau jadi batu jadi akik jadi emas
jadi kapal-kapal Portugis jadi Kristus jadi kadal. Dung-dung.
Mabuklah. Dung-dung. Ini belahan bumi utara. Dung-dung.
Dingin meretakkan rahang. Dung-dung. Tapi jangan
bakar aku dengan anggur atau wiski. Dung dung. Di Java House
ada kopi rasa puisi. Dung-dung. Konon pahitnya enak sekali. Dung-dung.
Sayang tak ada orang Jawanya. Dung-dung. Ayo pesta dan bercinta
di jok mobil di bioskop di asrama dengan kondom ceri hutan
sambil mengunyah keripik kentang memamah pizza 3 menit
berjingkrak-jingkrak memekik-mekik kesetanan di jalan-jalan
di bangku-bangku lapangan futbol dan menggelar
bazar amal dan karnaval dan diwisuda dan
menguasai dunia. Dung-dung-dung?.
(chorus)
Pergi. Pergilah, Mississippi. Sia-sia kau bernyanyi.
Gendang telinga kami pecah, melelerkan lumpur nanah.
Sungai-sungai malam hari di balik belukar dada kami
bergemuruh, gemeretak, dan gua-gua bawah tanah
menyerpih runtuh. Menyerpih runtuh.

2003

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *