Sedikit Serius lewat Keluarga Tot

Sjifa Amori
jurnalnasional.com

Kali ini Teater Gandrik mencoba bereksperimen untuk setia pada naskah terjemahan. Meski risikonya tak lagi kencang mengguncang tawa.

Keluarga Tot berbahagia. Pak pos membawa surat yang memberitahukan mengenai kedatangan seorang pejabat. Seorang komandan perang terhormat yang menjadi atasan anak laki-laki keluarga Tot di medan tempur.

Kabarnya, Pak Mayor (Heru Kesawa Murti) yang gila-hormat itu sedang stres. Depresi akibat kelamaan berada di tengah lokasi ledakan dan adu tembak yang tak henti-hentinya. Makanya Mayor ingin sekali merasakan kedamaian yang dijanjikan anak buahnya, anak lelaki keluarga Tot.

Demi karier putranya, keluarga Tot mengumpulkan para tetangga supaya saling bantu “menenangkan suasana” sampai setenang-tenangnya. Karena kabarnya Mayor tak hanya peka pada bebauan tapi juga ingin ketenangan. Sayangnya persiapan ini seolah sia-sia karena mereka mesti menghadapi tabiat menyebalkan sang Mayor.

Belum genap sehari sang Mayor tinggal, tingkah polahnya yang represif sudah bikin keluarga Tot kerepotan. Mariska Tot (Dyah Arum), sang ibu rumah tangga berkewajiban memastikan Mayor senang selalu. Agika Tot (Jami Atut Tarwiyah), anak kedua keluarga Tot, kedapatan tugas sebagai pesuruh Mayor. Terlebih lagi si kepala rumah tangga, Lajos Tot (Susilo Nugroho), terpaksa melakukan sejumlah pantangan demi kehormatan Mayor. Ia yang lebih tinggi badannya dari Mayor harus memendekkan posisi kaki dan dilarang memandang melewati kepala Mayor, dilarang menguap, menggeliat, bahkan harus ikut menuruti semua perintah tamunya.

Begitulah tekanan dirasakan keluarga Tot malam demi malam sampai Lajos Tot ikut-ikutan stres. Depresi berat karena dipaksa kehilangan jati diri demi jadi orang yang diinginkan perwira tersebut. Merasa kebebasan asasinya dicabut paksa, Lajos Tot pilih kabur.

Kisah tekanan yang dialami Tot sekeluarga ini menjadi lakon terbaru Teater Gandrik yang dipentaskan di Graha Bhakti Budaya, dari Jumat (17/4) hingga Senin (20/4). Mengangkat judul Keluarga Tot, pementasan Gandrik kali ini terasa lama. Berdurasi total dua setengah jam yang terasa lama, sepanjang durasi sebenarnya naskah asli Keluarga Tot yang diangkat dari Totek, karya skenario penulis Hongaria, Istvan Orkeny, yakni empat setengah jam. Oleh Agus Noor, penulis naskahnya, dipangkas setengah jam.

?Kami memang memiripkan semuanya dengan naskah asli karena kami mementaskan karya terjemahan, bukan adaptasi. Ini bagian dari proses eksperimentasi. Gagasannya adalah Gandrik mencicipi ruang jelajah yang lain. Dan ini bahkan memperkaya bekal keaktoran dari masing-masing pemain karena Gandrik terbiasa dengan kejenakaan plesetan dan celetukan,? kata Butet Kartaredjasa sebagai Pimpinan Produksi, sutradara, sekaligus pemeran Profesor Cipriani, psikiater yang menerapi pak Tot.

Salah satu guyonan yang sebelumnya belum pernah dilakukan Teater Gandrik sebelumnya adalah guyonan hening di mana Pak Tot berusaha menyesuaikan diri dengan kemauan Mayor. Kala Mayor mengetuk-ngetuk ?lengan? kursi dan keningnya, ia pun menyamai gerakan itu, namun dengan sikap-sikap tubuh yang berlebihan (seperti yang sering dilakukan tokoh komedi Inggris Mr Bean). Walau pun belum berpengalaman dengan kejenakaan visual macam ini, toh aktor Susilo Nugroho berhasil membuat penonton terpingkal-pingkal.

Peluang untuk bermain dalam peran seperti ini berusaha dicari oleh Agus Noor karena bagaimanapun lakon ini memang diniatkan untuk diterjemahkan semirip mungkin dengan aslinya. ?Pada penggalian selanjutnya, di dalam latihan, peluang-peluang untuk memunculkan karakter Gandrik juga berkembang. Misalnya untuk kritik sosial yang aktual karena kebetulan latar belakangnya sangat mirip dengan Indonesia di masa Orde Baru,? kata Agus.

Pentingnya untuk setia pada naskah asli, bagi Agus, dikarenakan Keluarga Tot ini adalah lakon yang sangat kental berkutat pada komedi psikologis yang tragis. Di dalamnya penuh dengan muatan progresi psikologis yang jika keluar dari konteks akan kehilangan maknanya. Maka menjadi amat penting untuk mengikuti progresi psikologisnya. Mulai dari penerimaan Lajos Tot yang berlanjut pada penolakan, pengingkaran, kepanikan dan disorientasi (menjelang masa-masa gangguan kejiwaannya), sampai pada pelarian diri dari situasi menekan tersebut.

Sangatlah mudah buat Teater Gandrik yang berkarakter teater rakyat untuk sekadar memancing tawa. Namun jika itu dilakukan seperti pada lakon Sidang Susila (dipentaskan di Teater Salihara Januari lalu) maka penonton tidak akan mendapat progresi psikologis yang menjadi muatan utama lakon komedi psikologis ini.

“Itulah mengapa kita sengaja menciptakan karakter yang khusus pada masing-masing tokoh tetangga keluarga Tot. Biasanya kan aktor Gandrik kuat pada celetukan yang sahut menyahut saja karena kami “bermain-main sebagai”. Sekarang kami berusaha “bermain-main menjadi” untuk menjaga progresi psikologi karakter. Improvisasi harus tetap dalam konteks,” kata Butet.

Untuk membantu aktor tetap bisa berakting tanpa beban sambil juga memelihara peristiwa asli dan gagasan dasar dalam naskah, ada gimmick dengan musik, dan guyonan Jawa khas Gandrik yang tetap dilontarkan. Misalnya ketika Pak Lajos Tot memaparkan kepanjangan TNI, yaitu Tentara Nasional Ihungaria. Idiom yang dekat dengan penonton serta kasus aktual juga dimunculkan supaya lebih dekat ke penonton.

Tahu bahwa mementaskan lakon ini akan alot, Butet tetap positif mengupayakannya. Ia melihat bahwa naskah ini baru pertama kali dimainkan di Indonesia. Ada kemiripan suasana dengan keadaan Indonesia di masa Orde Baru sehingga ada referensi kultural dan background dari naskah ini. Yaitu dimana penindasan sistemik laten memaksa masyarakat menerima kenyataan hidup, meski tak menyukainya. Teater Gandrik melihat adanya unsur komedi kejenakaan getir yang menantang untuk dicoba.

Lewat Keluarga Tot, bisa jadi ada gambaran awal mengenai konsep realisme-Gandrik yang diusung teater Gandrik. Atau mungkin saja berhasil membawa Teater Gandrik pada penemuan formula baru yang akan jadi penambah daya tariknya.

Kalau menurut Butet pribadi, ada beberapa alasan nonton Keluarga Tot. Yaitu karena ini model guyonan baru Gandrik, ada keunikan pembenturan kultur Jawa dan Hongaria, ada peringatan supaya penonton waspada terhadap ancaman pemaksaan hegemoni dari kekuatan tertentu yang selalu berulang. Lalu juga karena bisa jadi terapi bagi caleg gagal. Sekaligus membantu menjaga akal sehat caleg terpilih dalam mengemban amanah rakyat.

Setelah dari Jakarta, lakon ini akan dipentaskan di Concert Hall aman Budaya Yogyakarta pada 29-30 April.
***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *