Kekuatan Sastra Indonesia di Facebook

(Wawancara dengan Hudan Hidayat)

Arif Gumantia (Pewawancara)

Dengan adanya Facebook ini maka setiap orang bisa menghasilkan karya sastra yang dipublikasikan di Facebook. Baik itu Puisi, Cerpen, ataupun Esai. Oleh karena itu sangat menarik untuk menganalisa apa yang di sebut dengan Sastra Indonesia di Facebook. Dan berikut ini adalah wawancara saya dengan Hudan Hidayat, seorang sastrawan besar milik negeri ini yang sangat aktif mengembangkan sastra Facebook khususnya dan sastra cyber pada umumnya.

(Arif Gumantia): Ok mas hudan menurut pendapat anda..bagaimana kekuatan sastra indonesia di facebook ini?

(Hudan Hidayat): pada puncak puncaknya kekuatan sastra dalam artian nilai sebuah ciptaan di facebook ini sudah merata dengan sastra buku itu. wah pertanyaan seperti ini menarik. bisa kita kembangkan untuk semacam penilaian terhadap, khususnya sastra ya, bung arif gumantia. bung arif saya bersedia anda wawancarai secara online untuk pokok yang anda tanyakan tadi. karena bagi saya, sekali lagi, pertanyaan seperti itu penting.

(Arif Gumantia): bener mas hudan..coba kita lihat begitu banyaknya karya puisi dan cerpen di facebook ini..pertanyaannya apakah bisa di kategorikan sebagai karya sastra menurut mas Hudan sebagai seorang yang sudah sangat lama berkecimpung di dunia sastra indonesia?

(Hudan Hidayat): baik saya akan jawab sastra itu apa ya. sastra itu kan bagian dari banyak tulisan yang ada di muka bumi ini. tulisan kan bisa macam macam. tulisan tentang ilmu kedokteran. tulisan tentang bahkan ilmu tentang tehnik. nah lihatlah sebagian orang mengatakan sastra banget apa yang disampaikan oleh bapak pendiri psikoanalisa itu, sigmund freud, tentang … Read Moreuraian uraiannya akan pokok pokok dunia dalam yang menjadi konsentrasinya itu.

pertanyaannya, mengapa bisa sastra, sedang yang dibahas adalah teori psikologi? karena cara menyampaikannya demikian menarik. tidak fiktif, tapi demikan memikat pikiran yang dibawakan oleh freud itu. memikat secara bahasa yang menyambar kepada para pembacanya.

jadi sastra itu sebenarnya bukan semata prosa atau puisi. bukan semata tulisa fiksi. kalau prosa semacam cerpen, novel atau diary, bahkan bisa disebut kekurangan unsur sastranya karena seandainya fiksi itu tidak menarik. tadi: menarik dari cara menyampaikannya. gaya, kata orang. style. tapi toh gaya bagian

dari bentuk ini, kan menjadi menarik, atau indah, dan tentu saja menarik dan indah ini harus diikat oleh sesuatu yang bermakna. sehingga ide bukan lagi menjadi ide keras seolah kotbah para kiayi, atau pengarahan pejabat negara. kedua ini mungkin benar, tapi tak menarik ketika disampaikan. dan tentu saja menyampaikannya tak memakai unsur sastra itu sendiri.

apakah unsur sastra? kita harus kembalikan kepada genre sastra itu sendiri. menjadi apakah unsur cerpen, unsur puisi, atau novel. semacam itulah. jadi sastra itu adalah tulisan. tapi bukan sembarang tulisan. tapi tulisan yang indah. dan bukan sembarang indah. tapi tulisan yang indah dan dalam. tapi juga bukan sembarang dalam. tapi tulisan yang indah dan dalam dan mengandung kebenaran di dalamnya…

sampai pada kebenaran ini kita bisa bertengkar: mana kebenaran itu, kalau semua nilai relatif juga adanya. katakanlah kita mengambil kebenaran yang datang dari kitab suci, maka kita akan tertumbuk pada pada banyaknya kitab suci. baik samaawi yang datang dari langit atau kitab suci gubahan orang biasa saja. tapi setidaknya adalah penali kebenaran itu. walau relatif juga adanya. commonsense, mungkin bisa dijadikan penali tentang kebenaran.

tentu saja hampir rata rata atau sebagian besar tulisan di facebook ini bisa kita sebutkan tulisan sastra. sastra kreatif seperti, dan ini yang paling banyak jumlahnya, puisi. lalu cerpen dan beberapa esai – semacam catatan dari para pembuatnya dan saya mencatat setidaknya ada tiga ciri sastra di facebook ini. ciri pertama adalah, dan ini yang mungkin paling banyak, mereka mengucapkan kehidupan dari sudut pandang personal. ada soal masyarakat, tapi soal masyarakat itu menjadi sampiran bagi suara hati yang hendak disamapikannya. misalkan saja puisi mey alamaidah itu. atau deasy dan dewi. adies atau novieta tourisia untuk kalangan perempuan. tapi segera kita tahu pula orang seperti rini asmoro misalnya, menjadikan pengucapan sastra sebagai kegerahannya pada keadaan sosial.

dan itu sekaligus menjadi ciri kedua. ciri yang agaknya nampaknya dikit jumlahnya. mungkin dari pihak pengarang lelaki, sudiono dan anda sendiri bisa disebutkan sebagai wakil dari mereka yang menggunakan sastra untuk pengucapan persoalan masyarakat. tapi kalau sudi ono melihatnya dari sudut aku dari sebuah hasil sastra, lalu aku itu ditembakkan kepada soal soal masyarakat jadi bukan sampiran karena ia konsentrasi pada poinnya, maka anda kan bisa saya kategorikan melepaskan aku tapi langsung membidik atau menjadikan aku itu sebagai aku masyarakat.

saya masih ingat puisimu tentang soal perusahaan bakrie yang membuat lumpur lapindo itu. ketiga adalah mereka yang sudah menjadi pengarang yang teruji di luar. dan akan ini mereka pun sebenarnya berada di dalam rentang dari kedua corak sastra yang saya katakan tadi. saya bisa juga menyebutkan fenomena seorang nugroho suksmanto yang bagi saya menarik. mengapa? karena sang penggagas dan pensupport lomba pena kencana ini terlihat sekali obsesinya pada dunia sosial, yang sastranya dibidikkannya ke dunia sosial itu.

alhasil sama saja, bukan? sastra yang dibuat kawan kawan di facebook ini dengan sastra yang dibuat orang di luar itu, yang kini saya lihat sudah masuk semua ke facebook. kecuali rendra dan tardji. entah apa penyair dorothea rosa memiliki fb atau tidak, saya kurang tahu. tapi lainnya bisa saya katakan sudah masuk semua ke facebook ini.

anda belum masuk lagi bung arif. saya bisa menambahkan kawan kita yang komentar di atas – ibu herlinatien. nah saya kira puisi puisinya itu sastra banget. sejak saya mengenalnya di multiply, pengarang tenar ini selalu menghasilkan puisi yang menurut saya sungguh tidak kalah dengan penyair perempuan terkuat kita. bahkan penyair lelaki pun.

tengoklah puisi puisinya, yang menjadikan perasaan hatinya sendiri menjadi basis dalam memandang tiap masalah hidup. biasanya relasi dengan kamu, dia, dan jarang herlinatiens membidik soal soal sosial politik dalam seni puisinya itu. tapi tak mengapa juga. yang penting bukan arah tapi kedalaman, kan?

(Arif Gumantia): wah penjelasan yang sangat lengkap..sekarang..bagaimana menurut anda bisakah sastra yang dihasilkan di facebook ini, dalam pengertian karyanya ditulis di facebook bisa memberikan kontribusi yang signifikan bagi perkembangan sastra indonesia?

(Hudan Hidayat): perkembangan sastra indonesia itu harus dibaca ke dalam setidaknya lima unsur ya. pertama soal mutu sastra, kedua soal nasib pengarangnya, ketiga soal tata perbukuan termasuk di dalamnya regulasi semisal pajak, kertas, honor pengarang dalam kaitan dengan proporsi keuntungan toko buku, penerbit, pembaca dan tentu pengarangnya sendiri.

empat menciptakan pembaca, kelima soal penerjemahan dalam kaitan dengan perimbangan sastra dengan dunia luar itu. nah dalam lima unsur itu kita rasa rasanya bermasalah semua. pembaca nyaris tidak ada. ingat dengan lebarnya jumlah penduduk ya. regulasi merugikan dunia sastra. penerjemahan tidak ada. pendeknya kelima soal itu payah semua.

mungkin perlu ditambahkan soal pengajaran sastra di sekolah. yang juga payah itu. nah dalam kaitan seperti itu, maka kontribusi yang penting bagi perkembangan sastra mungkinkah datang dari media semacam facebook ini. saya jawab mungkin. mengapa? karena sifat dari dunia maya semacam facebook inik, yang membawa keuntungan tapi sekaligus kelemahan. keuntungannya semua orang dapat saling berkomunikasi satu sama lain dan terutama kepada mereka yang memang sudah menjadi tokoh dalam sastra indonesia itu. dapat diskusi dan dapat menikmati tulisannya langsung. tentu akan ada pengaruh bagi dirinya sebgai pencipta.

kedua di sini kan tidak ada sensor maka semua orang bisa menulis tanpa batas dan itu sebuah keadaan yang sangat memungkinkan untuk melakukan pencarian habis habisan. nah tapi bersama itu juga, sekaligus kelemahannya. mengapa? karena tanpa kontrol orang lalu malas membuat sesuatu yang berarti, yang bisa menandingi sastra senior senior mereka itu. apalagi godaan untuk menulis tiap hari, pastilah akan membawa kepada penurunan mutu…

ada gejala yang menarik yang saya amati. katalahlah pengang puisi yang saya sebut berkelompok secara sangat kental terbukti dari susunan tag yang ajeg itu, hasan aspahani, ts pinang, aan mansyur, dan bern batubara. saya melihat kelompok ini seolah melakukan proses Kreatif bersama dan cenderung agak menutup diri. dan saya melihat pula beberapa seniman seolah ingin mendekati pencapaian empat orang ini, seperti pring dan steven yang paling menonjol. tak nampakinya sejauh pengamatan saya belum sampai sampai juga. saya tidak tahu faktor apa. tapi bagi saya kedua orang ini dan beberapa orang lain tak bisa mendekati.. puisi keempat orang itu.

tapi di satu sisi saya juga melihat gejala yang menarik, yang justru diperlihatkan oleh para penyair perempuan. saya sebut yang paling menyolokl. desi nathalia, dewi maharani, jehan, adies, cessi, rini, faradina, mampu menggenjot puisi mereka ketingkat yang bagi saya menakjubkan. terutama deasy, dewi dan jehan.

untuk ketiga pengarang ini, saya kira pastilah sastra indonesia akan mendapt sumbangan besar. juga pada puisi helga, rini, atau cessi dan adiez itu, kalau mereka serius membuat buku pasti akan mempengaruhi sastra indonesia juga belum lagi kalau kita hitung sudi ono, jeff eimond, kurniawan yunianto, bamby cahyadi, dan terakhir saya melihat penyair nugroho suksmanto, itu jelas akan membawa perubahan sumbangan kepada sastra indonesia.

saya tadi lupa menyebutkan nama nina yuliana. ia juga menurutku makin naik mutu sastranya. di samping hal tersebut, saya melihat ada gejala yang kurang sehat sebenarnya di facebook ini. yakni cenderung berdiam diri terhadap nasib kita katakan saja angktan. angkatan facebook ini. orang seperti ts pinang tak terlalu akrab kepada orang yang baru datang sebaliknya orang yang baru datang juga sibuk mengurusi dirinya sendiri.

singkatnya, mereka hanya ingin dibaca, tapi malas membaca karya orang. sejujurnya sikap ini adalah sikap yang paling saya tidak sukai. mengapa? karena dari sikap seperti ini saya mulai membaca gejala buruk kalau kelak kekuasaan sastra itu datang padanya atau nya itu mereka. maka keadaan sastra menjadi kembali seperti sekarang ini – acuh, seolah tak ada kehadiran orang lain. padahal mestinya kita ini tampil sebagai generasi, yang solid menghadapi soal soal bersama.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *