Posted by PuJa on May 29, 2009
Matroni el-Moezany* http://terpelanting.wordpress.com/ Selama ini sastra hanya berkutat pada ranah yang bernuansakan sastra pemberontakan, sastra romantis, seperti setiap minggu di Koran Sindo, setelah saya amati setiap hari Minggu Koran Sindo Pasti edisi sastra khsusnya puisi. Pasti puisi-puisinya romantis yang dimuat. Bahkan puisi romantis tidak ber-roh. Bukannya penulis tidak sejutu dengan puisi semacam itu, tapi bagaimana [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on
A. Qorib Hidayatullah http://indonimut.blogspot.com/ Di pelbagai pagelaran seminar, pembicara andal sederhananya bisa dilirik dari kekayaan referensi dalam penyampaiannya. Tampak argumentasi kukuh yang dipancarkan tiap-tiap pembicara, tak luput seberapa lihai ia menyitir referensi. Dan, keampuhan pembicara meramu apa yang disampaikan hingga ia elegan menjawab pertanyaan penanya, pun tak lepas semesta referensi yang ia baca.
Filed under: Canting
Posted by PuJa on May 27, 2009
Nurel Javissyarqi* http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/ Gagasan kata ibarat ruang dan esensi kedalaman kalimah bagi masanya. Sama dengan penciptaan insan dalam rahim, yang terjadi segumpal daging lalu disusul tertiupnya ruh. Maka kesadaran awal dari sebuah gagasan ialah kata, bermakna tempat serta sadar ruangan. Pengisian-pengisian ruang menggunakan masa, mencipta ruh manfaat atas kebertemuan ruang-waktu atau penciptaan yang bergerak masanya. [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on May 25, 2009
Hudan Hidayat, Arif Gumantia (Pewawancara) http://www.facebook.com/people/Arif-Gumantia/1267988504 (Arif Gumantia) sebuah jawaban yang sangat komprehensif , terus saya mendengar mas hudan sedang menyiapkan buku antologi penyair perempuan di facebook…menurut mas hudan apa sebenarnya yang memotivasi anda dalam membuat Buku antologi ini dan bagaiamana relevansinya dengan kemajuan sastra indonesia kini?
Filed under: Canting
Posted by PuJa on May 24, 2009
Maman S. Mahayana http://mahayana-mahadewa.com/ Sistem penerbitan yang awal dalam kesusastraan Indonesia modern memperlihatkan betapa pengaruh kekuasaan pemerintah Belanda begitu dominan dalam menentukan arah perjalanan kesusastraan bangsa ini. Jika dikatakan, sejarah selalu berpihak pada penguasa, maka itulah yang terjadi dalam sejarah kesusastraan Indonesia. Riwayat perjalanannya penuh dengan pemanipulasian, perekayasaan, penenggelaman, dan penyesatan. Tetapi lantaran sejarah milik [...]
Filed under: Edisi Khusus, Esai
Posted by PuJa on
TRUNYAN… (Taru – Menyan) IBM. Dharma Palguna http://www.balipost.com/ DI DESA Trunyan, yang terletak tersembunyi di salah satu tepi danau Batur, belasan tahun silam saya melihat sebuah tengkorak manusia yang diletakkan di atas sebuah batu dekat undak-undakan pada jalan masuk ke kuburan khusus orang dewasa. Di tengkorak itu pengunjung meletakkan uang yang menurut lelaki pengantar disebut [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on
Satmoko Budi Santoso http://satmoko-budi-santoso.blogspot.com/ CERPEN Indonesia telah meruntuhkan “sakralitasnya”, anjlok dari menara gading yang dibangunnya beberapa warsa silam: cerpen hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang berada di seputaran kerja kreatif kesusastraan itu sendiri. Tentu, asumsi ini sangat bisa dibuktikan, karena dalam era kekinian, cerpen Indonesia telah merasionalisasi dirinya sendiri, masuk ke segala segmen, semua kelas [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on
Djuli Djatiprambudi http://www.jawapos.com/ Setiap karya seni punya pasar sendiri. Seperti yang terjadi di Pasar Seni Lukis Indonesia (PSLI) di kompleks Balai Pemuda Surabaya, 1 – 11 Mei 2009. Ratusan pelukis dari berbagai kota menggelar karyanya di dalam 160 tempat yang disediakan panitia. Di hari kedua sudah disiarkan sekitar 200 karya terjual. Ratusan orang memadati arena [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on
Bandung Mawardi* http://www.jawapos.com/ Cerpen masih jadi menu lezat untuk pembaca? Kriteria lezat tentu mengandung pengertian resepsi dan interpretasi. Cerpen jadi pertaruhan untuk memanjakan atau melenakan selera dalam tegangan cerpenis, redaktur, dan pembaca. Cerpen-cerpen pun tak jemu jadi menu di lembaran-lembaran kebudayaan koran dengan wajah dan sapa menggoda. Suguhan cerpen-cerpen itu menjadi tanda koma yang mengabarkan [...]
Filed under: Resensi