Pembelajaran Kontekstual, Membumikan Kearifan Lokal…

Harapan Pengukuhan Jati Diri dengan Pendekatan Budaya…

I Putu Sudibawa
http://www.balipost.com/

SENIOR saya, I Nyoman Tingkat, dalam ulasan di rubrik ini mengingatkan saya untuk selalu membumikan kearifan lokal dalam aktivitas saya sebagai guru. Saya kembali teringat dengan apa yang didengungkan oleh Depdiknas untuk selalu ber’kontekstual’ dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang selalu mengkaitkan berbagai macam isu yang berkembang di lingkungan sekitar dengan topik bahasan yang akan dikaji. Ulasan Tingkat ini, juga menyadarkan saya untuk kembali selalu merunut dan selalu menggeluti bagaimana mengembangkan model pembelajaran yang berlandaskan kearifan lokal. Dari sedikit pengalaman saya, guru-guru yang mampu mengelola model pembelajaran dengan pendekatan budaya, sangat dihargai oleh Depdiknas dan beberapa lembaga lain, yang menghargai kreativitas guru dalam pembelajaran.

Dalam kenyataannya, sistem pendidikan kita masih menganut dan mengadopsi sistem pendidikan barat. Sejak introduksi pada awal abad 20, sistem pendidikan berorientasi pada ciri yang ekonometris (Karim Elha: 2008). Hal itu tampak pada tujuan pendidikan yang lebih banyak berorientasi pada kepentingan ekonomi. Dasar pendekatannya pun bersifat empirik dan berkecenderungan memperlakukan setiap disiplin ilmu sebagai science (dalam konsep positivisme). Di titik dari ranah nilai-nilai, kita menyaksikan betapa nilai ekonomi tampil mengungguli nilai-nilai lainnya, seperti teori, solidaritas, agama, dan seni. Komunitas pembelajaran kehilangan pegangan. Sudah terjerembab dalam lembah kemiskinan ragawi, terjangkit pula kemiskinan jiwani. Dengan demikian, pembelajar kehilangan daya hidupnya, karena kehilangan ini kebudayaannya. Mereka tercerabut dari akar budaya, yang pada gilirannya akan kehilangan jati diri, harkat, dan martabatnya. Mereka yang terpuruk ke belakang cukup banyak jumlahnya, tersingkir oleh sengitnya persaingan tajam yang melecehkan nilai-nilai kebersamaan (solidaritas) dan kemanusiaan.

DALAM konteks, pembelajaran kontekstual yang membumikan kearifan lokal, setidak-tidaknya pemasukan unsur-unsur kearifan lokal tersebut dapat dilakukan dalam tiga komponen, kurikulum (muatan lokal), pendekatan pembelajaran, dan media dan alat pembelajaran. Secara material (subjek-matter), berbagai corak dan ragam kearifan lokal laik menjadi bahan pembelajaran. Namun, pertimbangan relevansi dan kontribusi aktual dan sifat universal perlu menjadi kriteria penentuan prioritas. Perlu memprioritaskan sistem pembelajaran yang sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal. Pendekatan-pendekatan klasikal dan kebersamaan, pendekatan kekerabatan, dan pendekatan personal (bukan dalam pengertian individual), sangat relevan dalam mencapai tujuan pembelajaran. Apa pun mata pelajarannya, baik yang bersifat eksakta, pengetahuan sosial, maupun keterampilan ragawi, pada kompetensi dasar tertentu dapat dilakukan melalui pendekatan budaya lokal. Pendekatan-pendekatan yang bersumber dari nilai-nilai budaya lokal ini sebenarnya sudah sering dilakukan para guru di sekolah, tetapi pendekatan-pendekatan tersebut tidak pernah dirumuskan secara sistematik, sistemik dan terukur. Pendekatan-pendekatan tersebut cenderung dilakukan tanpa disadari oleh guru atau bersifat naluriah.

PENGEMBANGAN dan penumbuhan proses pembelajaran berlandaskan kearifan lokal akan sesuai dengan arahan pendidikan sekarang yang berfokus pada siswa (student centered learning). Di satu sisi pendidik memberi bekal pengetahuan, kemampuan wawasan (kecerdasan) pada siswa, di sisi lain memberi ruang pada mereka untuk menilai, menginterpretasikan, atau merumuskan impian (cita-cita)-nya, yang akan menumbuhkan semangat kerja untuk mencapai cita-cita tersebut. Dengan kata lain, siswa bukan pihak yang hanya akan menelan rumuan-rumusan yang ‘baik dan benar’ atas definisi para pendidiknya, tapi juga menjadi subjek yang turut mendewasakan sistem pendidikan itu sendiri. Menumbuhkan proses pembelajaran yang dialektis, terbuka, tidaklah mudah. Justru sangat kompleks. Pendidik dan penyusun kurikulum harus sangat aktif, harus peka dan kerja keras, dalam menggarap bahan ajar. Pendekatan yang melihat suatu fenomena dari berbagai aspek familiar dengan sebutan kontekstual. Kontekstual, berarti intertekstual, yakni suatu hal tidak berdiri sendiri, melainkan terkait dengan hal-hal lainnya, di mana satu sama lain saling mendukung, menerangkan, menghidupkan, dan juga bisa saling melemahkan atau mematikan.

*) Guru Kimia SMAN 1 Sidemen, Karangasem

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *