Tubuh-tubuh Pipih Sang Penebus

Seno Joko Suyono
http://www.tempointeraktif.com/

Patung itu menggambarkan Santo Petrus. Materinya perunggu. Tingginya 175 sentimeter. Proporsi tubuh Santo Petrus dibuat memanjang, termasuk wajahnya. Bila kita lihat dagunya, lebih sekilan tangan. Mata Santo Petrus antara meram dan menatap ke bawah. Tangan kirinya mengapit sebuah kitab dengan sampul muka tanda salib. Sementara itu, tangan kanannya memegang sebuah kunci raksasa dengan tiga anak kunci yang dipanggul di pundaknya.

“Tiga anak kunci itu melambangkan trinitas,” kata Noor Ibrahim, 43 tahun. Patung yang mewujudkan Santo Petrus, sepengetahuan Noor, belum ada di Indonesia. “Waktu saya ke Roma ada, tapi juga tidak banyak.”

Noor Ibrahim seorang muslim. Pematung Surabaya ini tertarik mengeksplorasi dunia Perjanjian Baru setelah mengikuti Biennale Venesia tahun 2005. Ia pergi ke Vatikan dan mengunjungi Basilika Santo Petrus. Basilika yang kita tahu adalah gereja terbesar dan tempat tinggal bagi para paus. “Kunci itu lambang bagi Petrus yang menyebarkan agama Katolik ke dunia,” katanya.

Karya yang dibuat pada 2009 ini dihadirkan Noor bersama patung-patung lain yang diilhami kisah Kristus, Maria, dan malaikat-malaikat. Segera kita lihat pemilihan tema tentang kehidupan Kristus yang diangkat oleh Noor adalah tema yang lazim. Ia tidak menyajikan tafsir baru kehidupan Kristus sebagaimana kini banyak ditulis para teolog dan ahli biografi Kristus. Ia juga tidak menghadirkan Kristus dalam tafsir agama lain sebagaimana juga kini banyak dapat kita baca dalam buku-buku.

Noor menyodorkan tema yang telah dikenal secara umum bagi penganut Katolik. Tema seperti pieta, via Dolorosa, kelahiran, Maria, Regina Caeli (queen of heaven), dan Lourdess. Penebusan dan penderitaan Kristus tak ada yang menyimpang dari tafsir kanon.

Keunggulan pameran ini adalah Noor Ibrahim mampu menyajikan tema-tema yang umum ini dalam bentuk yang menarik. Tubuh yang menyimbolkan Kristus dan Maria ditampilkan dalam tubuh yang pipih serta dipanjangkan melebihi proporsi manusia. Tubuh itu, termasuk kaki dan tangannya yang demikian lencir, seolah ditarik molor ke atas. Sederhana, namun subtil.

Bukan pertama kali ini Noor Ibrahim bergulat dengan dunia Kristus. Setelah pulang dari Venesia, pada 2005, ia bersama arsitek Sarjono Sani mendapat pesanan mendesain sebuah gereja di bilangan Pantai Indah Kapuk. “Saya membuat patung Inri setinggi 6 meter dan 14 patung jalan salib,” katanya.

Di pameran ini, ada dua patungnya yang bertema pieta, yang Yesus rebah di pangkuan Maria berskala sangat besar. Dalam dua patung ini, Noor mencoba menggambarkan Kristus dengan wajah yang seperti kita kenal sehari-hari. Namun, yang berhasil tetap tubuh-tubuh yang tipis itu. Tengoklah Menuju Kerajaan Allah atau Di Atas Bukit Golgota. Tubuh Kristus hanyalah sebatang garis lurus seperti potlot panjang. “Tubuh yang panjang itu tubuh vertikal, simbol Keilahian,” kata Noor. Ia tak menggambarkan penderitaan Kristus secara dramatis. Namun, bentuk kurus patung itu justru memancarkan kesakitan lain.

Tengoklah Diturunkan dari Langit. Terlihat sebuah salib setinggi 103 sentimeter. Sosok seseorang laki-laki tergantung dengan telapak kiri dipaku. Tubuh dan kedua kakinya melayang-layang. Tidak ada darah menetes, salib itu bersih. “Mertua saya percaya bahwa saat Kristus diturunkan, bukan dengan cara merebahkan salib. Bila paku (tinggal) satu, saya membayangkan posisinya begitu,” kata Noor.

Sosok malaikat yang biasanya dalam ikon-ikon gerejawi kerap ditampilkan sosok perempuan melayang bergaun putih sembari membawa harpa, pada Noor juga diwujudkan kurus. Lihatlah Gabriel atau Dialog dengan Langit. Sosok ceking lurus bersayap tersebut malah terlihat arkais.

Never Ending Tale. Sosok bersayap tengah mencambuk sosok bertanduk. Di sini Noor menyajikan tema malaikat yang menang terhadap iblis. Noor tak menyajikan tafsir nakal, misalnya, menokohkan Lucifer–malaikat kesayangan Tuhan yang menjadi iblis. Tapi, bentuk pipih yang kuat itu membuat kita tak mempersoalkan tafsirnya yang konvensional.