nirwan dewanto – perenang buta yang tak ulung

Hudan Hidayat

Bentuk Puisi, Peletakan Puisi

Puisi bukanlah semata soal bentuk, suatu cara menyusun kata, di dalam puisi. Tapi puisi adalah soal makna dari kata-kata yang ditimbulkan, dari cara menyusun puisi. Tapi bentuk dan isi, sebagaimana di dalam genre sastra lainnya, adalah seolah roh dan badannya. Atau seakan sperma dengan indung telurnya.

Karena itu pembacaan saya terhadap puisi, tidak terutama ditujukan kepada kehendak sang penyair untuk keluar dari sebuah tradisi penulisan puisi, baik bentuk maupun temanya. Kalau saya menemukan bentuk dan tema puisi yang oposit, maka itulah saat di mana saya seolah melihat sebuah pagi yang lain, dari matahari yang lain. Tapi tetap: pagi dan matahari yang lain itu, bukanlah datang dari bentuk dan isi puisi, tapi dari makna yang ditimbulkan oleh totalitas puisi itu sendiri.

Saya akan memulai tulisan ini dengan mengutip sebuah pantun, yang saya temukan dalam buku Takdir (Puisi Lama, 1948). Saya hendak mengatakan apa yang saya maksudkan, bahwa saya bisa menikmati puisi, atau puisi bisa memberikan makna kepada pembaca, meski tanpa bentuk dan isi yang giat dicari oleh penyairnya – seperti yang saya lihat di dalam buku puisi Lebah Ratu Nirwan.

Pantun Jenaka

Pohon manggis di tepi rawa,
tempat kekek tidur beradu.
Sedang menangis nenek tertawa
melihat kakek bermain gundu.

Buah pinang buah belimbing,
ketiga dengan buah mangga.
Sungguh senang berbapak sumbing,
biar marah tertawa juga.

Jelas itu sebuah pantun. Dengan suku kata ketemu “u”, pantun itu memberikan makna kepada saya bukan melalui bentuknya – bentuk pantun. Tapi pada pesan yang hendak disampaikannya. Penyair mengatakan cara menghadapi kesedihan, yakni dengan riang – riang yang lucu. Bahwa sebuah kemalangan – kita belokkan pada bahagia yang ironi (sungguh senang berbapak sumbing/biar marah tertawa juga). Dibaca dengan konteks tempat dan konteks waktu, pantun itu membawa kita ke sebuah surga dari kehidupan romantik di masa kecil.

Saya merasa lucu melihat kakek dan nenek itu. Seolah saya menjelma menjadi kakek itu, bermain gundu. Seolah saya bisa merasakan kedukaan yang membuat mengapa nenek menangis. Nenek yang dalam bayangan saya waktu mudanya, pastilah cantik. Dengan kata lain, pantun itu memberikan umpan kepada imajinasi saya untuk bergerak liar, atau tak liar. Umpan yang membuka kepada saya melalui anasir-anasirnya. Benar: puisi, memang harus memberikan lentik api kepada pembacanya. Bukan malah mengunci pembacanya dalam imaji-imajinya.

Lentik api itu, saya temukan dalam puisi Tardji “DAPATKAU?” Dari judulnya, puisi ini lain benar dengan pantun tadi, yang menyebut dirinya sebagai “PANTUN JENAKA” – (siapakah penulisnya? Di situ tersebut dari: Taman Kanak-Kanak). Tardji langsung menyebut puisinya, sementara penulis anonim tadi menyebut identitas ciptaannya: pantun jenaka.

Dari puisi Tardji, kembali kita diberi tahu, bahwa puisi bisa disusun dari bahasa yang biasa – bahasa sehari-hari yang biasa kita gunakan. Dan kita diberi tahu juga, tentang kehendak bermain bahasa, yang bukan hampa dari pemaknaan akan dunia, tapi mengintensifkan pengalaman kita akan dunia. Tetapi sampai ke tangan penyair, betapa bahasa yang biasa itu bisa dipakai untuk menguakkan imaji yang dibalik.

Saya mendapatkan misteri kata dan pesan yang dalam, bekerja serentak di dalam puisi Tardji ini, misteri yang meretakkan dirinya ke dalam permainan bentuk menyusun bunyi, makna yang sembunyi di dalam retaknya kata di dalam puisi. Keduanya disusun melalui umpan sungai, langit, gerak, dan bayang-bayang Tuhan. Pesan dalam puisi Tardji ini sufistik sekali. Seorang “pelayar buta” berlayar dengan kata-katanya. Kata-katanya menghentakkan kita ke dalam sebuah pertanyaan yang dijejerkan, di mana tiap jejerannya bertaut satu sama lain, membentuk pertanyaan tunggal: dapatkau? Dapatkau yang diimbuhi tanda tanya ini, menegasikan kemungkinan kita memberikan jawaban atas sesuatu yang tak mungkin kita lakukan. Tak mungkin, dan dengan jalan tak mungkin inilah, Tuhan melentik ke dalam jiwa kita. Sebagai sesuatu yang harus digenggam teguh. Dipeluk utuh.

(nga mlupat kumleting
aduh)

Tapi di sini persoalan cara penyusunan puisi yang saya maksudkan, mulai. Puisi yang dalam itu datang padaku dengan lambat. Peletakannya yang baris per baris ke bawah itu, membuat puisi melambat. Karena bagi saya, puisi adalah sebuah gema – baris-barisnya menggema dalam jiwa kita. Membentuk nyanyian. Membentuk kesatuan. Saat baris-baris puisi diletakkan dengan dipisah seperti itu, saya tidak bisa membentuk gema di dalam diri saya lagi. Jadilah puisi itu sebagai baris-baris yang seolah patah, di mana patahannya harus saya bantu dengan pandangan mata untuk menautkannya kembali. Tapi dengan begitu jadilah puisi itu menjadi sebuah prosa, tapi dengan acuan makna puisi. Untuk alasan semacam ini, maka saya tergoda membaca puisi “dapatkau” dengan cara prosa. Puisi menjadi sebuah kisah pendek yang setarikan napas, tapi menimbulkan gema yang utuh. (Bandingkan dengan mereka yang menggilai sajak-sajak seperti haiku(i), yang konon katanya selebar daun tangan itu)

Maka sebuah pembacaan terhadap:

“Dapatkau menyeberangkan sungai
ke negeri asal
tempat diam
melahirkan gerak?”

Akan berbeda dengan:

Dapatkau nyeberangkan sungai ke negeri asal, tempat diam melahirkan gerak?

Perbedaan itu begitu kuat di dalam kasus puisi Tardji, saat ia seolah menghamburkan kata-katanya dengan tanpa tanda baca sama sekali, di dalam puisi Amuk. Satu-satunya tanda baca di dalam puisi yang seolah mimpi buruk yang kacau dan diangkut ke dalam gaya surealis yang serentak itu, adalah ngiau. Ngiau yang berfungsi seolah koma di situ, sebagai jeda. Di situlah pembaca puisi Amuk seakan bisa menarik nafas, setelah dibanjiri oleh kata-kata penuh tenaga mencari, atau merindu, Tuhan yang disebutkannya sebagai kucing di dalam diri. Pada puisi ini, apa yang saya sebutkan dengan cara puisi diletakkan dalam hubungan dengan gema di dalam diri, juga makna sebuah puisi, hadir dan menampakkan kesempurnaan bentuknya.

Saya kutip.

ngiau! kucing dalam darah dia menderas lewat dia mengalir ngilu ngiau dia bergegas lewat dalam oartaku dalam rimba darahku dia besar dia bukan harimau bukan singa bukan hiena bukan leopar dia macam kucing bukan kucing tapi kucing ngiau dia lapar dia merambah rimba afrikaku dengan cakarnya dengan amuknya dia meraung dia mengerang jangan beri daging dia tak mau daging jesus jangan beri roti dia tak mau roti ngiau

Tanda baca dalam puisi berayun, dari penyair satu ke penyair yang lain. Makna pun ikut berayun. Adalah Afrizal yang menyambut ayunan itu, ke dalam puisi dengan disiplin prosa yang ketat dan konsisten (sampai sejauh ini) yang kemudian terkenal membentuk barisan Afrizalian. Meski pun, agaknya, Wijaya T sudah tak menulis puisi lagi. Saya tidak berani mengatakan, bahwa seorang Afrizal telah mengatasi Sutardji dalam makna kata-kata puisinya. Tapi saya mencatat, bahwa betapa puisi dengan corak penulisan yang dilakukan oleh Afrizal, mengambil atau membentuk, kesempurnaan makna puisinya dalam terminologi “gema” yang saya maksudkan. Baik gema bunyi maupun gema makna.

Pada Afrizal, puisi datang kepada saya serentak, simultan, datang kepada saya dalam prosa pendek yang, oleh penyair lain, diserakkan ke dalam larik-larik penyusunan puisi. Dan Afrizal, seperti penyair lain, tak juga kuasa untuk menghindar dari benda benda sebagai bahan dari perpuisiannya. Sekalipun benda itu diambilnya di dalam ranah, atau residu, dari sebuah geliat bangsa yang sedang menumbuhkan dirinya ke dalam arus pertumbuhan dari model-model arus bangsa lain.

Simaklah puisinya yang tipikal Arfizal, yang terangkum dalam judul yang Berdiam Dalam Mikropon. Betapa puisi itu membanjiri kita dengan imaji-imajinya, dengan kecepatan penuh sebuah prosa, tapi tarikan dan daya pukaunya, tetaplah puisi.

Saya kutip “Mikropon yang Pecah”.

Mereka pernah keluar dari kota kecil itu, sebuah pengeras suara dengan pendengar yang sunyi. Setelah itu mereka tak pernah kembali lagi. Kota kecil itu kini jadi kata tanpa penghuni. Hujan dan malam sering mengunjunginya, dengan baris-baris puisi menggenang. Tetapi mikropon yang pecah, melahirkan pengucapan 1 CM gemetar membaca dirimu. Orang mengatakan bahasa jadi yatim piatu di kota kecil itu. Setelah itu hujan dan malam tak henti-hentinya turun di hatimu, ketika orang berkata hanya melalui jemarinya yang gemetar. Tetapi mikropon tak pernah mengenalmu, di kota mana pun. Lalu hujan dan malam mulai berpisah dari kenangan, jadi kata tanpa kabar.

Engkau masih percaya juga,
puisi di luar sejarah membaca?

Kota hujan dan malam itu kini jadi benda-benda, pada tanganmu penuh cerita. Mereka ingin berada di situ, tak ingin jadi siapa pun. Mikropon yang pecah telah mengunjungi kota-kota, seperti pembicara 1 CM di lehermu. Tak ada lagi kata yang bisa mengganti dirimu di situ. Mikropon yang pecah kemudian menyemburkan pembaca, di antara pengeras suara, 1 CM yang lalu, memisahkan kata dari kenangan.

Apakah yang kita temui, dari sebuah puisi dengan tubuh prosa ini? Adalah selang-seling makna. Sang penyair memainkan maknanya dengan kata-katanya. Tapi janganlah dibayangkan makna di situ sebagai makna yang terang benderang. Kalau Tardji seperti dalam puisi “dapatkau?” jelas amanatnya, maka Afrizal mengacaukan maknanya dengan cara seakan saling menidakkan. Saling menjauh. Dan makin menjauh. Tapi makna yang saling menjauh itu kemudian muncul kembali ke dalam puisi, sebagai “Kota hujan dan malam itu kini jadi benda-benda, pada tanganmu penuh cerita.” Lihatlah Afrizal membandingkan kota kecil dengan sebuah pengeras suara (mereka pernah keluar dari kota kecil itu). Dan lihatlah massa dalam puisi ini tak mampu bersuara (pendengar yang sunyi).

Massa yang tak mampu bersuara ini, dibayang-bayangi oleh, atau melentik kepada kita sebagai, sebuah kisah pertumbuhan dengan ironi dan tragedi seperti yang kita kenal.

(men nga ndak dem)

Cara peletakan puisi, dalam hubungan dengan gema makna dan gema bunyi ini, sungguh menarik. Seolah saya bayangkan sebuah hutan, yang hadir seketika. Di mana saya tidak memandang ke sebuah ranting, tapi keseluruhan isi hutan. Pemandangan yang membuat saya mereguk seluruh isi hutan dalam citraan. Sering saya bertanya, apakah yang dikehendaki penyair dengan meletakkan sebuah, atau suatu, kalimat atau kata tertentu. Apalagi kalau saya menemukan kata atau kalimat yang diletakkan secara terpisah itu (umumnya ke bawah, atau menyamping), tak menimbulkan pemaknaan lain. Tapi sudah mengurangi kecepatan kata-katanya, untuk sampai kepada pembaca – terpatah. Patahan yang tak mengintensifkan pembacaan, tapi malah mengurangi makna yang ingin disampaikan.

Saya ingin mengelaborasi peletakan kata ini, dengan membandingkannya dengan tubuh manusia. Bagi saya, kerja sastra sungguh kerja yang meniru alam, atau dalam bahasa yang lain: alam memberikan prinsip kerja dirinya, dan sebagai anak dari alam, kita menyimak cara kerja dari sang ibu – ibu alam.. Kalau kita bertemu seseorang, mungkinkah kita langsung memandang kepada kelamin orang itu? Misalnya, kita bersalaman lalu memandang anunya langsung. Tidak kan. Kita langsung memandang keseluruhan orang yang kita kenal itu. Menyerap totalitas orang itu dalam pandangan yang serentak. Bahwa kemudian setelah kita menjadi akrab, lalu kita mengagumi dengan memandang lengannya secara terus menerus, maka itulah soal, atau itulah saat, di mana kita menarik diri dari totalitas dan mulai memuai, mamandang bagian-bagian parsial dari orang itu.

Bagian parsial ini, adalah kata yang bercadar. Kata yang saat kita menangkapnya muncul bagian perbagian, persis seolah perempuan yang menutupkan aurat ke seluruh tubuhnya, lalu lapisan-lapisan kata dari tubuh perempuan itu terbuka, saat dia membuka auratnya. Kata yang bercadar ini, terjadi ketika seorang penyair meletakkan puisinya tidak dalam bentuk prosa, tapi dalam bentuk puisi: memenggalnya, atau melarikkannya ke bawah atau ke samping. Cara peletakan seperti itu, sesungguhnya bisa dilakukan melalui pemakaian tanda baca, koma misalnya. Dengan tanpa mengurangi arti dari puisi. Tetapi justru memperkuat makna puisi. Karena runtunan gema puisi terus berledakan dalam diri. Menggaung dalam diri. Dan sebenarnya, seperti yang telah saya tunjukkan di atas, bukanlah Afrizal yang meletakkan puisi dalam larik prosa tapi Sutardji dalam puisinya Amuk di buku O Amuk Kapak itu. Tapi peletakan Tardji bukanlah menjadi sebuah program perpuisiannya yang ketat. Baru pada Afrizllah ia menjadi sebuah disiplin untuk menulis puisi.

Siapa membaca buku puisi jantung Lebah Ratu, dengan sendirinya akan terkenang klaim-klaim Nirwan akan sastra, terutama dalam kaitan dengan ide, atau peristiwa di dalam masyarakat (sosial). Inti klaim Nirwan, bahwa sastra itu, seharusnya dilepaskan dari beban ide – pikiran. Atau pikiran itu, masuk ke dalam sastra melalui tubuhnya. Ide dan pikiran bukan lagi sesuatu yang seolah berdiri sendiri, tapi telah menjadi tubuh dan jiwa dari sastra itu sendiri. Sastra semacam itu telah mengucapkan dirinya sebagai bahasa, sebagai genre kehidupan yang berbicara dari dunianya sendiri. Bukan dunia compang-camping dari sebuah ide yang membeban – seolah piatu yang kehadirannya tak dikehendaki dalam sebuah keluaga.

Nampaknya, lebah ratu adalah proyek semacam itu. Terlihat sang penyair menghindar dari pengucapan sosial, menghindar dari verbalisme.. Ide, menjadi puisi itu sendiri. Ide, telah menjadi bentuk itu sendiri. Aku lirik atau aku prosaik tidak lagi berbicara tentang masyarakat, tapi personal dirinya dalam hubungan dengan benda-benda unik (sapu tangan dan gerabah) atau alam binatang (harimau dan kunang-kunang).

Maka puisi memang menjadi keluar dari beban sosial, masuk ke beban individual. Makna-makna datang dari sang individu sendiri. Kita tidak bisa lagi merujuknya ketuhanan atau sosial Semata individu. Si aku lirik dan prosaik yang hidup dalam dunianya sendiri. Yang mengeksplorasi pengalamannya yang untik terhadap dunia yang diakrabinya, dan yang hendak diintensifkannya. Hendak dibentukkannya imaji. Tetapi yang menjadi dasar perhitungan dari segala motif dan wujud sastra, pada akhirnya seberapa kuat dunia puisi itu pada tingkat pemaknaan. Di sinilah saya menemukan kata yang bercadar (tetapi bukan hanya pada Nirwan saya temukan ini, tapi hampir seluruh penyair kita), yang seolah tidak mau membuka cadar karena argumen gema dalam perspektif peletakan itu, dan atau seperti yang sering saya ungkapkan, adalah sebuah puisi yang mengunci pembacanya pada tingkat pemaknaan. Penguncian yang datang dari puisi yang telah mengabaikan dunia sosial, Tuhan, sedang benda-benda kecil yang diintensifkannya itu, tidak cukup kuat, atau tak menunjuk kepada, sebuah transendensi selain pengalaman unik itu sendiri. Puisi menjadi terkunci, atau puisi mengunci terhadap pembacanya.

Puisi yang terkunci, dan mengunci pembacanya ini, terlihat sekali dari puisi awal yang bisalah menjadi sebuah isyarat kepada kita sebagai pembaca, bahwa sang penyair adalah seorang yang mengarungi (perenang ulung, kata satu baitnya yang lain) arus semesta yang memang tidak terang benderang alias penuh tafsir (karena itu ia menyebutkan dirinya sebagai perenang buta).

Saya kutip perenang buta, sambil mencoba meletakkannya secara prosa, di mana sang puisi tidak akan kehilangan maknanya, tapi lebih kuat. Tapi dengan begini, maka ia akan mendekat kepada Afrizal. Sesuatu yang dihindari benar oleh Nirwan secara ideologis – dia yang inginkan yang baru!

Perenang buta
Sepuluh atau seribu depa
ke depan sana, terang semata.
Dan arus yang membimbingnya
seperti sobekan pada jubah
tanjung yang dicurinya.
Tak beda ubur-ubur atau dara
mendekat ke punggunya
yang tumbuh sekaligus memar
oleh kuas gerimis akhir mei.

(indahnya kata tak berorganisasi dengan larik lain yang menyarankan keindahan makna)

Ia seperti hendak kembali
ke arah teluk, di mana putih layar
Pastilah iri pada bola matanya.
Tapi ia hanya berhenti, berhenti
di tengah, di mana rambutnya
bubar seperti ganggang biru
atau gelap seperti akar benalu
sehingga betapa mercu suar itu
ragu-ragu memandangnya.

Puisi yang sebenarnya prosa pendek ini, dalam pandangan saya, bisa pula dihamparkan secara ini:

Perenang buta

Sepuluh atau seribu depa ke depan sana, terang semata. Dan arus yang membimbingnya seperti sobekan pada jubah tanjung yang dicurinya. Tak beda ubur-ubur atau dara mendekat ke punggunya, yang tumbuh sekaligus memar, oleh kuas gerimis akhir mei. Ia seperti hendak kembali, ke arah teluk, di mana putih layar, pastilah iri pada bola matanya. Tapi ia hanya berhenti, berhenti, di tengah, di mana rambutnya, bubar seperti ganggang biru, atau gelap seperti akar benalu. Sehingga betapa mercu suar itu, ragu-ragu memandangnya.

Tapi dengan begitu, apakah saya sebagai pembaca, telah berlaku tidak demokratis kepada sang penyair? Tidak. Tapi tidaknya bukan disebabkan saya penganut teks hidup dan pengarang mati, tapi semata karena saya melihat fungsi kata dan pemaknaan di situ. Pada perenang buta, tidakkah kecepatan kata yang diolah secara prosa itu lebih menghujam kepada pembacanya, tanpa patahan, tapi sekaligus seolah curahan hujan ke bumi. Membasahi serentak kepada kita yang haus akan makna.

Makna? Di sinilah saya hendak mengatakan, bahwa perenang buta ini adalah sebuah puisi yang terkunci, atau mengunci pembacanya. Lihatlah makna yang disarankannya. Apakah kehendak si aku di situ? Apakah yang ingin dicapai oleh aku di situ dengan berenang-renang ke tengah laut?

Depan sana, terang semata… Pastilah. Kita tahu dunia seluas semesta.. Tapi terang yang mana? Di sinilah saya mengatakan, bahwa puisi kekurangan umpan. Jubah sobek dan tanjung yang dicuri, masih belum cukup kuat untuk menyarankan suatu pemaknaan kepada kita, tentang apa yang hendak ditunjuk oleh sang penyair. Jubah latin pun tidak. Juga ubur-ubur atau dara. Benda-benda ini tak mengelindankan makna tertentu kecuali sebagai detil alam.

Tentu saja kita merujukkan kata yang bercadar ini ke dalam sebuah misteri kata. Kembali ke anak gadis, pastilah akan merangsang benar kalau selapis-selapis kain yang ditubuh terbuka, lalu kita akhirnya menemukan bukit kembar milik sang gadis. Tapi dengan begini, maka seolah berhadapan dengan puisi yang bersambungan, dimana makna-makna dari lariknya berkejaran membentuk makna tunggal setelah pembacaan. Makna yang mengangkat kita kepada bukan hanya benda, tapi ada penglihatan lain yang mengatasi benda-benda. Dan pengelihatan yang lain ini, tidak saya temukan di dalam puisi pertama buku Nirwan. Yakni perenang buta.

Ia seperti hendak kembali, tapi ia hanya berhenti di tengah. Gerak tidak maju lagi ini, bagaimana menghubungkannya hendak menangkap terang semata? Dan lagi, terang semata apa yang akan ditangkapnya? Apakah yang diirikan oleh seseorang di situ, terhadap upaya penerobosan makna yang diklaim oleh sang penyair aku di situ? Nyaris tidak ada. Dan seolah menyuarakan kegamanganya sendiri, sang aku di situ menutup dirinya, atau pencarian yang hendak dia lakukan, dengan sebuah kabar yang bukan dalam perspektif ambivalensi, tapi keraguan yang melihat kilauan cahaya besar (Tuhan) (kejadian penting yang membenam dalam benak kita), di mana sang kilauan besar itu sendiri seolah telah memfonisnya. Ragu-ragu dengan pencarian yang telah dilakukan oleh si aku: Mercusuar itu ragu-ragu memandangnya.

Dino yang Bahagia

Bentuk kata, makna puisi, saya temukan juga pada Dino F Umahuk. Penyair ini tidak bersibuk diri seperti rekannya sesama penyair di atas dalam menyusun puisi, atau sibuk dengan mencari-cari definisi dari sastra itu sendiri. Seolah dia sudah mengalami for play dalam hidup dan kini tinggal naik bersetubuh dengan kata-kata, begitulah saya melihat Dino menyusun syair: Naik keluar mani naik keluar puisi. Dan Tuhan dan alam bersahutan dalam penyair Dino ini, yang birahilaut-nya membabar metapora tentang Tuhan dan alam, tentang nasib buruk dan kesia-siaan. Dino pandai menyusunnya dalam pemaknaan yang tidak hanya sekedar suntuk dengan cara menyusun kata, seperti yang saya lihat pada beberapa puisi di buku Nirwan. Dino menghidupkannya ke dalam puisi yang tak meruwetkan ke dalam bentuk. Bentuknya adalah bentuk puisi yang konvensional. Tetapi mengapa pada bentuk puisi yang konvensional saya justru lebih mendapatkan kenikmatan? Seolah puisi itu hadir secara sederhana, menyederhanakan keruwetan dari hidup yang tak sederhana. Lihatlah dia berbicara tentang kesederhanaan tentang Tuhan yang mewujud kepada agama, atau bagaimana seharusnya pemeluk agama itu mensosialkan imannya kepada Tuhan dalam puisi pertamanya di dalam buku syairnya.

Membaca puisi pertamanya, saya segera bisa mengaitkan kepada situasi hidup kita kini, di mana orang gemar saling membunuh, demi sebuah klaim. Bagi saya puisi ini menarik. Di sana, aku lirik menjarakkan dengan ide-nya. Seolah ia bukanlah bagian dari ide itu sendiri. Ide agama, yang direpsentasikan oleh penyair sebagai agama besar di Indonesia – Islam dan Kristen. Islam dan Kristen yang penuh kasih. Tapi telah dipakai oleh umatnya untuk saling membunuh. Dan di sinilah Dino berkotbah dengan sabar, melalui sebentuk pertanyaan – bukan kotbah yang sering dilakukan orang kini: sendirian berteriak di mimbar, sambil kemudian mengangkangi kata-katanya sendiri.

Dino menarik diri, berjarak, memandang semuanya dari sebuah tempat, mengajukan pertanyaan dari sebentuk puisi dengan memakaikan kalimat-kalimat biasa, tapi begitu berkesan dan sampai kepada kita karena kedalaman maknanya – kedalaman yang diambil dari kenyataan hidup yang tidak diartifisialkan dalam kata-kata yang hampa makna. Penarikan diri ini dilakukan dengan sadar oleh penyair, karena dia tidak hendak ikut kotor. Tapi membersihkan kekotoran melalui puisinya. Sebentuk pertanyaan yang dikunci dengan kata-kata yang mengejutkan: apakah mereka mengajarkan agama tuhan untuk saling membunuh? Kalau memang demikian/mengapa agama melarangku bunuh diri.

Lihatlah, betapa puisi ini mengajarkan kepada kita, bahwa masyarakat kumpulan manusia itu, adalah sejatinya satu orang saja. Yakni manusia. Atau kalau mau dibalik, betapa satu orang saja itu, adalah masyarakat itu sendiri. Dan dalam puisi ini, kita jadi tahu bahwa massa itu adalah diri orang perorang. Di sinilah pesan penyair yang teramat dalam, terutama saat kita memaknai perubahan yang menguncangkan saat ini. Perubahan yang datang dari darah dan air mata.

Saya kutip selengkapnya puisi Dino yang bagi saya menegaskan dirinya sebagai penyair. Yakni, penyair sufi dari cara bersyair dalam bingkai sufi sosial.. Dino adalah penyair sufi sosial.

Bila nanti siang kau sholat jumat
Barangkali di masjid al fattah
Atau hari minggu nanti kau ikut kebaktian atau missa
Mungki di gerja maranatha mungkin di keuskupan
Tolong tanyakan kepada muhammad dan isa yang agung itu
Apakah mereka mengajarkan agama tuhan
Agar kita saling membunuh?

Kalau memang demikian
Mengapa agama melarangku membunuh diri

Hidup Dino memang kiri, tapi kiri seperti tangan Hasan yang memanjatkan doa bersama tangan kanannya dalam puisinya:

“MAMPUKAH kita menampung semua yang ia minta?”
tangan kanan itu bertanya kepada tangan kiri.

Entahlah apa jawabnya. Mar bilang: intro dalam nada do = c

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *