Seekor Bebek di Tangan Puthut

Lutfi Rakhmawati*
http://www.jawapos.com/

SEEKOR bebek tidak bisa memengaruhi hidup seorang manusia, apalagi sampai membuatnya bernasib buruk seumur hidup. Namun, itulah yang dialami ”Aku”. Sejak dituduh membunuh seekor bebek di pinggir kali, dia selalu dihantui nasib buruk. Ayahnya ditangkap karena berhubungan dengan komunisme, ibunya sudah meninggal, dan bulek satu-satunya juga pergi entah ke mana.

Dia kehilangan semua yang dimilikinya, kecuali nasib buruk. Bayang-bayang sebagai anak komunis membuatnya kehilangan mimpi terbesarnya: menjadi guru. Dia kemudian tumbuh menjadi seseorang yang tertutup, spontan, misterius, dan benci pada ayahnya. Ayahnya adalah seseorang yang membuatnya gagal menjadi guru.

Kisah tentang bebek itu menjadi cerita pembuka dari antologi cerpen Puthut E.A., Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali. Kisah ironis tentang stigma negatif masyarakat Indonesia terhadap komunisme tidak hanya ditemukan di cerita bebek tadi. Bahkan, beberapa cerpen yang lain menyajikan paparan cerita yang lebih kelam, tragis, dan mengiris.

Soal potong-memotong barang kiriman, itu sudah biasa. Apa saja yang dikirim pasti kena pemotongan. Tapi memotong kiriman ayam untuk anak kecil yang berbulan-bulan hanya diberi makan jagung hitam, perbuatan macam apakah itu?

Cerita kesembilan, Anak-Anak yang Terampas, menampilkan sisi lain dari sebuah penjara. Ada masa-masa bangsa ini begitu kejam sehingga sampai hati memasukkan anak-anak dan wanita hamil ke dalam penjara. Anak-anak itu lahir, menghabiskan masa kecil, bahkan dewasa di penjara.

Dilihat dari sudut mana pun, memenjarakan anak kecil adalah kejahatan sangat besar yang bahkan tidak setiap penjahat bisa melakukannya. Tapi, dalam cerpen ini, Puthut menyajikan pemandangan lain dari tragedi kemanusiaan itu.

Anak-anak dalam penjara adalah cahaya bagi para penghuninya. Adanya anak-anak dalam penjara menerbitkan semangat baru. Semangat yang membuat mereka bertahan dengan segala keterbatasan. Semangat melindungi anak-anak itu.

Dunia bisa sejenak riang, jika seorang bayi mulai bisa merangkak. Udara sejenak bisa terang jika seorang anak mulai bisa berjalan. Cuaca terasa sejenak sejuk, bila seorang anak mulai memperlihatkan gigi-gigi mereka yang tumbuh. Keadaan terasa agak menentramkan ketika satu dua di antara anak-anak itu mulai belajar bertepuk tangan dan menjerit riang.

Keberadaan anak-anak menjadi penting bagi penghuni penjara lainnya. Penting, karena tidak semua penghuni penjara ingat bagaimana rasanya bahagia. Melihat anak-anak itu tumbuh besar bisa membuat mereka sejenak bahagia. Paradoks yang memilukan.

Cerita lain, Rahasia Telinga Seorang Sastrawan Besar, menyentil satu hal kecil, tetapi menusuk. Tanpa menyebut nama sastrawan itu, Puthut membeberkan dengan rinci kebiasaan sang sastrawan. Setiap berbicara dengan orang lain, dia akan meminta lawan bicaranya menaikkan volume suaranya.

”Berkatalah yang keras! Telingaku pernah dipopor tentara!”

Begitu saja. Hanya satu kalimat singkat, tetapi mampu menimbulkan persepsi macam-macam. Orang yang mendengarnya biasanya langsung bersimpati pada sang sastrawan sambil diam-diam mengumpat dalam hati, betapa kejamnya tentara-tentara itu.

Tidak banyak yang tahu, sang sastrawan sering menggunakan cara itu untuk memengaruhi orang lain. Dia menggunakan kekurangannya itu sebagai senjata untuk melancarkan protes terhadap perlakuan tidak manusiawi yang sering ditujukan pada orang-orang ”komunis” seperti dia.
***

Apakah buku ini hanya berisi sekumpulan kisah pilu? Tidak juga. Ada beberapa kisah ringan yang tidak ringan. Ringan, karena ide yang diangkat tidak muluk-muluk. Tapi menjadi tidak ringan, karena setting sederhana yang dibuat Puthut mampu menghasilkan konklusi yang manis dan tuntas.

Obrolan Sederhana contohnya. Mengisahkan pertemuan dan perbincangan dua orang pria yang sama-sama asing. Hujanlah yang menyatukan mereka. Dari hanya berteduh, mereka kemudian mulai saling bercerita. Bukan hal yang lumrah, mengingat mereka tidak pernah kenal sebelumnya.

Namun, rasa asing malah membuat mereka menjadi saling terbuka. Keterbukaan yang bahkan tidak bisa mereka tampilkan di depan orang-orang yang mereka kenal. Dari cerita ini, Puthut dengan luwes menampik anggapan bahwa keterbukaan akan muncul seiring berjalannya waktu. Buktinya, dengan orang asing pun kita bisa terbuka.

Sambal Keluarga lain lagi. Di keluarga kecil ini, sambal bukanlah makanan pelengkap. Sambal adalah menu utama. Dan sambal mewakili berbagai hal yang tidak bisa didiskusikan dengan obrolan keluarga biasa. Simbolisasi sambal sedemikian gentingnya sampai bisa memengaruhi masa depan sang tokoh utama.

Cerita itu hanya berisi sebuah kisah drama keluarga sedehana. Namun kesan unik, lucu, dan tegang tertuang dalam satu cobek sambal. Sekali lagi, ini bukan kisah sambal. Ini kisah keluarga yang bisa saja ditemui di keluarga mana pun.
***

Setiap cerita di buku ini punya ilustrasi masing-masing. Total, ada empat ilustrator yang dilibatkan dalam pembuatan buku antologi cerpen ini. Setiap ilustrasi dibuat menyerupai ide cerita. Kadang ilustrasi dibuat semirip mungkin dengan isi cerita. Kadang, ilustrasi ditampilkan sedikit abstrak dan menyerahkan sisa persepsi yang ada kepada masing-masing pembaca.

Tren menyertakan ilustrasi di setiap cerpen menambah ”kekayaan” antologi cerpen ini. Buku ini, dengan demikian, adalah sekumpulan intisari dan karya seniman, prosais, dan pembaca sendiri. Melalui akhir kisah yang tidak menghakimi dan cenderung blurry, Puthut menyerahkan sisa akhir cerita kepada pembaca. (*)


Judul : Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali
Penulis : Puthut E.A.
Penerbit : Insist Press-Jogjakarta
Tahun : Maret 2009
Tebal : 160 halaman
*) Alumnus HI UMY Jogjakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *