Adakah Estetika dalam Keberpihakan Wacana?

Judul : Titian (Antologi Cerita Pendek Kerakyatan)
Pengantar : Agung Putri
Tebal : xxi + 173 halaman
Penerbit : Koekoesan
Peresensi: Sudarmoko
balipost.com

MAMPUKAH cerpen menjadi refleksi atas peristiwa yang telah terjadi? Sejauh mana cerpen sebagai salah satu bagian dari kesusastraan mampu menyatakan keperdulian terhadap hak dan martabat sebuah bangsa? Dan mampukah sebuah cerpen di dalam keberpihakannya akan memunculkan estetika sastra? Continue reading “Adakah Estetika dalam Keberpihakan Wacana?”

Sastra, Kebangsaan, Konferensi

Ahda Imran
http://pr.qiandra.net.id/

HUBUNGAN antara sastra dan proses terbentuknya kesadaran suatu bangsa adalah hubungan yang niscaya. Sejarah kesusastraan, di mana pun, senantiasa memiliki korelasi dengan proses berlangsungnya karakteristik suatu bangsa, bagaimana kesadaaran itu tumbuh dan berproses dalam berbagai perdebatan, bahkan pertentangan. Dengan kata lain, berbagai perdebatan dalam kesusastraan dan kebudayaan umumnya senantiasa berbanding lurus dengan perdebatan soal pembangunan kesadaran karakter bangsa dan kebangsaan. Terlebih lagi, nasionalisme senantiasa menghendaki bentuk-bentuk pengertian yang bergerak demi menjawab waktu dan ruangnya yang menjadi konteksnya. Continue reading “Sastra, Kebangsaan, Konferensi”

9 Pertanyaan untuk Zara Zettira ZR: Menulis adalah Kebutuhan

Grathia Pitaloka
jurnalnasional.com

SATU dekade menghilang dari dunia kepenulisan di Tanah Air, kini Zara Zettira ZR kembali hadir bagi para pembacanya. Roda waktu yang berputar selama 10 tahun tak mampu menggerus pesona ibu dua anak ini. Zara masih seperti dulu: cantik, langsing, dan penuh kelembutan.

Zara yang sore itu terlihat anggun dibalut kebaya putih bertutur bahwa dirinya tidak absen 100 persen dari dunia kepenulisan. Waktu satu dekade itu ia habiskan untuk membuat karya dalam bentuk skenario. Continue reading “9 Pertanyaan untuk Zara Zettira ZR: Menulis adalah Kebutuhan”

Visi Kebudayaan Capres

Indra Tranggono *
kr.co.id

MESKIPUN sering mengaku menjunjung tinggi kebudayaan, bangsa kita belum menjadikan kebudayaan sebagai basis pembangunan. Pendekatan yang dipakai cenderung parsial: politik dan ekonomi yang kurang mempertimbangkan asas demokrasi, keadilan dan pemerataan.

Politik menjadi primadona pada era kekuasaan Orde Lama Soekarno. Atas nama “revolusi belum selesai” dan character building, Soekarno menggunakan politik sebagai panglima. Continue reading “Visi Kebudayaan Capres”

Memihak, Ciri Sastra Banyumas

Budiono Herusatoto*
http://www.kr.co.id/

SETELAH lama menanti perbincangan yang intens terhadap pemikiran tentang penciptaan karya sastra Banyumas, kini muncul dengan serius diawali oleh Sigit Emwe: Langkah Sastra Banyumas disusul oleh Rusmiyati: Sastra Banyumas dalam Kekosongan Budaya (KR Minggu, 14/6/2009), disambung oleh Yosi M Giri: Misi Kesusasteraan di Banyumas (KR, Minggu 21/6/2009), saya sebagai pengamat kebudayaan Banyumas ikut nimbrung untuk lebih melengkapi rerasanan sastra Banyumas itu. Continue reading “Memihak, Ciri Sastra Banyumas”

Bahasa ยป