Seperti Matahari…

Nita Gracia Dars Hats
kendaripos.co.id

Seperti biasa, sore ini aku duduk-duduk santai di teras rumahku, sambil mendengarkan lagu dari radio kecilku ditemani secangkir teh hangat. Ya, inilah yang sering kulakukan di hari-hari tuaku. Aku tersenyum tatkala melihat beberapa anak kecil dengan riang bermain di halaman rumahku. Wajah-wajah polos itu terlihat sangat bahagia bermain bersama, walau hanya dengan mainan sederhana seperti kelereng. Perlahan tanganku yang mulai keriput meraih cangkir teh di meja, lalu menyodorkannya ke bibirku. Aku meneguk teh itu dengan penuh nikmat dan damai. Kemudian, mataku terpejam menghayati bait-bait lagu populer masa kini dari radio kecilku yang mulai ketinggalan zaman, sambil sesekali bersenandung mengikuti irama lagu. Continue reading “Seperti Matahari…”

Simfoni Jingga

Nini Maryana R. Sari Dewi
kendaripos.co.id

Aku tak ingin disalahkan atas segala peristiwa yang menimpaku ini. Ya Tuhan, apa aku tengah sekarat? Di mana sebenarnya aku tengah berpijak kini? Surgakah? Nerakakah? Ataukah mungkin bukan keduanya? Ya Tuhan, betapa tersiksanya rasa ini. Ya Tuhan, apakah sekarang Engkau tengah tersenyum melihat deritaku? Ataukah Engkau tengah mencaci maki karena segala kebodohanku di masa lalu? Ya Tuhan, aku yakin Engkau tengah mengawasiku. Saat ini, hanya Engkau yang kuandalkan untuk menolongku. Continue reading “Simfoni Jingga”

Kanon Sastra: Siapa Takut?

Ayu Utami*
http://www.prakarsa-rakyat.org/
(29 Oct 2007 Kompas)

Mengapa takut, wahai, pada kanon sastra? Toh kita belum pernah punya. Dan sesungguhnya kita perlu punya, ya, sebuah kanon yang cocok untuk kepentingan kita. Dan kepentingan itu adalah proyek kebangsaan Indonesia, yang belakangan ini terbengkalai.

Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 adalah tonggak awal kebangsaan kita. Sayangnya, pemerintahan Soeharto menjalankan proyek ini dengan cara yang menghilangkan keharuannya. Continue reading “Kanon Sastra: Siapa Takut?”

Sastra Berbahasa Daerah Punah?

Andi Sutisno*
http://cetak.kompas.com/

Dalam kehidupan manusia, diakui atau tidak, sastra merupakan bagian yang tak terpisahkan. Bahkan, sastra kadang dianggap sebagai alat bagi manusia untuk mengenali diri beserta kompleksititas hidup yang dialaminya.

Dalam konteks tersebut, Boulton (dalam Aminuddin, 1995: 37) mengemukakan bahwa cipta sastra, selain menyajikan nilai-nilai keindahan dan paparan peristiwa yang mampu memberikan kepuasan batin pembacanya, juga mengandung pandangan yang berhubungan dengan renungan/kontemplasi batin, baik berkaitan dengan masalah keagamaan, filsafat, politik, maupun berbagai problem yang berhubungan dengan kompleksitas kehidupan ini. Continue reading “Sastra Berbahasa Daerah Punah?”

Buku Sastra Etnis Hanya Bermodal Cinta

Eriyanti Nurmala Dewi, Vebertina Manihuruk
http://pr.qiandra.net.id/

PROFESIONALITAS ternyata masih jauh dari perkembangan kesusastraan daerah. Buku-buku dalam bahasa ibu atau bahasa etnis, ternyata masih diproduksi sebagai kegiatan rumahan. Para penulis sastra etnis pun melaksanakan kegiatannya lebih karena alasan cinta.

Hasil karya sastra berbahasa etnis memang banyak mengalami kondisi rumit dan terseok-seok. Sementara bahasa ibu semakin jarang digunakan sehingga belum tentu bukunya diminati khalayak luas. Penerbit pun seperti ogah-ogahan karena penerbitan itu jauh dari unsur laba. Continue reading “Buku Sastra Etnis Hanya Bermodal Cinta”

Bahasa ยป