Puisi-Puisi Tjahjono Widarmanto

http://www.jawapos.com/
TUNJUKKAN KOLAM ITU, TUHAN (1)

di kolam mana tempat aku bisa mencelupkan kepala, Tuhan !
tubuhku sarat dengan bangkai, nanah, dan air mata
belatung. anyir. hitam.
kefanaan melayang-layang.
entah sampai mana
wajah mengabut makin dekat ke sudut. anyirku mengalir
mirip akar sulur menjulur di sepanjang tembok penuh lumut
merayap
meleleh
berleleran
tuba tubuhku. racun bagi
segala ikan
di kolam mana, Tuhan, pada beningnya bisa kucelup kepala
senja telah larut
hanyut aku bersama fanaku

Ngawi-Surabaya, 2009

TUNJUKKAN KOLAM ITU, TUHAN (2)

batu-batu mengeram di bawah reruntuhan hatiku
batu-batu ini, resahku,
kengerian yang mengeram bagai harimau dengan taring hiu
menggerogoti akar batang-batang air dalam jiwa
beribu unggas pun berlarian
membawa cinta dan seluruh senyum
jasadku penuh ulat
zakarku sarang belatung
tunjukkan kolamMu. akan kucelup tubuh anyir
namun, tinggal sesobek doa
yang tak dipedulikan musim hujan.

2009

TUNJUKKAN KOLAM ITU, TUHAN (3)

sampai dasar kugali kolam
mata airMu
memburu tetes embun
yang tersisa
luput kutadahi dalam cangkir tanah liatku
mata airMu telah jadi bah
tubuhku terapung dibawa sunyi
entah sampai tepian mana
pertobatanku sia-sia
Engkau menyelam begitu dalam
tubuh -bahkan mayatku- hanya sanggup
mengapung ke ribuan kolam
menghisap air. menjilat-jilat lumut
Engkau menyelam begitu dalam
melambai-lambai
pada tubuhku yang dingin.

2009

BAYANG-BAYANG

sebuah kota mengapung di sudut-sudut kelopak matamu
stasiun-stasiun berjejer sepi bertabik pada debu yang menderu
menunggu kereta, mungkin terakhir, melintas di garis abu-abu
gerbong-gerbongnya tampak termangu melambai pada masa lalu

lelaki itu tersesat juga di matamu. menyelinap di antara kening
menari sebentar di pelupuk
dan alis mata
lantas sembunyi di balik payudara

lelaki itu terus menari
melambai pada matahari
sambil merayapi helai rambutmu.

di daun telinga dibisikkan seribu mantera:
”sebelum detak jam diburu musim kemarau, kusampaikan isyarat waktu padamu”

kau hanya tersenyum dan bergumam,
”lihat, kereta telah tiba!”

matahari pun lenyap saat kau bergegas jadi bayang-bayang hilang di kelok stasiun.

Ngawi, 2008-2009

INI UNTUKMU

ini untukmu, sepotong sunyi. sekerat takdir. dan separuh kemarau
kenangan yang tertinggal saat matahari lelah menatap bumi
tersisa dari secabik ingatan tentang : mawar yang meranggas!

tak pernah ingatkah kau dengan segala doa yang kau pintakan
tapi matahari menghanguskan semuanya. juga beranda
tempat kita mencium wangi bunga.

Kedah, 2008-2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *