Kehajian dalam Sastra

Damhuri Muhammad
http://www.suarakarya-online.com/

Sudah berkali-kali Haji Usman berkilah dan berkelit untuk tidak menghadiri hajatan pernikahan di lingkungan kampungnya. Padahal, undangan terus berdatangan ke rumahnya. Maklumlah, Haji Usman, tokoh masyarakat, orang terpandang di kampung itu. Semula ia enggan mengemukakan alasan kenapa ia keberatan memenuhi undangan dari sejawat-sejawatnya itu. Namun, karena terus-menerus ditanyai, akhirnya Haji Usman buka mulut juga.

Dan, ternyata masalahnya sepele. Hampir di setiap kartu undangan yang diterimanya, “sohibul-hajat” tidak mencantumkan huruf “H” sebelum namanya. Jadi, yang tertera hanya “Usman”, bukan “H. Usman”. Ia merasa kurang dihargai – bila tidak bisa disebut dirugikan – sebagai orang yang telah bersusah-payah mengumpulkan biaya guna menjejakkan kaki di tanah suci. “Kopiah putih di atas kepalaku sangat mahal harganya,” begitu Haji Usman menggerutu pada Maemunah, istrinya.

Cerita sederhana ini kerap terjadi dalam keseharian kita. Haji Usman hanyalah satu dari sekian banyak haji yang pernah mengalami ketersinggungan yang sama. Berangkat dari kenyataan itu, maka ritual haji tak ubahnya upacara pembai’atan derajat keberagamaan sebuah keluarga, sebuah silsilah. Status kehajian nyaris bergeser dari kepasrahan akan ridho Tuhan menjadi sayembara meraih harkat keberibadahan yang pantas disanjung, dipuja-puji. Mereka beribadah, hanya karena ibadah itu warisan turun-temurun. Menyembah bukan semata-mata karena mesti menyembah. Menyembah karena akan meraih berkah-Nya. Berserah diri karena diam-diam berhasrat hendak “menjarah” rejeki-Nya.

Problematika derajat kehajian semacam inilah yang menjadi panggilan penciptaan Gus tf Sakai dalam novelnya Ular Keempat (2006). Semula novel itu tampak hendak membincang fakta sejarah perihal kisruh penyelenggaraan perjalanan haji (1970) yang dianggap melanggar prosedur, sekaligus memberi gambaran samar tentang sejarah mula-mula penyelenggaraan ibadah haji di bawah kendali (monopoli?) sebuah departemen di republik ini. Tapi, ternyata latar cerita itu hanyalah medium bagi eksplorasi maknawi lebih dalam. Pengarang menghadirkan Janir, tokoh paling penting dalam buku itu. Seorang pengusaha rumah makan asal Padang yang sukses di perantauan. Juragan yang membawahi banyak anak semang. Sosok kehajian Janir tiba-tiba berubah menjadi problematis, sebab tak tegak pada landasan iman yang matang, tidak berdiri di atas keikhlasan yang teruji. Meski telah menunaikan rukun Islam kelima itu untuk kali yang kedua, predikat kehajian Janir tetap menyisakan banyak tanya. Kegelisahan teologis yang dialaminya seumpama belitan ular yang sewaktu-waktu bakal “mencotok” atau menancapkan bisa di tubuhnya.

Dalam situasi psikis yang rapuh itu, Janir beroleh semacam ilham dari guru Muqri yang dijumpainya di tanah suci. Tak jelas siapa sesungguhnya orang itu, boleh jadi ia benar-benar nyata atau halusinasi Janir belaka. Diceritakan, guru Muqri pernah berjanji pada kehajian Janir yang pertama, bila ia masih terpanggil berhaji pada kali kedua, guru Muqri akan memberinya tiga cerita, tiga kisah. Maka, janji pun ditepati. Kisah pertama bertutur tentang perburuan para hamba mengejar syafa’at malam kemuliaan, malam yang lebih baik dari seribu bulan, lailatul qadar. Berhari-hari, berminggu-minggu mereka berpacu. Berburu. Serupa kesetanan, seperti kesurupan. Tak pernah mereka singgah. Ada halte ada stasiun tetapi mereka terus. Ada kehidupan dan kematian tetapi mereka ngebut di kesendirian. Berlomba.

Saling mendahului. Beribadah demi sorga mereka sendiri. Inilah dia Ular Pertama; egoisme. Gigitannya tak merusak raga, tak pula menyakitkan, tapi kebuasannya dapat mencabik-cabik jiwa, melunturkan keikhlasan. Setan yang nyata. Mungkinkah iman bakal bersitumbuh di atas watak egoistik yang meluap-luap?

Saat wukuf di Arafah, Janir beroleh “wahyu” selanjutnya. Dua kisah lagi sesuai janji guru Muqri. Kisah ini menyindir potret peribadatan orang-orang kampung Janir, yang tak lebih karena keturunan mereka melakukannya. Itupun hanya untuk menggapai kehajian yang bakal dibanggakan. Pembeda antara yang sudah bersorban, berkopiah putih dengan yang masih berpeci hitam tanpa sorban, sebagaimana kisah Haji Usman di atas. Janir teringat masa kecil di kampung dulu. Ada debar pengajian, getar tadarus, beningnya suara azan buya Daruwih. Seolah-olah kenangan itu yang mendorongnya berhaji. Ya Allah, betulkah kenyataan ini: aku berhaji karena kenangan? Dalam kenangan itu terselip kebanggaan? Inilah Ular Kedua: kebanggaan, riya’, sum’ah, takabbur. Gigitannya tak menghancurkan daging, tapi membinasakan keberpasrahan.

Setan besar.Lebih besar dari Jumratul Aqabah, Wustha dan Ula. Kisah terakhir yang diperoleh Janir berisi prediksi futuristik tentang silang-sengketa, pertikaian antar kelompok dalam memperebutkan kekuasaan. Ini terasa mencengangkan. Guru Muqri terlihat amat paham khazanah Tambo. Seakan-akan riwayat itu bukan dari guru Muqri, tapi dari perenungan Janir sendiri. Dalam salah satu versi Kaba (sastra lisan Minangkabau) ditemukan cerita mengenai seluk-beluk permainan layang-layang.

Anehnya, cerita layang-layang ini tak termaktub pada bab tentang permainan rakyat, tapi ditempatkan pada bab kepemimpinan. Apa hubungan layang-layang dengan masalah kepemimpinan? Negara diamsalkan serupa layang-layang putus tali, lalu orang-orang berhamburan mengejarnya dengan kayu galah di genggaman masing-masing.

Sebelum layang-layang itu jatuh menyentuh tanah, kayu-kayu galah lantas menghadang. Menusuk, merenggut, seolah setiap orang berhak atas layang-layang itu. Mereka tak beroleh apa-apa selain bangkai layang-layang. Patah-patah, remuk, hancur, cerai-berai. Begitulah negara. Semua orang merasa berhak memiliki. Bila satu kelompok gagal, kelompok lain juga tak boleh memiliki. Inilah Ular Ketiga: rakus, tamak, lalim. Maka, bila para hamba Tuhan yang lain meraih kemabruran dari tanah suci, Janir justru beroleh cenderamata; tiga ekor ular dari guru Muqri. Sesampai di tanah air, ia beroleh seekor ular lagi, pengarang menyebutnya Ular Keempat. Janir pun memasang niat akan berhaji lagi tahun depan, menjejakkan kaki di tanah suci lagi. Ia tak peduli anak-anak semang, tetangga-tetangga melarat, para fakir dan dhuafa. Janir sudah “ketagihan” digigit ular, dan hendak menjemput gigitan Ular Kelima, Keenam… ***

* Penulis adalah cerpenis, bermukim di Jakarta
Alumnus Pascasarjana Filsafat Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta. Lahir di Padang, 01 Juli 1974

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *