KEMERDEKAAN BAHASA INDONESIA

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Bahasa itu produk budaya. Kelahiran dan perkembangannya sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berada di sekelilingnya: letak geografi, kondisi alam, kultur, sikap hidup, dinamika sosiologis masyarakat pemakai, sejarah bangsa, dan karakteristik bahasanya itu sendiri. Kelahiran, pertumbuhan, dan perkembangan bahasa Indonesia, juga tidak terlepas dari berbagai faktor itu. Ia mirip aliran sungai. Mengalir berkelak-kelok, bercampur dengan aliran sungai yang lain. Membentuk kuala sendiri, Mungkin juga ada limbah pabrik masuk. Agak tercemar. Tetapi ia terus mengalir sampai pada sebuah muara: bahasa bangsa. Itulah potret bahasa Indonesia. Continue reading “KEMERDEKAAN BAHASA INDONESIA”

Dongeng Kegelapan

A.S. Laksana *
jawapos.co.id

Dari dongeng anak-anak, Anda bisa belajar tentang banyak hal yang tidak terjadi di dunia orang dewasa. Berkaitan dengan kekuasaan, misalnya, kita disuguhi cerita mengenai singgasana raja yang di atasnya tergantung sebilah pedang telanjang. Pedang tersebut hanya diikat oleh seutas benang tipis yang akan putus jika sang raja memperlakukan kekuasaannya secara berangasan. ”Paduka harus bertindak adil. Benang itu akan putus dan pedang akan membabat leher Paduka jika Paduka bertindak ugal-ugalan di atas singgasana,” kata penasihat kerajaan. Continue reading “Dongeng Kegelapan”

Mengenang Kampung Halaman

Satmoko Budi Santoso *
jawapos.co.id

PAMERAN tunggal seni rupa bertajuk (C)artography karya Julnaidi M.S. di Emmitan CA Gallery Surabaya pada 11-25 Oktober 2009 dengan segera sangat mengesankan bahwa Julnaidi berusaha merefleksikan ingatan kolektif atas kampung halamannya, yakni Sumatera Barat. Memang pameran ini tak berhubungan dengan peristiwa gempa bumi di wilayah itu baru-baru ini. Semua lukisannya dipersiapkan sebelum bencana alam itu terjadi. Dengan kata lain, pameran tersebut bukan pameran amal. Continue reading “Mengenang Kampung Halaman”

Mendebat Misogyni

Fathurrofiq
http://www.jawapos.co.id/

Budaya masyarakat bisa jadi menunjukkan praktik-praktik tidak senonoh pada harkat manusia, termasuk perempuan. Tak pelak, pengarang yang kritis-prihatin berusaha mendebatnya. Makanya, Alan Swingewood menganggap pemahaman yang mengatakan bahwa sastra (novel) merupakan cermin budaya masyarakat sebagai pemahaman yang rancu. Pemahaman itu ditekankan oleh Swingewood, mengabaikan peran otonom pengarang dalam kontruksi wacana budaya. Horizon atau wawasan pengarang bisa bekerja secara otonom dalam budayanya. Pengarang sudah lazim mendebat, bahkan menolak sama sekali praksis budaya yang melatari novelnya. Continue reading “Mendebat Misogyni”

Kursi dan Peradaban

Wawan Setiawan*
http://www.jawapos.co.id/

ADANYA pesuruh, pegawai, guru, kepala sekolah, dan ketua yayasan dalam sebuah lembaga pendidikan adalah sesuatu yang alamiah. Mereka telah menduduki posisi yang memang selayaknya ada di sana. Fenomena alamiah ini wajar, tetapi setelah proses interaksi nilai-nilai, posisi-posisi itu kemudian menjadi terasa sangat terbedakan dan bahkan seolah-olah kurang terhubungkan. Continue reading “Kursi dan Peradaban”

Bahasa ยป