REFORMASI KE AMBANG REVOLUSI

Nurel Javissyarqi
http://www.facebook.com/nurelj

Reformasi serupa sakit perut mual-mual, menyakitkan pengeluaran melegakan pembuangan. Detik-detik menjelang situasi genting mencekam merindingkan bulu revolusi. Sewaktu itu aku mengenyam hidup di Yogyakarta. Kota kebak intelektual tanpa tendensi popularitas, mungkin. Kebudayaan adiluhung berakar tahta kerajaan harum, walau perubahan menghimpit tradisi.

Seolah ramalan menumpahkan kesalahan pandang terungkap gamblang, hukum transparan di mata rakyat sampai kaum awam. Seakan tuhan mencerahkan anak-anak bangsa atas langit paling terang yang belum pernah sebelumnya, kesempatan gilang demi kembali kedaulatan. Menggunduli patriotik semu mengangkat kebersamaan. Continue reading “REFORMASI KE AMBANG REVOLUSI”

Setetes Air di Lokalisasi

Sirikit Syah*
http://www.jawapos.co.id/

Membaca kumpulan puisi Setetes Air di Lokalisasi, terbitan Balai Bahasa Surabaya dalam rangka Bulan Bahasa 2009, membuka mata hati kita tentang para perempuan penghuni lokalisasi. Tak terlalu mengherankan bila ide puisi-puisi di buku ini agak kering. Harap maklum, kehidupan para PSK memang amat terbatas. Secara sosial, politik, dan ekonomi mereka terpinggirkan. Secara fisik pun mereka dibatasi tembok-tembok hunian. Continue reading “Setetes Air di Lokalisasi”

Melakoni Teater

Fahrudin Nasrulloh
jawapos.co.id

Memasuki ruang itu, rasa temaram hadir lalu meruang. Degup jantung masih tertahan dan gemerisik penonton satu per satu mengisi kursi yang kosong. Hening.

Pementasan monolog Shimpony Patet Pat pun dibuka Studiklub Teater Bandung (STB). Aktor Ayi Kurnia Iskandar tampil. Dia memerankan seorang aktor tua yang merasa nelangsa sendiri dalam hidup karena memilih melakoni hidup sebagai pemain teater. Continue reading “Melakoni Teater”

Saga Para Pahlawan

Zen Rachmat Sugito *
jawapos.co.id

PARA pahlawan tak pernah dilahirkan tapi diciptakan. Mereka diciptakan mula-mula dan pertama bukan untuk dijadikan role-model agar diteladani atau ditiru, melainkan untuk meneguhkan narasi ”perjuangan nasional merebut kemerdekaan”. Pendeknya: untuk kepentingan mereproduksi narasi nasionalisme secara kontinyu. Dengan itu, narasi perjuangan nasional yang terjadi pada masa lampau yang jauh bisa terus-menerus ”dihadirkan” dalam kekinian. Selanjutnya, barulah para pahlawan yang ”diciptakan” untuk kepentingan naratif itu diharapkan jadi ”role-model” yang bisa diteladani dan ditiru. Continue reading “Saga Para Pahlawan”

Menyingkap Fenomena Penyair Muda Madura

Beni Setia
suarakarya-online.com

Tulisan S Yoga, “Geliat Penyair Muda Madura” [SK, 7/4. 2007], mengapungkan sebuah tanya dan satu pseudo jawaban. Pertanyaan itu adalah, dari empat kabupaten di Madura, Bangkalan, Sampang, Sumenep dan Pamekasan, kenapa hanya Sumenep yang banyak melahirkan penyair?

S Yoga mensinyalir stimulus tidak langsung dari tradisi intelektual mengkaji kandungan Qur’an di satu sisi, dan kebiasaan tilawatil Qur”an yang mirip seni baca puisi dan kebiasaan barzanji di pesantren pada kelahiran penyair – Continue reading “Menyingkap Fenomena Penyair Muda Madura”

Bahasa »